
Derapan kaki mereka mencercak rerumputan yang sangat amat lebat. Desahan nafas mereka mengintimidasi siapa saja yang berada dekat dengan mereka.
"Sofie pegangan yang erat!!"
Ucap ku sambil menaikkan ketinggian terbang kami.
Secara brutal serigala-serigala itu berlari mengejar kami.
Jumlahnya fantastis, bukan satu atau dua koloni, kali ini jumlah mereka 10 kali lipat di bandingkan apa yang aku lawan saat di desa [Durga].
"Seratus? Tidak jumlahnya ribuan!! Bagaimana mungkin!!?!"
Aku mencoba menganalisa situasi saat ini, jika di biarkan seperti ini, maka kota-kota dan desa terdekat akan raup habis di mangsa oleh mereka.
"... I... Ini kah yang mereka lakukan sampai mereka meluluh lantahkan pedesaan dan kota-kota kami..."
Sofie, wajahnya sedih dan ketakutan, ia tidak menyangka bahwasanya jumlahnya bisa sebanyak ini.
Jika di lihat secara detail, maka setiap sisi di semak-semak ini di hinggapi oleh salah satu serigala tersebut.
Ini hanya analisa ku. mungkin... mungkin saja para serigala ini sudah ada di semak-semak Ini semenjak aku baru datang ke rumah Sofie.
"(Jika memori ku tidak bermain usil denganku, maka, Serigala Perak sangat suka daging anak gadis yang baru memasuki umur dewasa, dan.. apakah target mereka kali ini adalah....)"
Aku melirik ke arah Sofie sambil menelan kuat ludahku.
"(itu sangat berpotensi, barangkali selama ini mereka menunggu Sofie untuk menginjak umur 15 tahun, baru mereka akan menyantapnya... dan karena aku membawanya pergi dari tempat ini... Maka mereka merasa terusik akibat makanan istimewa mereka ku bawa pergi menjauh dari mereka...) "
Dengan berat hati aku meminta izin kepada Sofie.
"K.. Kak Sofie... Kalau mereka kita tinggal kan di sini... Mereka akan menghancurkan desa dan kota sekitar sini..."
Aku tak dapat memandang wajah Sofie, kami terbang smakin lama semakin tinggi, demi menghindari serangan serigala tersebut.
"... Maksud mu Arley...? "
".. Aku... Akan menuntaskan mereka... Tetapi... Ada resiko yang harus di tanggung.... "
Aku terdiam sejenak, keringat dingin keluar dari pori-pori kulit ku.
Sampai saat ini Sofie menunggu kalimat ku, dan sekali lagi, dengan berat hati, aku harus ucapkan kalimat ini.
"Kak Sofie... Aku akan memberantas mereka... Dan konsekuensi yang harus di terima adalah, kerusakan total dari lembah tempat tinggal mu... Rumah mu... Pohon itu.. Juga ladang rumput ini... Semua akan hancu-"
"Lakukan!!"
Belum selesai aku bicara, Sofie sudah memotong nya dengan konklusi yang kuat.
Tercengang aku dengan tekadnya yang kuat, ku lirik wajah nya, terpancar dari matanya bahwa tekadnya telah mantap dan dia siap menerima segala konsekuensi yang akan terjadi.
"Arley!! Lakukan!! Kalau kau bisa menghancurkan mereka semua!! Aku tidak peduli dengan rumah itu atau apapun yang terjadi dengan lahan ini!!"
Dengan tegas dan lantang ia ucapkan kalimat itu. Kali ini malah aku yang ingin menangis, terpintas di benakku, betapa kuatnya gadis ini. Pilihan yang sangat tepat, tuturku dalam hati.
"Baiklah, terimakasih Sofie... " Ucap ku tanpa mengurangi rasa hormat kepadanya.
Aku turun ke bawah, sedangkan Sofie tetap berada di atas langit dengan sihir angin yang masih ku aktifkan.
Kali ini posisi berdiri ku buka lebar. dengan kuda-kuda yang kuat, aku yakin bahwa kali ini aku tidak akan terpental seperti kejadian beberapa pekan yang lalu.
Mata ku tajamkan, lalu ku bidik dengan pasti ke sisi mana saja yang serangan ini akan aku habisi.
Namun dari kejauhan, suara desikan rumput mulai mendekat dan aroma khas mereka mulai tercium dengan kedua hidung yang aku miliki.
Benar saja, segerombolan serigala melompat ke atasku dan siap menerkam.
Sayangnya upaya mereka berbuah kegagalan, posisiku sudah sempurna.
Warna baju ini berubah seperti keinginan ku. seketika itu juga ku ucapkan mantar ini dengan lantang.
"-IGNIS INFERNI!!!! "
Seketika gelembung magma tercipta, radiasi nya memecah jarak di antara aku dengan serigala itu.
Mereka tak dapat lari, serigala yang mendekat ke magma itu seketika langsung hangus bagaikan debu. Sedangkan sisanya berhenti berlari mengejar kami dan mulai berlari ke arah untuk melarikan diri.
Gelombang bola itu tidak terpecah seperti kejadian sebelumnya, aku mengontrol dengan baik ukurannya masih mengembang sampai dua kali lipat dibandingkan kejadian sebelumnya.
Gelembung itu mengembang sampai 20 meter ter arah ke seluruh bagian lembah.
Ku kencangkan kedua kaki ini, ku geram tongkat sihir, lalu kulepaskan sihir ini dari ujung tongkat sihir.
"[BLAAAAAARRRRRRR!!!!!!]" Suara ledakannya memecah gendang telinga. terdorong aku ke belakang. magma itu meledak dalam kondisi ter-arah dengan baik.
Gigi-gigi ini ku keratkan sambil berusaha menahan radiasinya.
Segala yang ada di hadapanku, segalanya, habis menguap menjadi butiran debu.
Namun hal ini belum berakhir, ledakan kedua terjadi, dari ujung tongkat ku, rantaian mana yang aku keluarkan, meluap menjadi dynamit yang meledak sebagai pemutus tali rantai sihir yang aku rapal kan.
"[DHUAAARRRRR!!!!]" kali ini aku tidak mampu menahan dahsyat nya ledakan.
"Arkgh!!!"
Aku terhempas ke udara, namun aku berusaha untuk tetap mengaktifkan sihir angin agar Sofie tetap aman terjaga.
Tiba-tiba ada seseorang yang berhasil menangkapku tepat di dekapannya.
Aku sangat terkejut, ku kira siapa yang beraninya melakukan hal ini di dalam suasana demikian.
Setelah aku membuka mata, ternyata orang itu adalah, Sofie.
Aku lagi-lagi terkejut, tubuhku mendadak dingin sejenak, namun kembali menjadi hangat.
Siapa yang kira, Sofie yang beberapa jam yang lalu takut akan ketinggian, kali ini mampu mengontrol sihir angin yang aku ciptakan.
".. K.. Kak Sofie...? Ah.. -"
Aku mencoba untuk menahan sejenak, perlahan Sofie berhasil mendaratkan kami ke tanah. Namun sesaat kemudian aku kehilangan kesadaran.
***