
Sudah panjang lebar Arley menjelaskan kepada Aurum dan Eadwig, mengenai bagaimana ia bisa bertemu dengan Paroki alias Misa.
Mereka berdua terlihat sangat tertegun seusai Arley menjelaskannya dengan rinci.
“Bagaimana hal ini bisa terjadi …?” Aurum tampak begitu terkejut setelah mendengar kisah pertemuan Arley dengan Misa.
“Mengerikan, mereka benar-benar tidak berprikemanusiaan. Bagaimana mungkin para Bandit Gunung itu bisa membantai satu kampung tanpa ada rasa kasihan terhadap nyawa seorang manusia?” mengkerutlah wajah Eadwig yang tampak begitu geram setelah mendengarkan kisah masa lalu Arley.
Saat itu, Arley hanya mampu tersenyum tipis, ia tak menyangka jika ada orang yang bisa sampai sedekat ini dengan dirinya.
8 tahun yang lalu, pertemanan seperti ini hanyalah sebuah mimpi di dalam mimpi. Namun saat ini, segalanya telah Arley dapatkan.
“Sudahlah Eadwig, tak perlu kau merasa kesal dengan hal yang telah larut,” ucap Arley untuk menarik kembali Eadwig dari imajinasinya sendiri.
Sekilas Aurum melihat wajah Eadwig yang tampak begitu kaku, tiba-tiba Aurum terkekeh-kekeh selepas ia melihat ekspresi Eadwig yang tampak aneh tersebut.
Wajah Eadwih mengkerut keram bagaikan wajah orangutan, mungkin ia sendiri tak menyadarinya jika wajah yang ia ciptakan mampu membuat orang disekitarnya langsung merasa kehilangan respek terhadap dirinya.
Lantas, Eadwig terheran-heran dengan prilaku Aurum.
“Apa yang kau tertawakan?” ucap Eadwig sambil memiringkan kepalanya sedikit ke arah kiri, “Apakah ada syaraf yang terjepit di kepalamu?” tegurnya sembari menanyakan hal tersebut dengan serius kepada Aurum.
Namun Aurum tidak mempedulikan Eadwig, ia hanya tertawa dan mengingat-ingat ekspresi Eadwig saat ia terlihat kesal.
“Hahaha! aduh~ haah~ tidak-tidak … maafkan aku Eadwig, aku tak apa-apa. Hanya saja aku tak tahan melihat wajahmu yang kesal tadi, bagaimana bisa kau membuat wajah lucu seperti tadi?”
“Ha!? aku benar-benar tak mengerti maksudmu Aurum?!”
Demikian perbincangan mereka terdengar begitu harmonis, Arley pun menatap mereka dengan rileks. Tetapi, tiba-tiba ada aura gelap yang menyerang punggungnya.
“S-siapa ini yang menatapku degan naluri membunuhnya?!” gumam Arley sembari melirik ke sana dan kemari, untuk mengetahui siapakah pelaku yang ingin membunuhnya tersebut.
Tak lama kemudian, Arley menemukan sumber dari orang yang menyebarkan aura membunuhnya itu.
Orang tersebut duduk tepat di tribun penonton. Ia duduk sendirian dengan menggunakan jubah biru dan wajahnya tampak begitu cantik mempesona.
“K-kak Amy!?” teriak Arley sembari menunjuk Amylia yang kala itu seadang duduk santai pada tribun penonton bagian Timur.
Ketika Arley meneriakkan kalimat tersebut, sontak Eadwig dan Aurum mendengar teriakannya, mereka berdua langsung berlari menuju sudut area lobi kaca monitor, demi berbicara dengan Amylia.
“Amy! kau sudah pulih!?” Eadwig memanggil Amylia dari pinggir ruang lobi.
Namun tampaknya kondisi saat ini tidaklah baik. Masih terlihat aura membunuh Amy yang menggelora dengan hebat.
“Ohh … begitu ternyata … ditinggal sebentar saja sekarang sudah mesra-mesraan dengan Aurum!?” bentak Amy kepada Eadwig.
“-Ha!? Amy! kau salah sangka! aku dan si pirang ini!? mustahil! memikirkannya saja sudah membuatku mual!” cekal Aurum terhadap Amy yang saat ini sedang terbakar api cemburu.
“Hoo~ Amy cantik~ kau cemburu ya sama aku? tenang saja Amy, aku tidak akan mungkin bermain dengan wanita lain di belakangmu! benarkan Arley!?”
“HA!? kenapa kau malam membawa-bawaku ke dalam masalah ini? hey-hey, aku tak ingin berkecimpung dengan kehidupan romansamu Eadwig!”
Kemudian, Aurum dan Amy tiba-tiba menatap tajam ke arah Eadwig. Tampaknya mereka benar-benar marah dengan sikap Eadwig yang terlalu santai.
“H-he!? a-apakah aku sedang dalam masalah besar? “ tatap Eadwig ke arah Arley, namun Arley langsung saja memutar balik pandangannya, dan ia langsung melihat ke sudut Barat yang kala itu memang tidak ada apapun di sana.
Tampak jika Arley tak ingin berkecimpung dengan permasalahan berat yang Eadwig ciptakan, demikian ia mulai bersiul sambil menikmati pertarungan Rubius, yang saat ini tampaknya sedang berjalan dengan baik.
Namun aura pembunuh ini tidak juga surut, malah muncul satu lagi aura yang berwarna kuning pekat. Ya, aura itu berasal dari arah Aurum, ia menatap tajam ke arah Eadwig dengan ambisi ingin menghabisinya saat itu juga.
“A-Arley!? hey Arley! tampaknya aku butuh bantuanmu loh!” terdengar Eadwig sedang memanggil Arley dengan nada yang gemetaran.
Lalu dari sebelah selatan lobi, terlihat sebuah aktivitas yang tampaknya sangat langka. Dan mungkin kegiatan semacam ini baru terjadi pada tahun ini saja.
Ya pada sudut selatan lobi, terlihat sisa-sisa anggota tim peserta yang mereka berasal dari ketiga negara utama, tampak mereka lagi asik bercanda ria di antara sesama mereka.
“Hey Eadwig, aku baru menyadari akan hal ini, namun, mengapa tim kalian bertiga bisa sangat akur seperti itu?” tunjuk Arley ke sudut Timur sembari melihat ke sebelah Barat, “Ah~ m-maafkan aku, sepertinya aku bertanya di waktu yang salah,” namun ketika ia memalingkan kepalanya ke arah Eadwig, ternyata kondisi Eadwig sedang tidak memungkinkan untuk menjawab pertanyaannya tersebut.
“A-arley … tolong aku ...,” ucap Eadwig yang ketika itu meminta belas kasihan terhadap Arley, karena saat ini, ia sudah tak dapat melawan kata-kata Aurum dan Amy lagi.
Pandangan Aurum dan Amy, terlihat begitu intens, sampai-sampai jiwa Eadwig kala itu, terlihat seperti sedang dibakar. Dan saat ini, kondisinya sudah hampir setengah matang.
Ketika itu, Arley sangat ingin melepaskan gelak tawanya, tapi karena ia kasihan terhadap Eadwig, Arley pun membatalkan niatnya tersebut, dan mulai membantu Eadwig.
Arley mulai memisahkan mereka bertiga, dan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan yang mereka tengah perdebatkan.
Untungnya usaha Arley berhasil, Amy yang tadinya cemberut, saat ini mulai kembali menjadi dirinya yang normal. Sedangkan Aurum, ia memang dari awal hanya ingin menjahili Eadwig yang terlihat terlalu lugu.
***
Tak berapa lama kemudian, pertarungan antara Rubius dan lawan tandingnya usai. Peluit kembali dibunyikan untuk menandakan bahwa pertandingan telah usai.
Dengan bangganya, kali ini Rubius menaiki tangga ke atas lobi dengan penuh sorakan meriah dan hujan tepuk tangan yang menderu hebat.
“Selamat Ruby! tampaknya kita bisa bertemu di babak selanjutnya,” ucap Arley sembari menjulurkan tangan untuk menyalaminya.
Saat itu juga Rubius menyambar tangan Arley dengan kedua tangannya. Lalu ia menggenggam tangan kanan Arley yang tampak pucat itu, dengan erat dan bahagia.
Eadwig dan Aurum pun ikut menyambar tangan Arley dan Rubius. Akhirnya mereka berempat saling menyalami satu dengan yang lainnya.
“Selamat Ruby! tampaknya kita bertiga akan bertemu di babak keempat!” tampak wajah Eadwig berseri-seri.
Lalu, sekilas Arley memandang wajah Aurum, yang sampai saat ini, ia masih belum menunjukkan ekspresi cemas atau ekspresi gelisah.
“Kak Aurum, aku yakin kau pasti bisa menang! semangat!” ujar Arley untuk memberi semangat kepada Aurum.
“Memangnya lawanmu selanjutnya siapa Aurum?” tanya Eawdig dengan polosnya.
Sebenarnya, Arley pun ingin mengetahui informasi tersebut, namun ia tak pernah sempat menanyakan hal tersebut akibat beberapa kejadian yang terus berganti.
Tibat-tiba saja, raut wajah Aurum berubah menjadi datar. Sejenak ia menatap lantai yang ia injak, lalu ia kembali menatap Arley dengan senyuman manisnya.
“Hehe~ kita lihat saja nanti!” jawabnya dengan riang.
“Yah kalau kau berkata demikian, berarti lawanmu hanyalah lawan yang recehan. Kalau begitu, selamat bertanding ya!” ucap Eadwig dengan senyumannya yang menampakkan setiap rongga pada giginya.
“Kau selalu berpikiran positif Eadwig, syukurlah kau bukan lawanku~” cetus Rubius yang kala itu masih mengucurkan keringat letihnya.
Disaat mereka sedang berbincang-bincang hangat seperti itu, tiba-tiba ada seseorang yang melintas dari jarak jauh, namun tertangkap jelas pada pandangan Arley.
“Misa ...?” gumam Arley pelan, sembari ia menatap seseorang yang mengenakan jubah hitam pekat, dan menutupi sekujur tubuhnya.
Orang tersebut sedang berjalan menuju tangga yang akan menghantarkan siapapun yang menuruninya, untuk turun kelapangan arena pertandingan.
Tiba-tiba pandangan Arley terpecah akibat suara menggelegar yang di lantangkan oleh Michale.
“Yak! dipersilahkan untuk peserta selanjutnya, untuk segera memasuki arena pertandingan!” Michale mengumandangkan pengumuman tersebut.
Suara Michale terdengar begitu menggelegar, bahkan lebih keras di bandingan waktu siang hari tadi.
Namun ini bukanlah karena ia sengaja untuk mengeraskan suaranya tersebut, tetapi ini adalah fenomena alam yang hanya bisa terjadi pada malam hari.
Ya, ini adalah masalah ilmu pengetahuan.
Jika malam telah tiba, maka suara huru-hara dari kota, atau dari tempat lainnya akan terhenti. Demikian hal itu menyebabkan suara yang berada disekitar manusia, akan terdengar begitu keras akibat tidak adanya suara dari luar yang mengganggu resonansi getaran suara di dalam kamar atau lingkungan tersebut.
Dengan kata lain. Michale berteriak lebih kencang dibanding hari biasanya!
***