
Perjalanan untuk kembali menuju kota [Dorstom], berjalan lancar. Namun, pada perjalanan pulang kali ini, keluarga Tomtom memakan waktu yang lebih lama dibandingkan pada saat mereka pergi menuju desa [Uaccam].
Kurang lebih, selama dua minggu lebih mereka masih belum sampai menuju kota [Dorstom]. Tujuan utamanya, untuk mencari bahan materi dagangan, berupa hewan langka dan sebagainya.
Dan pada saat ini, mereka semua telah sampai kembali di kota [Dorstom], kota yang selalu ramai di siang harinya, sebab pasar yang tak kunjung reda kecuali malam tiba.
“Aahh! Akhirnya sampaai!” Pada saat itu, kereta kuda keluarga Tomtom baru saja memasuki pintu gerbang kota [Dorstom].
Para prajurit penjaga pun mempersilahkan mereka dengan senang hati, sebab, segala berkas yang paman Radits miliki sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.
“Apa yang kita lakukan sekarang paman?” tanya Arley, yang tampak lelah, sebab perjalanan panjang ini menguras staminanya dengan begitu sadis.
“A-aahh~ kalau begitu, kita harus kembali ke penginapan kita terlebih dahulu.”
Demikian, atas perintah sang paman, akhirnya mereka kembali menuju penginapan [Grabalt], untuk memulihkan tenaga mereka yang hampir terkuras habis.
Kereta kuda pun dipecut, memerintahkan untuk kuda mereka untuk berjalan menuju tempat yang diinginkan.
.
.
.
***
.
.
.
Tibalah mereka berlima di penginapan [Grabalt].
Saat itu, sang paman menyewa salah seorang anak penginapan, untuk membawakan barang-barang merka—masuk ke dalam penginapan.
Pintu terbuka, dan pemandangan familiar kembali merasuk dalam ingatan Arley beserta Varra. Sedangkan Melliana, ia tampak kagum dengan desain interior dari penginapan besar ini.
“Hey, Tom! Selamat kembali!” panggil si wanita penjaga kasir, yang ketika itu langsung dihampiri oleh sang paman.
Arley beserta rombongannya pun mengikuti jejak sang paman, untuk menghampiri meja pelayanan.
“Oh~ Apakah hari ini ada anggota keluarga yang baru?” tanya sang resepsionis kepada sang paman.
“Benar, dia adalah keluarga baru kami. Namanya Melliana,” jawab sang paman, sambil menunjuk Melliana.
“Ah! Kalau begitu, bagaimana jika kau menyewa ruangan yang lebih besar. Beberapa minggu yang lalu, ruangan paling besar kami baru saja ditinggalkan oleh penyewanya. Ruanganya ada tiga, dan satu ruang tengah yang tergabung dengan dapur, dan dua kamar mandi. Bagaimana?” rayu si resepsionis kepada sang paman.
“Oh! Benarkah? Berapa biayanya?” tanya sang paman kepada si penjaga resepsionis.
“Perharinya, Satu koin emas. Dan itu sudah ditambah tiket makan malam, makan pagi, beserta servis pembersih kamar.”
“Baiklah, aku menyewa selama satu minggu~” Sang paman pun mengeluarkan uangnya dari dalam kantung kulit. Ia memberikan tujuh buah koin emas tapa ragu-ragu.
Setelah itu, sang paman mendapatkan kuci kamar, dan mereka pun beranjak menuju lantai paling atas dari bangunan penginapan ini.
Selama di jalan, kelima orang itu di ikuti oleh tiga orang anak penginapan, yang sengaja disewa untuk mengangkut barang-barang mereka. Dan pada saat mereka berjalan menuju ruangan yang di sewa, Arley mulai bertanya kembali pada pamannya.
“Paman, mengapa kita tidak menyewa dalam jangka panjang?” tanya si remaja, dengan wajah lelahnya.
“Yah~ aku punya rencana lain. Sudah, jangan banyak pikiran, serahkan segalanya padaku!” Demikian, sang paman menjawab Arley dengan jawaban paling singkat yang bisa dirinya beriakn.
Karena Arley terlalu lelah untuk berpikir, dirinya pun melewatkan hal itu dan berjalan dalam kondisi setengah sadar.
Begitu juga dengan Varra, Emaly, serta Melliana. Mereka bertiga mengikuti ARley dalam kondisi setengah sadar.
Memang, selama perjalanan panjang ini terjadi … Varra sangatlah aktif dalam membantu Arley ketika menyerang monsters. Sedangkan Melliana, dirinya memang tak bisa banyak berbuat, sebab skill Adventurernya hanyalah sebagai seorang petarung tangan kosong.
Namun, Melliana selalu saja dijadikan umpan oleh Varra. Hal itu lah yang membuat Melliana terlihat lebih letih dibandingkan Varra saat ini.
***
Ruangan yang di tuju telah sampai.
Lantai paling atas dari penginapan ini, adalah satu ruangan penuh, yang dapat di pesan oleh penginap yang beruntung, dan memiliki uang.
Biasanya, orang yang menginap di ruangan ini adalah para Adventurer yang terkenal dan sukses, atau para pedanga besar yang tengah mampir di negeri ini.
Namun, beruntungnya pada malam hari ini, Arley beserta keluarga Tomtom bisa memesan ruangan yang paling malah pada penginapan [Grabalt].
Barang-barang telah masuk semua ke dalam ruangan tengah. Saat itu, Melliana dan Varra pun langsung berlari menuju kamar mandi, untuk membersihkan badan mereka yang telah lama kotor sebab perjalan panajang ini.
Di lain sisi, Arley lebih memilih untuk segera tidur, di kamar yang paling kecil dibandingkan kamar lainnya.
Ia sempat mengecek kedua kamar lainnya, tetapi, ia merasa jika Varra dan Melliana lebih berhak mendapatkan kamar yang besar, sebab mereka akan tinggal di satu kamar.
“Hm? Arley, kau yakin akan mengguakan kamar itu?” sang paman pun menyadari akan hal ini, makanya ia bertanya mengenai hal terebut.
“Tak apa-apa paman. Aku cukup di kamar ini saja.” Dan setelah itu, Arley langsung menutup pintu kamarnya, dan saat itu juga, ia melepas jubah beserta celana panjangnya.
Seketika itu juga, Arley langsung tertidur lelap pada ruangan yang hanya memiliki satu kasur kecil dan satu meja tuli tersebut.
Di lain sisi, Paman Radits harus mengganti baju Emaly terlebih dahulu, sebelum mereka berdua merebahkan tubuhnya di atas kasur medium mereka.
Lantas, mereka berdua langsung tertidur lelap, ketika badan mereka menyentuh kasur berukuran king size tersebut.
Demikian … hari itu pun berlangsung dengan cepat, tanpa kejadian aneh terjadi.
.
.
.
***
.
.
.
Keesokan Harinya ….
Pada pagi hari itu … Arley masih tertidur lelap di dalam kamarnya, sedangkan Melliana, Varra, paman Radits, juga Emaly. Mereka sudah berada di lantai satu, untuk memakan sarapan yang telah disiapkan.
“Selamat pagi Tom! Ini sarapan pagi kalian,” ujar Jannieta sambil menghidangkan sarapan pagi kelurarga Tomtom. “jadi ini, wanita baru yang diperbincangkan oleh seluruh pekerja kami?” dan kala itu, Jannieta sang pelayang menambahkan pertanyaannya.
“Ohh! Sepertinya kau sudah cukup terkenal, Melliana?!” Paman Radits pun mencoba menggona Melliana. “bagaiamana mungkin, informasi itu cepat tersebar?”
Lantas, Jannieta pun menunjuk menuju ke arah resepsionis.
“Itu, Lanel yang membocorkannya.” Jannieta dengan polosnya mengungkap konspirasi pendek ini.
Varra pun menyikut-nyikut tangan Melliana, sembari sedikit memandangnya dengan pandangan mengejek.
“Hayo loh, kak Mell! Tampaknya, sebentar lagi kak Mell akan mendapatkan banyak fans!” ucap Varra sambil menggoda kakak angkatnya itu.
“Ihh! Kamu ngomong apa sih, Varra!” Kemudian, dengan wajah merahanya, Melliana mencubit pipi Varra tanpa segan-segan.
“Aaahh! Kaak! Sakit-sakit! AmpuunN!” Varra pun tak kuasa menahan sakit, sebab derita yang ia perbuat sendiri.
Tertawalah paman Radits, Jannieta beserta Emaly, ketika melihat kelakuan kedua wanita itu.
Kemudian, Jannieta pun pergi meninggalkan keluarga Tomtom setelah mengucapkan salamnya hormatnya. Dan saat itu, kelurga Tomtom langsung menyantap makanan yang telah disediakan untuk mereka.
Di saat mereka sedang lahap-lahapnya makan, sang paman pun membuka pembicaraan untuk menghangatkan suasana.
“Kalian berdua, apa yang akan kalian lakukan hari ini?” tanya sang paman, sambil memakan sarapan paginya bersama Emaly.
Varra dan Melliana pun saling menatap. Mereka terlihat bingung, sebab mereka berdua tak pernah tahu apa yang mereka harus lakukan di waktu luangnya.
“Aku … tak pernah melakukan aktivitas apa pun, kecuali ada Arley di situ,” jawab Varra, sambil memandangi piring makannnya yang hampir kosong.
“Tapi Arley masih di kamarkan?” tanya sang paman kembali.
“Tadi aku sempat mengintip ke dalam kamarnya, dan, ya, Arley masih tertidur lelap,” imbuh Melliana, yang makanannya sudah hampir habis juga.
Paman Radits pun memberikan usulannya kepada Varra dan Melliana.
“Nah, kalau begitu. Pergilah berkeliling kota, beli pakaian yang kalian inginkan, dan bersenang-senanglah di sana.” Kemduian, sang paman merogoh kantung bajunya, dan menarik sepuluh koin emas, untuk diberikan kepada Melliana dan Varra.
Masing-masing dari mereka mendapatkan lima keping koin emas.
“Pergilah, belanjakan uang jeri payah kalian ini. Hitung-hitung, ini adalah gaji awal kalian berdua!”
Varra dan Melliana pun tersenyum lebar. Lantas, mereka kembali saling bertatap wajah, dan saat itu juga, mereka langsung menghabisi sarapannya dan bergegas pergi menuju keluar penginapan.
“Terima kasih, paamaan!” teriak mereka berdua, sambil melambaikan tangan kepada paman Radits.
“Haah~ senangnya menjadi muda,” gumam sang paman sambil menyuapi Emaly.
“Ayah! Aku juga mau cepat jadi dewasa, biar bisa belanja bersama kak Varra dan Kak Melliana!” ujar Emaly, secara tiba-tiba.
“Ohh! Kalau begitu, Emaly harus rajin makan! Ini satu suapan lagi, Aaaa!”
“Amm!”
Emaly pun melahap satu suapan terakhirnya, sebelum pada akhinya, sang ayah melahap habis sarapan mereka pada hari ini.
***
Saat itu, Varra dan Melliana baru saja keluar dari penginapan [Grabalt]. Akan tetapi, tiba-tiba ada suara orang berteriak sambil melemparkan selembaran kertas.
“Pengumumang-pengumuan! Sebentar lagi, lowongan pendaftaran untuk menjadi penyihir dan kesatria negara akan di buka!” teriak pria itu, bekali-kali, sambil menghamburkan selembaran kertas itu.
“Hm? Pendaftaran ke kesatriaan?” Melliana pun memungut kertas itu, dan membacanya.
Demikian pula dengan Varra, ia memungut kertas yang berserakan dan membaca keterangan yang tertulis padanya.
“Pembukaan sekolah keperwiraan dan bintara kesatria, juga, sekolah tinggi penyihir negara.” Varra membaca kertas itu dengan suara yang cukup keras.
Saat itu, Varra langsung melihat ke arah tangan kirinya, di mana ia tampak menggenggam koin emasnya dengan erat. Dan pada saat itu, Varra langsung mengembangkan senyuman bahagaianya, sebab, ia kali ini tidak hanya membaca surat ini sebagai sebuah mimpi dan cita-cita kosong.
Melainkan, kali ini Varra benar-benar bisa mengikuti seleksi itu dengan kemampuannya sendiri, sebab ia memiliki kekuatan juga uang untuk menggapai cita-cita yang sudah lama dirinya pendam ini.