
Not Edited!
Kondisi di sisi Selatan Ibu Kota『Lebia』, berangsur tenang. Kawah yang sebelumnya masih membubungkan panas sebab tanah yang meleleh, perlahan mendingin serta kembali menjadi keras.
Pertempuran antara Misa melawan Lubrica, berhasil dimenangkan secara sempurna.
Namun, di tempat lain, lebih tepatnya sisi barat Ibu Kota『Lebia』. Ada sebuah pertarungan yang lebih berat dibandingkan apa yang Amylia, Aurum, dan Misa hadapi saat ini.
.
.
.
***
.
.
.
Setengah jam sebelum ledakan dahsyat di sisi Selatan Ibu Kota『Lebia』.
Kala itu, Rubius berhasil menemukan Eadwig yang tengah dalam kondisi tak sadarkan diri. Tubuhnya penuh dengan luka serta lebam tampak segar.
Rubius sangat terkejut ketika melihat kejadian ini. Menyadari jika ia tak bisa menggunakan sihir penyembuh seperti Arley, Rubius langsung menggotong Eadwig pergi menuju sisi Barat dari Ibu Kota『Lebia』demi menjauh sang sahabat dari pertempuran.
“Hal bodoh apa yang kau lakukan, Eadwig …,” gumam Rubius sambil menahan rasa cemasnya dalam hati.
Tertatih-tatih Rubius menggiring Eadwig menuju ke tempat yang menurutnya aman. Sempat beberapa kali mereka diserang oleh para Monster yang berhasil kabur dari pintu bagian Selatan. Namun, dengan mudahnya Rubius menyelesaikan mereka dengan satu rapalan mantra.
Butuh waktu lima belas menit sampai pada akhirnya Rubius berhasil menggiring Eadwig ke sisi Barat Ibu Kota『Lebia』.
Pada sebuah rumah yang masih berdiri elok, di sana Rubius membaringkan Eadwig untuk menghela sejenak nafas sebelum dirinya mencari bantuan untuk menyembuhkan sang sahabat.
Pengobatan utama ia sempat berika sebelum Rubius pergi meninggalkan Eadwig.
Luka yang tergurat dangkal, ia lumuri dengan Alcohol demi menghilangkan kuman padanya. Kemudian Rubius menyiramkan obat Antiseptik untuk menghentikan pendarahan pada luka tersebut, sebelum akhirnya dibalut dengan perban bersih.
Usai merawat kasar luka Eadwig, Rubius langsung berniat pergi mencari orang yang bisa menyembuhkan luka sahabatnya itu.
Berdirilah Rubius dari duduknya setelah perban terakhir ia ikatkan pada pergelangan tangan Eadwig.
Dengan begitu perlahan dirinya beranjak mendekati pintu—dengan niatan ingin pergi menuju sisi Utara Ibu Kota.
Sebelum dirinya berhasil pergi dari kamar pada lantai dua—rumah yang mereka singgahi itu, Eadwig tiba-tiba terbangun dari masa terlengarnya.
“Mau kemana engaku, wahai Rubius sang pemilik wajah muram,” cetus Eadwig yang perlahan bangkit duduk di atas kasurnya.
Sontak, Rubius menghentikan langkahnya sebelum ia sempat memegang tuas pembuka pintu kamar. Menoleh mata hitam nan tajamnya—melirik muka Eadwig dengan ekspresi dingin.
“Diamlah kau di sana, Eadwig. Biarkan aku pergi mencari orang yang bisa menyembuhkanmu,” ujarnya sambil memasang senyuman palsu.
Eadwig sempat terdiam sejenak ketika melihat ekspresi itu, dirinya tak menyangka jika Rubius bisa memasang wajah yang dingin sepertin ini.
“Hey … kau baik-baik saja?” tanya Eadwig yang kali ini malah merasa cemas dengan sahabatnya berambut hitam pekatnya itu.
Mereka berdua terdiam membisu dalam kondisi yang sangat tidak nyaman ini.
Keheningan sempat terjadi beberapa saat, sampai akhirnya kondisi sunyi itu pecah saat Rubius kembali bergerak demi membuka tuas pintu kamar.
“Aku baik-baik saja Eadwig,” Kali ini Rubius menampilkan senyuman tulusnya kepada Eadwig. Pikirannya kembali tenang ketika sadar jika kondisi Eadwig tidaklah separah yang dirinya bayangkan.
Terbukalah pintu kamar lebar-lebar. Rubius keluar dari kamar itu tanpa memandang ke belakang, ia terus berjalan menyusuri koridor rumah—seperti dirinyalah sang pemilik bangunan.
Namun, tiba-tiba Rubius kembali terdiam di koridor lantai dua pada rumah mewah tersebut. Keringat heran mengucur di dahinya. Sejenak ia menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat siapa yang sebenarnya mengikuti dirinya saat itu.
“Oi … kenapa kau malah mengikuti aku …?” Wajah Rubius tampak kesal ketika dirinya mengetahui jika Eadwig-lah yang membuntutinya sejauh ini. “Istirahatlah di dalam kamat itu. Aku akan mencarikan dokter untuk menyembuhkan lukamu.”
“Bukankah lebih baik kita pergi bersamaan? Dua lebih baik dari pada satu bukan?” Wajah Eadwig menyeringai lebar sembari lengan kirinya merangkul pundak Rubius dengan begitu mudah.
Rubius tak menolak rangkulan sang sahabat, ia malah merunduk untuk memikul si pangeran dari rasa sakit yang sedang di derita.
“Haah … sudah kuduga akan seperti ini kejadiannya. Mungkin meninggalkanmu di belakang gereja perpustakaan adalah pilihan yang bijak.”
“O-oi! Bercandaanmu enggak lucu tahu! Aku bisa mati di terkam monster jika berlama-lama di tengah medan perang seperti itu!” Tampak sedikit panik, Eadwig merasa jika Rubius mengatakan hal tersebut langsung dari lubuk hatinya.
Rubius tertawa kecil ketika mendengar jawaban Eadwig, lantas dirinya kembali memperbaiki kalimat yang ia lontarkan tadi kepada sahabatnya itu. “Aku bercanda. Tidak mungkin aku meninggalkanmu sendiri di sana.”
Mengindahkan kalimat sang sahabat, Rubius ikut tersenyum sambil berjalan pincang untuk menuruni tangga yang ada di hadapan mereka berdua.
***
Perlahan mereka berjalan menuju tengah jalan tanpa jeda. Sampai pada akhirnya, sekelibat bayangan berhasil memasuki sudut pandang mereka tanpa di sengaja.
Rubius dan Eadwig menatap tinggi menuju ke arah langit Selatan Ibu Kota『Lebia』. Di sana, mereka melihat sebuah makhluk yang berukuran luar biasa raksasa.
Makhluk bersisik hitam, bertanduk tiga—menusuk pada punuk belakang lehernya, bersayap besar—sekitar lima meter, berbuntut panjang layaknya kadal, dan yang paling mencolok adalah, mata merah yang menunjukkan rasa angkuh dan kepribadian aggung.
Ya, makhluk itu adalah Naga bertubuh hitam legam, layaknya bayangan di siang hari.
Tubuh Eadwig dan Rubius tak dapat berkutik, bahkan sebiji sendi pun tak mampu mereka gerakkan selepas indra pengelihatan mereka berdua menatap mata sang Naga.
Sejenak terbesit pada benak mereka berdua untuk kabur dari lokasi tersebut, tetapi tubuh mereka tak mampu merespons apa yang otak mereka perintahkan.
Sang Naga tampak terbang melingkar, mengelilingi seluruh pinggiran Ibu Kota lebia. Dan yang lebih buruknya lagi, sang Naga tampak terbang menuju ke arah Rubius dan Eadwig.
“H-hey! Bukankah ini hal yang berbahaya?!” cetus Eadwig yang masih berusaha menggerakkan tubuhnya.
“Aku tahu! Tapi aku tak bisa menggerakkan badan ini!” jawab Rubius dengan paniknya.
Dalam kondis kalang kabut, tak sengaja Eadwig mengingat jika dirinya pernah mengalami hal yang sama saat ia tengah melawan Arley.
Kejadian itu teringat jelas pada ingatannya. Kondisi ketika Arley mengamuk saat melawan Maximus, perasaan itu sama persis dengan apa yang ia rasakan saat ini.
Tiba-tiba tubuh Eadwig bisa bergerak kembali. Ia mengingat betapa mengerikannya Arley saat ia mengamuk, dan Eadwig melupakan rasa ketakutannya saat ini.
“H-He?! Aku bisa berkerak …?” ucap si pangeran sambil menatap telapak tangannya.
“Bodoh! Jangan diam saja! Tampar atau pukul wajahku agar diriku ini bisa bergerak juga!” Ketika itu, Rubius merasa semakin panik karena posisi Naga hitam itu sudah begitu dekat dari tempat mereka terdiam saat ini.
Tak basa-basi lagi, langsung saja saat itu Eadwig memukul wajah Rubius dengan begitu kencangnya. Eadwig juga sedikit panik ketika melihat si Naga hitam sudah begitu dekat dengan dirinya, sebab itulah pukulan yang ia berikan kepada Rubius jadi tak terkendali.
Dengan kuatnya Rubius terhempas menghantam tembok rumah yang berada di seberangnya. Bangunan itu pun runtuh menutupi tanah. Kabut asap mengepul tinggi ke langit, menyebabkan sang Naga Hitam melihat tajam pada lokasi kejadian.
“S-sial! Kita ketahuan!” pekik Eadwig yang saat ini menjadi super panik. “Rubius! Waktunya lari!”
Lantas, dari dalam rumah yang telah ambruk itu, muncul Rubius dengan kondisi lari terbirit-birit. “AAhh! Dasar idiot! Ini semua salahmu!”
Berusaha dengan seluruh tenaga yang tersisa, Rubius dan Eadwig berusaha melarikan diri dari tempat perkara.
Tetapi, semakin lama mereka berlari, Rubius dan Eadwig merasakan sebuah kejanggalan yang begitu aneh. Mereka berdua tak mendengarkan suara kepakan sayap Naga, melainkan Rubius dan Eadwig malah mendengarkan suara entakkan sepatu yang begitu kencang.
Menolehlah mereka berdua secara bersamaan menghadap ke belakang. Dan benar saja, mereka berdua berhasil menemukan seorang pria dengan tiga buah tanduk tertanam pada dahinya, sedang mengejar mereka berdua dengan begitu intensnya.
Berteriaklah Rubius dan Eadwig ketika melihat sosok tinggi berukuran tiga meter tersebut. Mereka yakin sekali jika sosok makhluk berukuran tiga meter itu adalah sang Naga yang tengah berubah bentuk menjadi manusia.
Ketika mereka bertiga tengah melakukan kejar-kejaran, tiba-tiba sang pria dengan tinggi tiga meter itu memanggil Rubius dan Eadwig dengan suara tebalnya. “Tunggu …,” ucapnya dengan notasi nada keren.
“Eh …?” Tiba-tiba, langkah kaki Rubius dan Eadwig terhenti saat suara gagah itu masuk ke telinga mereka.
Kepala mereka secara otomatis menoleh ke belakang. Dan ketika kepala mereka menoleh ke sumber suara, Sebuah ledakan dahsyat terjadi begitu masif—menutupi pandangan Rubius dan Eadwig, yang kala itu hanya mampu memandang sang pria berwajah sangat tampan, dengan background keren berupa ledakan Super Nova.
“Ofu …!” ucap Eadwig dan Rubius, dengan wajah tersipu malu.
Apakah yang akan terjadi dengan Eadwig dan Rubius?! Siapakah sang pria yang mengejar mereka berdua?!
Bersambung!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------