
Not Edited !
Ditengah rembulan malam yang gemilang, tampak dua orang remaja tengah membuka kantung-kantung kertas berisikan makanan, dan memberikan isinya kepada para penduduk di distrik Slump.
Tepakan kaki silir berganti dalam antrian cukup panjang, satu persatu mereka mengambil jatah yang telah di tentukan.
“Terima kasih! Terima kasih banyak, Tuan Muda!” ucap salah seorang kakek, sembari ia merundukkan kepalanya dua kali.
“Tidak perlu demikian, nikmati saja makan malam hari ini,” balas Arley sambil menunjukkan telapak tangannya sebagai tanda penolakan.
Varra tampak tersenyum lembut ketika ia melihat Arley menyebutkan kalimat itu, ia merasa senang dirinya bisa berada di sisi sang pria berambut merah. Sejauh ini, banyak terjadi perubahan dalam hidupnya, dan semua itu berkan Arley.
Majulah seorang nenek tua yang kemarin sempat menggoda Varra dan Arley. Ia menjulurkan tangannya untuk menerima jatah makan malam pertamanya selama ia tinggal di distrik ini.
“Ini, Nek, silahkan dinikmati makan malamnya,” cakap Varra sambil tersenyum gembira.
“Terima kasih, Varra,” ucap sang nenek sambil ia ikut tersenyum. Lantas, tiba-tiba sang nenek menghampiri Arley dan menatap wajahnya dengan senyuman tadi. “Wahai pemuda yang gagah dan rupawan. Jika bisa … aku memohon kepadamu untuk menjaga senyuman dan kebahagiaan Varra, jika bisa, sampai seumur hidupnya,” cetus sang nenek sembari ia menarik lengan baju Arley.
“N-nenek?! Apa yang anda katakan?!” Varra langsung salah tingkah ketika sang nenek mengatakan hal tersebut.
“Ya! Aku setuju dengan ucapan, Nenek Toji! Varra adalah peri bagi kami semua, jika tidak ada dia, kami tidak akan mampu bertahan hidup sampai selama ini!” ucap seorang pria yang mengantri di bagian belakan. Demikian keriuhan terjadi, seluruh orang yang menghadiri tempat tersebut silir berganti memuji Varra dengan seluruh perhatian mereka.
Wajah Varra memerah dan ia hanya merunduk ketika mendengar segala pujian itu.
Arley sempat memperhatikan wajah orang-orang yang memuji kebaikan Varra, tampak senyuman tulus mereka, tersampaikan langsung kepada wanita yang berdiri di samping kirinya saat itu.
Menolehlah Arley melihat Varra, ia tak bisa melihat wajahnya langsung, rambut hitam kemerahan Varra menutupi wajahnya yang memerah. Akan tetapi, Arley bisa melihat kuping Varra yang memerah.
Tampaklah bibir Arley yang ikut mengembang bahagia. Ia kembali melihat ke arah sang nenek sembari dirinya memegang telapak tangan wanita renta tersebut.
“Tenang saja … aku akan tetap menjaga senyuman itu sampai nyawa ini terlepas dari tubuhku.” Kalimat itu keluar dengan mudahnya dari lisan Arley. matanya tajam menatap sang nenek seperti orang yang telah menentukan garis kehidupannya.
Terperanjatlah seluruh orang yang melihat kejadian itu, mata mereka langsung berubah menjadi lambang hati setelah Arley mengeluarkan pesonanya tanpa disengaja.
Begitu juga denga Varra, dirinya tak mampu mendengarkan kalimat menusuk Arley lebih jelas lagi. Matanya hanya melihat ke wajah Arley dengan perasaan yang amat terkejut.
Sontak, melihatlah Arley ke sekelilingnya, ia tampak bingung dengan kondisi saat ini. “Kalian kenapa?” ujarnya dengan begitu polos.
Setelah itu, Arley melepaskan genggaman tangannya kepada sang nenek yang tentunya tak memutuskan pandangannya terhadap wajah pria berambut merah itu. ia terus berjalan sambil menatap wajah Arley dengan bentuk matanya yang terbentuk seperti lambang hati.
Kejadian itu membuat Varra menjadi sedikit kaku saat ia membagikan sisa makanan yang berada di dalam kantung kertas. Namun, segalanya berjalan lancar sampai seluruh orang mendapatkan jatah mereka.
Dengan demikian, berakhirlah pembagian makanan di malam yang indah itu. Arley dan Varra memilih untuk kembali pulang ke penginapan [Grabalt], sembari mereka membawa satu kantung kertas yang masih menyisakan dua potong roti berisi daging.
***
Suasana malam terlihat begitu sepi, untuk daerah bagian Selatan, kota [Dorstom].
Para Merchant yang sudah seharian penuh menjual barang dagangan mereka, saat ini telah kembali ke rumah-rumah mereka, beristirahat dengan keluarga tercinta atau menghibur diri pada bar-bar yang tersebar di seluruh bagian kota [Dorstom].
Kala itu … tampak Arley memimpin perjalanan pulang di depan, sedangkan Varra mengikutinya pada bagian belakang
Tangan Varra saling mengepal di bagian belakang pinggangnya, ia berjalan sembari menahan perasaan malunya terhadap Arley.
Namun ketika itu, Arley malah berhenti berjalan sembari ia duduk di trotoar jalan, yang ketika itu tingginya mencapai satu setengah meter. Jalan yang mereka tempuh saat ini sangatlah menanjak, dan bagian sisi kiri, serta kanan jalan di timbun tinggi untuk menopang bangunan yang terbangun padanya.
Duduklah Arley sambil ia membuka kantung makanan yang tersisa. Varra hanya melihat gerak-gerik Arley dengan perasaan bingung.
“Hey, sebaiknya kita istirahat sebentar. Dari tadi kita tidak berhenti membagikan roti-roti ini kepada mereka bukan? Kakimu pasti lelah berdiri cukup lama di tempat itu,” ucap Arley sambil ia menepuk-nepuk tempat di samping kirinya.
Menyadari akan hal itu, Varra langsung mengikuti saran Arley dengan duduk di samping kirinya. Roti pun dikeluarkan dari kantungnya, lalu diberikan salah satu roti isi daging itu kepada Varra.
Kantung kertas yang telah kosong, ketika itu Arley remuk dan ia jadikan sampah yang akan di buang saat dirinya menemukan tempatnya.
Dikunyahlah roti itu dengan begitu perlahan, perut mereka yang tadinya penuh, entah bagaimana tampak muat untuk di isi oleh satu potong roti lagi.
Varra dengan malu-malu menggigit rotinya sembari ia mencuri-curi pandangan untuk melihat wajah Arley. Di lain pihak, Arley malah mengeluarkan tongkat putihnya sembari ia mengusap-usap tongkat itu dengan kain pelindungnya.
Terbesit suatu pertanyaan pada pikiran Varra, ketika Arley melakukan hal tersebut.
“Arley … apakah kau juga akan menjadi seorang penyihir?” ujar Varra sambil termenung menatap kedua tangan Arley yang tampak hitam pada bagian kulitnya.
Mulai dari pergelangan tangan pada kedua tangan Arley, ketika itu terlihat cukup mencolok jika di bandingkan warna kulitnya yang pucat. Ingin Varra menanyakan langsung sebab mengapa kulitnya bisa demikian, tapi untuk saat ini, ia lebih mengutamakan fungsi dari tongkat sihir Arley terlebih dahulu.
Arley masih belum menjawab pertanyaan Varra, mulutnya masih penuh dengan roti yang ia gigit dengan lahapnya. Namun, setelah mulutnya mulai renggang dari menumpuknya makanan, Arley mulai berbicara perlahan sembari menelan roti-roti yang tersisa pada mulutnya.
“Aku tidak bisa menjadi seorang penyihir,” ucap Arley, yang kala itu mengangkat tingi tongkat sihirnya pada sisi langit kota [Dorstom]. Masuklah cahaya rembulan melalui sela-sela kaca yang terselip pada bagian tengah tongkat putih itu. Arley melihat bulan tampak sedikit lebih besar pada bagian yang memiliki renggang, sebab kaca pada tongkat putih tersebut.
“Eh?!” Varra terperanga, ia merubah posisi tubuhnya, mengarah langsung menghadap Arley. Roti di tangannya belum sempat ia habisi semua, tampak tersisa setengah saat ia mendengar ucapan Arley.
“Fire Bolt!”
Pekiknya dengan kencang di tengah kesunyian malam. Namun tak ada yang terjadi, hanya suara, Two Tailed Dog, terdengar meraung-raung sebab suara teriakan Arley tadi.
“Lihat? Tak ada yang terjadi bukan?” ujar Arley sembari ia menatap tongkat sihirnya dengan lesu. “walaupun demikian, entah mengapa, aku merasa sangat nyaman bisa memiliki tongkat sihir ini. Seperti … ini adalah harta paling berharga, yang saat ini aku miliki, bahkan lebih dari nyawaku.”
Varra sempat terkejut saat Arley merapalkan mantranya, ia kira akan terjadi sesuatu sebab rapalan mantra tersebut. Tetapi, ternyata tak terjadi apa pun walau Arley berteriak dengan sungguh-sungguh.
“Sudahkah kau mencoba untuk mengintip aliran [Mana], pada sirkulasi tubuhmu?”
“Ya, sudah. Saat aku membawamu ke tempat kak Litta, setelah ia menyembuhkan seluruh luka pada tubuhmu, Ia dengan suka rela mengecek status aliran [Mana] pada tubuhku. Sayangnya ada sesuatu hal yang menyumbat aliran tersebut di bagian kedua tanganku ini,” jawab Arley sambil ia menatap tajam tangan kirinya. Sesekali ia melihat dan menggenggam tangan kirinya untuk mengetahui jika ada yang terasa aneh padanya. Tetapi, tangannya terasa normal saja seperti anggota tubuh yang lainnya.
“Kau tahu mengapa tanganmu bisa tampak, erm … menghitam seperti ini …?” Sedikit ragu-ragu untuk mengajukan pertanyaan sensitif tersebut, namun pada akhirnya, Varra menanyakan kebingungannya saat ini juga.
Arley kemudian menaruh kedua tagannya di atas kedua pahanya. Ia lalu menggenggam tongkat sihir putihnya itu di tangan kanan sambil mendatarkan wajahnya.
Terjadi keheningan sesaat, sebelum Arley menjawab pertanyaan Varra. Kala itu, waktu terasa seperti berhenti, bahkan suara raungan Two Tailed Dog tadi telah berhenti. Hanya Varra menatap wajah Arley dengan renungan dalam pada ekspresi wajah tampannya.
“Merah …,” Tutur Arley dengan nada yang pelan. Matanya tampak melebar, dan retinyanya mengecil, seperti sebuah memori yang terpendam, saat ini kembali terbuka, walaupun sangat-sangat singkat. “aku mengignat sesuatu yang merah … kedua tanganku menggenggam sesuatu yang hitam ….”
Sontak, tiba-tiba kedua tangan Arley bergetar hebat, bibirnya tersenyum jahat, dan pandangannya ampak sadis juga terbawa suasana ekstasi yang amat tajam.
Varra merasa sesuatu hal yang negative, merebak dari dalam tubuh Arley. Dirinya langsung melompat dari duduknya, sedangkan roti ditangannya terjatuh ke lantai yang kotor. Tiba-tiba, sekujur tubuh Varra merinding saat ia menyaksikan ekspresi wajah Arley.
Namun, sesaat kemudian Arley kembali menjadi dirinya yang biasa, ketika ia melihat wajah Varra yang tampak begitu ketakutan.
“V-Varra …?” ujar Arley sembari ia mengusap kedua wajahnya yang terasa cukup kaku. Tersadarlah ia jika tangannya yang hitam ikut bergetar sebab hal yang barusan. “A-apa yang terjadi padaku …?”
Di dalam kekalutan yang tengah berlangsung, seketika itu juga Varra langsung melompat dan memeluk tubuh Arley, demi menenangkan dirinya, juga sang remaja berambut mearh itu. Terkejutlah Arley saat hal ini terjadi.
Kedua tangan Arley terjepit sebab ia rangkul kuat oleh Varra. Dirinya tak mampu melihat telapak tangannya, akan tetapi, ia bisa melihat tubuh Varra yang gemetaran.
“J-jangan p-pikirkan hal itu lagi …! Bersumpahlah padaku! Jangan kau pikirkan masa lalumu lagi!” teriak Varra di dalam heningnya malam.
Lantas, terdengar suara raungan Two Tailed Dog, untuk yang kedua kalinya. Perlahan kondisi mulai mencair, dan Arley merasa kembali tenang di dalam pelukan hangat Varra.
“Aku berjanji …,” jawabnya sambil tersenyum polos dengan kedua alis terangkat, sebab rasa kepeduliannya terhadap Varra.
Membalaslah Arley dengan kembali memeluk tubuh Varra yang terasa mulai kembali tenang. Diri sang wanita tak kembali bergetar sebab rasa takutnya, bahkan kali ini ia merasa sangat nyaman dan ingin berlama-lama dalam kondisi itu.
Di malam yang amat sunyi, kedua remaja saling menenangkan perasanya dengan memeluk tubuh masing-masing. Dengan demikian, ikatan hubungan di antara mereka bertambah menguat, dan di balut dengan sedikit bumbu rahasia.
Ya … kejadian itu, untuk saat ini hanya Varra yang mengetahuinya. Ia meminta Arley untuk menyembunyikan apa yang baru saja terjadi, mengenai kejadian sebelum pelukan terjadi, dan saat ketika pelukan itu terjadi. Dengan wajah yang memerah, Varra meminta Arley untuk bersumpah agar dirinya tak membocorkan hal itu, walaupun dirinya harus mati. Tentu saja Arley menyetujui permintaan Varra dengan senyuman polosnya.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan diri Arley? Apakah ia akan mendapatkan ingatannya kembali? Dan bagaimana ia menjalani kehidupannya dalam kondisi yang seperti ini?!
Bersambung ….
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------