
Not Edited!
Semenjak Arley kembali tak sadarkan diri—terkapar di atas lantai yang lembab, serta dilapisi kain putih … waktu telah berputar selama sepuluh jam, berdetik tak dapat dijeda … perlahan habis digerogoti oleh masa.
Kondisi Arley saat ini masih tak sadarkan diri. Sedangkan peperangan di luar sana, masih berkecamuk hebat, dengan hanya bermodalkan Lenka seorang diri—menahan gempuran musuh.
Gempa-gempa kecil mulai terjadi, debu dan bebatuan langsung berjatuhan dari atap bunker layaknya hujan kering.
Orang-orang yang berada di dalam bunker tersebut, mulai panik dan berteriak akibat rasa takut yang mereka pendam.
“Apakah tuan Lenka akan baik-baik saja …?” tanya Rubius kepada Eadwig.
Eadwig sejenak terdiam, sembari ia menatap lantai yang gelap—memikirkan sesuatu hal yang mungkin tengah terjadi.
“Ya … aku yakin Tuan Lenka akan baik-baik saja,” Menolehlah Eadwig menatap wajah Rubius. “Bukankah kita sama-sama melihat kemampuan orang itu? Jika aku pikir-pikir kembali … mungkin orang itu memiliki keampuan yang lebih hebat, di bandingkan Arley … ya, untuk saat ini …,” jelas Eadwig.
“Untuk saat ini …?” tanya Rubius kembali.
Eadwig tersenyum tipis sebelum ia memberikan penjelasannya. “Jika di lihat dari jarak umur mereka berdua, Arley masih memiliki potensi yang tak dapat di jabarkan oleh akal dan pikiran. Tentu saja suatu saat nanti, Arley akan bisa mengungguli, Tuan Lenka.”
“Benar juga … untuk hal yang sati ini, aku sependapat denganmu, Eadwig” Tutup Rubius, atas pembicaraan mereka berdua.
Tiba-tiba gempa terjadi kembali. Namun, kali ini getarannya terasa lebih besar di bandingkan sebelumnya.
Pekikan wanita terdengar nyaring dari kerumunan pengungsi. Semakin lama, gempa itu semakin teras mendekat.
“Merunduk! Ini bukan gempa!” tegas Misa, yang menyadari akan suatu hal.
Getaran itu semakin lama semakin mengeras. Hantamannya menggema kuat, terdengar seperti pukulan benda keras, terhadap langit-langit bunker.
“Sepertinya tempat persembunyian kita sudah ketahuan!” gumam Eadwig yang mulai khawatir dengan kondisi mereka, juga kondisi Lenka.
***
Dilain pihak, tepatnya di depan pintu gerbang bagian Selatan, Ibu Kota [Lebia]. Tampak Lenka tengah kesusahan, menahan serangan-demi serangan yang menjulang menuju ke arahnya. Tidak itu mantra sihir, atau pun serangan fisik seperti anak panah, dan lain sebagainya. Kala itu, Lenka sedang bertahan mati-matian, menahan gempuran musuh yang mulai masuk, menyusuri ibu kota [Lebia] dengan leluasa.
“Kumohon …! Arley! Cepatlah!” ucap Lenka dalam hatinya, yang seperti menunggu suatu hal untuk cepat terjadi.
Tenaga dan stamina Lenka sudah hampir habis. Beberapa kali ia menarik napas untuk mengumpulkan energi [Mana] pada dirinya, namun tampaknya kali ini Lenka sudah memenuhi limit dari ambang kekuatannya.
“Eugh …! Jika ini di biarkan … bisa-bisa kota ini hancur,” Pikiran negatif mulai merasuki diri Lenka, tanpa ia sadari. “AH! Apa yang aku pikrikan! Lenka! Percayalah dengan Arley!” ujar Lenka, yang langsung membuang pola pikir negatifnya.
Kala itu, demi melindungi ibu kota yang hampir runtuh, Lenka memilih berjudi untuk tetap bertahan di depan pintu gerbang, dan mempercayai kalimat yang Marlin ucapkan.
“Benar begitu bukan? Marlin?!” teriak Lenka, sembari ia menatap punggung belakangnya, yang ketika itu, telah berdiri dua buah patung, yang tengah memadang sudut selatan dari ibu kota [Lebia].
Patung itu berdiri dengan gagah, tangan mereka mengangkat tongkat sihir ke langit, sebagai tanda, bahwa mereka pernah ada di dunia ini.
Ya, patung tersebut, adalah patung yang tercipta setelah Marlin dan Steven mengorbankan nyawa mereka berdua. Tubuh mereka, secara instan langsung berubah menjadi batu, atas pertukaran setimpal dengan mantra sihir yang mereka rapalkan.
***
Kembali ke ruangan bunker.
Dentuman demi dentuman semakin bergema hebat. Orang-orang saling berdekapan erat untuk menghilangkan rasa takut mereka. Tetapi, tentu saja hal itu bukanlah solusi untuk meredakan penyerangan yang sedang berlangung.
Saat ini, seluruh monster yang berhasil masuk kedalam ibu kota [Lebia], mulai berkumpul di depan pintu gerbang istana, demi merubuhkan bunker, sesuai dengan perintah pemimpin perang mereka saat ini.
“Hancurkan! Jangan sisakan satupun manusia di benua ini!” teriak Zorman sang incubus, untuk memberi perintah kepada seluruh monster, yang kala itu telah memulai masa penghancuran.
Para Orc mulai menghantamkan pentungan mereka ke bawah tanah, sedangkan Pigman, mulai memutarkan lembing raksasanya ke udara, sebelum pada akhirnya ia menghantamkan bola besi itu mengujam bumi.
“Ya! Bagus! Terus lakukan itu!” Dengan begitu semangatnya Zorman memberikan perintah tanpa henti, kepada para monster tersebut. “Hehehe! Tampaknya informasi yang Lubcira sampaikan tepat sasaran. Tak aku sangka, jika para manusia itu memiliki tempat persembunyian seperti ini! Cih, dasar makhluk rendahan!” gumam Zorman dalam benaknya.
Mereka yang berada di dalam bunker, berlari kencang menuju sisi Timur Laut demi mencari ketenangan. Pada sisi Timur Laut, terdapat Eadwig dan regu penyelamatnya yang ketika itu tengah beristirahat dan menunggu Arley untuk kembali siuman.
“Yang mulia Eadwig! Tolong bantu kami semua …!” pinta seorang pria tua kepada Eadwig, yang kala itu dirinya tengah terduduk lemas pada sisi tembok, sudut Utara.
Wajah Eadwig tercengang lebar ketika ia melihat seluruh kerumunan masyarakat tengah bersujut meminta pertolongan kepada dirinya. Berdirilah ia dengan tubuhnya yang lemas itu.
“Aku tidak bisa membantu kalian,” ujarnya sembari Eadwig membalikkan badan dan berjalan menuju ketempat Arley tergeletak. Ketika itu, Rubius, Aurum, Sophie, Amylia, Misa, Dokter Hasyim, dan ketiga perawatanya, juga seluruh tim Blue Whale, Red Lion, Yellow Eagle, dan Green Gorgon. Menatap wajah Eadwig dengan perasaan yang serupa. Mereka tidak mampu menolong orang lain di kondisi yang seperti ini.
Merunduklah Eadwig dan regu penyelamatnya, yang ketika itu merasa sangat bersalah sebab kemampuan mereka yang begitu dangkal.
Lantas, tiba-tiba berdiri seorang anak kecil bertubuh gempal, dan dengan arogannya ia berbicara tanpa adab.
“Aku sudah muak dengan semua hal ini! Papa! Kenapa kita harus terus berada di ruangan kotor ini sih? Bukankah kita ini adalah bangsawan?! Jika ada monster di luar sana! Bukankah ini adalah tugas mereka untuk membasmi monster-monster itu!?” bentak sang anak, sambil menunjuk ke arah Eadwig tanpa tahu siapa diri Eadwig sebenarnya.
Ayah dari anak tersebut langsung terpukul malu. Kepribadian anaknya yang tampak arogan, langsung mencoreng nama baiknya secara mendadak. “Jo! Hentikan ucapan bodohmu itu!” bentak sang ayah kepada anaknya.
“Eih! Apa yang Papa katakan! Aku berkata jujur di sini. Tidak ada nyawa yang berhak di selamatkan selain nyawa kita bukan? Kalau begitu, buka saja pintu gerbang itu, dan mari kita keluarkan seluruh orang sini dan biarkan mereka jadi makanan monster-monster tersebut,” cakap si anak tanpa berpikir panjang. “jika mereka sudah kenyang, pasti mereka akan kembali ke rumah mereka masing-masing bukan?”
Mendengar ucapan yang begitu sensitif, seluruh masyarakat langsung berdiri dengan amarah yang meluap-luap. Ayah sang anak langsung memeluk bocah tersebut dan menutup mulutnya dengan ketakutan.
“M-maafkan anakku yang ceroboh ini … dia masih butuh belajar lebih banyak!” jelas sang pria bangsawan dengan tergagap-gagap.
Kemudian, sang anak tak puas dengan tingkah ayahnya yang terlihat merendahkan diri di depan masyarakat jelata. Ego bangsawannya meledak-ledak tak terima jika kastah yang lebih rendah harus di samakan oleh dirinya.
Ditepiklah tangan sang pria bangsawan oleh si anak, lalu, kembali mulut liar sang anak berbicara sesukanya. “Bukankah ayah yang mengajarkan aku! Jikalau mereka semua ini adalah sampah?! Kita bisa melakukan hal yang kita suka, karena kita ini bangsawan bukan?! Kalau begitu ayo cepat kita beri makan monster-monster itu!”
Telah habis kesabaran masyarakat mendengar ocehan sang anak. Jika mereka berada di dalam kondisi yang normal, mungkin para masyarakat akan memaafkan sang anak, sebab dirinya masih terbilang muda. Tetapi, di kondisi yang begitu keruh, dan banyaknya orang yang mereka kasihi telah tiada, hal itu langsung memicu amarah yang tak terbelenggu.
Ketika itu, seluruh masyarakat memikirkan hal yang sama. Di dalam bunker, tidak ada kastah dan jabatan. Semuanya sama rata, hanya seorang manusia yang berserah diri kepada takdir.
Lantas, jika ada orang yang dipandang tak pantas untuk hidup, secara otomatis masyarakat akan menyisihkannya demi menghilangkan noda di kehidupan bermasyarakat.
Tangan mereka sudah di kepal keras, tinggal luapan emosi saja yang akan segera meledak.
Namun, tiba-tiba gempa yang amat dahsyat kembali terjadi. Bergetarlah tanah yang mereka pijak, dan merubuhkan mereka semua—langsung bergeletakan di atas tanah.
“Sila! Jika ini di biarkan! Bisa-bisa bunker ini akan hancur!” pikir Misa, yang ketika itu sudah memperkirakan hal terburuk dari yang akan terjadi. “Hey, pria berambut kuning! Kita harus segera pergi ke sudut yang lain! Jika tidak, ruangan ini akan—”
Kala itu, sebelum Eadwig dapat bereaksi memberikan jawaban terhadap Misa, gempa yang paling dahsyat dibandingkan yang sejauh ini pun terjadi. Guncangannya bahkan membuat lampu-lampu di seluruh sisi tembok berjatuhan dan pecah.
Pandangan menjadi gelap gulita, suasana yang mencekam mulai merebak di hati setiap orang.
“Aku harus bertindak, jika tidak, seluruh orang ini akan panik!” gumam Eadwig dalam hatinya.
Di dalam kondisi riuh dan mencekam, terbangunlah seorang remaja dari tidur singkatnya. Pada kondisi yang gelap gulita, rambut sang remaja bersinar layaknya lentera di senja hari. Seluruh mata menatap cahaya tersebut dengan tatapan harapan. Terbukalah mata sang remaja dengan lebarnya. Terang bagaikan kilatan petir.
“Arley …?” gumam Eadwig yang tahu betul siapa orang itu.
Kondisi gelap tampak tak menghalangi Arley untuk melihat sekelilingnya. Ia mampu melihat dengan jelas seluruh sisi dari bunker tersebut. Berdirilah ia yang ketika itu mulai mengingat pesan dari Lenka.
“Wahai para masyarakat Kota [Lebia]. Jika kalian ingin selamat dari bencana ini, maka ikutilah aku tanpa berkata-kata!” ucap Arley di dalam kondisi yang sunyi. Suaranya menggema lebar, walaupun ia hanya berbicara dengan nada normal, tapi seluruh masyarakat bisa mendengarkan ucapan Arley dengan jelas.
Lalu, tanpa aba-aba yang lebih lanjut, seluruh masyarakat mengikuti satu komando yang Arley perintahkan.
Demikian, Arley langsung berjalan menuju tempat yang sudah di perintahkan Lenka. yaitu menuju pusat ibu kota Lebia, yang saat ini berada di sudut selatan dari bunker yang mereka singgahi kala itu.
Apakah yang sedang Arley perbuat? Bisakah mereka semua selamat dari kejaran para monster?
Bersambung!~
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -