
Tampak serius … paman Radits dan Jasmine, duduk saling berhadapan di ruangan meja dapur. Mereka duduk di atas kursi kayu yang berada di tengah-tenah ruangan.
“Tom … bagaimana pendapatmu?” tanya Jasmine dengan pandangan tajamnya.
Paman Radits pun menghela napas panjangnya, ia tak tahu harus mengambil keputusan apa.
“Entahlah … ini adalah pilihan yang sulit. Apakah kau sudah menanyakan dengan Melliana langsung?”
Mendengar ucapan paman Radits, Jasmine kemudian menggelengkan kepalanya secara perlahan.
“Belum, tapi … aku yakin jika ini adalah pilihan yang terbaik. Tinggal sebagai remaja di desa ini, aku tidak tahu apakah anak itu bisa mendapatkan kebahagiaannya.”
“Jangan berkata seperti itu, Jasmine. Kebahagiaan orang tidak bisa kita nilai dari tempat di mana ia tinggal. Walaupun ia tinggal di lokasi terpencil seperti ini, aku yakin siapapun pasti bisa menemukan kebahagiaan kecil itu.”
Tersenyumlah Jasmine, saat paman Radits mengatakan hal tersebut.
“Kau benar, Tom. Aku bersama suamiku juga berpikiran seperti itu dahulu.” Lalu, Jasmine terlihat sedikit tersenyum, seperti dirinya teringat akan suatu hal.
“Kau bisa bicarakan hal ini esok pagi dengan Melliana. Berundinglah dahulu dengan dirinya, dan jika ia sepakat, aku tidak akan segan-segan membawanya ke kota [Dorstom] bersama kami.”
“Yah, kau benar … aku akan melakukan hal itu.
Dengan demikian, pembicaraan yang terdengar serius ini pun usai, namun, pembicaraan tambahan pun masih berlangsung.
“Ngomgon-ngomgon … bagaimana tanggapanmu dengan desa [Uaccam], apakah mereka seburuk yang kau pikirkan dahulu?” tanya sang pama, sambil bangkit dari kursinya, dan mulai membuat secangkir kopi. “ah, kau juga mau kopi”
Mengangguklah Jasmine, pertanda jika ia menginginkan kopi tersebut.
“Terima kasih, aku akan meminumnya. Haah … aku tak tahu, Tom. Saat ini, aku berpikir jika kepala desa adalah satu-satunya orang yang bisa aku percaya. Yang jadi masalah … adalah anak sulungnya.”
“Hm? Ada apa dengan anaknya kepala desa?”
Kembali, sang paman bertanya atas hal yang tak ia mengerti, sambil membawa dua cangkir kopi hitam yang telah jadi.
Dirinya pun memberikan kopi itu kepada Jasmine, dan ia kembali duduk di atas kursi kayunya. Sambil menyeruput kopinya, paman Radits mulai mendengarkan curhatan hati Jasmine mengenai desa [Uaccam] ini.
“Desa ini … memang terlihat sangat maju, untuk beberapa bulan kebelakang. Namun, semua itu berkat Verko. Yang aku dengar dari seorang sahabatku, anak dari kepala desalah yang mengompori masyarkat untuk menjadikan lahanku sebagai lokasi kasino baru milik Verko.”
“Ahh, tapi kau tidak bisa mengecap seluruh masyarakat memiliki sifat serupa dengannya. Itu adalah hal yang salah,” imbuh sang paman, di sela-sela cerita Jasmine.
Jasmine pun menyeruput kopinya, lalu, ia mencoba menenangkan diri sembari melanjutkan kisah ini.
“Aku paham … memang salah menyamaratakan sifat seseorang atas perlakuan mereka yang terdahulu. Tapi begitulah manusia, Tom. Aku tidak bisa terima, bagaimana mereka dahulu sempat menyetujui persekongkolan Verko dengan anak kepala desa, dan hal itu menyebabkan kematian suamiku.”
Suasana menjadi cukup kelam, dan keheningan terjadi sejenak.
Didalam kesunyian itu, paman Radits pun menghelakan napas panjangnya, yang kemudian mengeluarkan embun dari arah mulutnya ketika itu.
“Tidak, kali ini aku tidak sependapat denganmu, Jasmine.” Kemudian, sang paman menatap tajam mata Jasmine dengan sebuah senyuman tipis.
“Maksudnya …?” Jasmin pun tampak bingung, dengan apa yang akan paman Radits ucapkan.
“Sudahkah kau menyelidiki, mengapa seluruh masyarakat setuju dengan hal itu?” Lantas, sang paman kembali menyeruput kopi hitamnya sambil menunggu jawaban Jasmine.
Wanita paruh baya itu pun kembali menggelengkan kepalanya.
“Bukankah sudah tampak jelas? Apa lagi yang harus aku cari tahu?”
“Tidak Jasmin, tidak. Jika kau mengetahui apa sumber masalahnya, kau tidak akan berpikir seperti itu.”
Kembali, Jasmin tampak bingung dengan arah kemana pembicaraan ini berlalu.
“Aku tak mengerti, Tom.”
“Baiklah, aku akan menerangkannya kepadamu.” Dan sekali lagi, sang paman menyeruput kopinya dengan sebuah tarikan panjang.
“Dari informasi yang aku dapat … sebenarnya, Verko bukan mengincar lahanmu ini untuk dijadikan sebagai kasino.”
Paman Radits pun memberi jeda ucapannya, untuk mendengar jawaban dari Jasmine.
“Ya, sejauh itu aku sudah tahu. Bukankah aku yang menjelaskannya kepadamu? Tapi, masyarakat tidak tahu akan hal itu … yang mereka pahami adalah, lahanku bisa di jadikan kasino milik Verko, bukan?”
Lantas, tiba-tiba sang pama tersenyum kecil.
“Tidak, Jasmine. Mereka semua sudah tahu, namun, jika mereka memberontak … desa ini akan dibakar oleh Verko. Tidak hanya desa ini, tapi … kau dan seluruh keluargamu, juga akan dibakar hidup-hidup, kecuali Melliana seorang.”
Sontak, Jasmine langsung memekarkan matanya. Ia sangat shock ketika mendengarkan kenyataan itu.
“Ta-Tapi … mengapa sahabatku tak menjelaskan itu?”
“Mereka semua sudah diperintahkan oleh kepala desa, untuk tidak menceritakan hal itu kepadamu. Mereka tahu, beban yang kau tanggung sudah sangat berat. Tidak hanya beban fikis … jika saja kau tahu akan informasi ini sebelum semuanya terselesaikan, mentalmu pun akan terganggu.”
Ucap sang paman, sambil menenggak habis kopinya. Di lain sisi … Jasmine terdiam memandang cangkir kopinya yang masih terisi penuh.
“A-aku … tidak tahu akan hal itu ….”
“Tentu saja, dan jika kau tahu, hasilnya tidak akan serapih sekarang.”
Sang paman pun berdiri dari kursinya. Ia kemudian menaruh cangkir kopinya di atas meja dapur, dan sebelum kembali kekamarnya, sejenak ia menepuk pundak Jasmine sebagai penyemangat.
“Jadi, apakah kau masih dendam dengan warga desa?” tanya paman Radits sekali lagi. Namun, ia tak menunggu jawaban dari Jasmine, dirinya langsung saja pergi menuju kamar tidur, tempat di mana Arley beristirahat dengan Emaly.
Saat itu … Jasmine hanya tersenyum lega, sembari ia meneteskan air mata bahagianya. Ia tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana.
“Jika yang kau katakan adalah kebenaran— Tidak, aku yakin kalimatmu itu tadi adalah kenyataan, mungkin, desa ini tidak seburuk yang aku telah bayangkan selama ini.”
“Ew! Pahit!” gumamnya.
Malam itu pun berlalu dengan Jasmin mencuci kembali dua cangkir kopi, dan memilih untuk tidur di kamarnya, bersama Joshua.
.
.
.
***
.
.
.
Esok harinya~
Waktu telah menunjukkan pukul delapan pagi. Saat itu, Arley beserta Varra sedang sibuk merapihkan kereta barang mereka.
Keju yang akan mereka jual di kota [Dorstom] telah didapatkan. Juga, mereka sudah mencicipi es cream khas desa tersebut, beberapa hari yang lampau.
Segalanya sudah lengkap, hanya tinggal kembali ke kota [Dorstom] sajalah yang harus mereka lakukan.
“Paman! Segalanya sudah selesai!” teriak Arley, dari dalam kereta kuda mereka.
“Sudah selesaai!” imbuh Emaly, yang ikut berteriak setelah Arley.
Arley pun tersenyum saat Emaly melakukan hal itu, saking gemasnya Arley, dirinya pun mengelus kepala Emaly dan mencubit pipinya.
Deikian, Emaly merasa puas dengan perlakuan yang Arley lakukan kepadanya. Ia merasa sangat nyaman dan ingin mendapatkan hadiah itu di lain waktu.
Namun, sang paman hanya berdiri sambil menatap ke depan pintu rumah keluarga Polka.
“Paman? Apa yang kau lakukan?” tanya Arley sekali lagi. Tetapi tetap saja sang paman tak menjawab panggilannya.
Arley pun menoleh ke arah Varra, di saat itu, Varra hanya tersenyum sambil menatap ke arah pintu rumah Polka, akan tetapi, sejenak ia melihat ke arah Arley.
“Hey, kau tahu sesuatu?” Arley pun menaruh curiga kepada sang paman dan Varra.
“Hehehe~ Lihat saja ke arah pintu rumah,” ucap Varra sambil mengedipkan sebelah matanya.
Menuruti apa yang Varra katakan, Arley pun langsung memperhatikan pintu bagian depan dari rumah baru keluarga Polka. Ia terus memperhatikan pintu itu, seperti tengah menunggu seseorang.
“Hm!? Jangan-jangan!” Dan di saat Arley berpikir keras, atas apa yang sebenarnya mereka tunggu, saat itu pun Arley berhasil memecahkan misteri yang satu ini.
Tepat … ketika itu, pintu rumah keluarga Polka terbuka dengan lebar.
Dari dalam pintu itu, muncullah Melliana dengan pakaian berpetualangnya, beserta sebuah tas ransel berwarna coklat.
“Akhirnya datang!” ucap paman Radits sambil tersenyum lebar, bahkan gigi-giginya hampir tampak semua akibat kejadian ini.
Begitu juga dengan Varra. Ia merasa sangat senang, sebab, sahabat wanita pertamanya akan ikut dalam perjalanan kembali menuju kota dimana ia di besarkan.
Yup~ Dengan begitu cantiknya, Melliana keluar dengan rupa yang tak pernah keluarga Tomtom lihat sebelumnya.
Penampilannya sangatlah cantik, dengan kostum berpetualang yang ia kenai.
Saat itu … Arley bahkan tak bisa melepaskan pandangannya. Ia terus menatap Melliana dengan pandangan terpesona. Namun ia masih tak mengerti mengapa dirinya mendapatkan perasaan tersebut.
“C-cantiknya …,” gumam Arley, yang kemuduan dihampiri oleh Varra, dan dengan kuat, kepala Arley langsung di pukul menggunakan sebatang ranting kayu. “AAww!” teriak Arley, yang sebab itu langsung tersadar dari kondisi melamunnya.
Melliaana yang sadar jika dirinya diperhatikan begitu intens oleh Arley, hanya bisa tertunduk diam sambil memegangi wajahnya yang memerah.
Paman Radits pun mulai kesal terhadap Arley, sebab, ia selalu saja menghidupkan api asmara terhadap wanita cantik.
“Aahh, anak satu ini.” gumam sang paman, namun, ia kembali tersenyum sebab dirinya menyadari jika perjalanan kali ini sangatlah membuahkan hasil.
“Baiklah! Saatnya kita berangkat!” teriak sang paman, yang pada saat itu langsung mengenakan mantel kulitnya, dan duduk di atas kereta kuda milik keluarga Tomtom.
Perjalanan kembali menuju kota [Dorstom], akhirnya berlangsung. Walaupun kejadian-kejadian buruk sempat terjadi belakangan ini, namun, segalanya bisa di selesaikan atas bantuan sang remaja berambut merah.
Hubungan antara manusia dengan manusia … memang terlihat rumit dan kompleks.
Entah itu berhubungan dengan cinta, harta, ataupun tahta …
Namun, sebenarnya, semua itu tidak serumit yang manusia pada umumnya pikirkan.
Apakah itu mengenai cinta, harta, ataupun tahta … jika kalian menggabungkannya dalam satu balutan, maka segalanya bisa dilupakan secara konstan.
Dilupakan? Ya, dilupakan … karena sesungguhnya, manusia itu bukan hanya tentang cinta, harta, ataupun tahta.
Manusia, akan dikatakan sebagai manusia sesungguhnya, jika bereka memiliki ….
Adab.