The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 42 : Penyergapan Yang Tak Terduga



Menderu kencang di udara. sudah hampir 30 menit kami terjatuh dari langit menuju bumi, belum ada tanda-tanda bahwa tiba waktunya untuk menggunakan sihir yang dapat membentangkan parasut agar kami tidak jatuh tanpa pengaman dan mati.


 


 


Juga tampaknya Sofie sudah terbiasa dengan kondisi ketinggian.


 


 


Berkat terjatuh dari langit yang amat tinggi ini, Sofie telah sembuh dari fobia ketinggiannya.


 


 


Wajar saja, selama 30 menit kami terjun bebas tanpa ada pengaman, kami bahkan sempat bermain "Suwit" dan beberapa kali saling mengejek satu sama yang lain saat di atas udara.


 


 


***


 


 


Akhirnya waktunya tiba, kami menembus tebal nya awan yang menutupi pohon raksasa itu. selepas kami menembus awan yang tebal ini, tubuh kami basah kuyub akibat kadar air di awan yang sangat amat tebal.


 


 


Aku bersyukur karena sebelumnya, tubuh ku bau akibat cairan kuning Sofie yang merembes keluar saat pertama terjun dari Kota Langit.


 


 


Tongkat ku genggam kuat, kemudian Sofie memeluk pinggang ku dengan kencang. ku ucapkan mantra pengendali angin.


 


 


"***Gale Ventum!***"


 


 


Tercipta pusaran angin yang besar lalu berubah menjadi objek fisik yang dapat di sentuh. kami selamat, perlahan kami di turunkan ke bumi dan akhirnya kami tepat mendarat di depan rumah Sofie.


 


 


"Aku duluan!!"


 


 


Belum sampai di tanah, Sofie melompat duluan memijak bumi, ia langsung bergegas masuk ke dalam rumahnya.


 


 


Aku yang masih berada di udara saat itu melihat kuping nya tampak memerah, sepertinya ia masih malu dengan kejadian di atas langit yang menunjukkan aib nya.


 


 


Tiba-tiba jendela kamarnya ia buka, tampak wajah Sofie menonjol diantaranya. Wajahnya sangat merah seperti tomat yang di rebus.


 


 


"Arley!! Aku enggak ngompol ya!! Itu semua karena ulah mu!! Bweee!!! ~"


 


 


"(Ah.. Hahahaha... Ada-ada saja tingkah nya)"


 


 


Sofie mengejek ku dengan menjulur kan lidahnya, aku hanya mengangkat alis kiriku membalas tingkah ekspresionis nya, kemudian aku tertawa kecil sambil akhirnya menjejakkan kaki di tanah.


 


 


***


 


 


Matahari sudah di ujung kepala, terik menyinari dataran ini bagaikan hawa panas api neraka.


 


 


Kerongkongan ku mulai kering, ingin rasanya menengguk segelas air putih untuk meredakan dahaga.


 


 


"Kak Sofie! Adakah kakak menyimpan segelas air?"


 


 


Ucap ku kepada Sofie yang masih belum juga selesai membereskan barang-barangnya.


 


 


"Tidak ada!! Nanti saja di perjalanan, kita melewati aliran sungai kok di hutan kelak."


 


 


"... heeh... Baiklah!! Kalau begitu, tolong cepatlah sedikit membereskan barang-barang mu kak!!"


 


 


"Hey! Tidak sopan ya menyuruh seorang wanita bergegas ketika sedang bersolek!"


 


 


"(He? Jadi selam ini dia sedang bersolek?! Ya tuhan, pantas saja lama sekali...)"


 


 


Lalu kemudian terdengar suara pintu tertutup dan akhirnya Sofie keluar.


 


 


"Baiklah!! Aku sudah siap!!"


 


 


".... Pfftt!!!! Bahahahahahaha!!!"


 


 


Keluar lah Sofie dengan wajahnya yang penuh dengan bedak, dia keluar dengan percaya diri dan senyum di bibirnya menyeringai lebar.


 


 


Tiada habisnya Sofie untuk mengejutkan ku. Wajahnya sangat putih akibat bedak yang entah ia dapat dari mana.


 


 


Bibirnya penuh dengan lipstik merah merona yang terlukis tak karuan, bulu matanya hitam pekat lentik tak karuan. Lalu lingkaran matanya di celak sendiri dengan warna merah.


 


 


Badut? Ya!! Mirip dengan badut di tempat sirkus! Bukannya jadi cantik, dia malah membanyol dengan penampilannya.


 


 


Menakjubkan, transformasi yang sangat menakjubkan! Aku kira setelah ini tidak ada yang bisa membuat takut dan mengejutkan ku lagi.


 


 


"Ada apa Arley..?"


 


 


Sofie mengkerutkan kedua alis nya, ia tampak bingung dengan reaksi Arley.


 


 


"Haaahh!!.... Haaah.... Hufth... Kakak Sofie, sudahkah kakak berkaca melihat wajah kakak sendiri? Pffftt!! Hahah.... Buff-"


 


 


Aku mencoba menahan tawa ku, lalu karena sudah tidak tahan, aku memalingkan pandanganku untuk menjaga perasaannya, ku rasa ia sangat serius dengan penampilannya itu.


 


 


" Sudah dong!! Aku kan bersolek di depan kaca!!.. Ehm... Memangnya j-jelek ya...? "


 


 


 


 


"Kakak harus tahu, tanpa bedak-bedak ini, wajah kakak sudah cantik kok, kakak harus percaya diri dengan penampilan kakak."


 


 


Ku tarik kerah baju Sofie kebawah agar aku dapat memegang wajahnya, kemudian ku elap wajahnya dengan kain itu.


 


 


Tampak wajah Sofie mulai kemerah di balik tebalnya bedak yang ia kenakan.


 


 


"K-kamu tahu apa soal bedak!! H-hmp!! S-sini aku saja yang menghapus bedaknya!!... (Dasar Arley.. Anak kecil seperti mu tahu apa kamu soal kecantikan... Mumble... Mumble..)"


 


 


Sofie memalingkan badannya sambil mengelap wajahnya dengan kain tersebut, tampak dari belakang jika kuping nya memerah akibat menahan malu.


 


 


***


 


 


Memang sudah kami rencanakan sebelumnya, saat kami turun jatuh dari langit, kami sempat berbincang-bincang sejenak mengenai tujuan Sofie selanjutnya.


 


 


Sofie tidak tahu harus bagi mana. selesai kepergian neneknya, dia hanya tidur di rumah dan pergi mencari makan di hutan.


 


 


Sesekali Sofie pergi ke kota untuk mencari informasi di koran dan hal-hal lainnya.


 


 


Saat ku tanyakan apakah dia memiliki cita-cita, maka dia menjawab, ia ingin menjadi seorang Pastry (Pembuat Roti).


 


 


Sofie dahulu sering sekali memakan roti bersama keluarganya, hal itu terjadi sebelum kejadian kelam itu terjadi padanya.


 


 


Keluarganya setiap sore pasti selalu memakan roti yang rasanya masih melengket di lidahnya sampai saat ini.


 


 


Semenjak kepergian nenek nya, Sofie ingin sekali lagi memakan Roti dengan perasaan dan rasa yang sama dengan hari itu.


 


 


Tekatnya telah bulat, dan aku juga mendorongnya untuk menjemput cita-cita itu.


 


 


Dengan senang hati, aku mengajak nya untuk pergi ke Ibukota, dan saat itulah kami memilih untuk pergi ke satu tujuan yang sama.


 


 


Ya, tujuan kami adalah ibu kota kerajaan [eXandia], ibukota [Levia].


 


 


***


 


 


Tas koper yang terbuat dari kayu dan di lapisi kulit, di tenteng nya dengan gampang. kantung dimensi yang berisi uang, di ikat nya di pinggang. Sofie siap berangkat.


 


 


"Yuk kita berangkat pergi!"


 


 


Ucap Sofie sambil melirik ke rumah yang sudah lama ia tempati.


 


 


"Okay, pegangan yang erat ya"


 


 


Kata ku sembari mengeluarkan tongkat kayu yang sudah ku anggap milik ku sendiri.


 


 


"Gale Ventum~"


 


 


Berdesir angin dengan nyaring, lalu menjadilah angin tersebut benda solid yang dapat di naiki.


 


 


Sofie melompat ke atasnya, lalu aku ikut Menaiki nya dari belakang. Tampaknya Sofie sudah tidak takut lagi dengan ketinggian, ini semua berkat pohon kecambah yang muncul secara tiba-tiba.


 


 


Kami pun terbang menuju arah, Sofie mengatakan Jika ia tahu kemana Arahnya.


 


 


Dengan fikiran yang bahagia, kami bergegas pergi dari lembah rumput ini tanpa ada rasa beban di hati.


 


 


***


 


 


"[Shrak]" tiba-tiba terdengar suara yang mengikuti kami dari belakang. "[Srak-srak-srak!!] " Berdesir, rerumputan yang ada di sekitar rumah Sofie bergerak dengan hebatnya.


 


 


"?! Apa ini?"


 


 


Aku pernah merasakan panasnya Aura seperti ini, ya, Aura ini adalah milik makhluk itu.


 


 


Secara mendadak, serangan rahasia di luncurkan oleh makhluk bergigi taring dan berbulu perak.


 


 


"[Graup!!]" gertakan gigi taring dari makhluk itu hampir saja mengenai kaki Arley yang posisi nya lebih rendah dari Sofie.


 


 


"Mereka!!! Mengapa mereka ada di semak-semak ini!!!?!"


 


 


Sofie terkejut bukan main, monster yang membunuh keluarganya dan menghancur ratakan kota yang terdekat dengan rumah Sofie tiba-tiba muncul di dekat rumahnya, terlebih mereka ingin memangsa Arley dan Sofie.


 


 


"Serigala Perak!!?!*** [Cobolt Wolf]***. sudah ku duga\, ini semua ulah mereka!!!"


 


 


Spontan aku langsung menaikkan ketinggian mengudara kami agar serangan mereka tidak mencapai titik terbang.


 


 


***