The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 235 : Salah Paham.



Not Edited !


Malam telah tiba, tenda telah terpasang, dan api sudah di hidupkan. Tampak keluarga Tomtom sudah sangat terbiasa dengan kehidupan yang seperti ini.


Saat ini, sudah tiga hari berlalu, semenjak perjalan mereka menuju bagian Barat benua [Horus] di lakukan.


Hidangan makan malam sudah di hidangkan, meja kayu telah dipasang di samping api unggun. Demikian piring-piring putih itu tersemat di atas meja kayu yang memiliki tinggi setengah meter dan lebar dua meter persegi tersebut.


“Menu kita hari ini, adalah Salad & Rabit Meat,” ucap paman Radits, yang telah selesai menghidangkan makan malam mereka.


“Waaah!” Secara serempak, mereka bertiga langsung bergumam, sembari liur mereka mengalir deras, tak tahan ingin menyantap masakan sang paman.


Tak berlama-lama, merka pun langsung menyantap makan malam selepas doa usai di panjatkan. “Selamat makaan!” ujar mereka semua secara serempak.


Sendong menyiduk, garpu menusuk, dan pisau memotong. Satu persatu makanan yang tersedia di atas meja, langsung habis sesuai alurnya. Yang pertama mereka makan adalah Salad, untuk mencuci mulut mereka, lalu, selesai mulut mereka basah dengan Salad, lanjutlah keempat orang itu memakan daging kelinci, yang di goreng dengan mentega, dan sedikit merica beserta garam, sebagai penyedapnya.


Tidak menggunakan bumbu yang lain! Fungsinya adalah, agar rasa khas dari daging kelinci ini, membumbung keluar dari umaminya, dan mencair di lidah orang-orang yang memakannya.


“UUUuummmmm! Bikmatnyaa!” Dengan mulut yang terisi penuh, mereka semua memuji masakan yang malam itu mengisi perut mereka. Pipi mereka menggelembung, dan leher mereka sempat serat saat menelan daging-dagign itu. Tetapi, dengan segelas air putih, segalanya menjadi lancar kembali.


Dalam hitungan menit, makan malam pun usai dengan sempurna.


***


Peralatan makan malam sudah di bersihkan, meja sudah di lipat, dan yang tersisa hanya tenda peristirahatan, dan api unggun yang  berkobar hangat. Di dalam tenda, tampak Emaly sudah tertidur lelap, sedangkan Arley, Varra dan paman Radits. Mereka bertiga masih di luar, menatap langit cerah, yang menaburkan triliunan bintang, pada surya.


“Seberapa lama lagi paman, untuk kita sampai di tempat tujuan?” Sambil mengisi waktu istirahat mereka, Varra mulai melontarkan pertanyaan kepada paman Radits.


“Mmmm, sekitar tiga sampai empat hari lagi,” jawab sang paman, sambil mengunyah rumput manis.


Keheningan terjadi sejenak, saat itu, Arley tampak menggosok tongkat sihirnya, dan sesekali ia meninggikannya ke atas langit sambil melihat bintang melalui celah tongkat tersebut.


“Kalau tidak salah, kota yang kita akan kunjungi, bernama kota [Rapysta], ya, Paman?” Kali ini Arey yang melontarkan pertanyaan.


“Yup, tapi bukan di kota itu kita akan berhenti. Lebih spesifiknya, kita akan berkunjung ke desa [Uaccam], tempat di mana sahabatku tinggal.” Ketika itu, paman Radits menatap Arley saat mereka berbicara.


“Kenapa kita jauh-jauh kesana? Bukankah jika kita kehutan, kita bakal menemukan banyak barang-barnag langka?” ujar Arley.


Tertawalah paman Radits. “Kau belum pernah meminum susu sapi yang di ternak di sana, kan? Sekali kau mencicipnya, maka susu sapi di tempat lain, hanya akan terasa seperti air putih.” Lanjut sang paman terkekeh saat ia membayangkan kenikmatan susu tersebut. “Manisnya susu itu, kelembutan teksturnya, dan aroma yang amat manis. Kita tidak akan pernah menemukan susu dengan kualitas ‘Royal’ seperti ini, kecuali di desa [Uaccam].”


Mendengar rincian sang paman, Arley dan Varra langsung menenggak ludah mereka sendiri. “S-sebegitu nikmatnya kah, susu itu?” tanya Varra yang dirinya sangat menyukai susu.


Lagi-lagi, sang paman terkekeh. “Tapi bukan hanya susunya loh yang nikmat. Keju buatan mereka, juga terasa sangat luar biasa. Aku tak pernah memakan keju senikmat itu, setelah kepergian terakhirku menuju desa tersebut. Setelah aku mencicipi keju mereka, maka, keju-keju yang lain, hanya terasa seperti mentega kering yang gagal di olah.”


Tak kuasa menahan imajinasi mereka. Arley dan Varra langsung menggaruk-garuk kepala mereka, berniat untuk menghilangkan delusi mereka, akibat cerita paman Radits.


Melihat sikap kedua remaja itu, paman Radits langsung tertawa terbahak-bahak, dan bahkan suaranya sampai membahana ke seluruh penjuru lahan hampa tersebut.


Mereka, saat itu berada di tengah ladang bunga, yang posisinya sangat cantik dan harmonis. Tak ada yang berani mendekat ke ladang ini, sebab bunga-bunga cantik tersebut, mengeluarkan aroma yang di benci oleh para hewan buas, juga monster-monster yang hidup di sekitaran hutan. Namun, aroma bunga ini berefek terbalik untuk manusia.


Selain di gunakan sebagai pengharum ruangan, bunga ini juga sering diguanakan sebagai aroma relaksasi di beberapa panti pijat.


Kembali suasana menjadi hening. Ketiga orang itu melakukan aktiftas mereka masing-masing. Arley sedang asik memandangi tongkat sihirnya. Varra asik menghapal buku sihirnya, dan paman Radits Asik mengasah pisau tempurnya, yang sering ia gunakan sebagai pisau masak.


Di saat Varra sudah merasa mengantuk, sekilas ia melihat Arley, dan mengagumi wajah sang pria dengan sangat puas. Ia terus melamun dan ingin sekali untuk memeluk Arley dengan begitu mesra. Tetapi ia tetap menjaga nafsunya agar tidak bertebar liar, tak terkendali.


Akibat Varra terus memandang lembut Arley, si remaja pria pun menyadari akan hal itu. Dirinya juga merasakan hal yang sama, ia ingin berdekatan dengan Varra. Tapi Arley tidak serupa dengan Varra, ia adalah pria yang polos dan melakukan apa pun sesuai keegoisannya. Maka dari itu, Arley pun langsung bangkit dari duduknya, dan ia langsung bergeser ke sebelah Varra.


“E-eh? Arley?” Tentu Varra terkejut sebab perlakuan Arley padanya. Saat itu, Arley langsung duduk di samping Varra, dan tidak ada jarak di antara mereka. Si remaja pria menginginkan hal itu, dan Varra pun tidak menolaknya. Mereka begitu dekat, bahkan kedua kulit mereka saling bersentuhan.


Paman Radits yang melihat itu, dia hanya tersenyum dan bersyukur kedua remaja ini bisa akur. Dalam hati terdalamnya, paman Radits sangat mensuport hubungan romantis di antara Arley dan Varra. Tapi ia tidak bisa mendorong keduanya terlalu terburu-buru. Terbilang usia Arley dan Varra yang masih sangat muda, paman Radits juga hanya ingin menikmati cinta polos dan murni di antara mereka berdua.


“K-kenapa?” tanya Varra, yang bingung mengapa Arley mau duduk di sampingnya.


“Tidak apa-apa, aku hanya ingin di dekatmu saja,” ucap Arley, sambil ia kembali mengusap tongkat sihir berwarna putihnya itu.


Wajah Varra memerah, tapi ia bisa mengontrol dirinya sendiri. Karena lelah, Varra mencoba untuk menaruh kepalanya, pada pundak Arley. Dengan begitu perlahan ia menaruhnya, tapi, Arley yang menyadari sikap Varra, dirinya malah langsung membelai kepala Varra, dan memaksanya untuk menaruh kepala si remaja wanita, pada pundak dirinya.


Varra tentu tidak menolaknya, hanya saja, ia cukup terkejut dengan sikap Arley yang cukup berani seperti ini, di malam yang langka itu. “Kamu tidak risih?” tanya Varra dengan nada manisnya.


Arley hanya tersenyum, sambil ia menikmati malam itu dengan kehangatan kedua tubuh mereka, yang saling berdekatan.


Yang tadinya Varra merasa cuku mengantuk, saat itu ia tak merasakan hal itu lagi. Jantungnya berdebar, tetapi tidak terlalu kencang. Semua ini ia lewati secara perlahan-lahan. Kedua remaja ini, benar-benar menggunakan waktu mereka, untuk menikmati malam yang panjang itu.


“Arley,” panggil Varra, kemudian ia melingkarkan tangannya pada lengan Arley.


“Hmm?” Tampak Arley tak menolak itu, ia hanya kembali memperhatikan tongkat sihirnya, dan ia sesekali menggosok tongkat itu.


“Tidak apa-apa, aku hanya ingin memanggil namamu,” gumam Varra, yang tersenyum-senyum sendiri di balik perasaan bahagianya itu. lalu, Varra ikut memperhatikan tongkat sihir Arley, dan ia merasa takjub dengan tongkat sihir itu.


Bentuknya yang lurus, desainnya yang elegan, segalanya tampak sempurna untuk tongkat sihir ini.


“Kamu masih belum ingat, siapa yang memberikanmu tongkat itu?” tanya Varra.


“Belum,” jawab Arley, lalu tangannya terhenti sejenak dan mengingat-ingat apa yang tersisa pada memorinya. “tapi, aku sempat memimpikan seseorang … dia seorang kakek tua, berjanggut putih, dan orang itu tersenyum lembut kepadaku. Apakah mungkin orang itu yang memberikan tongkat ini kepadaku? Lagi pula, ia tampak mengenakan jubah penyihir sepertimu.”


“Mmmm~ bisa jadi sih. Tapi jangan terlalu di paksakan, aku tak mau kau menjadi linglung seperti kejadian yang lampau.” Lalu, Varra kembali semakin memepetkan tubuhnya kepada Arley.


“Tentu saja, aku tak ingin menyusahkan siapapun, terutama kamu dan paman Radtis.” Dan Arley meutup pembicaraan mereka, dengan menyapu rambut Varra, menggunakan tangan kanannya.


Ketika itu, Arley sejenak, melihat sarung tongkat sihir milik Varra, yang tersemat di pinggang sebelah kirinya.


“Itu tongkat milikmu?” tanya Arley.


Varra pun menoleh ke tempat Arley menunjuk. Lalu ia menganggukkan kepalanya, sebagai tanda, bahwa apa yang Arley katakan adalah sebuah kebenaran. “Iya, ini tongkat sihir yang aku dapat dari toko besi milik paman Foss,” ucapnya.


“Boleh aku melihatnya?”


“Tentu~”


Kemudian, Varra menarik tongkat itu menggunakan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya, masih melingkar di lengan kiri Arley. Di berikannyalah tongkat itu kepada Arley. Lalu, Arley mengambil tongkat itu tanpa segan-segan.


Tongkat berwarna merah, dengan beberapa lekukan unik padanya. Bentuknya sangat umum, dan sepertinya, tongkat ini adalah tongkat sihir yang di buat secara comersil.


“Sejauh ini, rasanya, nyaman-nyaman saja. Aku tidak bisa membandingkan tongkat ini, karena tongkat ini adalah tongka sihir pertamaku,” jelas Varra.


Arley kemudian memainkan tongkat tersebut, ia memutar-mutar tongkat itu dan melihat segala sisinya. Lalu, setelah ia puas, Arley mengebalikan tongkat itu kepada Varra.


“Ini~” ucapnya sambil memberikan tongkat itu dengan tangan kanan. Varra pun mengambil tongkat itu degan tangan kirinya, dan ia hanya menggeletakkan tongkat itu di atas celana rok, yang ia kenakan sekarang.


Lantas, Arley kembali melihat ke arah tongkat sihirnya, dan terlihat seperti ia sedang memikirkan sesuatu. “Hey, apakah ada perbedaannya, jika kau menggunakan tongkat sihir berbeda bahan baku, seperti … kekuatanmu akan bertambah, atau sebagainya?” kembali Arley bertanya dengan pertanyaan liarnya.


Varra pun cukup tertarik dengan pertanyaan itu. “Emmm, m-mungkin? Aku belum pernah mencobanya.”


Saat itu, keheningan terjadi sejenak. Arley memandang mata Varra, dan Varra memandang mata Arley. tampak seperti mereka memikirkan hal yang serupa.


“Mau mencobanya?” ujar Arley, yang memberikan Varra izin, untuk menggunakan tongkat sihirnya. Jujur, Arley sangat penasaran dengan fungsi dari tongkatnya itu. Apakah tongkatnya ini hanyalah tongkat biasa, atau tongkat ini merupakan tongkat sihir yang spesial.


“Apakah boleh?” Varra juga ingin mencobanya, tapi ia ragu, sebab tongkat itu merupakan barang berharga milik Arley.


Lantas, Arley menganggukkan kepalanya. “Ya, tentu saja,” jawabnya.


Tak berlama-lama, tiba-tiba kedua remaja itu langsung berdiri, dan mereka pergi ke suatu tempat yang cukup jauh dari lokasi penginapan.


Paman Radits pun melihat mereka berdua pergi dari tempat mereka bersandar tadi. “He?! Kemana mereka pergi?” Lalu, paman Radits mulai berspekulasi liar. “J-jangan-jangan?! Mereka ingin menaiki tangga kedewasaan!? HA!?—Aku tak boleh membiarkan hal itu!” Sontak, sang paman langsung mengejar, dan mengintip mereka berdua.


Arley dan Varra berjalan cukup jauh, mereka melipir ke sisi terdekat dari hutan. Sesampainya mereka di sana, Arley pun memberikan tongkat itu kepada Varra.


Di sisi lain, paman Radits tampak mengendap-ngendap, mengintip dan menguping pembicaraan mereka berdua. Sekilas, paman Radits tak mampu melihat kedua remaja itu dengan jelas, sebab Varra Arley menghalangi badan Varra yang berdiri di depan si remaja pria itu.


“Ini,” ucap Arley, memberikan tongkatnya.


“u-um …,” lalu Varra mengambilnya.


Di peganglah tongkat sihir putih itu oleh Varra. Kemudian, Varra berbalik badan, dan ia mengarah menuju hutan. Kala itu, Vara menunjuk hutan dengan tongkat sihir Arley, lalu ia mulai merapalkan mantra sihirnya.


Akan tetapi, saat Vara mengkonsentrasikan energi [Mana] ke tangan kanannya, tiba-tiba energi [Mana] Varra, seperti tersedot kuat—terhisap secara paksa, masuk ke dalam tongkat putih itu.


“Ahn!” teriak Varra yang menahan sakit. Ia mencoba untuk memutuskan energi [Mana-nya], tatpi, tongkat itu seperti menghisap secara paksa, dan tak terkendali.


“V-varra?” saat ini, Arley masih tak mengetahui, jika Varra sedang kesusahan. Lantas, tubuh Varra menggeliat, sekujur badannya terasa panas, dan ia hampir kehilangan keseimbangan. Arley yang bertindak cepat, lalu memeluk Vara dengan Erat. “V-Varra?”


“A-Arley! A-aku enggak kuat …!” gumam Varra dengan suara mendesah kesakitan. “L-lepaskan, tolong lepaskan …! Tubuhku terasa panas! Ahn!” ujarnya.


“Sekarang? Tapi tampaknya sudah mau keluar!?” Saat itu, Arley melihat, dari ujung tongkat sihir Varra, ada sebuah percikan api padanya.


“A-aku gak tahan! Tolong Arley, Lepaskan!” teriaknya dengan suara yang tinggi. “AArleyy!” Pekik Varra dengan kencang.


“V-Varaa!” sontak Arley langsung menarik tongkat sihir Varra. Dan saat Arley menarik tongkat itu, tiba-tiba paman Radits keluar dari tempat persembunyiannya.


“STTOOOOPP!!” teriak sang paman. “K-kalian! Perbuatan mesum apa yang kalian lakuikan?!” ucap Paman Radits, yang memarahi Arley dan Varra. “Aku paham kalian saling suka, tapi melakukan itu di umur yang masih muda—” namun, belum selesai ia memberi nasihat, tiba-tiba Arley dan Varra membalikka badan mereka dan melihat ketampat paman Radits.


“Paman?” ucap Arley.


“He?” tutur si paman.


Ketika itu, suasana kembali hening, hanya lambaian angin yang terasa di antara mereka bertiga.


“K-kalian … tidak melakukannya?” tanya si paman dengan pikiran kotor.


“Melakukan …? Apa?” Kembali Arley bertanya.


Sang paman pun memasang wajah masam, ia merasa sedikit kecewa, tetapi ada rasa lega juga. “Ahh … kalian membuatku salah paham saja. Lagian, apa sih yang kalian lakukan, gelap-gelapan di sudut hutan seperti ini. Jangan membuatku kecewa dong! Eh, maksudnya, cemas dong!” dumel si paman.


“Ha?” Namun, Arley dan Varra tak paham apa yang sang paman ucapkan. “Erm … maaf paman, tapi, kami hanya mencoba tongkat sihirku saja kok.” Arley kemudian menjelaskan situasinya.


“Tongkat sihir?” Sang paman pun sejenak melihat tognkat yang Arley genggam dengan tangan kanannya. “Ah, kau meminta Varra menggunakan tongkat sihir itu?”


Mengangguklah Arley, lalu ia mendudukkan Varra di atas tumpukan bunga. “Iya, Paman. Tapi tampaknya, tongkat ini tidak sepadan dengan Varra. Entah mengapa, Varra terlihat kesakitan saat ia menggunakan tongkat ini.”


“Ahh … jadi itu sebab mengapa Varra mendesah, benar-benar membuatku salah paham saja,” dumel si paman dalam hati. “Baiklah-baiklah! Aku paham sekarang. Sekarang, bawa Varra ke dalam tenda, ini sudah larut malam. Besok kita akan melakukan perjalanan jauh.” Paman Radits pun meninggalkan Varra dan Arley di sana.


Ketika itu, Arley langsung menatap Varra dengan ekspresi bertanya-tanya, ia tak paham mengapa si paman bersikap demikian. Lalu mereka berdua yang masih merasa kebingungan, langsung tertawa lepas seketika itu juga.


Demikian, Arley membawa Varra kembali ke dalam tenda, dan mereka pun beristirahat, sampai matahari pagi menjemput mereka semua, untuk melanjutkan perjalanan.


Bersambung !


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!


----------------------------------------------