
Lilyana Orange, seorang Elf yang memilih tinggal di dalam gua di pedalaman hutan rimba.
Sebelumnya kami membicarakan mengenai umur Lily yang masih menimbulkan pertanyaan yang sangat ambigu.
Tawanya yang membuat aku dan Sofie menjadi tersipu malu, membuat suasana ruangan ini sedikit hangat.
Kemudian Lily kembali ke topik pembicaraan kami sebelumnya.
"Ekhem... fyuh~ Tapi untuk bangsa kami, memiliki umur yang panjang adalah sebuah kutukan. dahulu... kami hanya memiliki umur 3x lipat lebih panjang dari manusia, mungkin paling lama bisa bertahan sekitar 200 sampai 300 tahun, namun ada beberapa kejadian yang membuat umur kami menjadi sepanjang ini."
Seketika itu, aku menyadari akan satu hal. Ketika Lily menyebutkan umurnya adalah sebuah kutukan, aku mengerti mengapa bangsanya di hancurkan di masa lalu, sepertinya aku pernah membaca dongeng yang serupa, mengenai bangsa yang terkutuk dengan ke abadian, lalu mereka meminta bangsa lain untuk menghancurkan bangsa mereka sampai batas punah.
"Erm... Apa kak Lily tidak kesepian tinggal di gua ini sendirian? Aku yakin pasti kakak sudah tinggal di gua ini selama ber abad-abad kan?
Lily hanya memandang lembut kepadaku, beberapa saat ia tidak menjawab pertanyaan yang aku beri, seperti ia sedang merancang jawaban yang dapat memuaskan pertanyaan ku barusan.
"Untuk ku... Hidup sehari di dunia ini... Hanya seperti beberapa menit saja telah berlalu... Jadi, biasanya jika aku sudah merasa bosan pada satu tempat, aku akan pindah ke tempat yang lain..."
Sekilas tampak ekspresi sedih dari wajah Lily, kedua alisnya ia kerutkan, namun ia tetap berusaha tegar dengan perasaannya barusan.
Aku rasa, aku baru saja menyakiti perasaannya, ini tidak baik, secepatnya aku harus meminta maaf.
"M-Maafkan aku kak Lily... Jika pertanyaan ku tadi menyinggung perasaan kakak..."
Selepas itu, ekspresi Lily berubah kembali, kali ini seperti ia terkejut dengan pernyataan ku barusan.
".. Ara... Arley... Ternyata kau lebih dewasa di bandingkan penampilan mu ya... , berapa umur mu Arley?"
"E-erm.. L-lima tahun kak!"
Lalu reaksi yang berlebihan malah muncul dari sisi kiri ku, yap, Sofie yang malah ber reaksi hebat.
"L-Lima tahun!!?! Jangan bohong!! Aku kira kau berumur tujuh atau delapan tahun!! Lagian bagaimana mungkin anak berumur lima tahu bisa menggunakan-!?"
Hampir keceplosan, Sofie lalu menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.
"hm..?"
Untungnya Lily hanya terperanjat bingung dengan kalimat Sofie barusan.
Kemudian Sofie malah memperkeruh keadaan, ia datang dan malah berbisik-bisik di kuping ku.
"(Hey! Kau barusan berbohong kan!?! Aku tidak percaya jika kau berumur lima tahun!) "
"(Hey! Bodoh! Kau membuatnya curiga! dan aku memang berumur lima tahun!)"
Tampak curiga, Lily kemudian melontarkan pertanyaan yang kami sangat hindari.
"Apakah yang Sofie maksud tadi adalah Arley bisa menggunakan Sihir?"
Kami berdua terdiam membisu, wajah kami memucat, ingin saja aku marah kepada Sofie, tapi semua ini sudah terlanjur. Namun tampaknya statement yang di utarakan Lily barusan bukan karena Sofie membeberkan rahasia ku, tapi karena faktor lain.
"Hmm, aku sebenarnya sudah tahu jika Arley bisa menggunakan Sihir, soalnya Aku bisa melihat tongkat sihirnya menjiplak di celana nya"
Ucap Lily sambil menunjuk ke celana yang aku kenakan.
"Aku sudah tahu kalau Arley seorang penyihir semenjak Arley membuka pintu rumah ini, makanya aku ber sikap bertahan, aku kira kalian akan menculik ku dan menjual ku ke toko perbudakan."
Wajah Lily memerah seperti ia menginginkan hal itu terjadi, aku punya perasaan jika sebenarnya di dalam lubuk hati Lily yang terdalam dia memiliki nafsu yang gelap, ahh sebaiknya aku tidak utarakan hal itu di sini.
"Tapi.. Untuk seorang manusia... Bukankah kau terlalu muda untuk bisa menggunakan sihir Arley? Biasanya bangsa manusia akan mendapatkan kemampuan mengumpulkan [Mana] mereka pada umur tujuh atau delapan tahun..."
Ahh ternyata itu sebabnya mengapa Sofie menyebutku pembohong, hal ini seperti peraturan umum yang seharusnya tidak bisa di langgar.
"Sebenarnya... Aku mengetahui jika aku bisa mengumpulkan [Mana] ketika aku berumur 3 tahun... Namun aku baru benar-benar bisa menyihir ketika aku berumur 4 tahun..."
Sofie dan Lily semakin terheran-heran, hal ini adalah suatu kejadian yang tidak mungkin terjadi, kemudian Lily memecah keheningan.
Tensi pembicaraan menjadi tegang, aku dan Nina merasakan aura panas dari pembicaraan kami ini, perlahan keringat keluar dari pori-pori kami.
"Dahulu... Aku pernah mendengar kisah ini, saat itu ketika aku masih kecil.. ibuku menceritakan bahwa.. Ayahku juga memiliki ciri-ciri yang sama dengan mu Arley..."
"Tapi bukankah bangsa Elf memang di karuniai pengendalian sihir yang hebat semenjak mereka lahir? Setidaknya itu yang aku baca di buku sejarah"
"... Tetapi Arley... Ayah ku adalah seorang manusia..."
Tentu lagi-lagi, aku dan Sofie terdian untuk yang ke sekian kali nya.
"K-Kak Lily berarti seorang Half-Elf!!?!"
Ucap ku dengan lantang, sedangkan Sofie seperti bingung dengan pemikiran nya sendiri.
Lalu Lily tersenyum lembut, kemudian ia seperti menyadari suatu hal, ia berdiri dari kursi nya, dan tiba-tiba ia memeluk ku Dengan hangat.
"Ya... Arley! Aku mengingatnya!! Aku akhirnya mengingat akan hal itu!"
Wajah ku tertanam di dadanya, nafas ku sesak dan wajahku memerah, aku bisa merasakan detak jantungnya yang kencang, tampaknya perasaan yang di miliki Lily berbeda dengan perasaan yang aku rasakan.
Entah apa hal yang ia sadari itu, tetapi ia mendekap ku cukup lama, sampai air matanya tumpah ruah.
Sampai Akhirnya Sofie bertindak sendiri, ia menggelembungkan pipinya yang memerah, dan tampak ada decitan urat di kepalanya, dengan amarah yang meluap-lupa, Sofie mendorong Lily dan malah ia yang memelukku erat.
"K-Kak Sofie??"
"Kak Lily jangan dekat-dekat Arley!! Tidak!! Kak Lily tidak boleh merusak Arley!!"
Ucap Sofie dengan ekspresi yang jengkel, sepertinya ia mengetahui suatu hal yang aku tidak ketahui.
"M-maksudnya kak Sofie?"
Bingung dengan subjek pembicaraan ini, aku hanya termenung memandang mereka berdua.
"Aahh!! Aku melihat wajah nya kak Sofie barusan!! Wajahnya tampak mesum!!"
"(Haaaaaa!!?! Benarkan demikian?!)"
Teriak ku dalam hati, tentu saja aku jadi merasa waspada, ku kira Lily adakah wanita yang baik-baik.
"Hehehe apa yang kau katakan Sofie, aku bukan seperti yang kau maksud loh~"
Wajah Lily tampak aneh, sepertinya ucapan Sofie barusan ada benarnya.
"Tidak boleeehhh!!! Pokoknya tidak boleh!! Arley cuman boleh jadi milik kuu!!!"
"Haaa!?! Apa yang kau ucapkan kak Sofie!!"
"Ara~ ternyata kau juga rival ku ya"
"R-Rival!?! Apa maksudnya!?! Seseorang!! Tolong!! Tolong jelaskan hal ini kepada kuuu!!!!"
Aku teriak sekuat tenaga, malam itu pun di tutup dengan kegaduhan yang membuat kami semua lelah. aku berlari kesana dan kesini, sedangkan Sofie dan Lily seperti serigala buas yang mengejar mangsa nya.
Demikian karena kelelahan, kami akhirnya menyudahi hal tersebut, Sofie dan aku di perbolehkan menginap di rumah Kue ini oleh Lily.
Malam itu aku tertidur lelap bagaikan tiada hari yang bisa menyaingi lelahnya tidur di malam hari ini.
Ya, malam ini Arley dapat tertidur setelah tujuh hari bertutur-turut ia tidak dapat tertidur, entah apa yang membuat ia bisa kembali tertidur, tetapi malam itu iya tidak mendapatkan mimpi sama sekali.
Malam itu berlalu dengan hampa dan ketenangan.
***