
Duduk termenung, memandangi tumpukan buku yang terjajar rapi di atas lantai. Tampak, jika hari sedang hujan lebat, kondisi peternakan pun menjadi sangat riuh juga sibuk. Paman Radits, Varra beserta keluarga Polka, tengan kerepotan, memasukkan puluhan sapi mereka, masuk kedalam kandang, yang berada dekat dengan posisi ladang.
Arley yang terlihat bingung, sebab ia harus menyelesaikan semua perintah sang paman, dalam kurun waktu, kurang dari dua hari. Sang remaja tampak begitu lesu, akibat sudah tidak tidur semalaman. “Huuh, apakah mungkin, aku bisa membuat ramuan ini dalam waktu dua hari?” ujar Arley, sambil ia membaca kembali, sebuah buku tentang, Herbalogi.
“Apakah ada cara singkat, agar aku bisa meracik ramuan itu …?” Kali ini, Arley mencoba membuka buku yang lain, sambil melepaskan napasnya dalam-dalam. Buku berjudul, Love Potion, tertulis pada bagian cover merah, dari literatur tebal tersebut.
“Aku sudah membaca buku ini … tapi, buku ini hanya bertulisakan teori.” Kembali jalan buntu ia temui. Akan tetapi, sampai saat ini, Arley belum menemukan jalan menyerah. Ia tetap melanjutkan bacaannya, walaupun dirinya sudah membaca judul yang sama, berulang-ulang kali.
Dari sudut kaca, sekilas, tak sengaja Arley melihat Varra, paman Radits, dan keluarga Polka, baru saja selesai memasukkan sapi-sapi mereka ke dalam kandang berukuran raksasa tersebut. “Mereka sudah selesai …?” ujar Arley dalam benaknya. Lantas, tampak Emaly dan Joshua, tengah bermain hujan, sambil berlari, mengejar ayah dan ibu mereka. Tampak dari ekspresi wajah mereka, jika tidak ada beban yang dipikul oleh kedua balita tersebut. Usia yang sangat muda, membuat kedua anak itu menghiraukan dunia luar, dan lebih asik bermain pada dunianya sendiri.
Arley yang menyaksikan hal itu, sejenak kembali tersenyum lembut. “Sepertinya, kebahagiaan itu bisa menular, ya,” gumam Arley dalam hatinya. “tidak ada salahnya memberikan senyuman tulus kepada orang yang berada di sekitar kita, mana tahu, dengan senyuman yang dibagikan itu, bisa membuat beban pada orang lain, menjadi sedikit lebih ringan.” Kemudian, Arley berbicara sendiri dengan suara yang cukup redup. “Haah~ apa yang aku katakan. Sebaiknya aku kembali membaca buku-buku ini.”
Setelah jenuh yang Arley rasakan menghilang, ia pun kembali membaca tumpukan buku yang belum sempat dirinya sentuh, sebab rasa malas yang tiba-tiba melanda tadi.
Rombongan paman Radits pun masuk ke dalam rumah, suara meriah bisa terdengar dari depan pintu. Dan ketika pintu bagian depan terbuka lebar, suara yang begitu ramai langsung menyerbu masuk, dan mengisi setiap sudut yang kosong dari ruangan rumah ini, sebab, kurangnya aktivitas disik di dalam rumah kayu tersebut.
“Wahaha! Aku basah kuyub!” ucap Emaly, yang kemudian dikejar oleh Joshua.
“Emaly! Tunggu aku!” Mereka berdua pun langsung masuk, berlari menuju kamar mandi, untuk mencuci tubuh mereka yang penuh dengan lumpur.
“Josh! Emaly! Jangan berlari di dalam rumah! Nanti kalian terpeleset, loh!” Tak lama kemudian, suara Melliana menggelegar kuat, menggantikan dengungan suara Emaly dan Joshua, yang saat ini telah berada di dalam kamar mandi.
Setelah pintu depan di tutup, masuklah keempat orang itu menuju ruang tengah, tempat di mana Arley sedang menyendiri, untuk menemukan ramuan yang ia jelaskan kepada paman Radits.
Ketika mereka mengibaskan kain penghalang yang menghubungkan ruangan depan dengan ruangan tengah, untuk sesaat, Varra, Melliana, dan Jasmine menghentikan langkahya. Mereka menatap Arley dengan pandangan bingung, sebenarnya, apa yang sedang Arley lakukan? Cakap mereka dalam hati masing-masing.
“Tom … sebenarnya, apa yang kalian rencanakan …?” Lalu, karena Jasmin benar-benar penasaran dengan apa yang kedua orang ini lakukan, juga ia merasa kasihan terhadap Arley, pada akhirnya, Jasmin memberanikan diri untuk mempertanyakan langsung, kepada dalang dari problematika ini semua.
Namun paman Radits tak terlalu menggubris Jasmine, sang paman dengan tenangnya masuk ke dalam ruangan tersebut, sambil mengusap rambutnya yang basah, menggunakan telapak tangan sebelah kirinya. “Ah, biarkan saja Arley sibuk dengan bukunya, dia kan masih muda, hobi membaca buku sangatlah baik untuk anak seusianya,” ujar sang paman, sambil melemparkan senyum kepada Arley.
Arley yang tak sengaja melihat ke arah sang paman, dirinya langsung melemparkan ekspresi kecutnya, yang memberikan kesan, bahwa ia tak suka atas perlakuan sang paman terhadap dirinya, namun, masih dalam batasan bercanda.
Tentu saja Arley tak membalas sang paman saat itu juga. Jika Jasmine dan keluarganya sampai tahu apa yang mereka berdua rencanakan, rancangan misi kali ini, bisa-bisa gagal akibat tidak disetujui oleh Jasmine. Dan kasus terburuknya, hasil apa pun yang mereka dapat kan nanti, bisa jadi tidak akan diterima oleh pihak keluarga Polka.
Demikian, Arley hanya bisa mengerenyutkan senyuman paksa, yang tampak begitu kaku, dan mencolok di hadapan mereka semua. Varra jelas tahu jika ada yang mereka berdua sembunyikan, akan tetapi, Varra memilih untuk diam, sebab ia merasa, pasti ada hal baik di dalam diamnya Arley dan paman Radits.
Setelah usai berdiskusi di ruang tengah, paman Radits pun langsung bergeser menuju pintu belakang. Tepat di bagian belakang rumah ini, ada sebuah kamar mandi terbuka, yang biasanya digunakan sebagai kamar mandi darurat, jika kamar mandi utama sedang digunakan seperti saat ini.
Tak ada lagi yang bisa dibicarakan, Jasmin dan anak gadisnya, akhirnya bergeser menuju kamar mandi utama, mereka beredua berjalan melintasi tempat di mana Arley menumpukkan buku-bukunya. Ketika itu, saat mereka berdua sedang melintas, Arley pun kali ini tersenyum tulus kepada mereka berdua.
“Ehm, sebelumnya, maafkan kami, karena telah merepotkan kakak-kakak sekalian, ya,” ujar Arley, sambil menggaruk pipinya yang sedikit berkeringat. Lalu, ia merundukkan kepalanya, sebagai tanda hormat kepada mereka berdua. “Nanti, setelah aku selesai membaca buku-buku ini, pasti akan aku kembalikan pada tempatnya.”
Menyikapi betapa sopannya seorang Arley—dalam kondisi berjalan, Jasmine pun menjawab sapaan sang remaja pria, sambil ikut merundukkan punggungnya, sebagai balasan terhadap sikap hormat Arley kepada mereka berdua. “Tidak apa-apa, anggap saja rumah sendiri. Lagi pula, buku-buku itu sudah tidak terbaca lagi. Gunakanlah sepuasnya.” Setelah Jasmine mengucapkan kalimat tersebut, mereka berdua pun langsung memasuki kamar mandi, setelah Varra memasukinya terlebih dahulu.
Arley tampak termenung melihat pintu kamar mandi yang tertutup. Sejenak ia merasa hampa, pikirannya kosong, dan hatinya terasa begitu tenang. Tapi ketenangan itu hanya sesaat, setelah dirinya sadar akan tugasnya, Arley langsung kembali membaca tumpukan buku-buku itu sampai benar-benar tuntas.
***
Malam menjadi pagi, pagi menjadi siang, siang menjadi sore, dan sore kembali menjadi malam. Perputaran waktu yang terasa begitu cepat, membuat Arley lupa, jika satu hari penuh telah terlewati begitu saja, tanpa hasil yang bisa ia dapatkan.
Ketika itu, kegiatan makan malam telah usai. Arley pun diwajibkan bergeser tempat menuju ruangan depan, sebabnya, pada saat jam makan malam, ruang tengah harus digunakan sebagai tempat penghapus dahar mereka.
Saat ini, keluarga Polka telah tertidur lelap, paman Radits dan Emaly pun sudah berada di kamar tamu, yang lokasinya berada di sebelah Timur Laut, dari posisi utama rumah kayu ini. Suasana terasa begitu sunyi, hanya derik suara jangkrik yang mengisi lantunan musik, pada malam tenang itu.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Kala itu, Arley yang berada di ruangan terdepan dari rumah kayu milik keluarga polka, saat ini terlihat begitu fokus pada satu buku yang menarik perhatiannya semenjak sore hari tadi.
Buku bersampul ungu, dengan ketebalan yang cukup luar biasa, berjudulkan Poison and Potion. Tampak dengan saksama ia perhatikan setiap huruf pada paragrafnya, dan berusaha untuk tidak terlewatkan titik juga koma, walaupun hanya satu alfabet saja.
Arley terlihat ingin betul-betul memahami apa yang buku itu sampaikan kepada para pembacanya, setiap pesan yang tersirat di dalamnya, Arley catat dalam benaknya, sebagai sebuah refrensi, untuk ramuan obat yang ingin ia buat, demi berlangsungnya misi mereka kali ini.
Untuk sejenak, Arley cukup yakin jika buku ini bisa memberikan jawaban atas persoalan yang ia ingin selesaikan. Akan tetapi, setelah setengah hari ia membaca buku bersampul ungu itu, lagi-lagi Arley harus menerima rasa pahit, atas kerja keras yang belum juga terbayarkan.
Kembali terhela, sebuah napas panjang dari dalam kerongkongan sang remaja. Sempat juga ia mengibaskan rambut panjangnya ke arah belakang, sembari ia berusaha mengendurkan rasa dongkolnya, untuk segera kembali membaca buku yang telah tersusun di samping tubuhnya.
“Buku ini menjelaskan konsep pembuatan ramuan itu, tapi sang penulis menjelaskan, jika ramuan penguat, hanyalah sebuah mimpi yang belum terwujudkan,” gumam Arley, dengan wajah yang kusam.
“Arley …?” gumam Varra yang baru saja keluar dari dalam kamar tamu. “Kamu tidak tidur lagi?” cetusnya dengan wajah marah. Tampak jelas, jika Varra kali ini benar-benar marah sebab prilaku hidup Arley yang mulai tidak sehat.
Mendengar suara Varra dari kejauhan, Arley kemudian menghentikan dirinya, dari niatan untuk membaca buku selanjutnya. “V-Varra?” jawab Arley, yang kemudian mulai menunggu—untuk sang wanita masuk ke dalam ruangan, tempat dimana Arley sedang berada.
Masuklah Varra ke dalam ruangan yang masih penuh dengan cahaya lampu tersebut. Lampu yang hidup menggunakan energi [Mana], yang berisikan [Mana] ber-elemen cahaya. Saat itu, Vara sedikit mengintip, dari balik gorden yang menutupi ruangan depan dengan ruangan tengah.
“Sudah kuduga, kamu belum tidur …,” celetuk Varra, dengan tatapan marahnya.
Wajah Arley langsung memucat, dirinya langsung terdiam saat Varra menampilkan ekspresi yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tubuhnya kaku, sebab ia tak ingin Varra untuk marah, apa lagi membencinya.
“T-tapi,” gumam Arley, yang mencoba untuk mengelabuhi Varra. Namun Varra tak menelan apa yang Arley ingin ucapkan. Sebelum sang pria berhasil menjelaskan apa yang ingin ia sampaikan, Varra pun langsung pergi dari ruangan itu, sambil mendecikkan bibirnya.
“Jika kau masih seperti ini, aku tak ingin berbicara denganmu.” Ketika itu, Varra dengan sinisnya meninggalkan Arley sendirian di ruangan depan. Ia benar-benar terlihat sangat marah, dan terdengar begitu judes.
Keheningan kembali terjadi, tapi kali ini Arley-lah yang tak berkutik sama sekali. Ia terdiam kaku, menatap gorden yang sudah tertutup kembali. Perasaannya campur aduk, ingin saja ia kembali membaca buku yang baru mau ia buka tadi, tapi, memikirkan perasaan Varra yang marah terhadapnya, membuat Arley langsung membaringkan tubuhnya, dan mulai menangis di atas tikar kain, dan berselimutkan kain tipis berwarna putih.
“Aduh … benar-benar malang nasibku kali ini …,” gumam Arley, sambil meneteskan air mata galaunya, dalam posisi berbaring di atas tikar tersebut.
.
.
.
***
.
.
.
Pagi telah menjemput. Langit tampak cerah dan kehangatannya membuat tubuh orang-orang kembali bugar. Jika kemarin khalayak warga tidak terlalu terlihat sebab derasnya hujan yang turun, kali ini, aktivitas masyarakat desa telah kembali berjalan normal seperti sedia kala.
Ada yang kembali megecek lahan sawah mereka, dan ada juga yang kembali mengeluarkan sapi-sapi dan domba-domba mereka.
Ketika itu, Arley berjalan lesu, menyisiri jalan setapak, yang terbentuk, akibat sering dilewati oleh masyarakat setempat. Ia berjalan dalam kondisi berpikir keras, mengenai ramuan yang ingin ia ciptakan, dan menggabungkan seluruh isi di dalam buku yang telah ia baca kemarin, tepat di dalam otaknya sendiri.
Walaupun dirinya masih dalam kondisi lupa ingatan, akan tetapi, Photographic Memory, yang Arley miliki, masih berjalan normal seperti dahulu kala. Sambil mengelus-elus dagunya, Arley memikirkan seluruh ramuan, yang tertulis di dalam buku-buku itu, dan menggabungkannya menjadi satu. Simulasi imajinasi ia terus lakukan, tetapi, semua itu ternyata tidak semudah yang ia pikirkan, Arley selalu menemui jalan buntu saat ia mencoba untuk menggabungkan ramuan-ramuan itu.
“Ah, tidak-tidak … jika aku gabungkan ekstrak jamur itu dengan cairan daun, Calpea, obat yang aku inginkan tetap akan beracun, walaupun khasiatnya bisa didapatkan.” Lantas, tanpa ia sadari, Arley sudah berada di pintu masuk hutan, yang katanya, hutan tersebut sangatlah angker, dan banyak hantu, juga monsternya.
“Ops! Kenapa aku sudah berada di sini?” ucapnya, sambil melirik ke sebelah kiri dan kanan. “Tampaknya aku terlalu larut dalam pemikiranku sendiri ….” Kemudian, Arley memilih untuk duduk di atas sebuah batu putih, yang ukurannya sekitar setengah meter, dan batu itu tergeletak tepat di depan pintu masuk hutan belantara tersebut.
Sambil menenangkan dirinya, Arley kembali memfokuskan pemikirannya untuk meracik kembali, bahan-bahan herbal, yang sekiranya bisa menghilangkan racun dari dalam, Jamur Rodentia, itu. “Jika Jamur itu direbus dengan air, Purple Cactus, seharusnya racun dari dalam jamur itu akan menghilang … tetapi, khasiat dari jamur itu pun akan musnah, sebab Purple Cactus, juga bisa mencairkan segala vitamin dari dalam makanan yang bersatu dengannya.”
Di saat Arley sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri. Tiba-tiba, terdengar suara perempuan yang memanggil-manggil nama Arley, dari dalam hutan rimba tersebut.
“Arley~ Oh, Arley~” dengung suara itu, yang semakin lama, maka akan terdengar semakin jelas. Sontak, Arley yang menyadari akan hal itu, dirinya langsung berdiri tegap dan memalingkan kepalanya, menuju hutan tak bernama itu.
“Suara …?” ucap Arley, sambil ia menyipitkan kedua kelopak matanya, untuk memfokuskan pengelihatannya. “Sepertinya dari dalam hutan ….”
Saat itu, dengan beraninya Arley langsung memasuki hutan. Dirinya memasuki hutan itu, hanya bermodalkan kayu yang ia temukan di semak-semak depan hutan.
Ketika itu, tak sengaja ada sekeolmpok petani, sempat menyadari keberadaan Arley yang tampak sedang melamun, dan tengah berjalan memasuki hutan belantara itu. Mereka pun langsung berusaha menghentikan Arley, agar dirinya tidak memasuki hutan keramat tesebut. “Hey, anak muda! Jangan masuk ke dalam hutan itu! Hey!” sorak mereka dengan sangat kencang. Namun, Arley tak menghiraukan mereka, seperti kupingnya sudah ditutupi oleh sesuatu.
Lantas, dalam pikiran yang sedang berbelit, dan hati yang gelisah, sang remaja lagsung menghilang dari bibir hutan yang terlihat begitu gelap, walaupun cuaca hari sedang cerah dan hangat.
Warga desa menjadi sangat panik. Seketika itu juga, mereka langsung berlari untuk memberi tahu kepala desa, juga keluarga Polka, atas kejadian yang menimpa Arley saat ini.
Siapakah yang memanggil Arley pada saat itu? Dan mengapa warga desa melarang Arley memasuki hutan tersebut, juga apa kah yang akan terjadi dengan dirinya?