The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 170 : Aksi Brutal Rubius!



Not Edited!


Tubuh Eadwig terangkat tinggi ke atas langit. Lehernya dicengkeram kencang oleh Korfe. Padahal, serangan ‘Seven Heaven’ Eadwig masih menggeliat menghujani tubuh Korfe dengan liarnya.


Eadwig menunjukkan ekspresi kebingungan, ia tak tahu jika ini adalah sebuah mimpi atau kenyataan. Bagaimana mungkin makhluk yang satu ini masih bisa hidup setelah pedang Eadwig menembus tubuh serta serangan yang ia lontarkan masih aktif menyerang.


“D-dasar monster …!” cakap Eadwig, sambil ia memegangi pergelangan tangan kiri Korfe, demi melepaskan dirinya dari cekikan yang amat mematikan tersebut.


Napas Eadwig mulai tersendat. Semakin lama, cekikan yang Korfe lakukan kepada dirinya, terasa semakin kebat. Tampak seperti ia sengaja melakukan hal ini secara perlahan-lahan demi menyiksa Eadwig.


Beberapa saat kemudian, serangan ‘Seaven Heaven’ yang Eadwig lontarkan kepada Korfe telah kehabisan tenaganya.


“Ah, sudah selesai?” tanya Korfe sembari ia melihat ke belakang punggungnya. Tampak cabikan yang begitu parah, namun tak ada ekspresi kesakitan yang ia tonjolkan. Wajah Korfe hanya tersenyum menatap Eadwig dengan bengis.


“Nah, sekarang kau mau berbuat apa lagi, Eadwig?” Ketika itu, Korfe menunggu perbuatan apa lagi yang akan Eadwig lakukan terhadapnya, dengan penuh ketertarikan.


Akan tetapi, saat ini Eawdig telah kehabisan ide untuk menaklukkan musuhnya. Hening, tak ada jawaban langsung dari Eawdig. Hanya terdegar suara angin bersiul di sekitar mereka berdua.


“Hey-hey … jangan bilang kau kehabisan akal?” Ketika itu, Korfe hanya bercanda menanyakan hal tersebut. Namun, wajah Eadwig langsung terkejut selepas dirinya mendengar ucapan sang naga hitam.


“Jangan-jangan …,” gumam Korfe dengan wajahnya yang kecewa. “Ahh~ aku kira kau lebih baik dari ini, Eadwig. Tampaknya aku salah menilaimu.” Dengan perasaan yang berawai, Korfe kemudian menghempaskan Eadwig ke posisi di mana ia berdiri sebelumnya.


Korfe memutarkan badannya dengan cepat—sebanyak satu kali putaran, lalu ia melepaskan cengkramannya untuk menerbangkan tubuh Eadwig ke sebelah Utara Ibu Kota [Lebia].


Terhempas tubuh Eadwig dengan kencang, tidak hanya sepuluh atau dua puluh meter jarak tubuh Eadwig terlempar hebat, tetapi badan Eadwig terlempar sejauh dua ratus meter—menghancurkan bangunan yang menghalangi laju terbangnya.


“Eadwig!” pekik Rubius yang menyaksikan kejadian itu. Wajah Rubiu langsung menunjukkan perasaan kesalnya. Ia dengan sigap mengeluarkan tongkat sihir yang selalu ia gunakan untuk menumpas lawan-lawannya.


Korfe yang ketika itu tak terlalu mempedulikan Rubius, hanya memandang lurus ke tempat di mana Eadwig berhasil mendarat.


Lantas, Rubius melangkah maju dan berdiam tepat di hadapan pandangan Korfe.


“Oya …? tidak kah kau cemas dengan temanmu itu?” Kala itu, Korfe mengucapkan kalimat sarkas sembari ia memperhatikan sekujur tubuhnya tanpa melihat ke arah Rubius. Dengan sendirinya sekujur tubuh Korfe pun pulih kembali, dan baju yang ia kenakan, terjahit kembali seperti sedia kala.


Rubius yang menyaksikan kejadian itu, tentu saja terkejut. Dirinya tak menyangka jika Naga hitam yang satu ini bisa meregenerasi tubuhnya.


“Anak muda, aku sedang tidak dalam kondisi mood yang baik untuk bertarung. Bisakah kau menghiraukan aku untuk kali ini saja?” seperti meremehkan lawannya, Korfe memelas untuk segera dijauhkan dari pertempuran yang akan ia hadapi kembali. Tentu saja Korfe tidak mengira jika pertarungannya melawan Rubius akan semegah pertarungannya ketika menghadapi Eadwig.


Namun, Rubius tidak sebodoh Eadwig yang pandai terpancing amara. Dengan tenang Rubius memasang kuda-kuda tempurnya dan menjulurkan tongkat sihirnya ke arah Korfe.


Korfe lalu menghela napasnya, ia tidak menyangka jika Rubius akan menantangnya setelah apa yang dirinya saksikan tadi. “Tolong hargai pilihanku, wahai anak muda. Umurmu masih panjang, janganlah engkau menghabisi nyawamu di sini.” Dengan remehnya Korfe kemudian melangkahkan kakinya mengarah ke sebelah Utara ibu kota.


Tapi Rubius tak membiarkan sang iblis naga untuk bergerak semaunya saja. Seketika itu juga, Rubius merapalkan mantra sihir paling pamungkas yang ia pelajari sampai saat ini.


“Thunder of Oz!”


Seketika itu juga, butiran bola petir langsung muncur di sekitar tubuh Rubius dan Korfe. Langkah Korfe langsung terhenti, matanya terbelalak atas apa yang sedang dirinya lihat saat ini.


“Kau …!?” ucap Korfe dengan nada gugup.


Rubius hanya tersenyum pahit sembari dirinya secara perlahan mulai kehilangan kesadaran. “Ahh, apakah sebaiknya aku lepaskan saja kesadaranku ini …?” gumam Rubius dalam hati. Sebisa mungkin dirinya mempertahankan  kesadarannya demi mengendalikan mantra sihir yang belum sepenuhnya ia kuasai saat ini.


Dalam pandangan yang kabur, Rubius menatap wajah Korfe yang Ketika itu dirinya tak bsia bergerak sebab bola listrik yang beterbangan di sekitarnya. Wajah korfe tersenyum lebar sembari melihat sekitarnya dengan intens.


Tertawalah Korfe melihat mantra sihir Rubius. “Menarik! Hey, sebutkan namamu! Tampaknya kau tak kalah menarik, dari si rambut kuning tadi!” tanya Korfe yang mulai tertarik dengan Rubius.


Rubius tak menjawab pertanyaan Korfe, ia haya terdiam dengan pandangan kosong. Sejenak bola matanya terputar kebelakang, saat ini, hanya bagian putihnya saja yang tampak. Namun, setelah beberapa saat kemudian, bola mata Rubius kembali ke posisinya yang semula.


Ya, Kembali seperti manusia pada umumnya, pandangan lurus dan tajam. Akan tetapi ada yang sedikit berubah dari kondisi Rubius saat ini. Warna retina mata Rubius, yang tadinya berwarna hitam pekat, tiba-tiba berubah menjadi pink mencolok.


Rubius terdiam untuk sejenak, pandangannya masih menatap tajam menuju Korfe. Sontak, dengan sekuat tenaganya, Rubius menarik nafas dalam-dalam, ia bertindak dengan hanya mengandalkan instingnya saja. Ia menenggak energi [Mana] yang berkeliaran di sekitarnya, dalam satu kali tarikan nafas yang begitu intens.


Menggembung dada Rubius bagaikan balon. Setelah paru-parunya terisi penuh oleh udara, saat itu juga Rubius menghela nafasnya secara brutal.


Tubuhnya terasa begitu ringan. Ketenangan mendalam menyelimuti sekujur tubuh Rubius. “Ini … aku tak pernah merasakan hal ini sebelumya …,” gumam Rubius sembari ia menatap jari-jari tangannya.


Sejenak ekspresi Rubius terlihat begitu tenang. Namun  secara tiba-tiba, wajah Rubius yang tenang langsung berubah menjadi bringas. Gigi taringnya terlihat lebih dominan menonjol di bandingkan yang lainnya.


Energi [Mana] yang Rubius kumpulkan, tampak meluap dari sekujur tubuhnya. Bahkan Rubius sendiri tak tahu jika ia memiliki kemampuan seperti ini. Kali ini Rubius benar-benar mampu menekan rasa takutnya, dan merubah rasa itu menjadi amarah yang cukup ganas.


“Kahahaha!” Cekikikan Rubius tertawa tak jelas, ia menggeramkan tubuhnya sambil menahan Adrenalin yang bergejolak riang. Persis seperti anak-anak yang barus saja mendapatkan mainan baru.


Korfe cukup terkejut ketika mendengar cuara tertawa yang muncul dari arah Rubius. “Apakah kau sudah kehilangan akal sehatmu, setelah mengeluarkan sihir segila ini, wahai anak muda ...?!” Korfe tampak senang dengan kondisi Rubius saat ini, ia merasa jika pertandingan yang akan dirinya hadapi sesaat lagi, akan lebih megah dibangdingkan pertarungannya melawan Eadwig.


“Pak tua! Kau tinggal menunggu ajalmu saja!” Cerca Rubius dengan mulutnya yang saat ini sudah berani berkata kotor.


Rubius memfokuskan seluruh energi [Mana-nya] hanya pada tangan kanannya. Lantas, dalam satu kali ayunan tongkat sihir, seluruh bola yang mengambang di udara, langsung berubah menjadi lebih besar sepuluh kali lipat, di bandingkan sebelumnya.


“A-APA!?” Terkejut bukan main, Korfe yang sebelumya masih bisa menghindari bola-bola kecil seukuran kelereng, langsung dibuat terkejut, ketika bola listrik itu berubah ukuran menjadi dua meter lebih lebar dari sebelumnya.


Kali ini Korfe tak bisa menghindar, seketika itu juga bola listrik yang mengudara pada sekitarnya, tak sengaja mengenai kulit tubuh Korfe, dan membakarnya degan kekuatan yang begitu dahsyat.


Tidak hanya satu bola, ketika satu bola mengenai dirinya, serangan berantai pun terjadi. Bagaikan magnet, bola-bola lainnya ikut mengumpul di sekitar sang naga hitam.


“AAaaarrk!” teriak Korfe menahan sakit, sembari tubuhnya kejang tak beraturan.


“Agaahahahaha!” Sedangkan Rubius hanya cekikikan liar bagaikan orang yang gila.


Bersambung!


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!


----------------------------------------------