The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 122 : Rencana Licik.



    Membara—gelora api menyebar dan naik ke atas langit tepat menjalar keseluruh penjuru arena pertandingan.


    Demikian setiap bebatuan yang melewati api tersebut langsung berubah menjadi pasir dan debu.


    Misa terlihat kesal, sebab rencana yang ia lancarkan, saat ini telah di gagalkan oleh Arley. Namun idenya tak kunjung habis—kali ini ia merencanakan suatu hal yang lebih licik dibandingkan sebelumnya.


    Ketika Arley masih berada di atas lagit, kala itu juga Misa melihat ke arah Perry yang tengah terpaku dengan apa yang Arley lakukan.


    Secepat kilat Misa melompat kearah Perry, “Eh!?” sontak Perry sangat terkejut ketika melihat Misa sudah berada di hadapannya.


    Dipukulkannyalah perut Perry sampai ia susah untuk bernapas. Kesadarannya hampir hilang, namun Misa memang sengaja untuk tidak membuatnya terpingsan.


    Hal itu Misa lakukan, karena ia masih ingin bertarung dengan Arley.


    Tidak, lebih tepatnya—Misa ingin menyiksa Arley sampai ia mati.


    Setelah seluruh bebatuan yang Misa lontarkan ke atas langit telah habis, dan berubah menjadi pasir debu. Saat itu juga Arley turun ke atas arena pertandingan untuk kembali melanjukan pertarungannya dengan Misa.


    Perlahan kakinya ia jejakkan di atas lantai, sembari Arley melihat ke arah Misa dengan tatapannya yang tajam.


    “Apa kau masih belum puas dengan apa yang baru saja kau lakukan?” ucap Arley dengan sinisnya terhadap Misa.


    Tertawalah Misa dengan suara yang mengerikan, cekikikannya seperti suara kelelawar yang terbang pada malam hari.


    Namun ada hal yang lebih penting. Tepat didekapannya—terdapat tubuh Perry yang terkulai lemas.


    “Ahh~ sebenarnya aku tak ingin melakukan hal kotor seperti ini, namun kau sangat susah untuk di atur, Arley,” ucap Misa demi membalas kalimat sinis Arley.


    Sejenak Arley menatap Perry dengan kasihan, “Lepaskanlah dia, wanita itu tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini,” diulurkannya bilah pedang yang terlapisi api hijau itu ke arah Misa.


    “Jika kau berani mendekat, maka wanita ini akan mati saat ini juga,” dengan kejamnya Misa menaruh ujung tongkat sihinya pada leher Perry, yang ketika itu dirinya sadar jika ia tengah dalam masalah besar.


    Namun Perry tak bisa berbuat banyak, ia hanya diam dan menatap sedih dirinya sendiri yang labat laun mulai merasa semakin melemah.


    “Ohh … betapa malangnya dirimu, andai saja kau tak berhasil masuk ke babak ini, mungkin nyawamu masih terselamatkan,” dengan kuku jarinya yang panjang itu, Misa menggores sedikit wajah Perry sampai menimbulkan darah padanya.


    Terkucurlah air mata ketakutan dari wajah Perry.


    Arley yang tak lagi bisa menahan Amarahnya, saat itu juga ia melompat maju menerjang Misa yang tengah memeluk Perry.


    Misa terkejut, ia tidak menyangka jika Arley bisa melaju dengan kecepatan yang sangat kilat. Sekejap itu juga—Misa tak mampu mengantisipasi pergerakan Arley.


    Terhantamlah wajah Misa dengan tempurung kaki Ayley, yang kala itu—ia melesat bagaikan lontaran peluru.


    Kulit wajah Misa tampak masuk kedalam tempurungnya, namun karena kecepatan dan kekuatan yang Arley derakan terhadap Misa—hal tersebut membuat membuat wajahnya kembali ke posisi semula layaknya tidak terjadi apa-apa.


    Namun mengucurlah darah dari mulut juga hidung Misa selepas hantaman tersebut terkontak.


    Tubuhnya terpental jauh ke sisi utara lapangan, dan lagi-lagi, akibat hantaman tersebut—badannya tertanam di bagian tepi lapangan Arena.


    Perry pun terbebas dari dekapan Misa. Seketia itu juga Arley mendekap Perry yang hampir terjatuh ke lantai.


    Tubuhnya bergetar, wajahnya pucat, dan suaranya begitu serak, “J-jangan ... sentuh ... ini jebakan ...,” ucap Perry yang kala itu suaranya hampir tak terdengar.


“Apa?!” namun sudah terlambat, Arley telah menyentuh tubuh Perry yang kala itu tengah membeku bagaikan batu es.


    Tiba-tiba saja badan Arley menjadi kaku dan tak dapat bergerak, “Apa-apaan ini!?” teriak Arley sembari mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa begitu kaku dan terbakar—akibat penurunan suhu yang sangat mendadak.


    Tampaknya Misa telah menanamkan sihir didalam tubuh Perry, sampai pada akhirnya, ketika Arley menyentuh tubuhnya, tertularlah ia—akibat sihir yang Misa rencanakan.


    Lalu, terdengar dari sudut utara lapangan pertandingan—suara teriakan seorang wanita yang merebak begitu jahatnya, Arley menyadari jika Misa telah melakukan sesuatu pada dirinya.


    “MISA!” teriak Arley setelah ia mengetahui dalang dari permasalahan ini.


    Arley langsung melontarkan lirikan tajam bercampur kesal kepada Misa—yang kala itu tengah berada di sudut utara arena pertandingan.


    Tampaklah geratan gigi Arley, akibat kejengkelannya yang meluap-luap. Ingin saja ia menyelesaikan pertandingan ini hanya dalam sekali serangan.


    Namun jika ia melakukan itu, maka Perry juga akan terkena serangannya dan ini sangatlah berbahaya.


    Gelak tawa Misa tak kunjung putus, terdengarlah suara bebatuan terjatuh dari sudut arena. Kabut asap menutup jarak pandangan Arley, terhadap kondisi Misa saat ini.


    Tetapi Arley tahu jika Misa tengah berjalan menuju arahnya.


    “Lepaskan! aku tak suka permainan licik seperti ini,” ancam Arley dengan kekesalan yang sedang ia coba untuk kendalikan saat ini.


    “Ara~ itu bukan salahku ... bukankah kau sendiri yang menyentuh wanita itu?” ucap Misa sembari ia semakin mendekat ke arah Arley, "Hal ini terjadi akibat kecerobohanmu sendiri, Alrey-ku sayang."


    Tak dapat membalas perkataan Misa, kala itu juga Arley berusaha untuk membebaskan dirinya sendiri dari jeratan mantra sihir Misa.


    “-Ngh!?” Arley terkejut, namun tidak ada rasa sakit.


    Akan tetapi, dari bagian lengan tangan sebelah kirinya itu, terdapat retakan yang sangat mengejutkan diri Arley.


    Sekilas, ia dapat melihat bagian dalam lengannya sendiri, sebab kulitnya terpecah akibat geramannya tadi.


    Lantas Arley langsung menengadahkan kepalanya ke arah Misa, “MIISAA!” teriaknya dengan kesal.


    Seketika itu juga, tampaklah dari kejauhan—bayangan tubuh Misa yang tengah berjalan lenggak-lenggok, tepat dari dalam kabut asap yang mengisi seluruh pandangan di atas arena pertandingan ini.


    Sesekali Arley dapat melihat wajah Misa yang tampak puas.


    Sudah tak ada lagi yang Misa inginkan selain kehancuran dan kemusnahan Arley dalam posisi yang paling mengenaskan.


    “Oh Arley~ beginikah caramu mengalahkan para bandit gunung itu?” beberapa saat kemudia, Misa berhasil mendekati Arley tanpa perlu perlawanan sama sekali.


    Lantas, Misa menyentuh dagu Arley dengan jari telunjuknya. Kemudian ia menengadahkan kepala Arley untuk berhadapan langsung dengan wajahnya, yang ketika itu tinggal berjarak dua deriji dari ujung hidungnya.


    “Arley, aku rasa sudah cukup penderitaanmu sampai disini,” bisik Misa tepat di hadapan Arley.


    Arley tak mampu melakukan apapun. Dengan penuh kekesalan, ia hanya bisa menjawab perkataan Misa, “Aku tak butuh rasa kasihan dari dirimu ... dan aku sama sekali tidak merasakan penderitaan yang kau maksudkan tadi ....”


    Sejenak Arley tersenyum tepat di hadapan Misa. Ia mencoba memprovokasi Misa dengan segala kesempatannya yang tersisa.


    “Aaaa ... halo-halo? hmm?" ucap Misa untuk mencemooh Arley, "Entahlah—aku hanya bisa mendengarkan perkataan kosong yang tak bermakna apapun darimu, wahai rambut merah,” ejek Misa yang ia mengira jika kalimat Arley hanya bualan semata.


    Namun kala itu Arley benar-benar tertawa dengan lugas. Apa yang ia katakan tadi, adalah merupakan sebuah kebenaran dari apa yang ia rasakan pada saat itu.


    “Hmm, benarkah demikian?” ucap Arley dengan senyumannya yang hangat, “Selama kau pergi menghilang dari negeri ini, kala itu—aku bisa menemukan orang-orang yang dapat-ku anggap sebagai seorang sahabat, dan aku merasa sangat bahagia dengan hal itu.” sekali lagi Arley menunjukkan senyuman hangatnya.


    Tampak jika Misa tak senang dengan perawakan Arley yang terlihat bahagia. Lantas, Misa mendecakkan bibirnya sembari menjorok kepala arley dengan telapak tangannya.


    Tentu saja tubuh Arley langsung terbanting ke arah belakang, dan menghantam lantai arena dalam kondisi tak berdaya.


    “Tidak menarik!" jerit misa dengan lantang, "Aaahh ...! aku jadi bosan!” saat itu juga Misa menampakkan wajah kesalnya, sembari ia menaikkan tangan kanannya untuk membidikkan tongkat sihirnya tersebut, tepat ke kepala Arley.


    “Ugh!?” Arley terkejut, namun ia tetap terus berpikir, demi mencari cara agar ia bisa keluar dari permasalahan ini.


    Sekilas Misa kembali tersenyum. Ia tahu jika Arley tak dapat berbuat apa-apa lagi, dan saat ia mengetahui hal tersebut, Misa langsung mengambil kesimpulan bahwa ia harus menyelesaikan segalanya.


    “Bye-bye Arley Gormik …!”  ujar Misa dengan wajahnya yang memerah seperti orang yang tengah jatuh di dalam lubang cinta.


***


----------------------------------------------


 


Hai! sahabat pembaca dimanapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuh support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Atuhor untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia!


dan selalu berpikiran positif!


Always be Happy


Have a Nice day


See you on the next chapter!