The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 211 : Kemantapan Hati.



Not Edited!


Terjadi keributan di sebuah toko roti pada bagian distrik perbelanjaan, kota [Dorstom].


Orang-orang yang melintas di depan tokot tersebut, langsung terhenti langkahnya seperti ingin menyaksikan dan membantu sang pemilik toko, jika hal yang sang pemilik toko sebutkan adalah sebuah kebenaran.


“Aku tak akan membiarkanmu bebas kali ini! Dasar kucing pencuri!” tegas sang pemilik toko sembari ia menarik lengan Varra dengan kuatnya.


“Aduh!” Varra yang di tarik dengan kasar, seketika itu juga merasa kesakitan dan memandang Arley dengan beribu pertanyaan, mengapa … mengapa dia membawaku kemari, berulang kali Varra mengucapkan kalimat itu di dalam kepalanya.


Lantas, Arley yang tampak kesusahan menggenggam belasan kantung kertas hasil belanjaan mereka berdua saat itu, seketika itu juga Arley meletakkannya di depan toko dan ia langsung menggenggam balik tangan sang penjaga toko roti untuk menghentikan kejadian yang sedang terjadi.


“Mohon maaf paman … tapi bisakah kau melepaskan tangannya?” ujar Arley dengan wajah datarnya.


“HA?! Siapa kamu? Aku tak peduli dengan ucapanmu, tapi wanita licik ini sudah sangat sering mencuri di tokoku! Kali ini aku tidak akan membiarkannya lolos kembali!” teriak sang pria berbadan gempal tersebut sembari ia kembali menarik lengan Varra.


Akan tetapi, kali ini tindakan sang pria berbadan gempal itu tak mampu ia realisasikan. Tangannya tiba-tiba terdiam kaku dan terasa cukup sakit akibat genggaman Arley yang menahan tangan kanannya, ketika ia ingin menarik lengan Varra.


Memandang tajamlah mata Arley kepada sang penjaga toko. Sontak, sang penjaga toko langsung ketakutan saat melihat mata hijau Arley yang tak biasa. Secara sendirinya sang penjag toko melepaskan tangan Varra dari genggaman drininya.


“A-Arley … mengapa …?” gumam Varra dengan wajahnya yang kecewa. Namun Arley tidak memedulikan Varra kala itu, ia hanya menatap sang penjaga toko dengan wajah datanya.


“Paman … sepertinya kau tahu siapa wanita ini. Kalau begitu, aku ingin membicarakan sesuatu padamu,” ucap Arley, setelah ia melepaskan genggamannya kepada sang paman.


“B-berbicara sesuatu?” jawab si paman degan wajahnya yang berkeringat dingin, ia kira, dirinya akan di rampok tepat di depan tokonya sendiri.


“Iya …,” balas Arley dengan datar. “hey paman, aku ingin membeli roti dari tokomu.” Tunjuk Arley sambil ia melihat etalase toko yang menunjukkan berbagai macam jenis roti hangat nan nikmat.


Terdiamlah sang paman pemilik toko bersamaan dengan Varra, Wajah mereka tampak bingung dengan apa yang ingi Arley sampaikan.


“Hm? Apakah ucapanku kurang jelas?” ucap Arley sembari ia memutarkan kepalanya menghadap ke paman bertubuh gempal itu dan Varra yang memberikan wajah bingungnya. “Aku ingin membeli roti,” perjelas Arley, sambil ia menunjuk susunan roti yang tersemat di dalam toko tersebut.


“H-Hey … apakah kau bercanda. Aku tidak ada waktu untuk meladenimu saat ini, anak ini bisa saja kabur dan membuat keonaran di tempat lain.” Alis sang paman naik sebelah, drinya tampak tak paham dengan penjelasan yang Arley sebutkan barusan.


Bangkitlah Arley dari jongkoknya, lantas, sekali lagi ia sebutkan tujuannya datang ke toko itu. “Paman … seperti yang aku bilang … aku ingin membeli roti, Roti yang ada di dalam tokomu … juga yang pernah Varra curi darimu.”


Seketika itu juga, wajah sang paman dan Vara kembali memberikan ekspresi tercengang. “H-hey! Benarkah apa yang kau ucapkan?! Tapi apa yang wanita ini curi dari tokoku, tidak murah loh!” ucap sang paman dengan nada curiga.


Dirogohnyalah sebuah kantung dari dalam jubah putihnya. Saat itu, Arley menunjukkan koin-koin emas yang ia rogoh dari dalam kantung hewan tersebut. “Butuh berapa untuk melunasi semua yang wanita ini beli?” ucap Arley yang ketika itu tak menggunakan kalimat mencuri, karena saat ini dirinya akan melunasi segala hal yang pernah Varra ambil dari toko tersebut.


Ketika dirnya melihat koin-koin bercahaya kuning tersebut, saat itu juga sikap sang paman langsung berubah 180 derajat, layaknya seorang pedagang yang tengah melayani pemiliknya sebagai seorang raja.


“M-maafkan aku karena sikap jelekku ini! S-silahkan mampir kedalam!” ucap sang paman yang ketika itu mengepalkan kedua tangannya, dan mengelus-elusnya seperti orang yang melihat sebuah peluang bisnis.


Lantas, Arleyu langsung saja berjalan mendekati Varra, dan dirinya menggandeng tangan wanita kecil itu untuk masuk ke dalam toko yang sempat dirinya curi dahulu kala.


Berbunyilah lonceng toko saat Arley membuka pintu dari kedai roti tersebut. Dirinya langsung membawa Varra menuju sudut ruangan, yang ketika itu terdapat roti dengan harga termurah di toko roti itu.


“Kau suka roti ini kan?” ucap Arley dengan senyuman hangat pada wajahnya.


Varra hanya terdiam, alisnya mengkeruit ke atas dengan butiran-butiran kesedihan telah menumpuk pada kelopaknya. Saat itu, Varra menganggukkan kepalanya sebagai balasan dari pertanyaan yang Arley ucapkan.


“Paman! Aku ingin roti ini!” ucap Arley yang memanggil sang pemilik toko.


Datanglah sang paman bertubuh gempat tersebut, lalu ia melihat kemana Arley menunjuk. “T-tapi … itu adalah roti sisa kemarin, yang saya sengaja taruh disana untuk saya dan keluarga makan nanti.”


Berdirilah Arley dari jongkoknya. “Aku tahu … lagi pula aku sering mampir ke toko ini. Dan, bukankah kau sering mengambil roti itu, sebab kau merasa kasihan dengan sang pemilik toko, Varra?” tanya Arley kepada Varra, yang ketika itu dirinya hanya menatap tajam ke roti yang tersusun di hadapannya.


Saat itu, Arley langsung memutarkan pandangannya ke arah wajah sang paman, ia melihat wajah sang paman yang tampak begitu berpikir keras, dengan apa yang Varra lakukan selama ini. Dirinya baru menyadari jika Varra mencuri bukan untuk kesenangan dirinya, melainkan untuk bertahan hidup sampai detik ini.


“B-baiklah …! Aku akan segera menyiapkan kantungnya!” Berlarilah sang Paman menuju ke belakang kedai, sambil ia menahan emosi sedihnya, dirinya tak menyangka jika apa yang ia lakukan selama ini telah membuat hati sang remaja wanita menjadi kesusahan.


Dengan cepat dirinya kembali ke etalase toko sembari mengambil seluruh roti yang tersusun di bagian paling bawah. Saat itu, tak sengaja sang paman mendengarkan percakapan Arley dan Varra.


“Apakah hanya toko ini saja yang kau mengambil roti padanya?” tanya Arley sambil ia menggenggam tangan Vara.


Ketika itu, Varra hanya kembali menjawab pertanyaan Arley dengan menganggukkan kepalanya.


Terdiam Varra merundukkan kepalanya, saat itu, ia tengah merangkai kata atas apa yang ia rasakan saat dirinya melakukan pencurian.


“A-aku … aku melihat di toko lain, mereka tidak mendapatkan pelanggan yang banyak seperti toko ini … dan aku merasa bahwa toko ini memiliki rasa roti yang paling baik di kota seluruh penjuru kota.”


Selepas Varra mengucapkan perkatannya, tiba-tiba tangan sang paman langsung berhenti dari pekerjaannya.


Terdengar suara isak tangis yang tak kunjung berhenti dari tempat sang paman berdiri.


“M-maafkan aku … maafkan aku …!” ucap sang paman yang merasa sangat bersalah.


Arley yang memahami situasi di antara keduanya, langsung tersenyum bahagia dengan ekspresi puas padanya.


Demikianlah petualangan Arley dan Varra, dalam misi: berbelanja perlengkapan hidup Varra dan memperbaiki nama baiknya, berjalan baik dan lancar.


Setelah keduanya membawa setengah isi toko roti tersebut, juga Arley memesan seluruh roti pada toko tersebut untuk di bawakan ke penginapan [Grabalt], demi pesta malam hari ini. Lantas keduanya pergi ke bagian, Distrik Slump, untuk membagikan roti-roti yang mereka beli kepada seluruh orang yang tinggal di sana.


Mulai dari anak-anak, orang tua, pria lumpuh, sampai wanita disabilitas. Arley membagi Rata semua roti yang ia bawa bersama degan Varra.


“Varra … kamu tampak begitu cantik, sepertinya kamu menemukan tuan yang begitu baik,” ucap salah seorang wanita tua kepada Varra.


“A-ah! D-dia bukan Tuanku, nek!” jelas Varra dengan malu-malu.


"Ohh~ Maafkan aku yang sudah tua ini ... aku kira engkau telah menjadi budaknya." Sambil tersipu-sipu malu melihat keduanya, sang nenek pergi meninggalkan Varra dan Arley.


Demikian semua orang yang hidup di distrik itu langsung menikmati makan sore mereka tanpa menunggu lebih lama.


Dengan senyuman yang tertempel di wajah mereka berdua. Varra dan Arley memilih untuk pulang ke penginapan, dan membicarakan rencana mereka untuk esok hari.


Akan tetapi, saat kaki mereka melangkah pergi dari, Distrik Slump. Lagkah kaki Varra sejenak terhenti, di depan bongkahan perpustakaan yang saat ini sudah rata dengan tanah.


Ia memperhatikan perpustakaan itu dengan wajahnya yang sedih. Saat itu, Arley hanya bisa menatap wajah sedih Varra dengan ekspresi datarnya.


Di langit sore yang tampak begitu senja … untuk pertama kalinya Arley merasakan debaran jantung yang memompa ke seluruh tubuhnya. Air mata Varra … memancing dirinya untuk tetap menjaga sang wanita sampai kapanpun itu.


Dengan wajahnya yang memerah, Arley menggigit bibirnya sambil berkata. “Yosh!” dan dirinya langsung memantapkan diri, untuk mensuport Varra dengan segala tenaga dan harta yang ia miliki.


Bersambung!~


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!


----------------------------------------------