The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 84 : Penangkal Petir!



Mencekam dan menakutkan! Semua orang hanya bisa merasakan horor ketika melihat kejadian ini, tidak ada satu pun dari mereka yang mampu berbicara ketika berada didalam posisi seperti ini!


Melompat lah aku langsung turun ke bawah. Gelombang petir masih berkecamuk menghantam tubuh Aslan yang saat ini sedang kejang dan bergetar akibat tersengat listrik voltase tinggi. Tampaknya ia sedang berusaha menahan rasa sakit yang menusuk bertubi-tubi itu.


“Rubius!! Matikan sihirmu sekarang juga!!” teriakku sembari membentak Rubius.


“Eh?! He!?” Namun Rubius malah sama bingungnya dengan orang lain. -Sial! Tampaknya Rubius tidak mengetahui apa yang telah ia perbuat!


Aku tidak bisa menyentuh Aslan begitu saja! Jika aku langsung melompat ke tempatnya, maka aku yang akan tersengat listrik. Namun, dilain pihak, jika aku menyerangnya dengan pedangku, bisa-bisa Aslan yang akan tewas saat itu juga! Ugh aku harus bagaimana !?!


Sekilas aku melihat ke-arah Rubius, wajahnya terlihat pucat dan ia tampak kebingungan dengan kondisi yang ia ciptakan. Tubuhnya bergetar sembari ia berusaha untuk mematikan sihirnya. Ia gerakkan tongkat sihir yang ia genggam kesana kemari, namun tidak ada reaksi.


Sontak aku yang sudah kepalang kesal. Langsung aku berlari menuju Rubius dan saat itu juga aku mengambil tongkat sihir yang ia genggam.


“Berikan itu padaku!” teriakku kepada Rubius, lalu aku langsung berlari mendekat ke-arah Aslan. Kusodorkan tongkat ini sembari mencoba berfikir bagaimana caranya aku bisa menetralkan petir yang menyambar dengan hebat tepat di hadapanku ini!.


“Berfikirlah Arley, berfikir!!『Elementum』apa yang bisa menetralkan petir!? ” gumamku dalam hati sembari berfikir keras langkah apa yang aku harus ambil.


Tenang Arley, tenang! baiklah, pertama-tama elemen air. Elemen air bisa menjadi konduktor listrik, namun air saja tidak cukup. Jika aku siram air ke-arah Aslan, saat ini juga ia akan terrebus dengan air tersebut. bagaimana dengan tanah? Tanah adalah penetral listrik terbaik, Jadi … Ah!!


Lalu saat itu juga aku mengetahui cara menyelesaikan sekelumit perkara yang ada dihadapanku ini.


Tongkat aku arahkan ke Aslan, namun sejenak aku menurunkannya ke tanah, dan dengan mantap aku ucapkan mantra『Elementum』tanah.


“Bats!” Dengan cepat warna bajuku berubah menjadi coklat, tanda bahwa skill pengubah bajuku masih bekerja dengan baik!


“Tera Informibus!!~ ”


Seketika itu juga tumbuh dari dalam tanah bebatuan runcing yang menjulang ke-arah Aslan. Namun belum selesai sampai disini saja. Aku lalu mengucapkan mantra kedua yang bisa menyalurkan aliran listrik ke tanah yang baru saja aku ciptakan tadi.


“Bats!” Lalu warna bajuku berubah menjadi biru~


“***Aquam Adducen\~!***“


Teriakku sembari menggerakkan genangan air yang tergelinang di samping arena, sebab bekas pertarungan yang telah terjadi sebelumnya. Untaian air tercipta dari sihir yang baru saja aku rapalkan. Lalu aku gerakkan air itu menuju bebatuan runcing yang aku ciptakan barusan.


Saat itu juga, aku langsung membasahi sekujur lapisan luar bebatuan yang terlihat kokoh nan tajam tersebut dengan air yang aku kontrol menggunakan mantra “Aquam Adducen~”. Yap, mantra yang pernah aku pelajari tetapi tak pernah aku gunakan. Mantra ini sangat simple dan hampir tak berguna.


Fungsi mantra “Aquam Adducen” adalah untuk memindahkan air dari satu tempat ke tempat yang lain, jadi tidak terlalu berfungsi di medan perang. Namun mantra ini sangatlah berfungsi di kehidupan rumah tangga. Seperti untuk menyuci baju, memberishkan rumah, mengepel lantai, dan hal lain sebagainya.


Demikian aku menyadari jika air bisa menjadi konduktor listrik, namun hal tersebut masih terbilang sangat lemah. Besi adalah salah satu konduktor elektrik terbaik dalam zat periodiknya. Dan aku menyadari jika keramik di bawah kaki kami ini memiliki sedikit unsur zat besi padanya.


Begitulah rencana liar yang dapat aku pikirkan dalam waktu yang singkat ini. Dan tentu saja hal itu akan aku lakukan sekarang juga!


Dari bebatuan licin tersebut aku lontarkan aliran air ke arah Aslan yang sudah terdiam kaku.


“BZZztttt!!! “


“Brrttt!!!


“Blurpp! PSsshh~”


Seketika itu juga, ketika ujung dari air yang aku gerakkan tersebut menyentuh gelombang listrik yang saling menyambar dengan hebat ini. Secepat kilat! Seluruh aliran petir yang mengelilingi Aslan terserap ke-aliran tersebut dan merasuk dengan pesat kedalam tanah. Sejenak terjadi getaran pada tanah akibat gelombang listrik yang merambat mengikuti kontur dataran yang kami jejaki ini.


Hening dan sepi. Seluruh orang masih terdiam walaupun mereka telah menyadari jika kondisi mencekam telah berakhir. Sontak aku mendengar seseorang terjatuh simpu tepat dari arah belakangku. Ketika aku melihatnya, ternyata Rubius yang terjatuh pada kedua kakinya tersebut.


“S-syukurlah …~” ucap Rubius dengan nada yang pasrah. Saat itu juga.


Juga secara tiba-tiba, seluruh orang yang berada di ruangan lobby kaca atas arena, mereka semua turun ke bawah untuk melihat kondisi dari Aslan yang sedang terkulai lemas di lantai arena.


“Hey tim medis!! Cepat atasi ini!” Teriak Michale dengan lantang.


“Tidak perlu! biar aku yang tangani ini!” ucapku dengan nada yang tegas. Pertempuran melawan waktu belum berakhir. Tim medis tidak akan mampu menyelesaikan kasus seperti ini.


Bergegas aku berlari menuju Aslan. Sesampainya aku di sebelah Aslan, aku langsung memperhatikan kondisi tubuhnya yang saat itu, sudah sangat mengerikan. Mulai dari rambut, bulu mata, bahkan bola matanya. Semuanya telah matang dengan sempurna.


Ini benar-benar kondisi yang sangat mencemaskan! Seketika itu juga aku mendekatkan telingaku ke-arah dada Aslan. Syukurlah! dentuman jantungnya masih terdengar walaupun cukup pelan. Dengan sigap aku arakan tongkat sihir milih Rubius ini ke arah tubuh Aslan, dan saat itu juga aku kumandangnkan mantra penyembuh terbaik yang pernah aku pelajari. Demikian warna bajuku kembali menjadi putih.


“***Lux Sanator!!***”


Teriakku dengan kencang. Tetapi suatu hal yang tak terduga terjadi tepat di depan wajahku!


“Pats!” muncul percikan listrik dari ujung tongkat yang aku gunakan, dan seketika itu juga ledakan kecil terjadi dari dalam genggaman telapak tanganku. spontan secara tiba-tiba, terpentallah tongkat sihir milik Rubius tersebut ke arah selatan arena!


“A-apa!?” seketika itu juga aku terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


Apakan Aslan bisa di sembuhkan?! Bagaimana nasib Aslan dan Rubius kedepannya?!


***