The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 109 : Memenuhi Takdir Mereka.



not edited!


Wajah mereka semua memucat dengan bocornya informasi yang sengaja di buka oleh Arley.


 


 


Yang paling terkejut dari mereka semua adalah Amylia. Tampak jika ia masih tak percaya dari apa yang Arley ucapkan.


 


 


“Mustahil! apa buktinya?! Mengerti bahasa kuno saja tidak mebuktikan bahwa yang kau ucapkan adalah kebenaran!” bantah Amylia dengan keras.


 


 


Seketika itu juga, Lily memandang cemas kearah Arley, tampak jika ia belum siap membeberkan rahasia yang telah dia simpan selama ratusan tahun lamanya.


 


 


Namun Arley mempunyai rencananya sendiri, ia mengedipkan mata kearah Lily, dan ia pun memahami kode yang Arley sampaikan kepadanya.


 


 


“Bukalah—kak Lily,” ujar Arley dengan tenang.


 


 


Lantas, Lily menganggukkan kepalanya sembari dengan perlahan, ia membuka handuk yang menutupi kepalanya tersebut.


 


 


Terurailah rambut kuning bak emas dari balik handuk tersebut, Kala itu, rambut Lily terlihat bagaikan lembaran tali sutra yang memantulkan cahaya lampu. Begitu mulis dan tampak lembut.


 


 


Namun bukan hanya rambutnya Lily saja yang membuat orang terkejut, tetapi telinga panjang miliknyalah yang membuat seisi ruangan gempar dan berdecak kagum.


 


 


“I-tiu kuping asli!?” tanya Eadwig dengan nada terkejut.


 


 


Tiba-tiba saja, bagaikan sambaran petir. Aurum langsung berlari menuju Lily bagaikan ia tengah menemukan mainan baru.


 


 


“Wah!! Ini benar-benar asli!, luar biasa! Mengapa kupingnya bisa panjang seperti ini!?” tak bisa dipungkini, darah ilmuan tetaplah mengalir di darah Aurum.


 


 


Menemukan species langka seperti ini adalah gairah utamanya sebagai seorang peneliti yang sejati.


 


 


Dengan lincahnya Aurum memegang dan mengelus kuping Lily yang tampak begitu panjang, namun apa yang Aurum lakukan membuat Lily tak bsia menahan suaranya.


 


 


Terdengarlah desahan yang tak seharusnya terjadi.


 


 


“O-ops!~” ucap Aurum sambil ia menarik kedua tangannya.


 


 


“M-maafkan aku,” dengan wajah yang merah padam, tampak jika Lily sangat menyukai apa yang Auru lakukan, “Hey, mungkin kau bisa bermain denganku malam ini,” tiba-tiba saja Lily mengatakan hal yang tak seharusnya Arley dengar.


 


 


“E-eh!?” tentu saja Aurum terkejut akan hal tersebut, ia pun melangkah mundur setelah melihat ekspresi yang Lily tampilkan di hadapannya.


 


 


“Bermain?” tanya Eadwig dengan lugunya.


 


 


Akibat perkataan Eadwig tadi, Amylia menyikut Eadwig karna kepolosannya yang terbilang akut.


 


 


“Aw! Apa yang kau lakukan?!” tampak Eadwig marah karena ia benar-benar tak mengerti apa yang tengah terjadi.


 


 


“Diam saja jika kau tak tahu,” tegas Amylia dengan wajahnya yang ikut memerah.


 


 


Demikian didalam situasi yang terbilang aneh ini, Arley akhirnya memecah kebuntuan.


 


 


“Ekhem! Kak Lily …,” Arley menegur Lily saat itu juga.


 


 


Sontak Lily tersadar atas apa yang akan ia perbuat, dengan begitu malunya, ia menutup wajahnya yang memerah padam tersebut dengan kedua tangannya.


 


 


“H-hey, Arley …? Jangan-jangan kau dan dia …,” tanya Aurum sembari menunjuk Arley.


 


 


Saat itu juga wajah Arley memerah, jiwa lugu Arley terbakar akibat pertanyaan yang tak seharusnya Aurum katakan.


 


 


“Tentu saja aku belum pernah!” tegasnya sembari menunjuk Aurum dengan kikuk.


 


 


“Ya, itu semua berkat keajaiban,” cetus Sofie dari sebelah Arley.


 


 


“Keajaiban?” tanya Rubius.


 


 


“AAaaa! kak Sofie!” saat itu juga Arley menutup mulut Sofie dengan telapak tangannya.


 


 


“Hehe~” tertawalah Sofie dibalik telapak tangan Arley sembari memalingkan pandangannya.


 


 


Demikian pembicaraan ini berlanjut cukup lama, sampai akhirnya mereka semua puas dengan informasi yang mereka gali, Arley pun tampak kelelahan mengklarifikasi segala hal yang mereka tanyakan.


 


 


***


 


 


Waktu berjalan dengan cepat, kali ini perbincangan kembali pada jalan yang Arley inginkan.


 


 


 


 


Namun tidak untuk Amylia, ia masih merasa tidak puas dengan apa yang disampaikan Arley.


 


 


“Tidakkah kau punya bukti yang lainnya?” tanya Amylia dengan memelas. Juga ia tampak lelah akibat segala hal yang ia lewati pada siang harinya.


 


 


“Jika kau mau meminta penjelasan yang lebih konkret, maka ikutlah bersamaku esok malam.”


 


 


Arley tersenyum selepas ia memberikan statementnya. Demikian Rubius dan Aurum tampak menyetujui apa yang Eadwig sampaikan, mereka ikut tersenyum dan menganggukkan kepala mereka.


 


 


“Sebenarnya ancaman apa yang akan menyerang kita?” Amylia merunduk sembari menggenggam kedua tangannya, selepas ia mulai menerima kenyataan yang Arley ungkapkan, rasa takut yang begitu besar langsung menutupi hati kecilnya.


 


 


Saat itu juga Eadwig memegang tangan Amylia, ia mencoba untuk mengurangi rasa cemas Amylia. Seketika itu juga Amylia menyambut genggaman tangan Eadwig.


 


 


“Aku sendiri tak tahu,” ujar Arley dengan menaikkan kedua pundaknya,” yang aku sangka adalah, ada sebuah kekuatan besar, ingin merebut tongkat sihir dan pedang yang dijadikan hadiah untuk tournament kita.”


 


 


Mereka tak tampak terkejut kembali, sepertinya mereka sudah terlalu puas untuk bisa terkejut dengan informasi-informasi yang akan Arley ungkap.


 


 


“Aku merasa jika pedang dan tongkat sihir tersebut, ada hubungannya dengan Exandia.” Arley mengutarakan isi hatinya.


 


 


“Apakah itu hanya berdasarkan hatimu saja tanpa ada data ilmiah?” tiba-tiba Aurum menyambar pernyataan Arley yang terdengar rancu tersebut.


 


 


“Ya, ini hanya dugaanku saja. Pedang dan tongkat tersebut adalah milik Exan dan Diana, kedua pusaka itu adalah peninggalan yang begitu dahsyat. Makadari itu, Exandia memilih untuk menyegel pusaka tersebut di benua baru,” jelas Arley kepada merka semua.


 


 


“Mengapa kau bisa berkata demikian? Lalu mengapa kekuatan besar itu bisa mengetahui jika kita berhasil membawa pulang kedua pusaka tersebut?” tanya Eadwig dengan penuh keseriusan, hal ini sangat langka untuk dilihat.


 


 


Arley pun kembali membalasnya dengan penuh keseriusan.


 


 


“Aku lupa menjelaskan hal ini kepada kalian, namun sebelumnya aku ingin menanyakan suatu hal kepada kalian semua,” tanya areley sambil ia bergerser dari kasurnya dan mulai berjalan menuju sofa yang terpasang di kamarnya tersebut.


 


 


Setelah ia duduk di sana, ia memulai kembali pembicaraannya, “Apakah kalian benar-benar buta akan segala buku yang di karang Merlin S.J?” kembali Arley menanyakan hal yang sebelumnya di anggap remeh oleh keempat sahabatnya tersebut.


 


 


Tentu saja mereka menggelengkan kepala mereka. Maka dari itu mulailah arley kembali menjelaskan apa yang ia ketahui dan pelajari mengenai buku-buku yang Merlin S.J tuliskan.


 


 


“Jika demikian, maka aku mewajibkan diam dan dengarkan kisah dunia menurut Merlin S. J., karena hal ini akan merubah sudut pandang kalian terhadap dunia yang kita tinggali saat ini,” terang Arley kepada mereka berempat, ”kalau kalian paham, ayo segera kalian duduk di sofa,” kemudian Arley mempersilahkan mereka semua duduk di kursi untuk mendengarkan kisah yang akan arley utarakan.


 


 


Saat itu pula Arley menceritakan kisah mengenai turunnya Adam ke bumi, lalu ketelatenan Iris setelah wafatnya adam, serta kisah para leluhur mereka yang lainnya dalam misi memurnikan bumi, juga kisah mereka ketika mendapat mukjizat sebagai kaki tangan tuhan, yaitu Zue, Horus, Lebia, dan Exandia.


 


 


Untuk menjelaskannya secara terperinci, habis lah waktu malam itu hanya untuk Arley mendongengi mereka semua tentang kisah asli yang Merli S.J., ingin sampaikan kepada seluruh dataran bumi [Soros].


 


 


Namun, selepas Arley menyelesaikan dongengnya, mereka semua secara tiba-tiba meyakini bahwa apa yang Arley katakan adalah sebuah kebenaran.


 


 


Karena di negara mereka masing-masing, terdapat sebuah dongeng rakyat yang hanya di negara mereka itu saja dongeng tersebut diketahui.


 


 


Setelah Arley bisa menjabarkannya secara detail dan akurat, mereka pun langsung percaya jika apa yang Arley sampaikan adalah sejarah yang tepat dan akurat.


 


 


Maka dari itu, merka memilih untuk mempercayai Arley dan mengikuti rencana apa yang akan Arley sampaikan.


 


 


Tepat saat matahari terbit, mulailah bereka membicarakan masalah rencana yang akan mereka lancarkan untuk menyelamatkan benua [Horus]


 


 


“jadi apa rencananya?” ujar Amy dengan wajah yang tersenyum serius.


 


 


“Hanya satu rencananya …,” ucap Arley sembari menunjukkan jari telunjuknya, “Setelah kita memenangkan pertandingan tersebut, dan siapapun pemanangya. Kita akan langsung pergi menuju pantai selatan dengan membawa kedua senjata pusaka tersebut!”


 


 


Sontak, mereka semua tersenyum lebar seusai mendengarkan rencana Arley, kala itu juga mereka menganggukkan kepala untuk mengiyakan apa yang Arley rencanakan.


 


 


Pembicaraan yang begitu panjang telah usai, Matahari telah terbit begitu tinggi.


 


 


Pada akhirnya, Arley benar-benar melanggar saran yang Paman Albion perintahkan kepada dirinya. Namun dibalik pelanggaran yang Arley perbuat, ia berhasil meyakini seluruh kerabat da nrekannya untuk meluncurkan Strategi penyelamatan benua [Horus] dari ancaman makhluk asing.


 


 


Saat itu juga, mereka berlima berangkat menuju Stadion [ELcoloseum] untuk memenuhi takdir mereka.


 


 


***


----------------------------------------------


Hai semua sahabat pembaca dimanapun kamu berada! Jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, comment, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan memberikan sedikit pointnya, Author akan sangat senang sekali dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter demi chapternya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah! Demikian salam penutup dari Atuhor untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia! dan selalu berpikiran positif!


Always be Happy


And Happy Reading Guys!