
Not Edited!
Ketika itu … pikirannya telah kosong. Hatinya terasa begitu hampa … tak ada kesedihan, tak ada kesenangan … hanya kehampaan yang terasa kebas ….
“Ah … apakah kali ini aku benar-benar telah mati …? Sepertinya dahulu aku pernah merasakan hal yang serupa ….”
Segalanya terputar kembali pada benak pikirannya, masa ketika ia di besarkan di gereja … bermain dengan mantra sihir, segalanya terputar dari awal ….
“Paman Ordley, Ibunda Terra … Sophie, Lily … Uskup Steven, Kakek Marlin … Eadwig, Amylia … Rubius, Aurum … Paman Albion … Ah, iya … dahulu aku pernah bertemu dengan wanita itu … Va … Vanilla …? Lalu … kakek yang memberikanku sup lobak … kakek Rubert. Serta anak lelaki itu … Erga. Bagaimana kondisi mereka semua saat ini ya …? Apakah mereka semua terselamatkan dari agresi … tidak, dari penculikan bodoh ini …?” ucap Arley dalam benak pikirannya.
Lantas, Arley kembali teringat kehidupannya di masa lampau …
“A-Aku … bagaimana aku bisa melupakan semua hal ini … aku bukanlah penduduk asli dunia ini … aku adalah pria yang telah tewas di dunia sana, lalu aku kembali di hidupkan di bumi [Soros]. Mengapa aku bisa melupakan ini semua …?” Perlahan-lahan, ingatan Arley yang selama tujuh tahun belakangan ini menghilang, kali ini kembali pulih dalam hati dan pikirannya.
Lantas, Arley mencoba untuk menjabarkan kehidupannya di masa lampau.
“Aku … dahulu aku adalah seorang polisi yang baru saja dinaikkan pangkat, menjadi seorang agen pemerintah … tetapi, karena pemerintah dunia sudah korup, aku memilih untuk melepaskan diri dan bergabung dengan organisasi swasta. Setengah hidupku yang terdahulu … aku habiskan di organisasi itu. ya … tak ada rasa penyesalan ketika aku berada di dunia sana.” Perlahan-lahan, seluruh ingatannya mulai tersingkronisasi kembali.
“Adik perempuan … aku memiliki seorang adik perempuan. Dia telah memiliki anak dengan pasangannya … dan pasangan dari adik perempuanku adalah, sahabatku ketika SMA. Hahaha!, hidup yang menyenangkan. Oh iya! Setiap musim panas, aku sering bermain ke kampung halaman untuk bertemu dengan keponakanku, seorang gadis perempuan berumur lima tahun … Hmm senyumannya selalu mengembalikan jiwa kemanusiaanku ….”
Lantas … ingatan Arley ketika ia berada di dunia terdahulu, dan dunia [Soros] saat ini, berhasil menyatu menjadi satu-kesatuan.
“Aku … Arley Gormik … tidak, namaku yang terdahulu adalah … Rona Kaleid ….”
Tiba-tiba, segalanya yang berawalan dari kegelapan, berakhir berubah menjadi cahaya yang terang benderang. Pandangan Arley tersilaukan dengan secercak cahaya—muncul tepat di hadapannya.
Arley menghalau empasan cahaya itu dengan menutupi matanya dengan telapak tangan kanannya.
“-Ugh! S-Silau …?! Apa ini …?!” gumam Arley dalam hati.
Ketika itu, Arley berhadapan dengan tembok transparan. Ia berdiri di hamparan kosong, hanya ada dirinya dan tembok bening berisi air itu saja yang ketika itu sedang berhadapan dengannya.
Melihatlah Arley ke segala penjuru, dirinya sangat bingung … berkali-kali ia bertanya pada dirinya sendiri, “Sebenarnya aku ada di mana? Apakah ini surga? Atau Neraka?” dengungnya pada pikirannya sendiri.
Merasa tak ada yang bisa ia kerjakan selain melihat tembok transparan tersebut, Arley mulai mendekati tembok yang menjulang tinggi menembus langit itu, serta melihat ke ujung kiri, juga kanannya.
Benar-benar tak ada batas untuk mata memandang.
Kembalilah Arley menatap tembok yang ada di depannya. Ketika itu, ia hanya bisa melihat pantulan wajahnya dari air yang berada di dalam tembok tersebut.
“Ini … wajah Arley Gormik …,” utasnya, sembari ia menjulurkan tangan untuk menyentuh pantulan wajahnya tersebut. “mengapa wajah Arley yang terpantul di sana … sebenarnya … aku ini siapa ….”
Ketika Arley berhasil menyentuh tembok kaca tersebut, tiba-tiba muncul sebuah riak air, tepat di mana Arley menyentuh bagian tembok tersebut. Terkejulah Arley menyaksikan hal tersebut. Riaknya menyebar ke seluruh permukaan tembok.
Kala itu, Arley melangkah mundur sebab rasa cemasnya dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Merataplah ia melihat ke sebelah kiri dan kanan. Dari tembok yang bergejolak layaknya ombak di sungai, tiba-tiba muncul gambar-gambar bergerak yang Arley tak mengerti.
Pada Awalnya hanya wajah Arley yang tampil di sana, lalu tak lama kemudian muncul wajah orang-orang yang tak dirinya kenali. Orang-orang tersebut terlihat seperti sedang bertempur dan melawan sesuatu, dan semua orang yang di tampilkan di sana, adalah orang-orang yang memiliki rambut merah, serta mata hijau seperti dirinya sendiri.
Namun, ketika penatnya perputaran gambar bergerak itu berlangsung, mata Arley terfokus pada sebuah adegan yang tampak sangat berbeda dengan yang lainnya.
Ia melihat suasana aneh dari gambar tersebut, dan hanya orag yang di video itu sajalah yang tidak memiliki ciri-ciri seperti yang lainnya.
Seorang pria dewasa, dengan rambut putih susu, juga mata ungu padam, terlihat sedang berduaan dengan seorang wanita bertelinga panjang—duduk di bawah sebuah pohon. Mereka terlihat begitu romatis dan saling menyayangi.
Lalu, tiba-tiba gambar orang tersebut langsung berubah pada adegan yang lain. Adegan ketika sang pria tengah memakan sebuah apel berwarna merah kehijau-hijauan—dengan lahapnya sang pria memakan buah tersebut.
Kala itu, Arley menyadari jika ia pernah melihat sang pria yang ada di gambar tersebut, pada suatu tempat. Dirinya berusaha keras mengulang memori pada benaknya untuk menyadari siapa sang pria yang tengah memakan apel itu.
Setelah sang pria memakan habis apelnya, tampak ada seseorang wanita lain ikut memakan buah apel unik tersebut. Wanita itu tampak seperti manusia biasa, ia memberikan sebuah apel lainnya kepada sang pria.
Dilahapnyalah buah itu sekali lagi. Setelah satu gigitan yang dalam, sang pria mengunyah dan menelan buah itu dengan bahagianya. Namun, tiba-tiba kepalanya terasa panas begitu juga dengan kedua bola matanya.
Terjatuhlah sang pria merintih di tanah. Tubuhnya menggeliat seperti cacing kepanas. Ketika sang pria sedang kesusahan, datang wanita yang sebelumnya menemani sang pria berambut putih tersebut. Sang wanita menangis sejadi-jadinya ketika melihat si pria berambut putih.
Tiba-tiba saja, ketika keriuhan itu tengah terjadi, keluar darah dari pori-pori rambutnya. Darah itu menyebar dan mewarnai setiap helai rambut yang tumbuh di kepala sang pria. Kemudian, saat sang pria merintih kesakita, terbukalah matanya lebar-lebar.
Si wanita yang memiliki kuping panjang tersebut, lagsung memegangi kepala sang pria untuk memberikannya semangat, “Bertahanlah … bertahanlah …!” ucap sang wanita yang bisa di pandang dari gerakan mulutnya.
Arley kala itu tak menyadari jika dirinya juga meneteskan air mata. Lantas, ketika sang pria sudah kembali tenang, Arley baru menyadari jika pria tersebut adalah pria yang sangat mirip dengan patung yang beridiri di tengah pusat ibu kota [Lebia].
“Adam …,” ucap Arley yang sudah mengetahui sosok si pria berambut putih, lalu berubah menjadi merah, setelah ia memakan buah apel tersebut. “Ah … ini adalah kisah masa lalu Adam … lalu Iris, Zue … Horus, Lebia … Exandia … dan, Aku …?” ucap Arley sembari ia menunjuk setiap gambar yang tampil di tembok kaca tersebut.
“Benar!” Menggema suara yang Arley tidak ketahui asalnya dari mana.
Suara itu menggelegar layaknya dentuman bom yang meledak tepat di atas kepalanya.
Ketika Arley mendengar suara itu, dirinya harus merunduk sebab badannya gemetaran hebat—tak sanggup menahan frekuensi yang meresonasi tubuhnya.
Bersambung!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------