
not edited!
Langit berubah menjadi gelap. Sebab utamanya bukan karena cahaya matahari yang meredup. Melainkan karena Godam besar milik Dwarf bernama Yari, tengah membesar menjadi raksasa dan akan menghancurkan ibu kota[Lebia]dengan sekali serangan.
Dilain sisi, Eawdig sedang mengumpulkan tenaganya ke dalam bilah Great Sword-nya yang ia dapatkan dari hadiah hasil turnamen.
Sebab menahan masa otot yang sangat berlebihan, tubuh kakek Yari tampak berubah warna menjadi Merah darah. Demikian pula tubuhnya di penuhi oleh urat nadi yang mengeras sebab kekerasan tenaganya yang melimpah ruah.
Dilain sisi, tubuh Eawdig juga perlahan berubah warna menjadi pink, begitu juga dengan urat di tubuhnya mulai merambat dari arah dada, menuju kepala. Urat biru bergariskan ungu itu mulai merambat ke segala arah.
Demikian kakek Yari segera memukulkan pentunganya itu tepat menuju ke arah perpustakaan kota. Tampak begitu lambat sebab godam raksasa itu, memaksa angin untuk terbelah oleh sisi datarnya.
Aurum dan Helena yang hampir terkena serangan tersebut, kala itu juga terhempas sebab pusaran angin dan petir yang tercipta sebab gesekan udara yang begitu maha dahsyat.
Jika serangan itu menyentuh dataran bumi. Maka seluruh dataran Ibukota [Lebia], pasti akan rata menjadi butiran debu.
Namun, Eawdig tak akan membiarkan hal tersebut. Rambutnya yang berwarna kuning, saat ini telah di penuhi dengan daya statis. Naiklah seluruh helaian rambut Eawdig layaknya landak. Matanya hampir memutar kebelakang sebab menahan masa otot yang ia keramkan untuk satu tebasan terakhir ini.
Api berkobar hebat pada bilah pedang yang ia genggam, bahkan mampu membakar tumpukan buku yang terkena percikan api tersebut.
Merasa sudah cukup, seketika itu juga Eawdig melompat sekuat tenaga untuk menghantamkan bilah pedangnya tersebut, untuk menebas godam raksasa milik kakek Yari.
“HEEYYAAAA!” pekiknya kencang sembari meluncur cepat menuju langit kota.
Dirinya yang seperti semut, melawan godam yang sebesar gajah. Saat itu juga Eawdig menebas bilah pedangnya yang terselimuti oleh energi[Mana] sang pangeran dari negeri[simbad].
Terhantamlah kedua benda besi tersebut. Ketika beradu hebat, terciptalah aliran listrik di antara tempat di mana kedua besi itu beradu.
Namun, betapa terekjutnya Yari ketika mengetahui jika kekuatan pukulan Eawdig mampu menahan serangan autnya. “Eugh!?” tersedaklah Yari ketika mengetahui kenyataan pahit tersebut.
Tak mau di permalukan oleh lawannya, Kakek Yari mulai mengembangkan kembali masa ototnya. Demikian pula setiap nadi yang menonjol pada tubuhnya, terlihat tak kuat akan hal tersebut. Berdarahlah tubuh kakek Yari sebab menahan geraman otot dari tubuh tuanya tersebut.
Tapi tapak ada hasil positif dari perbuatannya kala itu. Eawdig terpukul mundur sebab hal itu.
Tak mau kalah, dan ada rasa tanggung jawab besar di pundak sang pangeran. Eawdig juga mengeramkan seluruh ototnya, sembari ia menghirup udara dalam-dalam. Dan menghembuskannya kembali.
Sontak, hal tersbut bebuat energi[Mana]di dalam tubuh Eawdig bertambah sedikit. Demikian pula kobaran api yang menyelimuti blilah pedang sang pangeran semakin membesar dan bertambah kuat.
Tampak darah mengujur dari ubun-ubun sang pria berambut kuning. Darahnya mulai naik keatas otak dalam waktu yang tak terkendali. Jantungnya berdebar begitu kencang sebab adrenalin yang berpacu.
Lagi-lagi Yari tak menyangka, jika serangan pamungkasnya mampu di tahan oleh orang yang lebih buda di bandingkan dirinya.
Senyman mengerikan tampak dari wajah sang Dwarf. Aura gelam menggelora luar biasa dari tubuhnya.
Akan tetapi, semua semangatnya tersebut tak sesuai dengan usia yang sudah menggerogoti anggota badannya.
“HAAAAAaaaaa!” Seketika itu juga, Eawdig menumpahkan seluruh semangatya dalam satu serangan terakhir.
Sedikit demi sedikit, besi godam yang di layangkan oleh sang kakek Dwarf, tampak terpotong oleh bilah pedang Eawdig. Dengan daya tebasan dan panasnya pedang yang Eawdig ayunkan, sedikit demi sedikit Godam tersebut mulai menemui ajalnya.
“A-APA!? M-mustahil!” menyadari jika dirinya akan kalah. Tubuh sang kakek pada akhirnya memasuki masa akhir batas.
Secara tiba-tiba tubuhnya mati rasa, demikian juga jantungnya tak berdetak kembali. “Ah …? Apakah aku akan mati?!” pikir kakek yari dengan sisa umur yang tercatat.
Benar saja. Dalam tebasan terakhir itu. Eawdig berhasil memotong Godam raksasa sang Kakek dwarf. Begitu juga tubuh sang kakek terkena serangan tersebut.
Lantas, Godam yang terbelah, berubah bentuk menjadi kecil kembali. Dan pada saat itu juga, godam tersebut menghujam hebat, menghantam gedung perpustakaan yang umurnya sudah puluhuan ribu tahun.
Hancurlah perpustakaan itu tak bersisia. Bahkan terbakar oleh api yang Eawdig ciptakan.
Sedangkan sang kakek Dwarf. Dirinya masih sadarkan diri walaupun jantungnya tak berdetak. Sepertinya energi[Mana] sang dwarf tua, sangatlah luar biasa, seperti umurnya yang banyak.
“Menakjubkan … sepertinya umat manusia akan kembali membawa perdamaian di muka bumi[soros]” gumam sang dwarf dalam benaknya. Kala itu dirinya menatap langit tertutupi oleh sangkar besi. “Wahai Raja iblis. Sepertinya masa berjayamu akan berakhir … berakhir seperti ketika wanita itu menutup segalanya ….” Sepintas, Kakek Yari teringat masa lalu. Masa di mana dirinya tengah berpetualang dengan Lebia dan dua kerabatlainnya.
“Lebia … sepertinya nubuat yang engkau rantaikan kepada penerusmu, akan terjadi beberapa tahun ini.” Dengan senyuman tulus dari wajah sang kakek Dwarf. Kala itu juga, tubuhnya berubah menjadi rapuh dan berubah menjadi debu.
Menghilanglah dirinya dari dunia yang fana ini.
.
.
.
***
.
.
.
Tubuhnya terjatuh pada sebuah jalan di bagian tengah ibu kota. Eawdig tak dapat menggerakkan sebiji sendirpun dari tubuhnya.
Terbaring lemah. Tiba-tiba ada seseorang yang mengangkat tubuh Eawdig dengan ringannya. Tampak ada bebatuan yang terjatuh dari atas langit. Namun dalam sekali potongan dengan pedang yang sang pria genggam, bebatuan itu berubah menjadi debu.
Benar-benar skill berpedang yang menakjubkan.
“Siapa …?” tanya Eawdig denagn suara parau.
Pria itu hanya tersenyum. Yang Eawdig sempat lihat, sang Pria memiliki rambut berwarna merah, dan mata berwarna hijau. Ya, ciri-cirinya sama dengan remaja yang kita kenal.
Tapi postur tubuhnya sangat berbeda dengan sang remaja. Tinggi badan yang menyamai tinggi badan Eadwig. Dengan sebuah anting di telinganya, membuat hal tersebut sulit di percaya jika Arley adalah orang yang Eawdig maksud.
“Arley …?” tanya Eawdig dengan penuh rasa penasaran. Akan tetapi, kesadarannya tak mampu ia tahan lagi. Seketika itu juga ia terpingsan dengan memori terakhir yang dirinya simpan adalah, tatapan terkejut pria beranting emas tersebut.
Siapakah pria yang Eawdig lihat kala itu? apakah ia adalah teman? Atau musuh? Bagaimana dengan nasib Arley dan rekan-rekannya yang lain?
Bersambung!~
***
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!
Author akan merasa sangat berterima kasih!
dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!