The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 115 : Twilight Eruption.



not edited!


Hari begitu indah, tak tampak awan bergelantungan di atas ibu kota [lebia]. Gemuruhnya teriakan menyumbat pendengaran mereka yang berada dalam kerumunan penonton.


 


 


Dengan lantangnya, peluit pertandingan berderu untuk memulai acara terakhir dalam rangka memeriahkan festival hari perdamaian dunia.


 


 


Didalam lapangan arena yang baru, terdapat lima orag yang saling bertanding satu dengan yang lainnya.


 


 


Posisi mereka saling berpencar dan menjauh, agar kontak fisik tidak segera terjadi. kala itu, hanya Eadwig dan Arley lah yang mengenakan senjata tumpul untuk mengalahkan para penyihir yang berada di arena pertandingan.


 


 


Setelah peluit berbunyi, RUbius langsung menjulurkan tongkat sihirnya. Dengan suara yang begitu lantang, ia langsung merapalkan mantra sihir yang mampu mendorong setiap orang dari tempat mereka berdiri.


 


 


“Aero Shock!”


 


 


Muncullah gelombang udara yang cukup besar, gelombang itu mampu menghempas batu kali, seketika itu juga mantra tersebut mengusik keberadaan keempat lawannya.


 


 


Namun tentu saja Eadwig tidak tinggal diam, diangkatnya kedua bilah pedangnya tersebut, lalu ia luncurkan serangan mentah yang mampu membelah gelombang angin tersebut.


 


 


“Wind Slash!”


 


 


Terpotonglah udara yang ada di depan Eadwig kala itu, dengan cepatnya, serangan Eadiwg merambat melalui udara dan sektika itu juga mampu membelah dua gelombang udara yang masih berkembang dengan heabatnya.


 


 


Dengan terbelahnya gelombang udara tersebut, maka kondisi Arley terancam. Karena salah satu potongannya tampak bergerak kearah dirinya.


 


 


Kali ini Arley tak berniat untuk menguras tenaganya, berlarilah ia menuju arah selatan arena yang pada saat itu, terdapat RUbius sedang berdiam diri memperhatikan kondisi lapangan.


 


 


Sontak setelah Rubius melihat keberadaan Arley yang mendekat kearahnya, langsunglah RUbius menodongkan tongkat sihirnya kearah Arleyu.


 


 


“Wow! Kau mau menyerangku terlebih dahulu Arley?!” ucap Rubius semari memasang kuda-kuda tempurnya untuk melawan Arley.


 


 


Tampak senyuman tipis di wajah Arley, lalu ia menarik bilah pedangnya yang tersemat pada pinggang kanannya.


 


 


“Siapa cepat dia yang dapat!” teriak Arley membalas perkataan Rubius.


 


 


Jarak mereka semakin dekat, Arley berlari bagaikan Angin. Walaupun ukuran lapangan ini cukup besar, namun kecepatan Lari Arley bisa dengan gampangnya memutari lapangan ini sebanyak yang Arley mau.


 


 


Merasa dirinya terancam, RUbius langsung saja merapalkan mantra sihirnya yang berikutnya.


 


 


Ia ayunkan tongkat sihirnya untuk membentuk serangan apa yang ia inginkan, sembari Rubius meraplkan mantra yang ia maksud.


 


 


“Burn Born!”


 


 


Muncul secara bertubi-tubi peluru api yang melompat kearah Arley, seketika itu juga Arley merubah pola larinya menjadi zigzag.


 


 


Didalam kekalutan ini, gelombang angin yang RUbius rapalkan tadi, akhirnya terurai karena tak ada lagi daya tenaganya sehabis Eadwig menebas gumpalan angin tersebut menjadi dua.


 


 


***


 


 


Kejar-kejaran masih terjadi. Dimana rubius mencoba melarikan diri dari kejaran Arley, secara tak terputus-putus RUbius merapalkan mantranya menuju ARley.


 


 


Lantas karena Arley tak melihat ada titik terang, akhirnya ia mencoba menyerang RUbius dari jarak jauh.


 


 


Berubahlah posisi pedang Arley, yang sebelumnya ia genggam kebelakang, saat ini, ia silangkan pedang tersebut kesebelah kirinya untuk melontarkan serangan jarak jauh.


 


 


“Gale Wind!”


 


 


Tebas Arley dengan kencang. Getaran udara pun tercipta, kala itu juga sabentan pedang Arley merembet menuju arah RUbius.


 


 


Terkejut melihat hal tersebut, RUbius mencoba untuk menghindar, tetapi tiba-tiba saja sabetan pedang tersebut hilanag dan larut dalam udara.


 


 


“Apa?!” saat itu Rubius kira serangan Arley telah gagal atau terjadi kesalahan saat Arley melakuan serangannya, namun tiba-tiba saja tubuh RUbius terpental dengan sendirinya. “Agh!” terpentallah Rubius karena serangan yang Arley lontarkan kepadanya.


 


 


Tersenyum Arley melihat hal tersebut, lalu ia berhenti berlari dan perlahan ia berjalan menuju RUbius.


 


 


“Apa yang terjadi?!” gumam Rubius pelan sembari mencoba bangkit dari tidurnya.


 


 


“Haha, seharusnya kau menghindari serangan tipuanku itu, angin itu hanya umpan, sedangkan daya lontarannyalah seranganku yang sebenarnya.”


 


 


Perjelas Arley sembari menjulurkan bilah pedangnya terhadap RUbius.


 


 


“Haah, jadi aku kalah nih?” ucap Rubius sambil mengangkat kedua tangannya.


 


 


Tersenyumlah Arley sembari mengangkat pedangnya untuk menghempas Rubius keluar dari arena tesebt.


 


 


Naun tiba-tiba saja terdengar suara deruan angin dari samping kanan Arley. tersentak Arley setelah ia melihat kesebelah kanannya, terdapat gumpalan Angin yang terpecah-pecah akibat putaran angin yang tidak beraturan.


 


 


“Gaa!” teriak Arley setelah terhempas akibat serangan yang masuk menghujam dirinya.


 


 


Muncullah seorang wanita yang menyeringai dengan bahagia, tampak ia sedang memasang kuda-kuda tempurnya dan memang sang wanita tersebutlah yang memyerang Arley.


 


 


 


 


“Nice!” RUbius pun bangkit dari posisi terbaringnya untuk yang ke sekian kalinya. Lalu ia dan Perry merangkul tangan mereka  seperti seseorang yang memang telah merencanakan diri untuk bersekutu.


 


 


Teriaklah seluruh penonton yang melihat hal tersebut, ini baru pertamakalinya pula dalam sejarah turnamen ada orang yang bersekutu pada saat final pertandingan.


 


 


“Heeh, ternyata begitu ya,” akhirnya Arley mengerti apa yang Rubius dan Perry lakukan, dengan baju yang basah kuyub, bangikitlah Arley melihat kearah RUbius yang tampak ingin melanjutkan serangan mereka berdua.


 


 


Digenggamlah pedang perak yang biasa Arley gunankan. Berseri-serilah wajah arley yang tampak menikmati pertarungan ini, arley pun melanjutkan serangannya terhadap Rubius.


 


 


“Bust Impact!”


 


 


Lompat Arley kelangit sembari ia menusuk-nusuk udara di depannya menuju ke arah RUbius dan Perry, berubahlah gelombang angin tersebut menjadi peluru-peluru udara yang menyerbu RUbius dan Perry.


 


 


Menyadari akan bahaya yang ada di depannya, saat itu juga Perry menjulurkan tongkat sihirnya dan di lantunkanlah mantra sihir yang mampu menahan serangan dari Arley.


 


 


“Water Barrier!”


Riak air


Mengucurlah air dengan cukup deras dari ujung tongkat sihir Perry, saat itu juga Perry mengotrol sihir airnya tersebut dan merubah bentuk ari yang keluar dari ujung tongkatnya tersebut menjadi tameng.


 


 


Menyambarlah peluru-peluru angin yang di lemparkan Arley kepada mereka berdua, namun serangan tersebut tidak mampu menerobos masuk kedalam pertahanan yang Perry ciptakan.


 


 


Hanya ada riak air yang bergetar akibat serangan tersebut menyebabkan serangan tersebut terpatahkan.


 


 


Namun tampak jika serangan Arley belumlah selesai, dari ketinggian langit. Arley menghujamkan bilah pedangnya kearah tameng tersebut.


 


 


“Perry! Mundur!” mengetahui rencana Arley di waktu yang tidak tepat, RUbius langsung menarik mundur Perry dari tempat dimana mereka berdiri.


 


 


Setelah mereka berdua melompat munudur, saat itu juga tebasan Arley berhasil merobek pertahanan yang Perry rapalkan. Tameng air tersebut terbelah menjadi dua dan pada akhirnya kembali menjadi genangan air di atas arena pertandingan.


 


 


Arley kembali berdiri tegap, kali ini ia memindahkan pedang yang ia genggam pada tangan kanannya, berubah menjadi ke tangan kiri.


 


 


Lantas, kembalilah Arley berlari menuju RUbius dan Perry untuk melanjutkan pertempuran mereka bertiga.


 


 


Namun tiba-tiba terdengar suara retakan yang amat menggelegar dari sudut lain arena pertandingan. lalu terdengar teriakan seorang perempuan yang Arley, RUbius, dan Perry mengenalinya.


 


 


“Eaadwiiiig!” pekik suara tersebut dari tribun penonton bagian utara


 


 


Seketika itu juga, Arley, Rubius, dan Perry menatap kaku kesumber suara retakan.


 


 


Terkejutlah mereka bertiga ketika melihat lokasi perkara. Terpampang jelas di depan mata mereka, tubuh Eadwig yang terhempas ke langit lepas bagaikan anak panah yang sengaja di lempar kelangit.


 


 


Kala itu juga, mata arley beralih kepada orang yang berada dekat dengan lokasi kejadian.


 


 


Ya,saat itu juga tampak Misa menjulurkan tangannya kelangit untuk menyelesaikan pertarungannya dengan Eadwig.


 


 


Melihat akan hal itu, Arley menyadari jika apa yang Misa akan lakukan dapat membunuh Eadwig, berubahlah posisi tubuh arley untuk berlari menuju arahnya.


 


 


Namun sebelum Arley berhasil memijak tanah, tiba-tiba saja Rubius sudah lebih dulu melompat menuju kearah Eadwig.


 


 


“RUBY!” sontak Arley terkejut akan hal itu, kakinya terselip dan ia terjatuh pada kakiknyua sendiri.


 


 


Menataplah arley kepada RUbius, saat itu juga Rubius berhasil menangkap Eadwig yang tergulai lemas di atas langit.


 


 


Tetapi tampak jika Misa tidak menaruh rasa kasihan kepada mereka berdua, saat itu juga, misa merapalkan mantra sihir yang sangat menghancurkan.


 


 


“Twilight Eruption.”


 


 


Terucap sudah mantra tersebut, Arleuy hanya mampu berteriak dengan kencang, namun akibat ledakan yang terjadi hasil dari mantra sihir Misa, suara teriakan Arley sama sekali tidak terdengar.


 


 


Bagaikan gunung api yang meletus secara miring, ledakan tersebut menghabiskan kedua orang yang berada dalam jangkauan ledakan tersebut.


 


 


Sontak keheningan terjadi seketika. Wajah Arley berubah menjadi tegang, dan tanpa perintah dari otaknya, tiba-tiba saja Arley berteriak untuk yang kedua kalinya.


 


 


“TiiIidAaaAaaaaak!” pekiknya dengan bergitu kencang.


 


 


Seketika itu juga, Misa dengan sangat perlahan melihat kearah Arley. Dan saat itu juga, tersenyum lebarlah kedua bibir Misa tampak seperti puas ketika ia melihat reaksi Arley.


 


 


***


 


 


----------------------------------------------


 


 


Hai semua sahabat pembaca dimanapun kamu berada! Jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, comment, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan memberikan sedikit pointnya, Author akan sangat senang sekali dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter demi chapternya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah! Demikian salam penutup dari Atuhor untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia! dan selalu berpikiran positif!


Always be Happy


And Happy Reading Guys!