The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 206 : Comedy Keluarga, (Bagian 2)



Not Edited ! ~


Pagi baru saja tiba, akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang amat besar dari arah kamar Arley.


Paman Radits yang terkejut akan hal ini langsung berlari menuju kamar sang anak angkat, untuk mengetahui penyebab terjadinya teriakan.


“Ada apa ini?!” cakap sang paman yang terlihat begitu seris.


Tak sengaja, saat sang paman masu kedalam kamar Arley, ia melihat Varra yang sedang berada di dalam selimut.


“Kyaa!” teriak Varra, tapi kali ini dengan nada yang lebih kecil.


“Waa! M-Maafkan aku!” cakap Paman Radits yang kemudian membalikkan badannya. “H-Hoi! Arley! Apa yang kau perbuat kepada Varra!” bentak sang Paman yang tampak urat kesal di kepalanya. “Aku tidak membesarkanmu untuk menjadi seorang serigala loh!”


“Tapi … aku kan manusia paman …,” bantah Arley dengan datarnya.


“Memang bener sih. Eh- tapi bukan itu maksudnya!” lagi sang paman terlihat marah dan berjalan mendekati wajah Arley. “Hoi bocah sialan …! Coba kau terangkan kepadaku, Mengapa Varra sedang tidak berpakaian seperti ini …! Bukankah kau bilang, kau ingin erawanya sampai ia sembuh?! Lalu mengapa kau malah berbuat mesum kepada dirinya?!” ucap sang paman yang mulai berpikir ngelantur.


“Euuhh ... berarti benar, kau telah melakukan sesuatu pada diriku …?” tutur Varra dengan nada gemetar dan hampir menangis. "padahal aku sudah susah payah menjaga ke-Cherryanku ...."


Ketika itu, Wajah Arley tampak kesal, ia menggembungkan kedua pipinya, sembari ia mengerenyutkan kedua alisnya.


“Hey, aku tidak pernah berbohong selama hidupku, lagi pula, aku memang benar-benar tak melakukan apa pun pada tubuh Varra!” bentak Arley yang jarang sekali marah.


Namun, tiba-tiba Paman Radits malah semakin kesal kepada Arley.


“Dasar bodoh! Pria macam apa kau ini! seharusnya, jika kau memang seorang pria sejati, setidaknya kau mengintip tubuh wanita itu! atau bahkan menyentuh di beberapa tempat!” teriak sang paman, yang kali ini keluar jiwa aslinya.


Sontak, dari depan pintu masuk kamar Arley, Emaly muncul secara tiba-tiba.


“Ayah … ayah sangat enggak keren … jelek … menjijikkan … menjijikkan … menjijikkan …!" gumam Emaly yang melihat tingkah ayahnya.


“E-Emaaallyy?! T-tidak begitu Emaly! Ini semua demi kakakmu! Lihat, apakah kamu tidak mau Kak Varra menjadi kakakmu juga? Kalau kak Arley menikah dengan kak Varra, maka kita bisa menjadi keluarga yang besar loh!” jelas sang paman kepada anak berumur lima tahun.


“Eh? Kak Varra akan menikah dengan kak ARley? Hore!” ucap Emaly yang terpancing oleh sang ayah.


Akibat suara yang teralalu berisik, akhirnya Arley langsung naik pitam. Dengan paksa ia menarik paman Radits keluar bersama dengan Eamyl.


“Kalian berdua sangat berisik!” bentak Arley yang kali ini benar-benar marah. Sambil menutup pintu, secara keras-keras.


“A-Ayah … kak Arley benar-benar marah …,” gumam Emaly.


“S-sepertinya begitu …,” ucap sang ayah yang juga ketakutan saat melihat Arley marah.


Ketenangan kembali merajut di dalam kamar Arley. setelah dirinya mulai kembali tenang, Arley kembali duduk di atas kursi belajarnya sambil ia mulai kembali membaca buku sihir tersebut.


“Jadi … aku minta maaf karena aku mengganti bajumu semauku …,” ucap Arley yang wajahnya ternyata bisa memerah.


Ketika itu, kondisi sudah kembali tenang … pikiran Varra pun sudah lebih stabil dibandingkan saat ia berteriak kali pertama.


“U-umm … aku juga meminta maaf, tidak seharunysa aku histeris seperti itu …,” gumam Varra dengan wajahnya yang ikut memerah. “J-Jadi … kamu beneran enggak apa-apain aku …?”


“E-Enggak lah! Aku cuma melepas pakaian kamu, terus menyelimuti kamu di atas kasur sana. Itupun aku melakukannya sambil memejam mata!”


“H-Hee … padahal kalau kamu mau lihat sedikit juga gak apa-apa kok …,” guamam Varra, dengan suara super kecilnya.


“Hm? Tadi kamu ngomong apa?” tanya Arley dengan wajah tersenyumnya.


“T-tidaak!” Kali ini wajah Varra kembali memerah. “Oh iya … berapa lama aku sudah tertidur …?”


Saat Varra menanyakan hal itu kepada Arley, Arley langsung merbubah posisi duduknya dan lebih menghadap ke arah Varra.


“Ehm … sekitar enam belas jam …? Kurang lebih …,” cakap Arley yang tak tahu jam pastinya.


“Wah … ternyata aku bisa tidur selama itu juga ya ….” Ketika itu, Varra tampak menggosok-gosok punggung tangan kriinya, lantas barulah ia menyadari, jika kondisinya saat ini sudah tidak terluka sama sekali. “Eh?! Bagaiamana bisa aku tidak memiliki luka sedikitpun?!”


“Ahh … saat aku mengangkatmu untuk pulang, tak sengaja aku bertemu Kak Litta. Oh iya, kak Litta adalah seorang Alchemist, jadi, jika kita mebayar dia setimpal dengan apa yang kita pinta, maka ia bisa mengabulkan segala keinginan, asalkan sesuai dengan upahnya.”


“Jadi … aku bisa sembuh seperti ini berkat Kak Litta yang kau maksud?” Ketika itu, Varra mulai mengecek sekujur tubuhnya, namun, tak sengaja ia baru menyadari satu hal. “A-arley … apakah kak lita ini seorang perempuan …?” tanya Varra dengan wajah penasaran.


“Ya! dia wanita yang cantik, kedua gunungnya juga sangat besar!” Dengan begitu polosnya Arley menjawab pertanyaan jebakan Varra.


Mendengar jika wanita bernama Litta itu memiliki dua buah gunung yang super, saat itu juga Varra mengecek miliknya, namun punya dirinya sendir sangatlah tipis, bahkan hampir menyerupai papan cuci baju.


“A-Arley … kamu suka lembah atau gunung …?” tanya Varra yang terdengar begitu abstrak.


“Ha? pertanyaan macam apa itu? kalau daging dengan roti, Jelas akan aku jawab roti. Tapi jika di tanya gunung dengan lembah, tentu saja aku tidak tahu. Aku suka keduanya,” Jawabnya dengan begitu naif.


Tapi kali ini Arley terselamatkan dari mala petaka yang bisa saja menimpa dirinya.


“O-ohh~ jadi aku masih ada kesempatan …!” sambil Varra mengepalkan tangannya, saat ini ia merasa cukup bahagia.


Kesunyian kembali terjadi, Arley yang tampak fokus pada bacaannya mulai bertanya-tanya, dan untuk mengetahui jawabannya, akhirnya arley langsung bertanya kepada orang yang bisa menjawab.


“Aku sempat memikirkan hal ini … Varra, mengapa kau memilih tinggal di perpustakaan itu seorang diri?” tanya Arey sembari ia terus membaca bukunya.


Menolehlah Varra melihat Arley sebelum ia mejawab pertanyaannya.


“Ehm … karena aku suka membaca …?” jawab Varra yang terdengat tak menjawab pertanyaan Arley.


Menolehlah Arley melihat wajah Varra. Lantas Arley menatap Varra dengan tatapan tajam.


“A-ah … baiklah, akan aku coba jawab dengan menaruh hati pada jawabannya,” jelas Varra sambil ia merunduk bingung. “hmm … kau tahu … dahulu, aku pernah memiliki sahabat karib loh … mereka sama-sama berasal dari panti asuhan yang berada di desa [Kommo]. Akan tetapi, Panti itu hanyalah sebuah kedok belaka. Setelah kami cukup besar untuk bisa di lepas, pihak panti asuhan malah menjual kami ke pasar budak …,” ujar Varra yang ketiak itu menjelaskan kisah hidupnya.


“Aku mungkin adalah salah satu yang beruntung, dibandingkan teman-temanku yang tak berhasil melarikan diri dari kurungan pria itu. Aku rasa … hampir tujuh tahun lebih setelah kejadian itu terjadi. Aku berharap, mereka semua baik-baik saja …?” gumam Varra.


“Aku rasa mereka baik-baik saja …,” jawab Arley dengan gampangnya.


Lantas, seketika itu juga wajah Varra tercengan melihat wajah Arley.


“Ehm … maafkan aku, tapi aku menjawab ini sesuai dengan firasatku, err kau tahu … aku memiliki firasat yang kuat …,” jelas Arle yang tak berniat membohongi Varra. Tapi Varra tampak benar-benar marah dengan ucapan Arley tadi. “Aku serius loh, Varra! Contohnya … ah! lihat ini!” sontak, Arley membuka pintu jendela kamarnya, lalu ia mundur tiga langkah kebelakang.


“Lima, empat, tiga ,dua … satu!” Setelah Arley selesai menghitung mundur waktunya, tiba-tiba masuk sebuah bola kertas ke dalam kamar tersebut. “nih … benar kan!?” jawab Arley yang tak tahu pasti cara menjelaskan kepada Varra, jika ia tak berbohong.


Varra kembali terpelongo saat kertas yang terlempar secara acak itu masuk ke dalam ruangan ini secara tiba-tiba. Sontak, saat itu juga Varra tertawa terbahak-bahak menyaksikan kejadian aneh ini terjadi.


Melihat senyuman Varra kembali, Arley merasa lega dan dirinya ikut tertawa bersama Varra.


.


.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


.


.


.


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


.


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


.


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


.


.


.


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


.


.


.


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


.


.


.


Baiklah!


.


.


.


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


.


.


.


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


.


.


.


Have a nice day, and Always be Happy!


.


.


.


See you on the next chapter !


.


.


.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


.


.


.


.


.