
Not Edited!
Ketegangan masih berlanjut … semua mata menatap sang Ratu dengan pandangan ketakutan. Akan tetapi, tiba-tiba sang Ratu berteriak lantang. “Hadirin sekalian!” pekiknya. “untuk saat ini … rapat aku tunda sampai waktu yang tak di tentukan!” ucap sang Ratu dengan wajahnya yang tampak begitu kesal.
Meleburlah ekspresi ketakutan dari wajah para politikus ini. Mereka memandang satu dengan yang lainnya sembari senyuman pada wajah mereka tampak kembali mengembang.
Rapat pun usai. Seluruh peserta rapat secara bergantian meninggalkan ruangan dengan wajah lesu. Waktu yang terkuras dan pertarungan mental yang terjadi, membuat para menteri jadi sakit kepala dengan masa depan mereka yang abu-abu.
Saat ruangan rapat telah sepi … tinggallah empat orang yang sengaja berdiam diri di sana untuk berbicara lebih panjang dengan sang Ratu Allyzabeth.
“Kenapa kalian masih ada di ruangan ini?” tanya sang Ratu sembari ia menatap sinis si perdana menteri. “adakah yang ingin kau jelaskan, wahai perdana menteriku?”
Gemburlah sang perdana menteri di hadapan sang Ratu, dirinya ingin mengucapkan perintaan maaf namun ia tak sanggup menahan malu sebab berbagai hal yang telah terjadi.
“Jika kau tidak memiliki kepentingan terhadapku, silahkan keluat dari ruangan ini,” cetus sang Ratu sembari ia menatap seorang lainnya.
“T-tunggu yang mulia! K-kami punya alasan untuk tidak membicarakan hal ini kepada anda …!” jelas sang bendahara kerajaan sembari ia bersujud di hadapan sang Ratu.
“Ohh … sebuah informasi yang bahkan orang yang paling aku percayai di dunia ini tidak bisa sampaikan kepada majikannya?” ujar si Ratu, lalu ia kembali menatap sinis sang perdana menteri.
Terkejutlah sang perdana menteri ketika ia melihat wajah sang Ratu.
“M-maafkan hamba yang mulia!” ucap sang perdana menteri, lalu secara cepat ia memberikan sikap duduk hormat kepada sang Ratu. “s-seperti yang bendahara katakan … hamba memiliki alasan untuk tidak memberitahu anda!”
“Ahh~ apakah alasan yang engkau berikan ada hubungannya dengan pembakaran, Slump District?” Ketika itu, Yufi memotong pembicaraan sang perdana menteri dengan si Ratu.
“Diam! Dasar wanita tidak tahu atura! Tidakkah kau tahu aku sedang berbicara dengan yang mulia!” bentak sang perdana menteri, sembari ia meluapkan emosinya.
Sontak, sang ratu kemudian menatap tajam sang perdana menteri. Seketika itu juga sang perdana menteri menyadari jika sebagian rahasianya terbongkar kembali sebab Yufi, ia melirik ke wajah sang ratu dengan sangat berhati-hati. Dan saat mata mereka saling bertatapan, sang perdana menteri di buat ketakutan dengan wajah sang Ratu.
Sebuah mimik wajah yang tak pernah di lihat oleh si perdana menteri, seumur hidupnya.
“Terbakarnya distrik Slump?!” tegas sang Ratu. “aku tak pernah mendengar informasi ini! Ada apa sebenarnya ini?! Holsom!” bentak sang ratu, yang ketika itu langsung memanggil nama asli dari si perdana menteri.
Yuffi dan Nina hanya memandang buruk si perdana menteri, seperti mereka melihat orang yang telah banyak berbuat dosa.
“A-aku … b-begini yang mulia …,” gumam sang perdana menteri. Tampak sekujur tubuhnya bergetar. ”bukannya hamba tidak ingin memberi tahu yang mulia … hanya saja, hal kecil seperti ini, menurut hamba tidak perlu di besar-besarkan.”
“HAL YANG KECIL?! Kau kira kebarakan itu hanyalah hal yang kecil?!” pekik sang ratu, sembari ia berdiri dari kursinya.
Mata Holsom langsung melotot, kakinya tak sengaja melangkah mundur sebab kecemasan yang ia derita. Dengan wajah yang memandang lantai, seketika itu juga Holsom tak mampu membalas ucapan sang ratu.
“Aku mempin negeri ini untuk memakmurkan seluruh komponen kehidupannya! Dan kau berkata, sebuah kebakaran bukanlah hal yang penting untuk aku ketahui?! Betapa gilanya dirimu sampai menganggap nyawa seseorang sama seperti serangga!” ucap sang Ratu sembari ia melangkah turun dari Takhtanya.
Tak lagi memandang sang perdana menteri, sang Ratu langsung berjalan menuju pintu keluar dengan luapan ekspresi yang amat kesal.
Sejenak si Ratu berhenti tepat di pintu masuk ruang rapat. “Holsom … aku kecewa kepadamu … aku akan memikirkan nasibmu pada malam hari ini. Dan kalian, para penyihir wanita! Aku menunggu kalian di ruang kamarku, sekarang juga!” ujar sang ratu, lantas dirinya langsung pergi meninggalkan keempat orang yang berada di ruangan tersebut.
Terdiam memandang lantai … Holsom tak mampu bersuara sebelum akhirnya Yufi dan Nina melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangan tersebut, demi mengikuti perintah sang ratu.
“Ini semua gara-gara kalian!” bentak sang perdana mentri, wajahnya memerah dan emosinya meluap-luap.
Berhentilah langkah Yufi dan Nina, mereka memutarkan badan, serta menatap Holsom dengan tatapan sinis.
“Aku rasa kau salah sangka … wahai tuan Holsom. Kami datang ke sini bukan untuk mendengarkan curhatanmu.” Sambil ia tersenyum licik, Yufi dan Nina seketika itu juga meninggalkan keduanya di dalam ruangan rapat.
Tak dapat meluapkan emosinya kepada Yufi dan Nina, saat itu juga Holsom berteriak sekuat tenaga di dalam ruangan rapat. Suaranya menggema tak karuan, bahkan sang bendahara kerajaan tak mampu melihat wajah si perdana mentri akibat rasa takutnya untuk terkena imbas dari emosi buta Holsom.
.
.
.
***
.
.
.
Tiga minggu sebelum Arley pergi bersama keluarga Tomtom dan Varra, untuk mencari bahan dagangan ….
Ketika itu … Arley sedang berbelanja bersama Varra. Mengingat kondisi Varra tidak memiliki baju sehari-hari, Arley yang berinisiatif menghabiskan uang sakunya, memilih untuk berbelanja bersama dan menghabiskan waktu berdua dengan Varra.
Toko Luna … itulah nama toko yang Arley dan Varra kunjungi saat ini. Sebuah toko yang berdiri pada bagian Selatan kota [Dorstom], dan merupakan toko populer bagi para remaja di kota tersebut.
“Waa! Aku ingin sekali memasuki toko ini! Aku tak menyangka bisa berada di dalamnya! Ini semua seperti mimpi!” ucap Varra dengan mata yang bersinar-sinar. “a-apakah aku benar-benar boleh membeli pakaian di toko ini, Arley?!”
“Ya, pilihlah sesukamu dan apapun yang kau mau,” ucap Arley denga nada datar.
Berbunga-bungalah wajah Varra seperti dirinya baru saja mewujudkan cita-citanya yang telah lama terpendam.
Berbagai macam pakaian ia ambil, kemudian ia meminta Arley untuk menilai apakah baju yang ia kenakan pas dengan fashionnya atau tidak.
“Bagaimana dengan pakaian yang ini?” tanya Varra setelah dirinya membuka tirai tempat mengganti pakain. Tampak dirinya memakai gaun pendek berwarna merah jambu, dengan topi jerami tersemat di kepalanya.
Arrley tidak bergeming, ia hanya memandang datar pakaian yang Varra kenakan.
“Hmm … sepertinya pakaian ini kurang tepat …, “gumam Varra sembari mengelus-elus dagu. Dengan ligat ia masuk kembali ke dalam tempat pergantian pakaian, seketika itu juga ia mengganti model baju yang ia kenakan.
Sesaat kemudian, Varra keluar dengan pakain model modern. Baju biru denga lengan tergulung sampai melewati sikut, celana pendek yang hanya menutupi setengah bagian dari paha, juga rumbai-rumbai putih pada bagian bawah baju dengan list merah tersemat dari bagian leher, sampai bawah rumbai-rumbai tersebut, menampilkan kesan menarik untuk ukuran tubuh Varra.
Namun Arley tetap saja tak bergeming, wajahnya datar saat ia melihat baju Varra.
“Okey! Aku memilih pakaian ini!” ucapnya dengan wajah gembira.
Pada saat itu, terdapat dua orang pengiring pelanggan yang berdiri di dekat Arley. Mereka berdua saling berbicara heran, melihat kejadian Arley dengan Varra.
“H-hey … apakah kau tahu apa yang pria itu pikirkan?” ucap sang pengiring yang belum lama bekerja di toko itu.
“Ahh … memang ada tipe-tipe pelanggan yang demikian, coba kau perhatikan wajah si pria …,” tunjuk sang pengiring lama dengan wajah tersenyum-senyum malu.
Saat keduanya memperhatikan wajah Arley, tampak jelas jika kuping Arley memerah selepas Varra memberikan pilihan bajunya kepada sang remaja.
“Eee! M-mereka berdua lucu sekali! Aaah indahnya masa muda,” ucap si pengiring baru dengan wajahnya yang juga ikut memerah.
Setelah kejadian itu, beberapa menit kemudian berlalu ….
“Kami membeli ini semua,” ucap Arley yang membawa segunung pakain yang Varra beli.
Dengan wajah terkejut, sang kasir tak menyangka jika sepasang remaja ini akan membeli pakaian dengan jumlah yang sangat eksrim.
Menataplah sang kasir kepada Arley, dirinya tampak curiga jika ini adalah sebuah penipuan.
“Jangan khawatir dengan masalah uang, aku punya banyak” ucap Arley dengan polosnya, sembari ia mengeluarkan kantung penuh emas.
Setelah dirinya melihat bulir-bulit emas itu di depan matanya, sang penjaga kasir dengan sigap langsung mencatat dan menghitung jumlah dari baju yang mereka dua beli.
Saat itu, Varra tak menyangka jika Arley akan membawa seluruh pakaian yang dirinya coba tadi, dengan perasan tak enak, Varra hanya memandang lantai dengan perasaan segan.
***
Belanja pun usai, Kali ini Arley membawa berbagai macam belanjaan yang Varra beli dari toko itu. Belasan tas kertas ia gandeng sembari mereka melangkah menuju toko selanjutnya.
“A-apakah ini tak apa-apa …? Aku benar-benar minta maaf karena selalu merepotkanmu, Arley …,” gumam Varra yang melangkah lesu di belakang Arley.
“Apa yang kau ucapkan? Aku melakukan ini, karena aku senang. Jika kau mempermasalahkan uang, aku selalu bisa mendapatkan uang kapanpun aku mau. Lagi pula, aku tak tahu cara menghabiskan uang sebanyak ini.”
“S-sebaknya kau menabung uang-uang itu, untuk masa depanmu kelak, Arley!”
Terdiamlah Arley mendengar ucapan Varra. “Tapi … paman Radits berkata, bahwa aku harus menghabiskan uang-uang ini … jika tidak, perputaran uang di negeri ini tidak akan baik.”
Sontak, Varra memahami suatu hal … paman Radits bukanlah seorang pebisnis biasa. “A-aku pernah mendengarkan perkataan yang serupa degan dirimu tadi … ehm, sepertinya karangan seorang yang terkenal, dari buku yang pernah aku baca di perpustakaan.”
Keheningan kembali terjadi, Arley hanya melihat geligat Varra yang berusaha mengingat judul buku yang pernah ia baca terdahulu.
“Varra …,” panggil Arley.
“Hmm?!” ucap Varra sembari ia menatap wajah Arley. Lantas, saat itu juga Arley memberikan senyuman tulusnya yang tak pernah Varra lihat sebelumnya.
“Kau sangat menyukai bukua ya? Sepertinya kita serupa.” Saat Arley mengucapkan kalimat itu, wajah Varra langsung memerah sembari ia hanya termenung melihat senyuman Arley yang tak kunjung habis.
Orang-orang yang melihat kejadian tersebut, hanya mampu tertawa kecil sambil mereka menerima moment kehangatan di antara keduanya.
***
Mereka berdua kembali berjalan, Arley memimpin di depan, sedangkan Varra berjalan mengikuti Arley dari belakang.
“Selamat datang!” ucap seorang pria penjaga toko roti. “Hm …?!—" Tiba-tiba, mata sang penjaga toko melotot ketika dirinya melihat wajah Varra.
Saat itu, degan gesitnya sang penjaga toko langsung keluar dari tokonya, dan ia dengan kasarnya menggenggam tangan Varra seperti ingin menghajar dirinya saat itu juga.
“Aaa! Tertangkap juga kau akhirnya!” teriak sang penjaga toko dengan wajah kesal.
“E-ehh?! T-toko ini kan?! A-Arley?!” gumam Varra yang tak sadar jika ia di bawa ke tempat toko, dimana ia pernah mencuri sebelumnya.
Arley dengan wajah polosnya, hanya memandang Sang penjaga toko dengan Varra, dengan wajah polosnya.
Bersambung!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------