The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 21 : Awal mula Perjalanan



“Zhass ...~" Hujan yang sangat deras jatuh membasahi seluruh penjuru hutan. Saat ini, aku hanya bisa terduduk lemas di atas sebuah batu dengan fikiran yang kosong ....


Termenung ... aku hanya mampu melamun sembari memandangi derasnya aliran sungai yang meluap akibat intensitas hujan yang tak kunjung berhenti.


Mata air『Shefa』... demikain lah kami ...- tidak. demikianlah aku menyebutnya ....


ya, mulai saat ini ... hanya aku yang dapat memanggil telaga ini dengan nama itu ... setelah insiden kemarin, mana mungkin ada orang selain aku yang dapat mengethui lokasi beserta namanya ....


Desaku, beserta lokasi lainnya yang ada di sekitar desa ... mulai hari ini akan kehilangan identitasnya ... ya, aku yakin akan hal itu.


Begitu deras, ohh begitu lebat ...~ namun entah mengapa aku tidak dapat merasakan dinginnya air hujan yang jatuh mengenai pori-poriku ... malang ... betapa malangnya diri ini ....


Namun, dilain pihak, Ikan-ikan terlihat begitu riang dan gembira dengan hadirnya hujan pada pagi hari ini.


Mereka saling melompat keluar dari dalam telaga bagaikan mereka saling berkomunikasi dan bercanda dalam menyambut gembira hujan yang jatuh di atas sungai. ya, saat ini kondisi alam tengah dalam suasana yang sangat berbahagia dengan hadirnya hujan kali ini.


Tetapi tidak untukku ….


Kondisiku sangat kacau ... Aku bahkan hampir tidak menyadari sekitarku, juga aku hampir tidak mengetahui tentang diriku sendiri ....


Yang aku sadari adalah, aku sedang menggengam buku kitab yan aku dapatkan dari paman Ordley, serta, saat ini baju yang aku kenakan telah basah kuyub akibat hujan yang turun begitu deras.


Ya, saat ini, dengan hati yang sedang kacau, tubuh ku hanya mampu termenung dengan pikiran kosong ...


Bahkan aku melupakan hampir melupakan masalaluku sebelumnya, tentang dunia paralel, mengapa aku tewas di sana, serta hal-hal penting lainnya ....


Lelah ... jiwa ini letih menanggung semua hal yang terasa begitu berat. sungguh aku sudah tidak sanggup, aku sudah tidak mempedulikan lagi apa yang akan terjadi padaku selanjutnya ...


Semua hal ini ... tampak seperti akhir dari hidupku, akhir dari perjalananku ....


tanpa aku sadari, hujan turun semakin lebat. awan tampak semakin menggal dan mengitam, kondisi yang seharusnya cerah, berubah menjadi gelap bagaikan malam telah tiba dipagi hari.


Akibat derasnya hujan yang turun ke bumi. surat undangan yang kugenggam dengan tangan kanan, akhirnya ikut basah. sekilas aku memandang dan mengamati surat itu, kertasnya yang pada awalnya berwarna merah dan kokoh, perlahan menjadi lesu dan lembut.


Kupandangi surat itu dengan tatapan kosong ....


Namun tiba-tiba, sebuah memori melintas begitu saja di benakku. memori ketika aku, Ibunda Terra, dan Paman Ordley tengah tertawa bersama di hari ulangtahunku pada waktu itu.


Lalu terdengar suara Ibunda Terra dengan jelas di kedua kupingku ini.


“… Arley sayangku, Pergilah ke ibu kota~ " dengan lembutnya, suara ibunda terdengar tepat di kuping kananku.


Sontak aku sangat terkejut. bagaikan tersambar petir, aku tersadar akan segala hal yang sudah aku perbuat sejauh ini.


Ilmu sihir yang aku pelajari, persahabatan yang sudah pernah aku bangun, rasa kasih sayang kepada Ibunda Terra dan Paman Ordley.


Ya, semua perasaan ini adalah asli dan nyata. mau seperti apa pun kejadiannya, aku tidak akan mampu menghilangkan perasaan kasih sayang ini.


Perlahan aku mulai kembali menangis dalam kesunyian, air mataku mengalir deras, namunn tidak ada suara yang keluar dari kerongkongan ini, juga ekspresi wajahku tidak banyak berubah.


Saat ini, hanya wajah ibunda yang dapat aku bayangkan. senyumannya yang sangat hangat membuat ku teringat akan rindunya hal-hal tersebut. perlahan tapi pasti, wajahku mulai bergetar, bibirku mulai merasakan kehangatan darah yang mengalir. ya, aku mulai bisa merasakan kembali detakan jantung ini ....


Eugh ...! kenpa, kenapa aku harus seperti ini ... Hey diriku! sebenarnya apa yang tengah terjadi pada perasaan ini!? sungguh, aku sangat benci dengan perasaan ini ... ya, aku benci ....


Demikian, didalam hujan yang turun dengan sangat amat deras. aku menyembunyikan kesedihanku, dengan memandang langit yang tak kunjung kering ....


.


.


.


***


.


.


.


Perlahan, rintikan air dari langit mulai surut~.


Hanya tetesan air pada dedaunan yang terdengat samar masuk ke kupingku. Sebabnya adalah, karena sisa-sisa rintikan hujan yang jatuh, secara tidak sengaja tertampung pada serat-serat dedaunan yang dengan lebatnya tumbuh memenuhi hutan ini.


Hal itu terus terjadi sampai akhirnya tak ada lagi tetasan hujan yang turun ke bumi. yap, suara itu menghilang secara sempurna.


Silau, perlahan cahaya mentari mulai masuk lewat sela-sela awan yang tergeser oleh angin segar.


Wajahku mulai terasa hangat akibat radiasi surya di siang hari. Namun aku masih terdiam, terduduk sambil melamun di atas batu kali yang besar ini. Bagaikan diri ini tengah bersemayam di atasnya.


Dalam persemayamanku ini, sekilas aku teringat akan sesuatu hal. hanya sepintas, seperti mobil yang melintas secara mendadak. namun aku ingat betul hal apa yang masuk di otakku itu.


“… Bagaimana keadaan mu ....? ” Bergema dialog itu di dalam kepalaku.


Setelah kejadian itu, ekspresiku berubah, aku sangat tertegun dengan secercah memori yang masuk dalam benak kepalaku itu. sontak aku menyadari suara siapa yang menggema dalam kepalaku itu.


“… Mi … sa ….” gumamku secara tak sengaja.


Dengan jelas, teringat olehku bahwa, masih ada satu orang yang terselamatkan dari tragedi kemarin. Ya, orang itu adalah Misa.


Namun kerawutan yang ada di fikiran ini membuat aku sulit untuk berfikir. tak ada pilihan lain, kali ini aku hanya bisa mengikuti instingku saja untuk bertindak.


Aku bangkit dari duduk, lalu aku mengucapkan mantra Angin.


“Gale ventum ….”


Dengan cepat, Aku menghilang dari lokasi tersebut.


“Ibu kota … aku harus ke ibu kota …."


Dengan tujuan yang abu-abu, Aku hanya bisa memikirkan bagaimana caranya agar diri ini dapat sampai ke ibu kota.


“... Harus … bertemu … Misa ….”


Terus berulang, kalimat itu terus terputar di mulutku.


.


.


.


***


.


.


.


Suhu tubuhku semakin naik akibat dinginnya angin di atas langit saat ini, namun aku tidak merasakan kedinginan atau hal-hal yang mampu menyakiti fisikku.


Entah berapa ratus kilometer aku telah terbang tanpa mengetahui kemana aku akan pergi.


Tanpa kejelasan yang pasti, tubuhku hanya bergerak mengikuti kemana angin berhembus membawaku pergi.


Setelah beberapa jam aku melakukan perjalanan udara, langit yang cerah kini mulai menampak kan wujudnya yang gelita. menunjukkan bahwa waktunya hewan malam beraktivitas telah tiba.


“Gaag!!~ Gaagg!!!”


Sekilas terdengar tangisan gagak yang hendak kembali kerumahnya. mereka terbang begitu dekat, sampai-sampai mereka terbang berdampingan disamping ku.


Tentu saja aku tidak mempedulikannya. sambil menikmati angin yang dingin, kami terus terbang berdampingan sampai akhirnya aku tiba pada sebuah desa.


Namun sejujurnya desa ini tak patut untuk disebut sebagai desa ... karena bentuk desa ini sangat kecil dan kumuh ... Aku lebih senang jika menyebut lokasi ini sebagai kumpulan gubuk tua.


Mungkin hanya ada lima kepala keluarga di sana. Hal ini bisaku utarakan karena sedikitnya rumah yang terbangun di lokasi tersebut.


Demikian karena waktu sudah semakin senja. Aku menjadi bimbang apakah aku memaksakan diri melanjutkan perjalanan atau turun ke lokasi kumuh itu.


Tiba-tiba pandangan ku menjadi semakin kabur, tubuhku mulai gemetaran ... Ah tampaknya aku hampir terkena hipotermia ....


Akibat hal tak terduka ini, aku menjadi tak punya pilihan lain selain aku harus beristirahat di desa kumuh itu, sebab kondisi yang tak terduga ini.


Perlahan turun ke daratan. Kemudian aku mendarat dengan kedua kaki ini secara sempurna. Akhirnya aku telah sampai di desa kumuh tersebut.


Sejenak aku melihat sekeliling. Tetapi desa ini tampak kosong, seperti telah di tinggalkan sejak lama.


Kemudian aku memilih berjalan menuju rumah yang paling dekat dengan keberadaan ku saat ini.


Awalnya aku berniat untuk meminta izin kepada sang pemilik rumah, namun tampaknya hal itu tidak diperlukan....


Kuketuk pintu rumah tersebut dengan tenaga yang cukup kencang, kemudian aku memberi sapaan kepada sang pemilik rumah.


“... Permisi ….” Sapaku dengan nada yang sedang.


Lalu aku memilih untuk membuka pintu rumah yang ada di hadapanku. dengan sangat perlahan aku memutar tuas pintunya.


"Clak~" Sekilas terdengar suara tuas pintu terbuka.


Benar saja, pintu rumah ini tak dikunci, tanpa rasa takut aku masuk kedalam rumah tersebut dan melihat sekitarnya. namun yang ku dapatkan adalah kehampaan, kosong tidak ada orang di dalamnya.


Dari dalam rumat itu aku melihat keluar, sekilas aku pandanagi setiap sudutnya.


Tampaknya dugaanku tepat sasaran, desa ini sepertinya sudah di tinggalkan oleh masyaakatnya ... dan itulah sebabnya mengapa desa ini tampak kumuh dan reot.


Setelah mengetahui rahasia desa gubuk ini. Aku tidak langsung masuk dan menginap di dalam rumah yang barusaja aku masuki ini.


Tetapi aku memilih untuk berkeliling mengecek apakah masih ada orang yang tersisa di desa ini, tentu saja aku sedikit ragu dengan pemikiranku sendiri, namun instingku mengatakan hal yang lain.


Dengan sangat terpaksa aku memeriksa satu persatu setiap rumah yang ada di desa ini.


Hal ini terus aku lakukan sampai akhirnya rumah terakhir kukunjungi.


“Clak~” Kali ini tanpa permisi, aku langsung membuka pintu. Perlahan aku mengintip kedalam rumah tersebut.


“… Permisi ….” Sapaku dengan suara yang cukup kecil. sejenak aku memasukkan kepalu ke dalam rumah tersebut.


Namun betapa terkejutnya aku setelah aku menemukan apa yang aku lihat!! tepat di hadapanku, ada seorang kakek yang mengenakan topi kupluk, tengah memotong lobak yang ada di atas nampan meja dapur!


"Ah !" Sontak aku tak sengaja menatap sang kakek dengan ekspresi yang mencurigakan.


“He!?” sang kakek menatap kembali kearah ku


“He?!!” aku memiringkan kepala.


“He?!!!” Sang kakek ikut memiringkan kepalanya.


Hal ini terus terjadi sampai akhirnya kami saling tatap-menatap dengan mulut yang menganga lebar!


Aaaa!! betapa terkejutnya aku ketika melihat seorang kakek tua sedang memotong kubis sambil menatap ku dengan curiga. ingin saja aku berteriak saat itu juga, namun suaraku tak kunjung keluar.


“SIAPA KAMU!!” Sang kakek akhirnya berteriak memecah keheningan!


"Stab!!" Namun di luar dugaan. Pisau ditangannya terbang melayang ke arahku!


“HUWAA!!??” Sangkin terkejutnya, aku langsung berteriak dan mengeluarkan suara dengan frekuensi yang cukup tinggi.


Heboh! Pisau yang dilemparkan oleh sang kakek, dengan cepatnya menancap pada daun pintu yang aku buka.


Hei!! Apakah dia sudah gila?!


Terkejut bukan main, siapa yang menyangka jika desa ini masih menyisakan satu orang warganya!


“Siapa kamu!!!” Lagi, sang kakek berteriak sambil menunjukku dengan pisau dapurnya yang kedua.


 


“T-Tenang kek!! Aku tidak bermaksud buruk!!” Jawabku dengan intonasi yang kalang-kabut.


 


“… He …? benarkah demikian? Kalau begitu silahkan masuk, ayo kita makan malam bersama.”


HAAaaa!!??? MUDAH SEKALI!!??? Ada apa dengan pola fikir kakek tua ini !?


Aku sangat terheran-heran di dalam benak ku sendiri. sejenak aku terdiam dengan pemikiranku sendiri, namun akhirnya aku tersadarkan oleh dinginnya suasana di luar.


mau takmau aku harus menerima tawaran sang kakek ....


“E ... ehm … t-terima kasih kek….” jawabku pelan.


Perasaan curiga mulai menyelimuti hati ini. dengan perasaan ragu, aku masuk kedalam rumah sang kakek tanpa mengurangi pertahanan bertempurku..


“Jangan sungkan-jangan sungkan!! silahkan duduk di sana” Tunjuk sang kakek ke-arah meja makan.


Perlahan langkah kaki ini bergerak dengan sangat berhati-hati, aku injak kan kaki ini ke lantai rumah yang terbuat dari kayu kuning, sekilas aku melihat sekeliling rumah sang kakek, tampaknya rumah ini hanya memiliki satu ruangan dengan lebar 5x5 meter persegi.


Melalui petunjuk sang kakek, aku duduk dikursi meja makan. rasanya begitu hangat, aku merasa jika kakek ini bukanlah orang yang berbahaya ... perlahan-lahan aku mengendurkan rasa cemas dan curiga ku.


“Kamu dari mana cu ...? ada apa dengan bajumu itu? mengapa bisa sobek-sobek demikan?”


Sontak terkejut, aku baru menyadari jika pakaian yang baru aku beli beberapa waktu yang lalu telah berubah menjadi pakaian yang usang.


Sambil membolak-balikkan tubuh ini, aku mulai melihat sisi demi sisi dari baju ku yang berubah menjadi barang rongsokan.


“A-ah … I-ini ….” tiba-tiba mulutku menjadi gagap


“Hmm … maafkan aku, sepertinya kau baru saja melewati mimpi buruk yang panjang.” Ucap sang kakek sambil memasak lobaknya.


“…..”


Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, kepala ini tiba-tiba runtuh dan mulai terlemas setelah teringat kembali insiden beberapa jam yang lalu ....


“Trek-tek~” Tiba-tiba muncul dua buah mangkuk sup kubis tepat di hadapanku. yap, sang kakek sudah selesai memasak sup kubisnya.


Uap hangat mengepul dari dalam mangkuk kayu ini, perlahan wajahku menjadi hangat dan aku sejenak aku melupakan kejadian yang baru saja aku pikirkan.


Mataku dengan lincah melihat apa saja lauk yang terkumpul di dalam mangkuk tersebut. tampaknya ada beberapa sayuran lainnya yang tercampur didalam sup lobak ini.


Tiba-tiba air liurku mulai mengalir setelah aku menyadari bahwa sebenarnya aku sedang dalam kondisi yang sangat lapar!


“Kamu beruntung cu, malam ini aku merebus sup terlalu banyak, aku kira aku harus menyisihkannya untuk besok.” Jelas sang kakek sehabis mengelap kedua tangannya dengan kain lap.


“Terima kasih kek ...! t-tetapi ... maafkan aku karena telah merepotkan kakek ....”


Kupandang wajah sang kakek. senyumannya yang tulus menampilkan kerutan wajah sang kakek yang terlihat begitu tua ....


Jika di terka-terka mungkin umur sang kakek bisa mencapai 60-70 tahun, janggutnya yang berwarna putih dan tubuhnya yang kurus nan rentah membuat aku sedikit khawatir dengan kondisi kesehatan sang kakek.


“E ... ehm … kakek tinggal sendiri di desa ini ....?" Tanyaku dengan nada cemas.


“Hm? Ehh … Gimana ya … Kasih tahu gak yaaa!?” Jawab sang kakek sambil bercanda dan bertingkah layaknya anak kecil.


-H-Hah!? Haaaaa?! Huwaaa!! Ngeselin banget nih lumut kolam !!


Sejenak aku menjadi sedikit geram dengan etika sang kakek yang sangat menyebalkan.


“… E-enggak jadi deh kek …” Dengan kesal aku menahan pertanyaanku barusan, sekilas tumbuh urat kesal di kepalaku.


“Gyahahaha!!! Maaf-maaf, aku sudah lama sekali tidak berbicara dengan orang ....” Guyonnya sambil tertawa riang.


Tiba-tiba suasana berubah mejadi serius. sang kakek menaruh sendok kayunya pada mangkuk sup yang ia makan. demikian ia mulai bercerita mengenai kisah hidupnya.


“Haah … sejak kapan ya aku tinggal sendiri … Mungkin sekitar dua tahun yang lalu ….?”


“… Dua tahun?! Itu sudah lama sekali ... memangnya apa yang telah terjadi kek?”


Sang kakek melihat ke-arah ku, sejenak ia mengamati wajahku ini dengan intens, dan yang paling ia amati adalah retina mataku yang tampak hijau cerah.


Aku merasakan ketidak nyamanan ketika ia memandangnya sedemikian rupanya.


“… Hm … cu … kamu memiliki mata yang unik ….” Terang sang kakek sambil mengelus janggutnya


“..!..” Sontak aku cukup terkejut dengan kalimat nya itu. Kalimat yang seperti itu sangat sensitif untukku.


“… Hm … matamu seperti mata ikan laut yang telah membusuk” Lagi, sang kakek bercanda dengan lawakan yang tidak lucunya itu.


“HAA!!??” Seketika itu juga aku bangkit dari kursi ini.


“GAHAHAHA!!! Ekspreimu!! Lihat wajahmu cu!!” Tak mampu menahan gelinya, Sang kakek tertawa sendiri dengan sangat lepas.


Tampaknya kakek satu ini senang menjahili orang lain.


KAKEK!!!! Mungkinkah warga desa meninggalkan mu karena mulutmu yang kotor itu ?!


Demikian semakin bertambah urat kesal yang tumbuh di kepalaku.


“… Hahaha!! Maaf-maaf, sekali lagi aku minta maaf, aku hanya senang bisa berbicara pada seseorang lagi~” Sang kakek tampak kembali menjadi dirinya yang serius.


“…Tadi kakek juga berkata demikan … tapi tetap saja kakek mengulanginya lagi….” Ucap ku yang sudah kepalang kesal.


“Baiklah-baiklah, aku akan memulai cerita mengapa desa ini kosong.” Kali ini tampang sang kakek menjadi sangat serius seperti ia akan benar-benar menceritakan kisah dirinya.


“Gulp!” tertelan ludah ku secara kuat. aku kemudian terdiam menatap fokus ke-arah sang kakek demi mendengarkan kisah hidupnya yang tak penting itu.


Demikian sang kakek mulai bercerita tetang dirinya dan mengapa desa ini bisa kosong dan menjadi desa yang mati ….


***