The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 243 : Racikan Yang Sempurna.



Kemeriahan terdengar mengiringi kejadian pada malam bulan sabit ini. Ketika itu, terdapat seorang anak yang sangat beruntung, karena ia berhasil keluar dari dalam hutan terkutuk setelah dirinya hilang selama seharian penuh.


Kejadian langka, yang bahkan tidak pernah terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. Inilah yang menyebabkan warga desa begitu bergembira, saat ada seorang manusia yang berhasil keluar dari hutan tersebut.


Setelah puas melempar sang remaja ke atas langit, para masyarakat pun menurunkannya dan mengembalikan Arley kepada keluarga Tomtom. Dan saat Arley telah diturunkan kembali ke atas tanah, orang pertama yang menyambut dirinya adalah Varra.


Dengan begitu dekap, Varra langsung memeluk Arley dengan tangisan gerunya. Sang remaja berambut merah itu tak bisa berbuat banyak, ia hanya mempersilahkan Varra melakukan apa pun yang ia inginkan.


“Arley! Arley!” ucap Varra berkali-kali, sambil mengusap wajahnya pada baju si remaja berambut merah tersebut.


Arley hanya bisa melihat ke arah sang paman, sambil mengkerutkan dahinya. Kedua tangannya ia angkat, agar dirinya tidak salah sentuh dan menimbulkan ke salah pahaman terhadap Varra.


Tentu saja Arley tidak ingin dibilang sebagai pria mesum atau semacamnya, maka dari itu, ia mengangkat kedua tangannya agar Varra tidak berpikiran buruk tentang dirinya.


Namun, yang Varra inginkan malah kebalikan dari apa yang Arley pikirkan. Ia sangat ingin untuk Arley memeluk dirinya dengan erat, tetapi, pengetahuan tentang hati perempuan yang Arley ketahui saat ini, tidak sampai ke tahap yang demikian.


Dari kejauhan, paman Radits hanya menghembuskan napas sambil menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar kecewa atas keluguan yang Arley derita saat ini.


Lantas, sang paman hanya bisa tersenyum lega, sebab anak angkatnya telah kembali dalam kondisi sehat.


Merunduklah Arley, agar ia bisa melihat ke wajah Varra. Lalu, Varra pun mulai menolehkan wajahnya ke atas, agar ia juga bisa melihat wajah Arley.


Arley hanya tersenyum lugu di hadapan Varra, pikirannya kosong dan ia tak tahu harus berbuat apa. Dan entah mengapa, pandangan Varra langsung fokus secara otomatis menuju ke dahi Arley.


Tangan Varra pun langsung mengibas poni si remaja berambut merah tersebut, dan menatap tajam, pada apa yang tersembunyi di balik rambutnya itu.


“Gah!?” Lalu, suara terkejut dikeluarkan secara tidak sengaja oleh Varra.


Dari posisi yang cukup jauh, paman Radits dan Melliana pun juga bisa melihat, tanda yang tertinggal di dahi sang remaja berambut merah itu.


“Hm? Ada apa?” tanya Arley yang kebingungan.


“A-Arley … I-Itu …!?” tunjuk paman ke dahi Arley. “K-kau dapatkan dari mana, tanda yang ada di dahimu itu?!” Suara sang paman terdengar begitu gemetaran saat dirinya menunjuk Arley.


Suara gemetaran sang paman bukan ia timbulkan karena takut, tapi karena apa yang ia lihat pada perlakuan Varra terhadap Arley.


Kala itu, tiba-tiba terlihat aura cemburu dari dalam tubuh sang remaja berambut hitam kemerahan tersebut.


Menyadari jika ada yang tak beres dengan sikap Varra, Arley malah langsung melirik ke wajah Varra, dengan begitu cerobohnya.


“V-Vara?” ucap Arley, yang tak tahu menahu tentang kejadian ini.


Namun, ketika Arley ingin melihat lebih lanjut dari ekspresi wajah Varra, tiba-tiba, sang wanita secara kejam langsung menjambak rambut Arley dengan seluruh kekuatan yang ia miliki, dan seketika itu juga, ia membanting jidat Arley menuju tanah kering yang mereka jejaki saat ini.


“VA-VARAAA!?—Gggaaaaaaa!” Arley yang terkejut akan hal tersebut, secara instan, wajahnya langsung tertanam di dalam tanah yang berada di bawah kaki mereka.


Demikian, Varra yang terlihat begitu kesal langsung meninggalkan Arley di tempatnya berada.


“Arley bodoh! Aku gak akan peduli lagi dengan dirmu!” Lantas, Varra pun meninggalkan Arley sendirian, di tempat ia terbaring saat itu.


Masyarakat yang menyaksikan hal ini, hanya bisa menonton saja. Bahkan saat Varra lewat di depan mereka, secara otomatis mereka memberikan jalan kepada sang remaja wanita agar ia bisa lewat tanpa halangan.


Dari arah yang berlawanan, paman Radits langsung mengelus rambutnya sebab tak tahu harus berbuat atau berkata apa pun.


“V-Vara … k-kenapa …?” gumam Arley, yang wajahnya masih tertanam di dalam tanah. Ia tak bisa bergerak banyak, akibat kelelahan yang dirinya derita.


Mendengar gumam ringan sang anak angkat, paman Radits pun berkometar akan hal tersebut.


“M-Mungkinkah … sampai saat ini, ia masih tak tahu dimana letak kesalahannya?” Sang paman menghela napas panjangnya, dan setelah itu, ia langsung menggendong Arley untuk pulang ke kediaman keluarga Polka.


Malam ini berlalu dengan sebuah memori yang kurang baik bagi Arley dan Varra. Bahkan, Arley sendiri tak tahu, mengapa Varra bisa semarah ini. Dan yang mengetahui sebab mengapa Varra bisa sampai se marah ini, hanyalah paman Radits semata.


***


Ke-esokan harinya~


Arley terlihat sangat bugar, setelah tidur yang cukup panjang telah ia nikmati.


Selama delapan jam dirinya tertidur pulas, tanpa ada seorang makhluk pun berhasil membangunkannya.


Makan malam pun ia lewat kan, hanya untuk menikmati tidur panjang setelah beberapa kejadian yang menimpa dirinya.


Lantas, apakah kegiatan Arley setelah ini?


Jauh dari ke kediaman keluarga Polka … tampak sang remaja berambut merah, beserta paman angkatnya, terlihat begitu fokus memandangi sebuah botol—tengah dipanaskan menggunakan [Flaming Orb], layaknya mereka sedang berada di kelas pembelajaran kimia.


“Bagaimana? Apakah berhasil?” tanya sang paman, yang terlihat tak sabaran untuk melihat hasil ramuan yang sedang Arley racik.


“Belum selesai, Paman. Masih sekitar lima belas menit lagi,” jawab si remaja, sambil menatapi botol Labu Didih-nya.


Botol Labu Didih, adalah sebuah botol yang memiliki leher pada bagian atasnya, dan berbentuk bulat pada bagian bawahnya. Dikatakan labu, karena bentuknya memang mirip seperti buah labu.


Botol itu Arley beli tadi pagi, saat dirinya menjelaskan kepada sang paman, jika dirinya berhasil menemukan resep ramuan obat kuat tersebut.


Ketika Arley menjelaskan kepada pamannya, bahwa ia berhasil menemukan ramuan itu, sang paman pun langsung membawa pergi Arley ke kandang sapi agar mereka bisa berbicara lebih serius di sana.


Saat itu, Arley menjelaskan kepada pamannya, jika ia bertemu dengan Litta sang Alchemist, dan sebab mengapa rumah Litta bisa berada di sana.


Lantas, si paman pun sadar, jika kejadian yang memicu kemarahan Varra tadi malam, semua dasarnya berawal dari kecerobohan Litta, yang menyerng Arley saat dirinya sedang tidur.


Mendengar hal itu, paman Radits hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menepuk punggung Arley, lalu berkata.


“Nak, jika kau bertemu wanita itu lagi. Berlarilah sekuat tenagamu,” jelas sang paman, dengan penuh rasa respek terhadap Arley.


Paman Radits sadar, jika Arley adalah calon pria pujaan wanita. Sebab itu, ia tidak mau membiarkan Arley jatuh ke lubang dunia gelap yang penuh dengan lumpur dan lendir.


Dan jika Arley dibiarkan bersosialisasi dengan Litta, si paman khawatir, jika Arley akan menjadi lelaki yang buruk ke depannya.


Tetapi Arley tak mengerti maksud pamannya. Ia hanya menganggukkan kepalanya dan menuruti perintah sang paman secara buta.


Setelah itu. Arley menjelaskan kepada pamannya, bahwa ia butuh beberapa peralatan untuk membuat ramuan tersebut.


Dan dengan demikian, paman Radits pun langsung membawa Arley ke dalam kota [Rappysta], untuk membeli peralatan yang ia butuhkan.


Namun, mereka tidak bepergian jauh menuju ke dalam kota. Mereka hanya singgah di toko peralatan kimia, dan langsung kembali pulang ke rumah, untuk meramu racikan obat tersebut.


Dua hari telah berlalu … semenjak sang paman memberikan Arley perintah untuk menemukan ramuan obat kuat itu. Dan tepat dalam waktu dua hari, Arley berhasil menemukan ramuan tersebut, segalanya seusai dengan rencana sang paman.


Tetapi, sang remaja berambut merah itu masih bertanya-tanya, mengapa ia hanya diberikan waktu yang cukup singkat, untuk membuat ramuan ini.


Karena rasa penasarannya, Arley pun bertanya langsung kepada pamannya.


“Paman, Kenapa aku hanya diberikan waktu dua hari, untuk menemukan racikan obat ini?” tanya Arley, yang saat ini, masih menunggu racikannya untuk matang.


“Hm~ Lebih cepat, lebih baik bukan?” ungkap sang paman, dengan ringannya.


Tampak jika sang paman menyembunyikan sesuatu dari Arley. Setidaknya, itulah yang Arley rasakan.


Namun, Karena Arley mengetahui jika sang paman menyembunyikan sesuatu dari dirinya, sang remaja pun hanya diam dan menuruti perintah si paman. Ia tak mau membantah orang yang selama ini sudah menyelamatkan nyawanya.


***


Lima belas menit telah berlalu. Perlahan, warna racikan obat yang Arley ramu mulai merubah warna dasarnya, dari yang berwarna kuning, menjadi ungu ke merah-merahan.


Bagaimana cara Arley meramu obat ini? Ternyata, cara untuk membuat ramuan ini sangatlah mudah, dan teorinya sudah pernah tertulis di buku, ‘Love Potion’.


Hal ini pun ditanyakan langsung oleh sang paman.


“Hey, Arley. Kalau aku boleh tahu, apakah membuat obat ini cukup susah?”


“Tidak~ Kalau paman mau, paman bisa membuatnya sendiri.” ujar Arley, yang kala itu memperhatikan perubahan warna dari obat tersebut.


“Bahan-bahannya juga sangat mudah untuk di dapatkan. Yang kita butuhkan hanya, Jamur Rodentia, dan Purple Cactus, sebagai penetralnya.”


“Ha? Hanya dua macam itu saja?”


“Yup~ Dua macam itu saja.”


Kemudian, Arley menjelaskan secara detail, bagaimana mereka harus membuat ramuan itu.


Pada Awalnya, Jamur Rodentia yang sudah mereka dapatkan, harus dimasak dengan pasir sampai seluruh kandungan air di dalamya menguap, dan membuat jamur itu menjadi keras layaknya batu. Kemudian, jamur yang sudah mengeras harus ditumbuk dan dijadikan bubuk, agar bisa diseduh dengan menggunakan air getah dari, Purple Cactus, yang telah diperas menggunakan kain bersih.


Teorinya seperti ini: Jika Jamur Rodentia, langsung diseduh menggunakan cairan, Purple Cactus, maka, seluruh kandungan vitamin dan racun yang berada di dalam, Jamur Rodentia, akan melebur dengan kandungan penetral yang ada di dalam cairan, Purple Cactus tersebut.


Namun, Jika kandungan air di dalam Jamur itu dikeluarkan secara menyeluruh, maka, yang tersisa hanyalah racun dari jamur itu sendiri.


Lantas, jika serbuk racun itu dilarutkan ke dalam cairan, Purple Cactus. Secara sifat kimiawinya, racun itu akan ternetralkan, dan yang tersisa hanyalah khasiat utama dari, Jamur Rodentia, itu sendiri.


Warna kuning yang tercipta pada awal penyeduhan, adalah tanda, jika ramuan ini masih belum matang dan masih menyimpan racun yang sangat berbahaya. Tetapi, jika ramuan ini sudah berubah warna menjadi Ungu ke merah-merahan, maka ini adalah sebuah isyarat, jika ramuan ini telah siap dan bisa langusng dicoba.


***


Ramuan telah jadi, dan penjelasan singkat telah di berikan kepada sang paman.


“Bagaimana cara kita mengetesnya, Paman?”


Namun, mereka masih bingung, cara mengetes khasiat dari ramuan tersebut.


Sang paman terdiam untuk sejenak, Lalu, tak sengaja ia melihat ada beberapa sapi yang sedang memakan rumput, tak jauh dari lokasi mereka saat ini.


“Ikuti aku~” ujar sang paman, yang kemudian, mereka berdua pun pergi meninggalkan hutan tersebut, dan melangkahkan kaki menuju sapi-sapi milik keluarga Polka.


Sesampainya di sana, sang pama meminta Arley untuk memberikannya obat penguat itu kepada dirinya.


“Berikan obat itu kepadaku, Arley” ucap sang paman, sambil menjulurkan tangannya kepada si remaja.


“Geh!? Paman mau bermain dengan sapi-sapi ini? Eugh … hobi yang menjijikkan,” cerca Arley, yang berpikiran buruk terhadap pamannya.


“Eh!? Bukan aku yang akan menggunakannya!” teriak sang paman, dengan wajahnya yang memerah. “Aku tidak sejorok itu, sampai mau melakukan hal begituan dengan hewan!” jelasnya untuk meluruskan harga dirinya.


“O-Ohh~ Aku kira paman yang mau menggunakannya.” Tersenyum lega-lah Arley, sambil menjahili pamannya.


Dengan perasaan yang sudah kembali tenang, sang paman langsung saja menyiramkan ramuan itu, ke tempat di mana sang sapi jantan tersebut sedang memakan rumputnya.


Setengah botol sudah ia tuangkan, lalu, paman Radits menuangkan setengah sisanya ke tempat seekor sapi betina yang berada di belakang sisi si sapi jantan.


Botol pun sudah kosong. Dengan nikmatnya, rumput-rumput tersebut dilahap lezat oleh kedua hewan tersebut , lantas, Arley dan sang paman langsung menjauh dari tempat dimana kedua sapi itu berada.


Dan di saat mereka berdua telah meninggalkan lokasi tersebut, sang sapi betina dan sapi jantan itu pun langsung bereaksi, terhadap obat yang Arley ramu tadi.


Suara lolongan keduanya terdengar begitu ekstasi, sampai-sampai, Arley harus menutup matanya, sebab rasa malu yang ia rasakan saat ini.


“W-wa …,” gumam Arley, yang kemudian membalikkan badannya dan kemudian menutup kupingnya.


“Gahahah! Ini berhasil! Kau jenius Arley! Kita berhasil membuat obat itu! Gaahahahaha!”


Dan karena kedua sapi itu berhasil menerima khasiat dari obat yang Arley ramu, sang paman pun terlihat sangat senang, karena rencana mereka akan segera dilancarkan setelah Arley meramu banyak stok dari obat penguat dan perangsan ini.


Saat itu, Arley memilih kembali ke tempat di mana ia meramu racikannya tadi, dan membereskan segala kebutuhannya untuk dibawa pulang.


Sedangkan di sisi sang paman, ia dengan semangatnya mengomentari aksi dari kedua sapi itu, layaknya sedang menonton pertunjukan olahraga yang amat panas.


Akan tetapi … kala itu, mereka berdua tidak tahu, jika di rumah kediaman Polka, saat ini sedang diserbu oleh enam orang yang ingin menculik Melliana dari tangan keluarganya.


Tepat di dalam rumah keluarga Polka, terlihat beberapa perabotan sudah hancur lebur, akibat pertarungan yang sempat terjadi.


“Lepaskan!” teriak Melliana, yang tangannya sudah diikat oleh salah seorang dari keenam orang suruhan tersebut.


“Kita sudah mendapatkannya, ayo lekas pergi!” ucap si pria yang berhasil mengikat tangan Melliana, sambil menarik sang gadis perawan itu secara paksa, keluar dari rumah kayu tersebut.


Di sisi lain ... kondisi Jasmine, Varra, Emaly, dan juga Joshua, sudah terikat paksa dan ditinggalkan di dalam ruangan tengah, oleh keenam orang tersebut.


Mereka berusaha berteriak dengan mulut yang telah dibalut oleh kain. Tetapi, suara mereka tak dapat keluar, sebab tali yang terikat pada mulut mereka, menghambat suara para wanita ini untuk merambat keluar dari tenggorokanya.


"Arley! Tolong kami!" gumam Varra dengan mulutnya yang terkunci. Ia terlihat menangis meminta tolong, kepada pria yang dirinya harpakan, untuk membantu mereka semua keluar dari permasalahan ini.


Apakah yang akan terjadi dengan Melliana?! Dan bagaimanakah cara Arley beserta paman Radits mengatasi hal ini?!