The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 138 : Battle of Strength!



Sang remaja menatap dengan begitu fokus pada tongkat sihir yang ia genggam. Beribu pertanyaan muncul secara berganti, demi mencari jawaban dari apa yang sedang ia persoalkan.


“Ini masalah kecocokan seorang individu dengan tongkat sihir yang ia gunakan. Ini kah sebabnya? Mengapa para penyihir hanya menggunakan tongkat sihir yang ditempah untuk diri pribadi?” Menataplah Arley mengarah ke atas langit. Ia mengingat tongkat sihir yang sebelumnya sempat ia gunakan untuk melawan Trimol—namun telah hancur beberapa tahun yang lampau.


Ketika Arley sedang dalam kondisi lengah, sebuah serangan kembali dihujamkan terhadap sang remaja. Hal itu dilakukan dalam kondisi yang mendadak.


“MATI KAU!” Dengan begitu geramnya, Ifrit mencoba untuk menendang kepala Arley dengan kaki kanannya. Pergerakan sang iblis, kali ini terlihat sepuluh kali lipat lebih kencang dari yang sebelumnya.


Namun, tiba-tiba Arley kembali menghilang dari hadapan sang monster. “Apa!?—” terkejut setengah mati, Ifrit hanya mampu menendang angin, bahkan sampai menimbulkan pusaran udara yang begitu dahsyat.


Menataplah sang monster menuju atas langit. Ia menemukan diri Arley melompat cukup tinggi dari posisi berdiri sebelumnya.


“Kurang ajar! Kenapa ia bisa begitu lincah!?” Karena Ifrit masih terbakar api amarah. Ia langsung melompat ke udara, untuk menghabisi Arley dengan pukulannya yang terakhir.


“Berhentilah bergerak liar! Dasar kelinci bodoh!” ucap Ifrit sembari ia melakukan pukulan siku—mengarah tepat menuju dagu Arley.


Kali ini Arley melakukan putaran ke belakang dengan sedikit dorongan menggunakan kakinya, pada tubuh ifrit. Untuk menjauhkan jarak di antara mereka berdua.


Lantas, pukulan siku yang Ifrit lontarkan, mengakibatkan hempasan angin yang cuku masif—terlepas menuju atap langit kota『Lebia』.


“Bagaimana bisa!?—” Ifrit terdiam seribu kata. Kekesalannya sudah sangat memuncak. Emosinya sudah tak bisa dibendung kembali.


Kala itu, Arley turun kembali ke permukaan bumi, sedangkan Ifrit sengaja membiarkan dirinya terbang lebih tinggi untuk mengambil ancang-ancang terhadap serangan yang akan ia lontarkan.


Terbanglah sang iblis merah, melesat tinggi sampai jarak seratus meter ke udara.


Setelah momentum terbangnya habis, Ifrit menjulurkan kedua tangannya menuju bumi. Lantas, saat itu juga ia merapalkan sebuah sihir yang sangat luar biasa dahsyat.


“***Particula Vastabat!***”


Rapalnya dengan sebuah kalimat kuno, mirip dengan bahasa yang Arley sering ucapkan.


“Apa?!—” Arley cukup terkejut ketika ia mendengarkan kalimat tersebut, tampaknya ia mengerti mantra sihir apa yang sang iblis rapalkan.


Lalu, seketika itu juga Arley merapalkan mantra sihir, yang mampu menekan kembali gempuran serangan Ifrit. Jika tidak segera ditindak, serangan sang iblis merah mampu menghabiskan seluruh kehidupan sampai jarak seratus kilo meter.


Melompatlah Arley tinggi ke udara, mungkin sekitar empat puluh meter di atas permukaan dataran ibu kota.


“***Contra Impentum!***”


Pekik Arley degan begitu lantang.


Muncullah sebuah cahaya kecil dari ujung tongkat sihir Arley. Seketika itu juga, ledakan tersebut menyentuh cahaya dari mantra sihir Arley. Terpecahlah butiran cahaya itu. Dan hal gila kembali terjadi.


Ledakan yang Ifrit lontarkan kepada Arley, langsung membal kembali kepada dirinya. “APAaaaaAAaaaaA!?—” benar-benar di luar logikanya. Gumpalan api yang meledak dahsyat itu, langsung menghujani tubuh Ifrit bagaikan bom atom yang meledak pada permukaan laut.


Kala itu, Durasi ledakannya bertahan sampai tiga puluh detik. Tubuh Arley terpaksa jatuh, menghujam ke dalam kawah yang ia ciptakan, dan tertanam pada lubang yang baru terbentuk akibat ledakan itu.


Badannya terasa panas sebab radiasi ledakan yang begitu masif. Pucuk-pucuk gedung pencakar langit, langsung rubuh akibat daya ledakan yang menggulung beringas di atas udara.


Benar-benar sebuah mantra sihir tingkat tinggi. Hal itu terus terjadi sampai pada akhirnya, keheningan datang menjemput mereka yang berada di dalam paldu kota.


Puing-puing bebatuan bergelimpangan di sekitaran kawah. Tubuh Arley tertanam pada lubang, yang terbentuk akibat dentuman terakhir. Wajahnya menatap tinggi menuju langit kota, yang kala itu tertutup oleh asap hitam—menggumpal pekat.


Tiba-tiba saja, selepas kabut asap menghilang dari pandangannya, Arley melihat tubuh ifrit yang sudah babak belur tengah terdiam membatu di atas udara.


“Dia benar-benar musuh yang tanggung …,” gumam Arley sembari ia kembali bangkit dari tidurnya.


Lantas, tak sengaja Arley melihat ke sudut Utara kawah.


Tepat pada bibir kawah yang ia ciptakan sebelumnya, terlihat rombongan orang—tengah menatap bingung ke arah langit ibu kota『Lebia』. Tetapi, ternyata bukan hanya diri mereka saja yang menatap kejut kejadian barusan.


Terlihat beberapa iblis yang mendapatkan perintah Ifrit sebelumnya, tampak ikut tertegun bersamaan dengan rombongan orang tersebut.


“Bukankah itu Eawdig?” gumam Arley yang menyadari keberadaan pangeran pirang itu.


Berdirilah Arley dari posisi terduduk, perlahan ia keluar dari dalam lubang—sebab ledakan terakhir. Kemudian, Arley kembali menatap langit, untuk mempersiapkan diri demi melawan Ifrit.


Muncullah tubuh Ifrit dari kepulan asap yang telah memudar—sebab embusan udara cukup kuat di atas sana.


Mata Ifrit melotot ganas. Tubuhnya penuh luka, demikian dirinya menaruh dendam terhadap Arley karena serangannya tidak pernah mempan terhadap anak aneh satu ini.


“Kau masih belum puas pak tua?!” pekik Arley sembari mendongak tinggi—melihat sang iblis berjanggut kambing tersebut.


Mendengar kalimat sang remaja, Ifrit langsung menurunkan emosinya yang tengah meluap-luap itu. Dirinya sadar, jika sang anak; bahkan belum mengeluarkan setengah dari kekuatannya.


Tiba-tiba dari sebelah Utara. Masuk sebuah serangan dadakan, menuju kepala Arley.


Tendangan seorang wanita melesat dengan kecepatan penuh, demi mengenai tempurung kepala si remaja. Tentu saja serangannya dapat terbaca oleh Arley.


Tak berhenti sampai di situ saja. Hujan serangan, juga tiba-tiba mengerubungi tempat Arley berdiri. Kesepuluh iblis itu kembali ke lubang kawah ini, demi melindungi Ifrit dari serangan Arley selanjutnya.


“Mausia! Apa yang kau lakukan kepada Ifrti!” teriak sang wanita berambut pirang, sembari ia melesatkan serangan udaranya kepada Arley.


Bilah-bilah sabetan udara merambat di ruang hampa menuju ke tempat sang remaja berdiri—berkehendak untuk memotong kepalanya. Akan tetapi, Arley menghindari semua serangan itu, dengan sedikit gerakan yang begitu efektif.


“Mana aku tahu! Aku hanya mengembalikan mantra sihirnya saja. Jika ingin meminta pertanggungjawaban, langsung saja kepada monster merah itu!” jawab Arley dengan begitu santai.


“Apa?!—” Serempak, kesepuluh iblis itu tampak terkejut dengan kalimat Arley.


“Hentikan serangan kalian! -Wahai Para Komandan Iblis!” teriak Ifrit dari ketinggian. Tubuhnya bergetar akibat menahan perih pada lukanya.


Lantas, kesepuluh monster itu melihat ke arah Ifrit sembari mereka bergerak cepat menuju ke sampingnya.


“Kau tidak apa-apa, Ifrit?!” tanya sang wanita berambut Croissant tadi.


“Jangan bodoh! Luka seperti ini tidak akan membunuhku,” jawab Ifrit dengan napas tersengal-sengal. Lalu ia menatap lusuh kehadapan Arley, dengan begitu banyak pertanyaan pada benaknya. “Hey, Anak berambut merah! Kalau boleh tahu, siapa dirimu sebenarnya ...?” tanya Ifrit dengan penuh kebingungan.


Serempak kesepuluh iblis lainnya, juga menatap Arley dengan pertanyaan yang sama pada benak mereka.


Kemudian, Arley menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuk. “He? Aku?” teriaknya polos, “Ehm. Aku hanyalah orang yang mau menyelamakan kedua kakek yang di sana!” Tunjuknya ke arah tembok Selatan. “Namaku Arley, Arley Benedict.”


Seketika itu juga, mereka para monster, memberikan wajah tak puas dan bingung sebab penjelasan Arley. “HA!?—” ucap mereka secara bersamaan.


Dari kejauhan. Tampak jika Eadwig tengah memperhatikan Arley, yang kala itu sedang berbicara dengan kesebelas Komandan Pasukan Iblis.


Dirinya merasakan suatu hal aneh dari sikap dan kelakuan Arley.


Ini adalah suatu hal yang baru bagi keempat sahabat sang remaja berambut merah. Sikap Arley terlalu santai ketika berhadapan dengan musuh yang begitu tangguh.


Sebenarnya … apa yang telah terjadi pada diri Arley? Darimana sang remaja mendapatkan kepercayaan diri semaksimal itu? Dan apakah Arley tak takut mati ketika berhadapan dengan mereka?


Semua itu hanya sang empunya yang tahu.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya dengan pertempuran ini?


Bersambung~


***


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!