
Suasana ruangan sangatlah pengap. Ribuan orang saat ini tengah mempersiapkan diri mereka di dalam ruangan yang berbentuk pentagon ini.
Hai semuanya, ekhem! Perkenalkan kembali, namaku Arley!.
Saat ini aku sedang berada di dalam ruang tunggu peserta, lokasi nya berada di dalam Stadion [El-Colloseum].
Aku berada di sini untuk mengikuti seleksi calon penyihir yang di selenggarakan tahun ini.
Sebenarnya tidak hanya penyihir, tetapi seleksi calon kesatria juga sedang di selenggarakan secara serentak dengan seleksi calon penyihir.
Sebab utamanya adalah agar orang yang mencalonkan diri dapat mengetahui kemampuan dan kelebihan mereka lebih condong ke-arah mana.
Tetapi kalau kalian bertanaya aku akan pilih kemana, maka aku sudah sangat yakin jika aku akan memilih untuk masuk ke Universitas penyihir tingkat tinggi [Barbaron].
Yap, setidaknya dahulu aku punya cita-cita untuk menjadi seorang sarjana penyihir yang hebat.
Demikian juga karena aku telah berjanji dengan kakek Marlin untuk memperdalam ilmu sihir bersamanya setelah usiaku menginjak 13 tahun.
Namun saat ini mood ku terasa sangat tidak baik ....
Kalian tahu kenapa sebabnya ...? Penyebabnya adalah karena pria bernama Maximus ini dari semenjak ia memperkenalkan dirinya, mulutnya tidak dapat berhenti berbicara layaknya bebek yang di kejar oleh pemburu.
“… -Jadi itulah mengapa kita harus sangat berhati-hati saat pertandingan di mulai … bla~bla~blaa ….”
Haah … kalian dengar itu? Kepala ku cukup pusing mendengarkan ocehan nya yang tak jelas mengenai tata cara menghindar dari kejaran musuh saat bertanding di dalam Stadion.
Okey, baiklah ... mari kita lihat sekeliling ruangan saat ini … hmm … ehhmm … Aaarrrgg!!!! Aku tidak bisa melihat apa pun kecuali kerumunan orang yang saling berdesakan!! Apa-apaan dengan ruangan ini!!
.
.
.
Seketika itu juga kepala ku terasa begitu panas, ingin rasanya aku berteriak sekuat tenaga untuk menghilangkan kepenatan di benak ini.
“… -Hey Arley? Kau mendengar ucapan ku kan?”
“Huh …? Ah, iya aku mendengarnya kok, bagaimana cara menghindar dari musuh kan?”
Lalu Maximus terlihat menghela kan nafasnya, dan menggelengkan kepala sambil memejamkan matanya.
“Haah … kau tidak mendengarku sama sekali”
Ucap Maximus, kemudian wajahnya berubah menjadi serius lalu telapak tangannya ia letakkan di punggung kanan ku.
“Dengarkan perkataan ku dengan serius kali ini Arley, karena ini adalah hal yang sangat penting ….!”
Jelas Maximus sambil menunjukkan jari telunjuknya seperti ia sedang ingin aku fokus pada jari telunjuknya itu.
“Ehm, maafkan aku. baiklah kali ini aku akan mendengarkan ucapan mu.”
Sepertinya lebih baik aku mendengarkan ocehan Maximus daripada memandang orang-orang yang sedang berdesakan itu.
“Baiklah, dengarkan aku baik-baik Arley. aku memberi tahumu hal ini karena aku yakin kau adalah orang yang tepat.”
Ucap Maximus dengan wajah yang berkeringat, entah mengapa aku merasa bahwa ucapannya kali ini bukanlah omong kosong belaka.
“Arley, apakah kau sudah tahu materi apa saja yang akan di uji pada seleksi tahap satu ini …?”
Tanya Maximus sambil menggerakkan badannya ke arah ku. serta ia juga merubah posisi duduknya yang saat ini, menjadi posisi duduk menyamping di kursi dan tampak ia sedang berhadapan denganku secara langsung.
Demikian wajah maksimus seperti menunggu ku untuk menjawab pertanyaannya tadi.
“Ehmm … kalau tidak salah, seleksi tahap pertama adalah tes kekuatan kan? lebih tepatnya pertarungan mempertahankan diri, dimana setiap 100 orang akan di adu dalam arena dan 20 peserta yang tersisa akan lolos secara langsung ke tahap selanjutnya.”
Jelas ku sambil mengingat-ingat peraturan seleksi tahun lalu yang secara eksplisit tertulis di surat kabar harian.
“Benar, peraturannya memang demikian, tetapi untuk tahun ini agak sedikit berbeda dengan peraturan tahun kemarin ….”
Perjelas Maximus dengan wajah serius, lalu ia melanjutkan kembali penjelasannya.
“Jika tahun lalu pesertanya hanya sekitar 300-400 orang, maka untuk tahun ini, peraturan itu tidak dapat di gunakan karena peserta melebihi kapasitas yang diperkirakan …”
“Bagaimana mungkin …?!”
Sejenak aku tertegun dengan kalimat Maximus. mengapa ia bisa tahu hal-hal seperti ini? bukankah informasiseperti itu akan di jelaskan pada saat pengumuman sebelum pertandingan kelak?
Lalu Maximus melanjutkan penjelasannya.
“Sekarang lihatlah kondisi di ruangan ini. ”
Maximus memalingkan wajahnya ke arah kanan, tentu saja aku juga melihat ke arah tersebut sambil memperhatikan sekeliling.
“… Aku tidak melihat ada yang salah dengan kondisi ruangan ini Maxius …? Memangnya apa yang kau maksud?”
Jelasku sambil kembali menatap wajah Maximus yang saat ini masih melihat orang-orang yang berdesakan.
“Bukan ruangannya Arley, tapi kondisi ruangan ini, lebih tepatnya kondisi orang yang ada di dalam ruangan ini.”
Kemudian aku kembali melihat orang-orang yang saling berdesakan di dalam ruangan ini, dan setelah aku perhatikan ternyata mereka saling bergerombol dan membentuk kelompok.
“Ahh!! Mereka membentuk kelompok!”
“Ahaha benar sekali, sekarang kau mengerti apa yang akan aku bicarakan!”
Sambil tertawa, Maximus memposisikan badannya ke arah ku seperti tadi.
“Jumlah peserta tahun ini telah mencapai 2000 orang pas, dan bahkan sebenarnya bisa lebih jika para panitia pendaftaran tidak menghentikan antrian yang masih sangat panjang di luar sana.”
“2000 orang lebih!? Menakjubkan ... pantas saja ketika aku datang saat pagi buta tadi, antrian sudah sangat panjang dan setelah memasuki waktu siang, antrian semakin panjang ….”
“Waw, kau datang mengantri sejak pagi buta?! Mengesankan ….! ” Maximus terlihat sedikit terkejut dengan pernyataan ku.
“Ekhm! nah sekarang kita kembali ke pembicaraan utama. Arley, tahu kah kau mengapa orang-orang ini bersedia mengantri begitu panjang pada festival tahun ini?” tanya Maximus lagi kepada ku.
“Erm … untuk mendaftar sebagai calon siswa kan? Bukankah kita mendaftarkan diri untuk menempuh pendidikan di universitas penyihir atau sekolah kesatria?”
Lalu tampak senyuman kecil dari wajah Maximus.
“Hahaha, tidak demikian Arley, lihat lah mereka, mau tua atau pun muda, mereka tetap mengikuti kompetisi ini walaupun mereka akan di sekolah kan lagi.”
“Mmm, aku tidak melihat ada kesalahan jika orang tua ingin menempuh ilmu lebih tinggi ….?”
Ekspresi Maximus berubah lagi, dari yang tadi hanya senyuman kecil, sekarang berubah menjadi senyuman yang lebar dan besar.
“Hahaha, penjelasanmu menarik Arley!, tapi tidak demikan. Tujuan utama mereka adalah hadiah yang di sumbangkan pemerintah untuk pemenang dari festival tahun ini~”
“Hadiah? Sepertinya tahun lalu tidak ada hadiah yang di berikan kepada pemenang kompetisi ini.”
Jelas ku yang saat ini menjadi agak sedikit bingung akibat penjelasan Maximus yang ambigu.
Jika memoriku tidak sedang bercanda denganku, maka seharusnya tahun ini juga tidak ada hadiah yang di berikan untuk sang pemenang kompetisi.
“Ah … kau benar-benar tidak tahu mengenai berita ini? Oh jangan-jangan kau belum bacar surat kabar yang terbit pagi ini ya?!”
Beberapa kali aku mengangguk untuk memberi kepastian bahwa aku memang tidak membaca koran yang terbit hari ini.
“Sudah ku duga …” Ucap Maximus sambil menghela nafasnya. “Dengar ya Arley, di acara festival tahun ini agak sedikit berbeda dengan tahun kemarin, karena tahun ini ke-lima Raja membawa sedikit souvenir dari ekspedisi terakhir mereka.”
“Ekspedisi? Maksudnya ekspedisi ke benua baru itu?” tanya ku kepada Maximus. “Bukankah itu hanya isu belaka? Ada yang bilang bahwa benua baru itu adalah hoax kan? haah … aku menjadi semakin bingung~”
“Tampaknya tidak demikian Arley. Dari surat kabar yang beredar tadi pagi menjelaskan, bahwasannya pemerintah dunia berhasil memberangkatkan kru ekspedisi dan membawa kembali sebuah benda yang saat ini benda itu akan di perebutkan oleh kita semua.”
Sejenak, aku jadi sedikit tertarik dengan benda yang di maksudkan oleh Maximus, sebenarnya benda apa itu?
“Erm, benda yang kau maksud itu apa Maximus? Aku benar-benar buta akan hal ini.”
Sambil merundukkan kepala, aku berusaha menyembunyikan ekspresi penasaranku dari pengelihatan Maximus.
“Benda itu adalah sebuah pedang yang besar!”
Tanpa sengaja aku memalingkan wajah ke Maximus karena aku tidak mengerti mengapa sebuah pedang bisa di perebutkan oleh banyak orang seperti ini.
“-Ha? Hanya sebuah pedang?”
“Bodoh! Pedang itu pastinya bukan pedang biasa! Ingat, pedang ini berada di dataran yang tak pernah di kunjungi oleh manusia …! Jadi pertanyaannya, siapa yang membuat pedang itu dan siapa manusia pertama yang menginjakkan kaki di tempat itu!?”
Aku masih tidak mengerti perkataan Maximus, bukankah sudah jelas bahwa di dunia ini ada makhluk lain yang saling berdampingan dengan kita para manusia?
“Err mungkin bangsa Elf atau bangsa Beast?” Sebut ku tanpa pikir panjang.
“Huh?! Kau ini bodoh ya Arley? Mereka itu hanyalah bangsa Mythology, mana mungkin mereka benar-benar ada di dunia ini.”
“Huh? … tapi ….” Sejenak aku teringat Lily dan Sofie. Tunggu dulu, bukankah mereka benar-benar ada di dunia ini? apa yang sebenarnya di katakana oleh Maximus?!
“Hey, kau bercanda kan Maximus? Bukankah Bangsa Elf dan beberapa bangsa lainnya benar-benar pernah tinggal bersama kita … contohnya seperti ….-”
“Hey-hey Arley, kau mimpi siang bolong ya? Haah … jangan-jangan kau sering membaca buku karangan Merlin J.S. ya?”
“Merlin Stuart Jelinton? Ya! Aku sangat tertarik dengan buku-buku karangannya, mulai dari Ensiklopedia para Monster! Lalu bukunya mengenai Berbagai suku ras dan bangsa-bangsa di muka bumi, serta buku nya yang sangat aku gemari! Cara Menjadi Penyihir Hebat! Semua karangannya sangat luar biasa dan menginspirasi.”
Seketika itu juga ekspresi Maximus berubah seperti ekspresi orang yang melihat barang langka tapi tak berharga.
“Huwa … kau ternyata penggemar beratnya ya … erm, sebenarnya aku tidak tega mengatakan ini kepada mu, tetapi Merlin J.S itu sebenarnya ….”
Sejenak Maximus terdiam, ia melirik ke kiri dan ke kanan sebelum ia mengatakan kalimat itu.
“Merlin J.S. itu adalah orang gila yang berpura-pura menjadi seorang penyihir …” Bisiknya ke telinga ku.
Saat itu juga aku terperanjat dan berdiri dari duduk ku. Hati ini mengatakan bahwa yang di katakan Maximus adalah sebuah kebohongan besar.
“H-huh?! Arley, Kau kenapa …?!” Maximus pun sejenak terkejut ketika melihat ku berdiri secara tiba-tiba.
Tak mungkin demikian! Selama ini aku bisa menggunakan sihirnya! Juga aku bertemu dengan seorang elf! Namun … Namun mana mungkin aku menjelaskan semua itu kepada Maximus ....
Saat itu juga aku duduk kembali ke kursi ku dan tergolek lemas.
“A-Apakah yang kau katakana itu benar …?” Tanyaku kepada Maximus dengan nada tak percaya.
“Kau serius mempercayai karyanya Arley …?! Ehm, baiklah ….”
Kemudian Maximus berdiri dari kursinya dan ia berlari ke suatu tempat, sesaat kemudian ia kembali membawa seseorang yang tampaknya ia adalah seorngany penyihir.
Hal itu bisa di lihat dari jubah nya dan tongkat sihir yang ia bawa di tangan kanannya.
Lalu Maximus berbicara tentang suatu hal dengan sang penyihir tepat di hadapanku.
“Hey dengarkan ucapanku okay?” tanya maksimus dengan nada yang rendah kepada sang penyihir, namun aku masih bisa mendengarkan ucapannya dengan jelas. “Kau tahu Merlin J.S. kan?”
Terlontar pertanyaan Maximus kepada sang penyihir, lalu tanpa pikir panjang sang penyihir menjawab pertanyaan Maximus secara gamblang.
“Ya! Tentu saja aku tahu karya-karya nya!” Jelas sang penyihir.
“Karyanya mengesankan, tetapi imajinasinya sangat aneh dan tidak dapat di pandang secara rasional. Banyak orang yang mengatakan bahwa Merlin J.S. adalah orang yang gila, tapi aku tidak sependapat dengan perkataan itu. Aku merasa bahwa Merlin J.S. adalah orang yang imajinatif dan sangat lekat karyanya dengan karya mythology. Menarik untuk di baca oleh anak-anak!” jelas sang penyihir dengan bahasanya yang mudah di mengerti.
Seketika itu juga Maximus melirik ke arahku dan memicikkan satu matanya, tanda bahwa apa yang ia katakana kepadaku adalah sebuah kebenaran.
“Baiklah terimakasih kawan! Kau bisa kembali ke tempatmu!”
Maximus meminta sang penyihir kembali ketempat dimana ia menemukan sang penyihir, lalu Maximus kembali duduk tepat di sebelahku dengan posisi badan mengarahku seperti tadi.
“EH? Itu saja …? Hmm kau ini orang yang aneh, aku kira ada hal yang sangat penting ….”
Dengan wajah kesal sang penyihir meninggalkan kami sambil bergumam tak jelas.
“Kau dengar kan ucapannya? Itu adalah jawban dari seorang penyihir, jika aku membawa seorang kesatria maka jawabannya akan lebih mencemooh Merlin J.S.”
“….” Aku hanya terdiam sejenak, otak ku sedang menggabungkan potongan demi potongan yang saat ini sedang berserakan.
Aneh … sangat lah aneh, bagaimana mungkin sebuah kenyataan yang sangat jelas bisa di tolak begitu saja secara mentah-mentah oleh mereka.
“Ermm, kau pernah datang ke toko roti [Sofie?], tempatnya di pinggir sungai kota luar bagian timur.”
Tanya ku secara ambigu kepada Maximus, sebenarnya aku ingin bertanya apakah ia pernah bertemu dengan Lily di sana?
“He? Pertanyaannya berganti secara tiba-tiba? Hmmm tapi aku pernah beli roti di sana, rotinya sangat enak dan terlebih ada seorang pembuat roti yang cantik rupawan, emmm aku lupa siapa namanya ,namun tubuhnya sangat idealis dan wajahnya sangat cantik!”
Jelas Maximus seperti seorang yang sedang jatuh cinta.
“Kau pernah melihat kupingnya?” Tanyaku lagi secara ambigu.
“ha? Maksudnya wanita pembuat roti itu? Ya, dulu sempat sekali tanpa sengaja aku melihat kupingnya tanpa di sengaja. kasihan sekali dia … aku pernah mendengar rumor yang beredar mengatakan bahwa ia terlahir dengan kuping yang sedemikian, bahkan aku pernah mendengar rumor bahwa ia adalah anak dari hasil pernikahan antar saudara yang taboo ….”
Sesaat kemudian, entah mengapa aku merasa sangat kesal dengan rumor yang beredar. karena kesal aku memukul kepala Maximus untuk melampiaskan kekesalan ini, yahh walaupun secara perlaha.
Suara benturan antara tulang tanganku dan batok kepala Maximus terdengar cukup kencang, dan tampaknya kepala Maximus sedikit memar akibat pukulan ku tadi.
“Aww!! Apa yang kau lakukan Arley!?!” teriak nya kesakitan sambil memegang bagian kepala yang mulai timbul benjolan pada kulitnya.
“Tak apa-apa, baiklah mari kita kembali ke topik utama. Tadi kau bilang bahwa peraturan seleksi akan di rubah hanya untuk tahun ini, kau bisa memberikan statement demikian atas dasar apa Maximus?”
Demikian Maximus masih memegangi kepalanya yang kesakitan sambil secara pelan mengelus bagian tersebut yang mulai tampak benjolannya secara kasar mata.
“Euh … apanya yang tak apa-apa, lagi-lagi kau mengalihkan pembicaraan ku Arley, tapi ya sudahlah. Hmm sebenarnya aku punya beberapa rekan yang bisa aku percaya. Kalau kau mau mendengarkan nya lebih lanjut kau harus bergabung dengan kelompokku Arley!”
“He? Kelompok mu? Maksudnya ….?!”
Seketika itu juga ekspresi Maximus berubah lagi menjadi tajam, namun tampak senyuman tipis pada wajahnya.
“Ya! Untuk pertandingan kali ini kita wajib membuat kelompok jika kita ingin masuk ke tahap selanjutnya!”
Jelas Maximus sambil kembali mengajukan jari telunjukknya seperti seorang guru yang menjelaskan sesuatu pada muridnya.
Seketika itu juga wajahku memberikan ekspresi kebingungan. Timbul lagi dalam benak ini beribu pertanyaan yang mau aku ajukan kepada Maximus.
Saat itu juga, tampak alis mata sebelah kiriku naik tanpa perintah dari tuannya.
Demikian kebingungan ini menghantuiku sampai Maximus menjelaskan apa yang sebenarny ia inginkan dari diriku ini ….
****