
Matahari sudah hampir terbenam. Arley berlari sekuat tenaganya demi cepat sampai menuju Gereja dalam waktu yang sudah di janjikan.
Setelah melintasi pagar pembatas desa, tak lama kemudian Arley akhirnya sampai di pintu masuk Gereja.
"Aku pulang!" ucap Arley dengan lantang, suaranya pun menggema di aula Gereja.
"Arley, cepat mandi!" sahut Ibunda Terra dari arah dapur.
"Iyaa~" jawab Arley sambil tersenyum bahagia.
Lalu ia langsung bergegas beranjak naik ke lantai dua, agar dirinya bisa lekas pergi menuju ke kamar mandi.
Kamar mandi yang Arley sering gunakan, posisnya terpasang bersebelahan—antara kamar tidur Arley dengan kamar tidur Ibunda Terra. Letaknya tidak memakan banyak ruang.
Tak perlu untuk berlama-lama, Arley bergegas mandi dan membersihkan tubuhnya yang bersimbah lumpur.
.
.
.
***
.
.
.
Seusai mandi, Arley langsung berpakaian dengan begitu rapi-nya, kebetulan ia baru membeli beberapa setel baju baru, dengan uang saku yang di dapat dari subsidi Gereja pusat.
"-Argog—Ibunda Terra, selamat malam!"
Terdengar gema suara Paman Ordley yang masuk ke Gereja dari pintu depan.
"Paman sudah datang!?" gumam Arley setelah dia mendengar panggilan tersebut. Mendadak Arley langsung merasa sangat bahagia dan sedikit gugup.
Bergegas ia turun ke lantai bawah seusai merapikan baju barunya.
"Selamat datang Paman!" salam Arley kepada beliau.
Ketika itu, Paman Ordley baru saja masuk ke ruang makan. Dia baru saja mau duduk di kursi makan, tetapi—setelah ia melihat Arley turun dari lantai atas, Paman Ordley pun tak jadi duduk di kursinya.
Beliau malah berlari lalu memeluk Arley dengan erat.
"Argog!? waw! pakaian barumu sangat bagus! kau menjadi anak yang sangat tampan sekarang!" puji Paman Ordley setelah ia menangkap Arley yang barusan turun dari tangga, lalu ia mengangkat Arley tinggi ke-udara.
Demikian ia tertawa lepas setelah Paman Ordley bermain sejenak dengan dirinya, sang Paman melempar Arley beberapa kali ke udara, dan menangkapnya sembari kembali memeluk Arley dengan hangat.
"Turunkan aku Paman!" ucap Arley kegirangan
Lalu tak berapa lama kemudian, terdengar suara Ibunda Terra yang menggema dari arah dapur
"Ayo kalian semua, makanan sudah siap! bantu aku menaruhnya ke meja makan!" ujar Ibunda Terra, meminta tolong mereka berdua.
"Baikk!" sahut Arley berbarengan dengan Paman Ordley.
Lantas, mereka berdua bergegas membantu Ibunda Terra menyusun menu santapan hari ini ke meja makan. Piring-piring yang cantik di keluarkan, gelas-gelas indah terpasang dengan rapih tepat di hadapan mereka.
Perasaan yang saat ini Arley rasakan, merupakan perasaan yang sudah lama sekali ia tidak kenyam.
Inilah keluarga, dan inilah kehangatan yang telah lama hilang. Saat ini, Arley bisa kembali merasakannya di dalam ruang makan yang kecil, tepat di daerah terpencil—di desa『Durga』, dan lebih tepatnya lagi, di sini, di Gereja yang sudah ia anggap sebagai rumahnya sendiri. Ya, Gereja『St. Resseta』.
***
"Selamat ulang tahun!" ucap Ibunda Terra dan Paman Ordley secara serempak.
Demikian, pada akhirnya—kue ulang tahun pun dikeluarkan. Tampaknya kue tersebut sejenis kue, Black Forest.
Warnanya hitam legam, dihiasi dengan cream putih serta buah cherry pada pucuknya, lalu di atasnya ada sebuah nama tercantum, tertulis dengan cream warna merah—tersemat dengan hangat "Happy birthday dear lovely Arley".
Tanpa disadari, mata Arley berbinar-binar bak bintang yang berseri di langit lepas, pada malam hari.
Bagaimana tidak? keluarga yang tak diikat dengan ikatan darah ini, lebih kuat ikatannya dibanding keluarga lain.
Mengapa demikian? karena keluarga ini terikat dengan kasih sayang yang sesungguhnya.
"Ini kue buatan Ibunda sendiri?" tanya Paman Ordley terhadap Ibunda Terra
"Heheh! cantik-kan kuenya?!" dengan optimis Ibunda Terra menjawab pertanyaan tersebut
"Hee ... aku tidak sangka Ibunda Terra bisa membuat kue serumit ini ...," ujar Paman Ordley dengan wajah seriusnya.
Kepalang kesal, Ibunda Terra mengenggam tangannya—lalu ia layangkan pukulan maut ke kepala Paman Ordley.
Suara ketukan yang cukup keras terdengar sampai kekuping Arley, lalu tampak benjolan memar di sela-sela rambut Paman Ordley.
Tak mau ikut campur, Arley hanya terdiam menatap mereka berdua bertengkar.
"A-Aw ...!? hentikan! a-aku hanya bercanda!" ucap Paman Ordley yang berusaha menangkis pukulan tersebut, namun meleset.
"-Hmp! kalau aku mau, aku bisa membuat kue yang lebih besar dari ini!" gumam Ibunda Terra dengan wajahnya yang cemberut.
Sejenak Paman Ordley kembali terdiam setelah melihat tulisan pada kue ulang tahun yang terpampang di tengah meja.
"-Ahh ... Ibunda Terra, bukankah kau melakukan kesalahan di sini?" Paman Ordley menunjuk penulisan nama pada kue tersebut.
"Hmm ...? mana-mana, coba ku lihat ... tidak ada yang salah kok?" cetus Ibunda Terra sembari ia memperhatikan dengan teliti penulisan nama pada kue ulang tahun itu.
"Tapi ... Arley itu siapa?" tanya Paman Ordley dengan wajah yang benar-benar kebingungan.
Arley dan Ibunda Terra menatap heran terhadap Paman Ordley, begitu juga sang Paman menatap mereka berdua dengan wajah kebingungan.
"-Pfft!! AHahahahahahaha!" Sontak, saat itu juga Arley dan Ibunda Terra tertawa lepas.
"-He? aku bertanya serius lohh!? bukankah yang sedang berulang tahun saat ini adalah Argog? lalu Arley ini siapa?" dengan serius Paman Ordley meminta penjelasan kepada Ibudna Terra.
Akhirnya, Ibunda Terra menjelaskan segalanya kepada Paman Ordley.
Lantas selepas Ibunda Terra menjelaskan segalanya, sang Pama pun meneteskan air mata dan memeluk Arley dengan hangat
Walaupun demikian, Arley tidak bisa menahan ekspresi tertawa pada wajahnya.
Air mata Paman Ordley membanjiri wajahnya yang sudah tampak tua tersebut, kemudian ingusnya mulai melambai-lambai seperti memohon untuk segera meminta agar cepat lekas di elap.
"-Eh!? P-Paman!?" Ingin rasanya Arley tertawa, tetapi demi menjaga perasaan sang Paman, ia berusaha mengikuti alurnya saja.
"Pasti berat sekali ya ... maafkan kami yang sudah membuatmu kesusahan seperti ini Arley ...," tangis Paman Ordley di punggung Arley.
"-Tak apa Paman, aku memaafkan segalanya" ujar Arley sembari membalas pelukan Paman Ordley.
Kala itu, Arley baru tahu jika Paman Ordley adalah orang yang sangat sensitif.
"Ahh! baiklah-baiklah! ayo kita kembali meriahkan ulang tahunmu ini, Arley!" ucap Paman Ordley yang kembali seperti sedia kala, demi menetralkan kondisi—yang tampaknya menjadi sedikit keruh akibat tangisan yang ia buat.
Malam hari ini, secara resmi ada dua orang yang telah memanggil Arley dengan nama yang sesungguhnya.
Demikian Arley tertawa dengan lepas, wajahnya memerah dengan kehangatan yang ia raih hari ini. Dalam lubuk hati yang paling dalam, Arley mencoba untuk berdoa: "Untuk hari ini saja, semoga untuk hari ini saja ... waktu bisa berhenti dan kehangatan ini bisa ia nikmati selamanya," doanya dengan penuh ketulusan
Tapi tentu saja doa itu tidak bisa terkabul, Arley sendiri paham betul dengan apa yang ia harapkan.
"Sekarang tiup lilinnya~" ucap Ibunda Terra dengan riang.
"Sebelum ditiup, berdoalah untuk apa yang kau harapkan di kemudian hari" cetus Paman Ordley mengingatkan.
Latas Arley memejamkan matanya, kemudian ia berdoa untuk waktu yang cukup lama.
***
Setelah ia berdoa, Arley membuka matanya dengan sangat perlahan, menandakan doa yang ia panjatkan telah usai.
"Sudah! " ucapnya dengan lantang, "Fuuh~" lilin tertiup, dan seluruh lilin mati bersamaan.
Kemudian ia melihat ke arah Ibunda Terra. Saat itu pun Ibunda Terra tersenyum dengan hangat, lalu ia mengusap rambut Arley dengan nyaman.
"Arley, kamu berdoa apa saja Nak?" tanya Ibunda Terra.
"Aku berdoa untuk beberapa hal," Jawabnya, "Yang paling pertama adalah Agar Ibunda Terra bisa selalu menjagaku," sejenak Arley menatap Ibunda dengan sayu
"Yang kedua, agar Ibu dan Ayah kandungku berbahagia di surga sana," perlahan Arley melirik Paman Ordley yang berada di samping kirinya.
"Yang ketiga aku berdoa agar Ibunda Terra dan Paman Ordley selalu berbahagia. Lalu yang keempat, agar sakitnya Paman Ordley bisa cepat sembuh." selanjutnya Arley memandang Paman Ordley dengan senyuman hangat
"Serta yang terakhir, agar aku bisa menjadi penyihir yang hebat!" ia tatap langit-lagit ruang makan itu sambil membayangkan kondisinya kelak, ketika cita-citanya tersebut telah terwujud.
Mengalirlah air mata Ibunda Terra, hingga wajahnya menjadi basah karena hal itu. Lalu ia memeluk Arley dengan hangat.
"Seharusnya kamu berdoa lebih banyak untuk dirimu sendiri."
"Hehehe~"
Tak diduga-duga, dari arah belakang mereka berdua, seorang pria mendadak ikut memeluk secara tiba-tiba. Yap, Paman Ordley tiba-tiba memeluk Arley dan Ibunda Terra tanpa peringatan jelas.
Tentu saja angan-angan indah ini tidak seperti apa yang di harapkan oleh sang Paman.
"Ordley ... apa yang kau lakukan ...," wajah Ibunda Terra berubah, kerutan di keningnya semakin menjadi, perlahan Arley mundur dan menjauh darinya.
"Aku juga ikut terharu ...." sesekali Paman Ordley menghisap hidungnya.
Lagi, kali ini dengan kekuatan penuh—Ibunda Terra tanpa segan-segan menghajar Paman Ordley dengan brutalnya.
Beberapa kali Paman Ordley mencoba utuk menghindar, namun segalanya tak dapat ia hindari. Alhasil wajah Paman Ordley berubah menjadi buah manju yang berwarna merah.
"-Hmp!"
"Hehe, maafkan aku ... tadi itu hanya refleks," ujar Paman Ordley sambil memegang pipinya yang memar.
Acara makan malam ini pun di tutup dengan habisnya kue ulang tahun yang mereka santap.
Perut yang kenyang membuat Arley menjadi sedikit mengantuk, tapi sebelum ia pergi tidur, Paman Ordley dan Ibunda Terra memberikan hadiah mereka kepadanya.
Dengan tubuhnya yang terasa lelah itu, Arley berasumsi : mungkin ini akibat ia terlalu memaksakan diri, dan menghabiskan『Mana』pada saat latihan tadi.
Mulutnya terbuka lebar, kemudian ia menguap dengan sangat kencang, sesekali kepalanya hampir terjatuh mengenai meja makan, namun Arley tetap berusaha semampunya untuk mencegah diri agar dirinya tidak tertidur di meja makan.
"Ah, dia sudah mulai mengantuk" ucap Paman Ordley, "kalau begitu, ini hadiah ulang tahunmu Arley" tampak Paman Ordley mengeluarkan seusatu dari dalam jubahnya yang tergantung di sandaran kursi.
Lalu—Paman Ordley memberikan Arley sebuah kotak yang dibungkus dengan rapi, di atasnya terdapat tali pita yang mengikat kotak tersebut.
Tidak mau kalah, Ibunda Terra juga memberikan Arley hadiahnya.
"Ah iya, ini hadiah untukmu, Nak~" Ibunda memberikan Arley hadiahnya, namun hadiah yang Ibunda Terra berikan—terlihat lebih kecil dari Paman Ordley. Kala itu, tampak secarik amplop berwarna merah dengan stempel kerajaan tertanam padanya.
"Hm? ini apa Ibunda?"
Ibunda terdiam sejenak.
"Ehm ... aku sudah memikirkan ini beberapa kali, dan aku rasa ini adalah yang terbaik. Arley, sekarang kamu sudah berumur lima tahun, dan tahun depan kamu sudah cukup umur untuk masuk ke sekolah, di Ibu Kota."
"-Sekolah? Ibu Kota?" tampak jika Arley saat itu—sangat kebingungan; Mengapa amplop? dan mengapa harus bersekolah di Ibu Kota? ia terus bertanya akan hal tersebut dalam benaknya.
"Amplop yang aku beri ini adalah surat undangan langsung dari sang Uskup Agung, agar kamu bisa masuk ke sekolah Tinggi Pendeta."
"Pendeta!? tapi kan aku-"
Ibunda Terra menunjukkan telapak tangannya, menandakan untuk Arley memperhatikannya terlebih dahulu.
"Aku sudah mendiskusikan hal ini dengan Uskup Agung. Belakangan ini, Yang Mulia semakin sering mengirimkan aku surat permohonan," terang Ibunda dengan seriusnya.
"Dia benar-benar menginginkanmu untuk menjadi anak angkatnya, di luar itu, dia menjanjikanku—ketika kamu sudah berumur 13 tahun, ia akan menyekolahkanmu di Universitas Barbaron『Barbaron High Class Magic University』di Ibu Kota. Dan jika saat itu tiba, kamu akan diberikan kebebasan untuk menjadi dirimu sendiri."
Arley hanya dapat terdiam seribu kata, dan ia tak tahu harus berkata apa—atau berbuat apa, setelah mendengarkan penjelasan yang Ibunda Terra terangkan.
"Haah ... aku tahu kamu bakal seperti ini, makanya simpanlah surat ini. Kamu masih punya waktu 1 tahun untuk memikirkannya, Nak."
"Baiklah Ibunda, aku akan memikirkannya dengan serius," ucapnya dengan perasaan yang sangat bingung.
Pada satu sisi, Arley tidak ingin meninggalkan Ibundanya secepat ini. Di satu sisi lainnya, ini adalah kesempatan yang sangat langka dan sangat berharga.
Kesunyian terjadi beberapa saat. Lalu Paman Ordley memecah kesunyian, "-Ahh, ini sudah sangat malam, sebaiknya aku pamit pulang kembali ke rumah."
"Ordley, sebaiknya malam ini kau menginap di Gereja. Kami punya kamar tamu di samping Aula. Malam bukanlah kondisi yang baik untuk berkeliaran di luar."
"Ohh, kalau begitu aku akan menerima tawaran itu," Paman Ordley berdiri dari kursinya, lalu ia melirik ke arah Arley dengan tatapannya yang hangat.
"Hey anak tampan, kau tidak harus memilihnya pada malam ini juga, sekarang pergilah ke kamarmu dan istirahatlah yang nyenyak" ujar Paman Ordley sambil mengusap rambut Arley yang berwarna merah darah itu.
Lesu, dengan sendirinya kepala Arley turun merunduk tak bertenaga. dari kalimat sang Paman tadi, Arley merasa—jika ucapan Paman Ordley ada benarnya.
"-Umm, baiklah Paman"
Dengan pikirannya yang penat, Arley pergi masuk ke kamar tidurnya untuk beristirahat.
Sesungguhnya ... ia tidak tahu harus bahagia atau sedih karena mendapatkan surat tersebut, namun entah kenapa—pola pikir Arley berkecamuk dengan hal sepele seperti ini.
Malam itu pun diakhiri dengan menginapnya Paman Ordley di Gereja『St. Resseta』.
***
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca dimanapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuh support Author ya!
Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!
Author akan merasa sangat berterima kasih!
dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!