
Kondisi menjadi hening sejenak, bahkan para penonton terheran-heran dengan kondisi yang baru saja terjadi.
Lalu setelah para peserta kembali mendapatkan kesadaran dan ke-warasan mereka, seketika itu juga mereka semua berhamburan menjauh dari pusat Arena.
Setiap orang yang berdekatan dengan pria bernama Eadwig itu berusaha menghindari kontak fisik dengannya.
Demikian seketika itu juga semua orang hanya terfokus kepada satu sasaran, ya, kami semua menghadap ke tengah Arena demi menghindari serangan dari Eadwig.
Eadwig, siapa yang tak kenal dia? putra mahkota dari kerajaan『Simbad ?』, wajahnya tampan, tubuhnya tinggi, serta rambutnya yang pirang membuat dia terlihat sangat mencolok.
Sosoknya yang sempurna sangatlah mudah untuk di kenali. Namun kali ini perkara buruk tengah terjadi pada ku.
Ya, entah megapa saat ini Eadwig sedang menatap ke-arah tim kami dengan wajah yang serius.
Beberapa saat kemudian Maximus merangkak mendekat ke-arah ku.
“Hey Arley! Mengapa ia bisa melirik ke-arah kita?! Apa yang sudah kau perbuat padanya sampai ia bisa memandang serius seperti itu ke tempat kita?!”
Dengan wajah bodoh, Maximus berbicara padaku sambil melirik ke-arah Eadwig. Namun tampaknya ada suatu hal yang tidak pas di sini.
“Maximus, kau tunggu sejenak di sini! Aku akan mencoba sesuatu ….”
Ucapku sambil menarik tudung yang menutupi wajah pucat ini. seketika itu juga aku berjalan menjauh dari sudut ruangan ini sambil tetap menatap wajah Eadwig yang melirik tajam ke-arah sudut arena.
Setalah aku berjalan cukup jauh dari lokasi tim ku berada, tampaknya dugaanku tepat sasaran! Kemudian aku bergegas berlari menuju Maximus dan mencoba menerangkan apa yang aku ketahui.
“Hey Maximus! Tampaknya kau sedang dalam masalah besar! Yang di incar oleh Eadwig bukanlah aku! Tetapi dia tampaknya ingin menghabisimu!”
Sejenak Maximus terdiam sambil menatap bingung ke wajahku.
“Ha!!?! Apa yang kau katakana Arley!?!” wajah Maximus berubah pucat dan keringatnya mengucur deras.
“Aku rasa ia tertarik dengan mu karena apa yang telah kau lakukan di ruang ganti tadi …” jelasku kepada Maximus agar ia memahami situasi yang ia hadapi saat ini.
“Wow-wow!! Tunggu dulu! Aku tidak merasa pernah menyinggungnya!”
Kemudian Maximus bangkit dari kondisi tiarap dan merubah posisinya menjadi posisi duduk bersila.
“Tidak, kau telah melakukan sesuatu yang dapat menarik perhatiannya! Coba kau ingat kembali, ketika kau merengek seperti anak kecil saat di ruang tunggu tadi, walaupun kau telah membuat semua orang tertawa, namun aku rasa ia tidak menyukai hal itu dan ia menyimpan dendam padamu sekarang!”
Saat itu juga Maixmus teridam seribu kata, ia hanya bisa memandang ku dengan terpelongok dan kemudian ia kembali menatap Eadwig dengan wajah cemas.
“B-benarkan demikian Arley …?! K-kalau begitu aku harus bagaimana?!”
Aku terdiam ketika Maximus menanyakan hal itu kepadaku, sebisa mungkin aku memikirkan bagaimana cara agar kami bisa keluar dari masalah ini.
Tunggu dulu … bukankah seharusnya Eadwig sudah menyelesaikan tes nya? Ia telah mengeluarkan lebih dari 4 orang dari dalam Arena ini … lalu bagaimana jadinya dengan pertandingan ini?!
Jika diperhatikan secara saksama, di dalam Arena ini tampaknya tinggal tersisa 70 sampai 80 orang lagi … lalu bagaimana dengan mereka yang tidak dapat menumbangkan 4 orang?!
Sejenak semua orang terdiam, tampaknya mereka juga memikirkan hal yang sama dengan ku.
Namun tiba-tiba tepat di atas Arena, muncul layar kaca yang sebelumnya sempat digunakan oleh Michale sebagai pijakan kakinya.
Pada layar itu terdapat nomor-nomor serta tulisan yang menjelaskan situasi dan kondisi saat ini.
***
« **JUMLAH PESERTA » : 97 ORANG
« YANG TELAH KELUAR » : 103 ORANG
« YANG HARUS DI KELUARKAN » : 67 ORANG
« SISA WAKTU » : 1 JAM 22 Menit**.
***
Seluruh orang yang ada di dalam Stadion saat itu menengadah kan kepalanya untuk melihat digit-digit nomor itu, dan mereka mulai berspekulasi dengan apa yang sedang terjadi.
Begitu juga dengan aku. Selepas aku melihat nomor-nomor itu, aku langsung menyadari bahwa pertarungan ini bukanlah masalah banyak-banyakan poin, tetapi siapa kah yang akan bertahan sampai akhir.
“Tunggu dulu … kata-kata terakhir Michale adalah … Battle Royal …? BATTLE ROYAL!?!”
Tepat saat itu juga, aku langsung menyampaikan informasi yang sangat penting ini kepada Maximus dan ketiga kawannya.
“Hey kalian semua! Bangkitlah dari tidur kalian dan sekarang juga kita lancarkan rencana B! ini bukan waktunya untuk berleha-leha!!”
Namun response mereka berempat sangat hambar, bahkan tampak ekspresi wajah mereka yang bertanya-tanya pada apa yang aku jelaskan.
Sejenak aku merunduk dan mulai membisik kan apa yang sebenarnya tengah terjadi.
“Dengar! Aku hanya akan menjelaskan ini sekali saja! Kita semua telah tertipu dengan informasi yang beredar!, dalam seleksi kali ini bukanlah mencari siapa duluan yang merebut empat point. Namun dalam tes kali ini kita disuruh bertahan sampai tersisa hanya 30 orang tepat di atas Arena ini!”
Setelah mereka mendengar celotehanku, ke-empat orang ini saling memandang satu dengan yang lainnya, dan saat itu juga mereka bangkit serta kami pun langsung menjalankan plan B, yaitu menyerang semua musuh sampai titik darah penghabisan!
Cih, mau rencana A, atau pun rencana B, keduanya terdengar sangat receh … namun aku rasa rencana ini akan berjalan baik jika kami berempat menjalankannya dengan serius!
Seketika itu juga kami berlima berlari mendekati orang yang paling dekat dengan kami. Maximus mengeluarkan senjatanya dari dalam baju, begitu juga dengan ketiga temannya.
Yap, mereka berempat adalah seorang penyihir, demikian senjata yang mereka berempat keluarkan adalah tongkat sihir yang terlihat sangat mahal.
Dasar orang kaya … hahaha~ tetapi aku sangat diuntungkan di sini, jadi aku akan mengikuti rencana mereka sampai titik darah penghabisan!
“Fire Ball!!” Teriak Maximus sambil memecah keheningan yang terjadi.
“Fire ball!! Fire ball!! Fire ball!!!!” berkali-kali Maximus menyerang musuh dengan bola api yang keluar ganas dari ujung tongkatnya.
Demikian setiap orang yang terkena serangan itu terpental keluar dari arena, namun ada juga yang berhasil bertahan di dalam Arena dengan menangkis serangan Maximus.
Demikian pula, di lain sisi, ada Krippa yang terus menerus menangkis serangan yang masuk ke pertahanan tim kami.
“Hey Arley! Lakukan sesuatu jika kau tak mau terkena serangan dari luar!” Utas Krippa sambil menangkal serangan balik yang masuk kedalam daerah pertahanan kami.
“Tunggu sebentar! Aku akan mencari suatu benda yang bisa digunakan!”
Mataku melirik ke lantai untuk mencari benda yang bisa ku gunakan sebagai tongkat sihir sementara ku.
Kami terus berlari melingkari Arena dari posisi dalam, dan terus menyerang serta bertahan untuk menghindari serangan yang masuk.
Tampaknya keberuntungan sedang ada pada ku. saat kami berlari, tak sengaja ada ranting pohon yang berukuran 30 cm tergeletak di dekatku.
Saat itu juga aku menyambar ranting itu dan kembali berlari untuk menyetarakan ritme serangan dan bertahan dari tim Green Lotus ini.
“Kau mendapatkan sesuatu Arley!?” tanya Krippa sembari menangkis serangan bola batu yang baru saja ingin mencoba menyelakaiku.
“Ya! Dan ini barang yang bagus!” utas ku dengan bibir yang menyeringai bahagia.
Demikian mood ku saat ini sangatlah bagus sampai-sampai aku memiliki ide yang lain dari biasanya.
“Maximus! Aku ingin mengganti rencana kita sekarang! Kita akan bergerak ke rencana D!”
Seketika itu juga Maximus melihat ke wajahku, lalu ia tampak terkejut dengan usulan rencana yang sangat mendadak ini.
“Bukankah itu terlalu terburu-buru Arley? Aku rasa rencana D adalah rencana yang akan kita gunakan dalam kondisi terdesak, Bukankah demikian?” Tanya Maximus sambil kembali menyerang musuh yang tampak di matanya.
“Hahaha~ tenang saja, aku yakin rencana ini akan berjalan sangat baik saat ini!” terang ku sambil mencabut dedaunan yang masih menempel di ranting pohon yang aku dapatkan ini.
Seketika itu juga, haluan lari kami bergeser ke-arah tengah Arena. Dengan kata lain, yap, kami berlari menuju ke-arah tim The Red Lion!
Mari sejenak aku jelaskan apa itu rencana D.
Rencana D, adalah rencana yang sama recehnya dengan rencana A dan rencana B. yaitu membujuk tim lawan untuk bergabung dan bertempur bersama dengan kami sampai titik darah penghabisan.
Dengan kata lain, saat ini kami sedang berjudi untuk membujuk tim The Red Lion, untuk bersekutu bersama kami mengalahkan seluruh orang yang akan menyerang kami saat ini juga.
Gahaha! Sangat receh bukan!? Tapi aku memiliki firasat jika rencana ini akan berjalan dengan baik!
Demikian jarak kami dengan tim Eadwig semakin mendekat sampai akhirnya jarak tim kami hanya tersisa 5 meter dari tim Eadwig!
***
Pertarungan berkecamuk di mana-mana, padahal sebelumnya kondisi sangatlah hening karena mereka para peserta seleksi kebingungan dengan sistem seleksi yang cukup ambigu.
Namun setelah tim kami membuka serangan, bagaikan rantaian domino yang di runtuhkan, mereka mengerti dan paham mengapa permainan berjalan demikian.
Ya, pertandingan ini bukanlah siapa yang dahulu menumbangka 4 orang, tetapi pertandingan ini adalah siapa yang akan menjadi 30 peserta yang tetap bertahan di atas Arena sampai babak akhir.
Aku bersama tim ku saat ini sedang menjalankan rencana D, yaitu bernegoisasi dengan tim yang sekiranya bisa di ajak bekerja sama, namun taruhan kali ini sangatlah berbahaya, karena kami akan berunding dengan tim yang paling tangguh di grup ini!
Posisi kami sudah sangat dekat dengan tim The Red Lion, bahkan saat ini tidak ada lagi orang yang berani menyerang ke-arah kami.
Tentu saja demikian, jika mereka sembarangan menyerang ke-arah kami dan mengenai tim yang satu ini, maka akibatnya akan sangat fatal!
Pemandangannya cukup berbeda di tengah sini.
Kegaduhan dapat di dengar dari sekeliling tempat ini, namun di ruang lingkup kami saat ini, suara sangat hening dan netral.
“Apa yang kau inginkan, wahai badut『eXandia!』, mengapa kau berani datang kemari, apakah kau ingin kami singkirkan juga seperti rekan-rekan mu yang lain?”
Ucap seseorang yang berada di samping kanan Eadwig, perawakanya sama tampannya dengan Eadwig, rambutnya panjang dan di kuncir kuda, tubuhnya tinggi tegap, demikian nada suaranya halus juga dialek nya begitu kental seperti orang yang memang benar-benar berasal dari negara 『Simbad』.
“Aku datang ke mari bukan untuk berbicara dengan mu, aku kemari untuk berbicara dengan Eadwig. Wahai Eadwig, maukah kau bersekutu dengan kami!” ucap ku tegas langsung menuju topik yang ingin di bicarakan."
Sejenak Eadwig terdiam sambil menatap sinis ke-arah kami, namun sesaat kemudian ia bergerak serta membalikkan badannya ke-arah kami dan pada akhirnya ia bersedia berbicara dengan kedua bibirnya yang sangat merah itu.
“Apa keuntungannya untuk kami jika kalian bersekutu dengan kami saat ini?” tanya Eadwig dengan intonasi yang tegas.
“Aku tidak bisa menjanjikan apapun kepadamu, tapi aku akan menunjukkan mu suatu pertunjukan yang tak pernah kau lihat sebelumnya jika kami berhasil masuk ke babak selanjutnya!”
Tak perlu takut, aku bisa mengendalikan kondisi ini, aku tahu apa yang Eadwig ingin kan setelah melihat prilakunya saat berada di dalam ruang tunggu tadi.
“Hoo … pertunjukan apa yang mau kau tampilkan jika kau berhasil masuk ke babak selanjutnya?” Wajah Eadwig berubah menjadi tenang setelah mendengar tawaranku barusan.
Tampaknya aku benar, Eadwig adalah orang yang haus akan hiburan.
Kalian semua pasti sudah tahu jika anak dari seorang bangsawan akan bersusah payah di masa kecil mereka agar ketika mereka dewasa, mereka bisa membanggakan kedua orang tuanya.
Begitu juga dengan anak seorang raja. Aku yakin jika Eadwig adalah orang yang sama dengan anak-anak para bangsawan itu, bahkan keletihan didalam otaknya mungkin bisa lebih parah dibandingkan dengang anak-anak para bangsawan biasanya.
Tentu saja, karena ia adalah calon seorang Raja!
“Aku tidak bisa mengatakannya kepada mu saat ini, begitu juga aku tidak bisa memberikan mu jaminan yang pasti, namun aku bisa berkata kepadamu saat ini, bahwa kau akan menikmati pertunjukan itu!”
Sejenak Eadwig terdiam, tatapan sinisnya kembali menusuk hati ini seperti seseorang yang sedang melihat suatu hal yang tidak berharga.
“Yang mulia, aku rasa tidak ada gunanya membiarkan mereka berada di seleksi tahap selanjutnya … penampilan mereka tidak meyakinkan, terlebih jika apa yang di katakana mereka adalah kebenaran, maka itu hanya akan merepotkan kita saja untuk kedepannya.” Ucap pria yang memiliki rambut ekor kuda tadi.
Namun Eadwig tidak berpikir demikian, seketika itu juga Eadwig menaikkan telapak tangan kanannya ke wajah pria yang memiliki rambut kepang tersebut.
“Diam sejenak Trevor, jangan meremehkan seseorang dari penampilan mereka. Penampilan tidak menunjukkan kualitas seseorang, Sebagai tangan kanan ku seharusnya kau harus kembali belajar akan hal itu Trevor Bertanrol.”
Seketika itu juga pria berambut kepang itu menundukkan pandangannya dan ia memberikan hormat kepada Eadwig dengan menaruh tangan kanannya di dada sebelah kirinya.
“Baik yang mulia, perkataan mu adalah hukum bagiku!”
Selepas itu, Eadwig maju ke-arah ku tanpa ragu-ragu. Tak ada aura takut tampak muncul dari dirinya, dia memang benar-benar pemberani seperti ayahnya.
Kemudian ia berdiri tepat di hadapanku, tubuhnya benar-benar tinggi. Aku rasa tingginya mencapai 2 meter kurang, sedangkan aku hanya memiliki tinggi 165 cm saat ini.
Eadwig merundukkan kepalanya sampai akhirnya mulutnya mendekat ke kuping sebelah kananku.
Selepas itu ia membisikkan sesuatu hal yang sangat mencengangkan kepadaku sampai aku kehabisan kata-kata saat mendengar kalimatnya.
Eadwig berbisik dalam waktu yang cukup lama kepadaku, mungkin sekitar dua atau tiga menit.
Namun selepas ia selesai membisikkan hal yang terakhir kepadaku, saat itu juga aku melompat mundur kebelakang sambil menyodorkan ranting kayu ini kepadanya!
Secepat kilat aku lontarkan sihir yang bisa memberikan jarak di antara tim ku dengan mereka saat itu juga.
“Parvus Coruscare!”
Api muncul dari ujung kayu yang aku sodorkan kearah mereka, namun seketika itu juga, saat sihirnya telah aktif dan bola api melaju cepat menyerang Eadwig, kayu yang aku pegang meledak dan menyebarkan asap yang amat tebal selepas itu.
Saat itu juga tim kami menjadi panik akibat tindakan yang aku lakukan!~
***