The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 154 : Akhir Dari Kisah Cinta Aneh ....



Not Edited!


 


 


Seperti tak tahu tempat, si lamia dan sang orc malah main-main malu di tengah-tengah musuhnya. Mereka yang melihat hal tersebut jadi ikutan amlu dan ingin pergi saja dari sana.


 


 


“E-erm, apakah Jashin mau jadi pacarku …?” sontak, dengan begitu polosnya, si Orc langsung saja memanah cintanya terhadap sang Lamia.


 


 


Mata sang Lamia langsung berlinang air mata, dirinya tak menyangka jika ia akan di tembak tepat di kerumunan orang. “A-apakah kau jujur mengatakan hal tersebut?!” dengan malu-malu si lamia memeluk dirinya sendiri, dan berpaling dari pandangan si Orc.


 


 


Lantas, si orc langsung saja duduk pada kaki kirinya, dan kaki kanannya menopang tubuhnya. “Aku baru menyadari hal ini. Selama ini, kamu lah yang selalu berada dekat denganku, dan kamu juglah yang selalu memeprhatikan kehidupanku. Jashin, tanpa dirimu, aku hanyalah Orc yang tak memiliki arti di dunia ini … tanpa kamu, aku tidak bisa hidup ….”


 


 


Dengan hebatnya, berdegub kencanglah dada Jashin seperti ingin terbakar. Wajahnya memerah layaknya udang rebus. Tapi ia masih menahan diri untuk tidak meledakkan isi hatinya di depan Pilogram.


 


 


“Jashin, tampaknya … tanpa dirimu, aku tidak akan bertahan lama di dunia ini … maka dari itu, maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku!?” ucap si Orc degan begitu optimisnya.


 


 


Terdiam, tak ada yang berbicara satu patah kata pun. Wajah Jashin yang awalnya merah padam, kali ini matanya terbelalak ketika mendengar ucapan si Orc.


 


 


Seluruh orang yang menyaksikan hal tersebut, ikut terbengong, mereka tak menyangka, jika sang orc langsung saja melompat ke jenjang yang tak seharusnya di dapat dalam satu hari.


 


 


“Eeeeeee!” terkejutlah semua orang yang melihat kejadian tersebut, tak terkecuali Regu penyelamat. “Dia langsung melamarnyaaa!” Pekik semua orang secara serampak.


 


 


Dengan tangan kanannya yang terbuka dan menunggu sambutan dari si Lamia, sang Orc terus menutup mata menunggu jawaban dari sang wanita.


 


 


Akan tetapi, si Lamia seperti lintah yang di kasih garam. Dirinya kepanasan sendiri tak tahu harus berbuat apa. “A-aku akan menjadi ibu dari anak-anaknya Pilogram!? Aduh-aduh-aduh! Aku harus bagaima ya!?” dia terlihat panik dan bergumam sendiri tak tahu harus bertindak apa.


 


 


Namun tiba-tiba, Jashin berhenti bergerak, dan dirinya memandang langit yang tampak begitu merah sebab waktu juga menunjukkan sore hari.


 


 


“Ahh ~ Memiliki keluarga dengan Pilogram ya …,” gumamnya dengan suara yang sangat pelan. Menghayallah sang Lamia menatap masa depannya. “Memiliki sebelas orang anak. Lalu jalan-jalan mengelilingi dunia ... kemudian mandi di penginapan yang memiliki air panas, dan tumbuh tua bersama-sama … Emh itu impian sekali ~” Demikian apa yang Jashin pikirkan dalam benaknya.


 


 


Merayaplah sang lamia dengan otot-otot perutnya mendekati sang Orc. Saat itu juga, si Lamia meraih tangan sang orc dan menerima lamarannya.


 


 


“A-Aku setuju …,” ujarnya malu-malu.


 


 


Sontak si Orc langsung membuka matanya dengan penuh kebahagiaan. “Terima kasih Jashin!” peluk sang Orc dengan erat.


 


 


“EEEEeeeee! Dia menerimannyaaa!” teriak semua individu yang melihat kejadian itu.


 


 


Terperanjatlah si Lamia, dirinya merasa bahagia, lantas dirinya membalas pelukan si Pilgram dengan hangat.


 


 


“Kalau begitu, aku ingin hadiah pernikahan kita berupa tumpukan kepala manusia ~” Pinta si Lamia, yang kala itu wajah si iblis perempuan lagsung berubah menjadi mengerikan.


 


 


Mendengar perkataan sang iblis wanita, seluruh orang yang awalnya menikmati kejadian langka tersebut, langsung menjadi panik dan kala itu juga berlari menuju ke belakang delapan orang yang akan melindungi diri mereka.


 


 


Demikian Trevor, Bamsi, Jack, Darwin, Polonala, Aslan, Coskun, dan Elnara. Mereka langsung memasang kuda-kuda bertempur mereka sembari mempersiapkan diri dari serangan kedua iblis yang terperangkap jeratan cinta itu.


 


 


“Kawan-kawan! Persiapkan diri kalian dari serangan masuk!” Jelas Trevor kepada ketujuh rekannya.


 


 


“Siap!” jawab mereka bertujuh dengan lantang.


 


 


Lepaslah pelukan di antara sang orc dan si Lamia. Wajah mereka tampak begitu kejam dan ingin menyelesaikan ini dalam sekali serangan. Muncul aura hitam dari tubuh kedua iblis itu. seringaian mereka tampak begitu puas dengan apa yang mereka lakukan saat ini.


 


 


“Bamsi!” cakap Trevor sembari memberikan kode terhadap Bamsi. Demikian Bamsi menganggukkan kepalanya untuk merespon jawaban tersebut.


 


 


Melompatlah Trevor demi menyerang kedua iblis yang tengah jatuh cinta itu. Pedang panjangnya ia tebaskan menuju ke arah si Lamia. Akan tetapi, Pilogram dengan cepat menaruh Pentungan kayunya di depan tubuh Jashin, hal itu membuat pedang Trevor menjadi tersangkut di dalam pentungan kayu sang orc.


 


 


Tertawa lebar bibir sang orc, tapak taring dan gigi graham sang iblis menyeringai dengan seramnya. Tiba-tiba, dari atas pentungan raksasa tersebut, muncullah tubuh sang lamia yang tampak terbang, pada ujung jarinya sudah tersemat cahaya berwarna ungu yang siap menembak ke arah Trevor. Kala itu, Trevor menyadari jika ada orang yang akan membantunya.


 


 


Dari belakang Trevor. Muncul Coskun Deniz, yang menebaskan pedang tipisnya ke arah si lamia. Tetapi kecepatan serangan Cozkun mampu di baca oleh sang iblis. Seketika itu juga Jashin memukulkan tengkuk Cozkun dengan buntut ularnya. Terhempaslah Cozkun ke atas tanah sambil menahan sakit.


 


 


Belum berhenti sampai di situ. Kali ini muncul lagi serangan dadakan dari sebelah kiri si lamia. Aslan dengan linchanya muncul bagaikan angin, ingin menujahkan pedang anggarnya ke leher si Lamia. Namun lagi-lagi serangan itu mampu si Lamia hindari. Hanya seutas rambut saja yang terpotong sebab serangan tersebut.


 


 


Melihat kejadian tersebut, kali ini si Orc melepaskan genggamannya terhadap pentungan kayu berukuran besar itu. saat itu juga ia meremas tubuh Aslan dan mengangkatnya tinggi ke udara. Lalu, ia melempar Aslan dengan kencang menuju bumi.


 


 


Masih belum waktunya untuk mati, Aslan diselamatkan oleh Darwin yang melompat menuju tubuhnya sebelum Jasad Aslan bertemu bumi.


 


 


Kali ini muncul dua orang sekaligus. Tampak Jack dan Polonala di depan tubuh sang Orc. Demikian Polonala masuk dan ingin menusuk tenggorokan sang Orc dengan pedang yang tak memiliki lancip pada ujungnya, tapi cukup tajam untuk memotong batu sekalipun. Persis seperti kepala hiu martil.


 


 


Tak sempat mengambil pentungannya, kala itu juga seragan Polonala hampir menghantam kepala sang Orc. Tetapi, lagi-lagi serangan mereka di hentikan oleh si Lamia. Bola ungu yang si lamia tahan sejak lama, dengan begitu terpaksa harus ia lontarkan kepada Polonala.


 


 


Meluncurlah bola ungu itu dengan cepat. Dengan begitu akurat, bola itu mengarah ke kepala Polonala. Namun, dengan presisinya, Jack berhasil menangkis serangan itu, menggunakan refleks yang ia tempa belasan tahun.


 


 


Meledak dengan begitu dahsyatnya, tameng yang Jack selalu gunakan langsung pecah dan tak tersisa. Demikian pula tangan jack ikut terluka akibat hal tersebut.


 


 


Merintih kesakitan, tapi wajah Jack tersenyum manis melihat titik terang dari serangan Polonala.


 


 


Benar saja, Serangan Polonala tepat mengenai tubuh si Orc. Kala itu, pedang Polonala hampir mengenai kepala si Orc, akan tetapi si orc menghindar dan mengenai lehernya.


 


 


Melihat kejadian tersebut, Jashin merasa begitu marah akibat kekasihnya menerima luka lagi.


 


 


Lantas, meledaklah Amarah Jashin melihat kejadian tersebut! Berkobarlah aura hitam dari tubuhnya dan mengakibatkan segala yang berjarak sepuluh meter di dekatnya menjadi gelap dan berkabut.


 


 


 


 


Tak menjawab pertanyaan Polonala, Jack malah terfokus dengan apa yang ada di bawahnya. Ia melihat seorang wanita tampak menyodorkan tongkat sihirnya ke arah si lamia.


 


 


“Elnara?!” ucap Jack yang terheran-heran dengan apa yang Elnara sedang lakukan.


 


 


Tiba-tiba, muncul gelombang api dari ujung tongkat sihir Elnara. Kemudian, api itu melontar lurus mengenai tubuh si Lamia.


 


 


Terkejut akan hal itu, konsentrasi sang Lamia lagsung buyar. Aura hitamnya langsung menyusut kembali dan pandangannya terarah menuju Elnara.


 


 


“Waaniitaaaa!” Pekik Jashin yang amarahnya sudah membeludak.


 


 


“Bamsii! Lakukan sekarang!” Akan tetapi, ternyata Elnara sudah memiliki rencana cadangan bersama Bamsi.


 


 


Kala itu juga, Bamsi yang tiba-tiba muncul di belakang Jashin si Lamia, melancarkan jurus pamungkasnya dalam kekuatan seratus persen.


 


 


“Apa?!” terkejut ketika melihat seseorang berhasil menyelinap ke belakangnya, Tubuh Jashin terdiam kaku tak mampu bergerak.


 


 


“Glorius BLASH!”


 


 


Seketika itu juga, Bamsi yang warna kulitnya sudah berubah menjadi merah darah. Menebas habis si Lamia tanpa ampun.


 


 


Saat itu juga sang lamia terkalahkan.


 


 


Belum selesai. Si Orc yang menyadari akan hal tersebut, seketika itu juga ingin menyelamatkan kekasihnya. Namun, tiba-tiba saja muncul Trevor dari atas kepalanya.


 


 


Tahu jika umurnya tak akan lama, seketika itu juga sang Orc menatap lembut kekasihnya yang baru saja dirinya dapatkan. Begitu juga sebaliknya, si lamia dengan begitu lembutnya menatap si Orc dengan penuh cinta.


 


 


“HEEEYYYAAAAA!”


 


 


Seketika itu juga, tubuh sang Orc terbelah akibat serangan mematikan yang Trevor luncurkan.


 


 


Bersimbahlah tubuh Trevor dan Bamsi akibat hal tersebut.


 


 


Akan tetapi, masih belum berakhir. Dalam kondisi yang merana, tubuh si Lamia merangkak mendekati tubuh kekasihnya yang sudah terbujur kaku.


 


 


“P-pilo ~ gram … apakah kau sudah duluan ke alam sana …?” Dengan susah payahnya si Lamia menarik tubuhnya dengan kedua tangannya.


 


 


Ia terus melakukan hal itu sampai tangannya mencapati tangan sang kekasih. “Ah ~ Pilo … gram, betapa singkatnya umur cinta kita …,” gumanya dengan linangan air mata.


 


 


Bamsi dan Trevor tak mampu melihat kejadian itu, mereka hanya memandang ke arah istana sambil tertunduk sedih.


 


 


Lantas, kalimat terakhirpun keluar dari mulut sang Lamia.


 


 


“Pilogram … aku berharap kita bertemu di alam sana ….” Setelah kalimat itu keluar dari mulut sang wanita. Saat itu juga Air mata Bamsi dan Trevor membasahi wajah mereka.


 


 


“Bamsi … ini kah jalan yang terbaik …?” tanya Trevor kepada sahabat barunya itu.


 


 


Sejenak Bamsi terdiam. “Aku tak tahu … aku hanya … tak tahu ….” Demikian hanya kalimat itu saja yang keluar dari bibir sang kesatria bertubuh besar.


 


 


Mereka berdua adalah kesatria yang berhati lembut, tapi harus tetap berjuang keras melawan kejamnya dunia.


 


 


Seluruh orang yang melihat kejadian tersebut, ikut sedih dan tak mampu berkata-kata terhadap apa yang mereka berdua lakukan. Demikian pertandingan anatara kedua tim melawan kedua iblis telah terselesaikan.


 


 


Bersambung …


 


----------------------------------------------


 


 


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


 


 


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


 


 


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


 


 


Baiklah!


 


 


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


 


 


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


 


 


Have a nice day, and Always be Happy!


 


 


See you on the next chapter!