The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 74 : Topeng & Wajah.



~PoV 3rd~


Pertarungan semakin memanas. Satu persatu para peserta tumbang karena kelelahan atau karena keluar dari dalam Arena.


Mereka saling menjegal musuh yang ada di hadapan mereka, juga saling membantu rekan tim mereka yang tengah kesusahan.


Namun di lain sisi, tepatnya di tribun penonton, ada sebuah kejadian yang membuat para penikmat festival ini dibuat menjadi terbingung-bingung.


“Hey lihat ke tengah Arena … bukankah itu Maximus?” Ucap seseorang yang tampaknya kenal dengan rekan satu tim Arley, yap, Maximus.


“Hm …? Mana?! Ah! Iya kau benar! Itu Maximus!” Teriak pria satunya sambil menunjuk ke-arah tengah Arena.


Demikian hal itu membuat heboh para penonton, mereka semua memandang ke tengah Arena karena ada suatu hal yang tak biasa sedang terjadi.


Ya, tepat di tengah Arena, tim Green Lotus dan The Red Lion tengah membicarakan suatu hal.


Tapi tampaknya bukan hal itu yang di perdebatan oleh para penonton ini.


Namun orang yang berada di dekat Arley itulah yang menjadi bahan pembicaraan mereka.


“Tunggu dulu! kalian membicarakan Maximus yang itu?! Maximus Meridius Titania?! Anak dari Adipati (Duke) Maxwell?!”


Salah seorang dari tribun atas ikut bergabung dalam pembicaraan kedua orang yanga ada di depannya.


“Ya! Adik tiri dari Clinton Eluvia Tittania! Tidak salah lagi, dia itu Maximus sang Bangsawan! mengapa ia ikut bertarung di sana!!?!”


Seketika itu juga tribun menjadi riuh dan tak terkendali. Mereka semua membicarakan orang yang saat ini tengah bertempur bersama Arley.


.


.


.


***


.


.


.


~Pov Arley~


Kondisi saat ini menjadi semakin mencekam, lebih sialnya lagi aku harus melarikan diri dari tengah Arena karena aku harus menyusun kembali rencana yang aku sendiri harus bisa merancangnya.


Demikian Maximus memanggilku dari dalam gumpalan asap hitam yang pekat ini.


“Arley! Apa yang ia katakana kepadamu!?” Tanya Maximus sambil mencoba keluar dari dalam asap ini.


Sesaat kemudian tim kami berhasil keluar dari pekatnya asap yang di akibatkan oleh meledaknya ranting kayu yang aku gunakan sebagai tongkat sihir beberapa waktu yang lalu.


Setelah itu, kami semua terduduk di lantai Arena sambil membicarakan apa yang tengah terjadi.


“Kita tidak bisa bergabung dengan mereka! Sial, sejak awal memang mereka tidak akan membiarkan tim kita untuk lolos ke babak selanjutnya!” Jelas ku sambil memandang kusut ke-arah Maximus.


"Benarkah demikian ...!? , kalau begitu apa yang harus kita lakukan …?!” Maximus tampaknya sudah kehabisan akal, ia hanya memandang lantai sambil meremas tongkat sihirnya.


Begitu juga dengan ketiga temannya, mereka hanya bisa memandang kami sambil menunggu instruksi dari aku dan Maximus.


“Kita tidak bisa berdiam seperti ini saja, ayo Kita kembali ke rencana B untuk menetralkan keadaan tim kita saat ini!”


Kemudian aku berdiri dari posisi dudukku dan kembali berusaha untuk menyemangati mereka.


Mereka berempat akhirnya berdiri dari duduknya dan mengikuti instruksi ku yang terdegar ceroboh itu, namun tanpa berkata-kata mereka mengikuti arahanku ini sampai kami mendapatkan cara untuk selamat dengan sempurna dari seleksi tahap awal ini.


.


.


.


***


.


.


.


~PoV 3rd~


Tepat pada moment itu juga, di sisi lain Arena, tepatnya pada tim The Red Lion, perdebatan pembicaraan juga tengah terjadi.


Setelah Arley melontarkan serangannya, Trevor berhasil menangkal serangan Arley dengan memukul bola api yang Arley luncurkan ke-arah Eadwig, demikian Trevor memukul bola api itu dan saat itu juga bola api yang di luncurkan Arley meledak di hadapan Trevor.


Selepas itu kondisi di tengah Arena kembali tenang karena tak ada yang berani menyerang mereka.


Dalam kekosongan ini, Trevor memasukkan pedangnya dalam sarung pedang yang tersemat pada pinggang kiri nya, lalu ia kembali ke sebelah kanan sang majikan.


“Yang mulia … apa yang engkau bisikkan kepada anak bertudung putih itu? Kenapa ia terlihat marah dan menyerang kita secara mendadak seperti demikian?” Tanya Trevor yang terbingung-bingung dengan kondisi saat ini.


“ … Aku … tertarik dengan anak berambut merah itu.~” Jelas Eadwig dengan senyuman lebar di pipinya.


“Anak bertudung putih itu yang mulia?! Tetapi, bukankah yang mulia berkata bahwa pria berambut biru tua itu lah yang seharusnya kita singkirkan di babak ini!?”


Trevor semakin bingung dengan tingkah tuannya yang tak bisa ia tebak.


“Tenang Trevor, aku bisa melihat apa yang akan terjadi dengannya setelah semua ini berakhir. Namun untuk saat ini mari kita menyelesaikan masalah yang ada di belakang kita.”


Saat itu juga Eadwig membalikkan badannya, dan tepat di belakangnya, terdapat seorang kesatria yang memiliki tubuh sangat besar.


Bahkan lebih besar dua kali lipat dari tubuh Eadwig saat ini.


Sang kesatria membawa pentungan berduri tumpul yang ia kibas dengan sangat kencang mengarah ke langit, serta setibanya pentungan itu berdiri tegak di langit, saat itu juga sang pria siap menghujam senjatanya ke-arah Eadwig dengan kekuatan otot miliknya.


Namun tampaknya Eadwig sudah mengetahui dan ia telah siap untuk menangkal serangan yang mengarah pada dirinya itu.


“Jack! Pertahanan!” Perintah Eadwig pada teman satu timnya.


“Laksanakan Yang mulia!”


Lantas pria bernama Jack tadi, dengan sigap memasang perisai besar yang terpasang di tangan kanannya itu, untuk mengarah ke langit demi menangkis serangan sang kesatria, yang ingin mencelakai Eadwig.


Dalam moment tersebut, Eadwig dengan cepat juga mengeluarkan kedua pendang tumpul yang tertanam di sarung pedang pada kedua belah pinggangnya.


Saat itu juga pentungan berduri menghantam tameng milik Jack. namun serangan sang kesatria berbadan besar tadi, termentahkan seperti menghantam tembok besi, demikian serangan sang kesatria tidak mempan sama sekali di hadapan tameng milik Jack.


Pentungan yang di hujamkan ke-arah Jack memantul ke langit, bagaikan bola kasti yang terhempas ke-angkasa.


Ketika itu pula lah, Eadwig melompat ke atas tameng milik Jack dan menjadikannya tumpuan untuk melompat lagi lebih tinggi dari lompatan biasanya.


Eadwig lalu menyilangkan kedua pedangnya ke lagit, dan saat itu juga ia menebas angin secara kencang dengan kedua pedang yang ia arahkan ke-arah pria berbadan besar tersebut.


“Wind Slash!”


Teriak Eadwig sembari mengeluarkan jurus andalannya.


Ketika itu, jarak antara Eadwig dengan sang kesatria berbadan besar, terbilang cukup jauh.


Tetapi saat itu juga, hembusan Angin tercipta bagaikan angin terbentuk dari jurus yang Eadwig keluarkan.


Sang kesatria terpental kebelakang karena ia mencoba menahan serangan kuat dari Eadwig.


Namun tidak hanya sang kesatria berbadan besar yang terhempas, seluruh orang yang berada di bagian timur, ikut terhempas karena serangan Eadwig semakin membesar sembari angin yang ia ciptakan menyerap udara pada sekitarnya.


Sontak semua orang di bagian timur, terhempas keluar dari atas arena secara instan.


“Ahh … lagi-lagi kau berlebihan tuan muda …” Ucap Jack dengan nada yang sangat lemas.


Demikian Eadwig kembali berdiri pada kedua kakinya di lantai Arena dengan wajah yang menyeringai lebar bagaikan orang yang sedang dalam kondisi ekstasi.


“AHH!! Segarnya kehidupan ini!!” Ucap Eadwig dengan bahagia sambil membentangkan kedua tangannya dengan lebar.


Kejadian itu di saksikan oleh semua orang.


Saat itu juga setiap penonton yang menyaksikan kehebatan Eadwig bersiul dan berteriak sekencang-kencangnya sambil memberikan tepuk tangan yang sangat meriah.


.


.


.


***


.


.


.


~PoV Arley~


Angin masih berderu kencang sehabis lesatan jurus yang di lepaskan oleh Eadwig menerpa semua orang yang berada di atas Arena bagian Timur.


Ya ... Mereka semua secara instan terhempas dari atas Arena.


Kami semua, para peserta yang melihat kejadian itu, tertegun selepas menyaksikan kehebatan orang yang akan menjadi seorang Raja di masa yang akan datang.


Demikian aku hanya terdiam sambil memegang ranting pohon yang baru saja aku temukan di sela-sela kaki peserta yang tengah bertarung melawan tim kami.


“Hey kalian semua! ayo kita lanjutkan serangan selagi mereka semua masih dalam kondisi terkejut !!”


Ucap ku kepada rekan-rekan tim ku yang teridam layaknya orang bodoh. Sekilas aku menatap langit untuk melihat tinggal beberapa orang yang tersisa di atas ring Arena ini.


***


« JUMLAH PESERTA » : 43 ORANG


« YANG TELAH KELUAR » : 157 ORANG


« YANG HARUS DI KELUARKAN » : 13 ORANG


« SISA WAKTU » : 55 MENIT


***


Terpotong secara drastis. aku bahkan tidak menyangka jika peserta yang tersisa hanya tinggal 1/3 dari jumlah awal peserta.


“Bagus! Kembali menyerang!! Tingal sedikit lagi!!” Teriak ku kepada renkan-rekan tim ku saat ini.


Tanpa membalas jawabanku mereka kembali menyerang setiap lawan yang berusaha mendekat ke-arah kami.


“Kalian semua! Bertahanlah sedikit lagi!” teriak ku untuk menyemangati timku yang sedang dalam kondisi tertekan ini.


Sekilas aku melirik ke-arah tengah Arena untuk melihat apa yang Eadwig ingin lakukan selanjutnya.


Namun di luar dugaan, mereka hanya kembali diam sambil memandang ke-arah kami seperti orang yang sedang menikmati pertunjukan sirkus.


Syukurlah, untuk saat ini aku harus fokus pada pertarungan yang ada di dekatku.


Saat ini aku tidak bisa lengah sedikitpun. Karena pada kondisiku saat ini, kemampuanku sangatlah tidak menguntungkan.


Aku hanya menjadi beban untuk timku karena tidak bisa berkontribusi bersama mereka.


Dengan tongkat kayu yang aku pegang erat, aku berfikir keras bagaimana caranya aku bisa memanfaatkan ranting yang baru saja aku dapatkan ini.


Sedangkan ranting ini hanya bisa melesat kan satu kali serangan saja.


Aku benar-benar dalam dilema yang sangat amat kacau ....


.


.


.


***


.


.


.


Perlahan tapi pasti, saat ini, beberapa orang tumbang dari atas Arena.


Sesekali aku melihat ke atas langit untuk menghitung mundur berapa orang yang sudah tersingkirkan.


« JUMLAH PESERTA » : 39 ORANG.


Tetapi tensi pertandingan semakin memanas, orang-orang yang kelelahan memilih untuk berkoalisi dengan tim lain untuk menumbangkan tim yang masih sempurna.


“Maximus! Aku rasa saat ini sebaiknya kita berusaha untuk melancarkan rencana D lagi!”


Tegas ku untuk mengingatkan ketua tim kami.


“….”


Namun ia seperti tidak menanggapi ucapanku tadi, ia hanya fokus menyerang setiap orang yang tampak di pengelihatannya.


“Maximus! Kau dengar tidak ucapan ku?!”


Sekali lagi aku berteriak kencang untuk membuat Maximus mendengar ucapan ku.


“Aku mendengar mu Arley! Tetapi aku tidak sependapat dengan mu kali ini! kita tidak butuh bantuan orang lain di saat segenting ini!”


Maximus berteriak kepadaku dengan nada yang lebih tinggi dari ku.


Namun, saat ini juga aku merasakan seluruh tubuhu ini merinding karena suatu hal yang berasal dari tengah Arena.


Sontak aku melihat ke-tengah arena, demikian yang aku dapatkan di depan kedua mataku adalah suatu hal yang sangat absurb.


“Maximus!! Morlia!! Krippa!! Karrel!! Cepat berlari sekuat tenaga kalian sekarang juga!! Berlarilah berpencar ke segala tempat!!!”


Teriak ku untuk memperingatkan mereka berempat agar terhindar dari serangan yang akan datang kepada kami.


Benar, Eadwig tengah mengangkat kedua pedangnya ke langit dan ia mengarahkannya ke sudut barat


Tepat di sudut yang tengah terjadi pertarungan paling berkecamuk diantara sudut-sudut lainnya.


Dengan kata lain ia mengarahkan serangannya ke-arah kami ....


Saat itu juga setiap orang yang mendengar ucapanku langsung paham dengan apa yang tengah terjadi.


Kami yang berada di sisi barat langsung berhamburan berlari ke sudut yang lain demi menghindari serangan Eadwig yang sangat mengerikan itu.


Ugh sial! Tampaknya kami tidak akan sempat melarikan diri!.


Saat itu juga aku berdiri diam tepat di hadapan Eadwig, sedangkan mereka semua berlari terpontang-panting untuk menghindari serangan yang akan datang.


Aku arahkan ranting kayu yang hanya memiliki panjang 20cm ini ke-arah Eadwig, lalu saat itu juga kuucapkan mantra yang sudah lama aku tidak sebutkan dengan kedua bibir ini untuk menangkal serangan yang Eadwig akan tumpahkan ke-arah kami.


“Wind Slash!!”


teriak Eadwig dari tengah Arena dengan suaranya yang menggema kencang.


Saat itu juga potongan angin bergerak kencang tepat ke-arah ku.


Namun tidak semudah itu Eadwig! Aku akan melakukan apapun untuk menangkal serangan mu itu!


“Gale Ventum!!”


Ku ucapkan mantra sihir yang sangat kurindukan ini dengan teriakan yang sangat lantang, bahkan lebih lantang dari teriakan Eadwig sebelumnya.


Dari ujung tongkat kayu ini muncul putaran angin tornado yang sangat amat dahsyat, sampai-sampai serangan Eadwig terserap dalam putaran angin yang aku ciptakan.


Seketika itu juga tongkat kayu yang aku genggam, rontok serta berubah menjadi debu.


Demikian aku mencoba untuk bertahan di lantai Arena, namun kencangnya putaran angin membawa aku dan seluruh orang yang ada di atas Arena, terangkat dan terhempas, terbawa terbang oleh derasnya angin sampai-sampai putaran angin ini melontarkan kami semua menuju ke udara.


Kami terputar di udara bagai kapas yang tertiup angin dengan sangat kencang.


“Aarrg!!!!” Teriakku mencoba menahan debaran jantung pada dadaku yang memompa darah ke seluruh tubuhku dalam kondisi yang terlalu cepat.


Kalian pernah Menaiki rollercoaster? Demikian perasaan yang aku rasakan saat ini, yap, sangat mirip dengan perasaan orang yang Menaiki rollercoaster!


Tubuhku menjadi kejang, dingin seluruh kulitnya, namun aku tidak dapat menghentikannya karena sihir ini bukan aku lagi yang mengontrolnya! Sial, seharusnya aku tidak melakukan hal ini.


Semua ini adalah pertamakalinya aku rasakan dalam hidupku, dan mulai hari ini, aku berjanji tidak akan menggunakan sihir dengan mediasi hanya sebatang kayu! aaarg!! Betapa bodoh nya aku!!


Lalu angin tornado itu berhenti berputar dan membuat kami terhempas ke segala arah, namun masih berada di atas arena pertandingan ini.


.


.


.


***


.


.


.


Pusing dan mual, itu lah yang aku rasakan saat ini … ketika aku membuka kedua mata ku.


Pemandangan yang pertama kali aku lihat adalah semua orang sedang berusaha berdiri dari tempat dimana mereka dijatuhkan.


Begitu juga dengan Eadwig yang berada di sudut Utara, ia tengah berusaha berdiri dari posisi tertidurnya.


“A … apakah aku berhasil …?” utas ku sambil menatap langit untuk melihat berapa orang lagi yang harus di keluarkan dari Arena ini.


« JUMLAH PESERTA » : 31 ORANG.


Saat itu juga aku langsung menyeringai bahagia karena saat ini orang yang harus keluar hanyalah satu orang.


“Maximus!! Kita berhasil!! Tinggal satu orang lagi yang harus kita keluarkan!” Teriakku sambil mencari dimanakah posisi Maxmus saat ini.


Mataku melirik ke kiri dan ke kanan, sampai akhirnya aku menemukan Maximus berada di sudut kiri arena bersama ke-tiga temannya.


Begitu aku menemukan Maximus, aku langsung berlari ke arahnya, dan setelah aku sampai di tempatnya, aku mencoba membangunkan Maximus dari posisi tidur.


Kami harus bergerak cepat jika ingin menyelesaikan pertandingan tahap satu ini.


“Maximus ayo bangkit! Kita hanya perlu mengeluarkan satu orang lagi!”


Sambil membangunkan Maximus dari tidurnya, aku menopang tangan kirinya dengan punggung ku.


Namun semua ini di luar dugaanku ….


“Buagh!”


Suara keras terdengar nyaring ke telingaku, rasa-rasanya seperti rahang kiriku hampir lepas dari engselnya.


Ya, saat itu juga, aku terjatuh dan terhempas ke lantai setelah aku di pukul dengan sangat kuat tepat di bagian kepala sebelah kiriku.


Tetapi bukan hanya itu, setelah di hajar tepat di wajah, aku terjatuh ke-lantai dengan posisi yang sangat tidak sempurna.


Selepas terkena pukulan, yang pertama kali terhantam dinginnya lantai semen adalah wajahku yang pucat ini.


Dengan kerasnya, dahiku menghantam semen sampai membuat luka goresan yang cukup dalam, dan saat itu juga, keluar lah rebasan darah yang sangat deras.


Kepalaku sangat pusing, penglihatan ku langsung berubah menjadi buram.


Aku bahkan tidak bisa bangkit dari tidurku. Namun aku terus berusaha untuk bisa bangkit dari keterpurukan ini.


Sesaat kemudian aku mencoba bangun dari posisi tengkurap.


Namun dengan kuping yang masih terngiang akan pukulan ini, aku seperti mendengar suara tertawaan beberapa orang tepat di belakang ku.


“Giyahahahahaha!!~” dengan suara yang lantang, aku menyadari jika suara itu adalah suara Maximus dan ketiga temannya.


“M ... Maxi … Mus?! –Apa yang kau … lakukan!!?!”


Sambil mencoba menghadap ke-arahnya, aku berusaha mengambil nafas untuk memulihkan tenagaku yang sempat terguncang beberapa saat yang lalu akibat pukulan yang keras itu.


Namun saat itu juga … sebuah hentakan sepatu, menunjangkku dengan sangat kuat dan membuat ku kembali terperosok ke dinginnya lantai semen dengan kondisi tubuh yang tak karuan.


Demikian dari balik punggung ini, aku merasakan ada empat buah sepatu yang menginjak punggungku dengan sangat kencang, sampai-sampai aku tidak dapat berdiri ataupun tengkurap lagi.


Sejenak aku berusaha memutarkan kepalaku dengan perlahan-lahan.


Setelah aku berhasil membalikkannya, tepat didepan pandangan ini. aku melihat senyuman jahat yang sangat amat menyiksa perasaan polosku ini ….


Bagaikan terbukanya topeng yang melapisi wajah mereka, dengan gamblangnya ekspresi mereka ber-empat seketika itu juga membuat bulu tengkukku berdiri.


“K-Ka … kalian ….!!?!”


Saat itu juga aku tahu jika aku sedang dalam masalah yang amat-sangat besar … ya, penghianatan ini … aku tidak akan melupakannya seumur hidupku ….


***