The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 69 : El-Colloseum & 5 Kingdom.



Terlihat begitu silau, dan tampak sangat terang.


Demikian tak ada yang dapat menutupi teriknya matahari ketika ia bersinar dengan sangat amat cerah.


Dari cahayanya yang panas, tak ada segumpal awan pun yang tergantung di atas langit untuk menutupi radiasi sang surya.


Sesekali burung-burung terbang di atas langit bermandikan terikanya matahari sembari mencari makan.


Begitu pula dengan kondisi ibu kota [Lebia].


Saat ini pusat kota sangatlah sepi, bahkan bisa di katakan sedang dalam kondisi mati suri.


Kenapa demikian? karena seluruh masyarakatnya saat ini sedang berkumpul di  “Stadion [El-Colloseum] ” yang berjarak hanya 400 meter dari pekarangan istana kerajaan.


Hal ini memang hanya terjadi sekali dalam setahun. Sampai-sampai seluruh masyarakat rela meninggalkan pekerjaan mereka hanya untuk menikmati gala Festival yang menentukan nasib dan masa depan benua [Horus] di masa yang akan datang.


.


.


.


***


.


.


.


Setiap setahun sekali, kelima negara utama pada benua [Horus], mengadakan pertemuan untuk mengulas apa-apa saja yang telah terjadi pada setahun kebelakang, serta memprediksi apa yang akan terjadi setahun kedepan.


Namun di sela-sela pertemuan antara kepala negara ini, mereka mengirim kan lima orang kandidat calon kesatria dan penyihir, yang saat ini sedang menjadi calon kesatria dan penyihir terbaik di negara mereka.


Setiap negara, memiliki karakteristik kebangsaan serta pribadi yang berbeda dengan negara yang lainnya.


Contohnya seperti negara dengan bendera berwarna merah.


Seluruh umat manusia di benua [Horus] mengetahui bahwa, negara ini adalah negara paling berani, serta masyarakatnya memiliki prilaku paling jujur dibandingkan negara yang lainnya. Logo negara mereka adalah harimau, yang melambangkan, kejujuran, respek, tanggung jawab, serta keadilan.


Mereka menyebut negara ini dengan nama [Simbad].


.


.


.


Kemudian negara dengan warna bendera biru bagaikan air di laut lepas.


Masyarakatnya di dominasi dengan wanita-wanita cantik rupawan, serta berprilaku sopan nan dermawan yang akan membuat semua orang terpikat jika melihat kecantikan mereka. demikian logo negara mereka adalah Putri Duyung, yang melambangkan kecantikan, ke-elokan, kedermawanan, kesopanan, dan peradaban yang baik.


Orang-orang menyebut negara ini dengan nama [Atargatis].


.


.


.


Selanjutnya negara dengan bendera berwarna hijau.


Negara ini memiliki harga diri yang sangat tinggi. bahkan negara ini sering berseteru sesama masyarakatnya sendiri dan mengakibatkan perang antar saudara yang tak dapat dihindari. Logo negara mereka adalah Naga, yang melambangkan martabat, jati diri, gagah berani, dan rasa kebanggaan yang tinggi.


Bangsa ini dikenal dengan nama [Akhekh].


.


.


.


Lalu yang terakhir adalah bendera warna kuning.


Mayoritas masyarakatnya adalah pedagang dan inventor. mereka merupakan salah satu negara dengan teknologi termaju pada saat ini, demikian rata-rata masyarakatnya adalah kutu buku. Negara ini memiliki logo Rajawali, yang melambangkan intelektual, pengabdian, kebebasan, dan Pemecah Solusi.


Penduduknya menyebut negara mereka dengan nama [Regalist].


.


.


.


***


.


.


.


[El-Colloseum], Adalah nama sebuah stadion yang didalamnya terdapat sebuah lapangan luas dan di sekeliling lapangan itu berjajar kursi-kursi penonton yang terbuat dari batu.


Stadion ini adalah sebuah tempat yang sangat sakral. Biasanya di gunakan untuk acara penting seperti pertarungan antar kesatria atau di sebut pertarungan antar [Gladiator].


Mereka para kesatria yang akan naik ke pangkat yang lebih tinggi, wajib mengikuti pertarungan ini dan harus mengalahkan lawan tandingnya sebanyak jumlah yang telah di atur.


Misalkan seorang kesatria ingin menjadi seorang Kapten, maka ia harus mengalahkan sepuluh orang secara beruntun.


Kemudian jika ia ingin naik ke pangkat Kolonel, maka ia harus menumbangkan 100 orang secara beruntun.


Serta yang paling susah untuk di dapat adalah pangkat Jendral [Generalissimo], dimana orang itu harus menumbangkan 1000 orang yang didalamnya tercampur antara Prajurid, Kapten, dan Kolonel.


Lalu fungsi lain dari [El-Colloseum] adalah tempat merayakan hari ulang tahun negara, dan tempat di selenggarakannya seleksi penerimaan murid didik baru pada Universitas penyihir [Barbaron] dan Sekolah kesatria [Arthur].


Seleksi ini biasanya di serentakkan dengan “Festival hari perdamaian dunia” yang di selenggarakan setiap triwulan akhir, pada tahun [Axcel] di benua [Horus].


Demikian karena Festival ini di selenggarakan satu kali setahun, maka seluruh masyarakat di kerajaan [eXandia] berbondong-bondong menghadiri acara ini, bahkan ada di antara mereka yang jauh-jauh datang dari luar kota, karena hanya ingin mengikuti seleksi, atau hanya untuk menonton acara Festival ini saja.


Sekian lah penjelasan mengenai stadion [El-Colloseum].


.


.


.


***


.


.


.


Dalam antrian yang padat merayap, terlihat seorang remaja pria yang sedang berdiri lelah menanti gilirannya untuk mendaftarkan diri dalam seleksi penerimaan calon siswa tahun ini.


Kondisi antrian pada siang hari ini, masih terbilang sangat lah ramai.


Padahal sang remaja telah masuk kedalam antrian sejak pagi buta. namun setibanya ia di loket pendaftaran, remaja tersebut melihat antrian pendaftaran ini sudah mencapai ratusan meter ....


“Ayo berbaris yang rapih! Hey kau yang di sana, jika kau tak ikuti aturan maka kau akan di disdualifikasi!”


Teriak seorang pengawas seleksi yang dengan gigihnya bekerja dalam panasnya terik matahari.


Kondisi di tempat pendaftaran sangatlah terik, bahkan saat ini terlihat dengan jelas tanah di bawah kaki setiap partisipan menguap seperti air yang mendidih, padahal saat ini tidak ada air di bawah kaki para calon peserta seleksi itu.


“Ahh! Panaass!! Heyy bisakah kalian lebih cepat lagi membagikan kertas itu!”


Teriak orang yang dari tadi membuat kerusuhan, tentu saja sang pria pengawas seleksi langsung menghampiri sang pembuat kerusuhan dan mengusirnya agar tidak mengganggu proses pendaftaran ini.


Lalu tibalah giliran sang remaja yang wajah pucatnya sudah bermandikan keringat.


“Namanya siapa Tuan?”  Ucap sang wanita yang menjaga loket, kondisi sang wanita saat ini sudah sangat tidak karuan, keringat di mana-mana, bahkan rambutnya sudah sangat berantakan.


“Arley …” Jawab sang remaja sambil menarik tudung kepalanya agar orang-orang tidak melihat wajahnya.


“E-emm, Tuan Arley saja …?”  Tanya sang wanita dengan alis yang mengkerut.


Sedikit penjelasan, di dunia ini, seseorang yang hanya memiliki satu nama biasanya adalah seorang budak, atau seseorang yang di hinakan oleh negara. Maka demikian jika seseorang memperkenalkan diri mereka dengan hanya satu nama, orang itu akan di kucilkan atau orang lain akan merasa jijik dengannya.


Demikian logika di dunia ini, dunia yang aneh dan penuh misteri.


“-Arley Benedict! ” Cetus sang remaja sambil menggebrak meja dengan kedua tangannya.


Tentu saja sang wanita terkejut dengan hal itu. namun Arley punya alasan mengapa ia marah.


Arley bukanlah orang yang suka membedalan kastah, jika ia di usik karena masalah fisik, maka ia bisa sangat marah dan merasa terusik.


“B-baiklah Tuan Arley Benedict! Maafkan saya atas perkataan saya tadi …”


Dengan nada lesu sang wanita menulis nama Arley pada selembar kertas, dan pada selembar kertas itu juga terdapat angka yang melambangkan jumlah peserta yang menghadiri seleksi tahun ini.


“Permisi tuan Arley, bisakah anda membalikkan badan?”


Tanpa berlama-lama Arley membalikkan badannya, lalu sang wanita pun menempelkan nomor peserta di punggung Arley. Selepas itu, Arley menandatangani kertas kehadiran dan ia langsung masuk ke ruang tunggu peserta seleksi penerimaan calon siswa baru.


***


Memang beberapa kali terdengar suara pedang yang saling beradu dan nafas orang yang sedang melakukan pemanasan menderu kencang, namun tidak ada orang yang terlihat berbicara atau bercanda gurau.


Tensinya terlalu pekat, dan aroma haus akan pertarungan dapat tercium di hidung Arley.


Sambil menunggu panitia penyelenggara datang memanggil mereka semua, Arley memilih duduk di pojok ruangan yang di sebelahnya ada pot besar.


Didalam pot besar itu, terdapat pohon yang tumbuh cukup subur dan rimbun, dedaunannya tampak hijau dan segar-segar, tujuan Arley duduk di sana adalah karena ia ingin menghirup energy [Mana] dari pohon tersebut.


“Shhhh! Haahh!” desah Arley sambil menarik nafasnya.


“Hmm sudah lama sekali aku tidak mengumpulkan energy [Mana], mungkin, terakhir kali aku menggunakan sihir adalah saat aku melawan pria bernama Trimol itu … entah lah, aku sudah lupa ….”


Arley bergumam sambil mengingat masa lalunya. Ya, mulai dari saat Arley di adopsi oleh Uskup Agung Steven Benedict, Arley tidak pernah sekalipun menggunakan sihirnya karena Uskup Agung melarang akan hal itu.


Sang Uskup hanya memperbolehkan Arley untuk belajar dan memperdalam ilmu Agama serta ilmu duniawi.


Namun di lain sisi, Arley juga di perbolehkan belajar ilmu beladiri seperti memanah, bermain pedang dan bermain tombak.


Demikian selama 8 tahun, Arley tinggal di dalam universitas kependetaan [Quostienta] tanpa ia harus tahu hal-hal yang terjadi diluar sana sesuai dengan perintah sang Uskup.


Kecuali hal itu tertulis di koran, atau sang uskup sendiri yang memberi tahukannya, yap sang uskup terlihat sangat over protective kepada Arley. Namun sang Uskup pastinya punya alasan mengapa ia harus ber-perilaku seperti itu ....


Akan tetapi semua itu sudahlah tidak berlaku lagi, karena janji yang dahulu di buat, kini sudah terlaksana.


Saat ini jantung Arley berdegup sangat kencang, sebabnya adalah karena ia sudah di perbolehkan lagi untuk menggunakan sihirnya pada saat ia memasuk umur 13 tahun. Dan itu terjadi 3 bulan yang lalu.


Sebenarnya bisa saja setelah ia memasuki umur 13 tahun, Arley langsung kembali intens melatih ilmu sihirnya.


Namun ia telah berjanji dengan kakek Marlin, bahwa ia akan menggunakan kembali sihirnya khusus pada hari ini.


Akar permasalahannya terjadi pada 8 tahun yang lalu, dimana Pada saat itu Uskup Steven, Marlin, dan Arley telah malakukan perjanjian yang sangat sakral.


Dimana didalam perjanjian itu telah dibalut dengan sihir dan sumpah kepada Tuhan semesta alam.


Perjajiannya adalah Arley akan di rawat oleh Uskup Steven sampai ia berumur 13 tahun, dan selepas Arley menginjak umur 13 tahun, maka kakek Marlin lah yang akan mengambil alih hak asuh Arley sampai ia berumur 17 tahun.


Yang berarti ketika Arley menginjak umur 17 tahun, itu merupakan tanda bahwa ia telah tumbuh dewasa.


***


Kondisi di ruang tunggu semakin riuh. Penyebab utamanya adalah karena calon peserta yang berada di luar, saat ini telah berkumpul ramai di dalam ruang tunggu.


Namun kegaduhan ini tercipta bukan semata-mata karena mereka bersenang-senang atau bercanda ria.


Lebih tepatnya mereka sedang menganalisis setiap sudut ruangan yang dimana pada setiap sudut ruangan ini terdapat wakil dari setiap negara yang akan mengikuti seleksi tahap satu.


Ruangan ini terpecah menjadi lima sudut, atau lebih tepatnya ruangan ini berbentuk pentagon.


Pada bagian utara, yang berarti posisi paling atas dari ruangan ini. terdapat lima peserta yang mengenakan jubah berwarna merah, dan di belakang jubah mereka terlukis gambar wajah singa yang terlihat sangat gagah.


Ya mereka adalah wakil dari negara [Simbad].


Lalu pada sudut sebelah kanan bagian atas, terdapat lima orang yang mengenakan jubah biru.


Dalam kelompok ini terlihat bahwa mereka semua adalah wanita, dan tampaknya mereka semua adalah penyihir.


Hal itu bisa di lihat dari jubah mereka yang sangat mirip dengan jubah yang sering dikenakan oleh para penyihir.


Tentu saja di belakang punggung mereka ada lambang putri duyung yang sedang duduk sambil bertumpu dengan satu tangan.


Tepat, mereka adalah wakil dari negara [Atargatis].


Kemudian di pojok kanan bagian bawah. terdapat lima orang yang berdiri terpisah seperti saling bermusuhan, mereka tampak mengenakan jubah berwarna hijau yang pada jubah tersebut terlukis gambar Naga.


Komposisi mereka adalah dua orang kesatria dan tiga orang penyihir. Hal itu bisa di lihat dari pakaian kesatria dan jubah penyihir yang mereka kenakan.


Tentu saja mereka adalah wakil dari negara [Akhekh].


Lalu di bagian atas sebelah kiri, terdapat lima orang yang sedang berdiskusi dengan serius. salah satu di antara mereka ada yang mengenakan kacamata bulat, mirip seperti tokoh penyihir yang ada tanda petir di dahinya.


Mereka mengenakan jubah kuning dengan lambang Rajawali terbang pada punggungnya.


Benar sekali, mereka adalah wakil dari negara [Regalist].


Sedangkan sudut kiri bagian bawah, ditempati oleh Arley yang sedang mengumpulkan [Mana].


Sekianlah keempat dari lima negara yang akan menghadiri acara seleksi tahun ini.


Tunggu dulu, kalian bertanya mengapa mereka hadir di acara seleksi siswa yang akan menjadi calon kesatria dan penyihir pada kerajaan [eXandia?].


Apa hubungannya mereka dengan seleksi ini?


Jawabannya sangat simple … ya, jawabannya adalah untuk mengadu kekuatan tempur dari masing-masing negara.


Mereka yang memenangkan seleksi ini akan menentukan negara mana yang lebih superior dibandingkan dengan negara lain “Dalam hal yang Positif ”.


Layaknya piala dunia sepak bola, atau pesta Olimpiade yang di gilai setiap orang, demikian pula dengan Festival tahunan ini.


Lalu bagaimana dengan wakil dari negara [eXandia?].


Hmm, jawabannya adalah … semua orang yang mendaftar adalah wakil dari negara ini!


Tentu saja Arley juga termasuk bagian dari wakil negara [Exandia].


Aneh bukan? Tetapi demikian lah faktanya.


Setiap tahun siapa saja yang berhasil lolos masuk ke babak final, pasti ada satu diantara lima finalis itu yang berasal dari negara [eXandia].


Demikian ke-anehan ini telah berlangsung selama berabad-abad lamanya. Yaa begitulah faktanya.


.


.


.


***


.


.


.


Waktu terus berputar, Arley masih menghirup udara untuk mengumpulkan energy [Mana] yang telah lama kosong pada tubuh remajanya.


Tentu saja ia membutuhkan waktu yang lebih lama. Pada saat ia masih kecil, ia hanya butuh empat atau lima kali hirupan udara untuk mengisi penuh kapasitas [Mana] yang ada di dalam tubuhnya.


Namun saat ini tentu saja berbeda, tubuhnya sudah tumbuh tinggi dan tentu saja kapasitasnya semakin besar mengikuti usianya yang juga semakin bertambah.


“SShhhhh!! Fyuhh ….” Hembus Arley perlahan yang pada saat itu, ia sudah merasakan kehangatan yang telah lama ia rindukan.


Lambungnya terasa begitu hangat sampai-sampai Arley menyeringai kan bibirnya tanpda ia sadari.


Akan tetapi, tiba-tiba datang seorang pria yang dengan cerobohnya ia langsung duduk di sebelah Arley.


Sontak tentu saja Arley terlihat sangat terkejut akibat perbuatan ceroboh sang pria.


Kemudian sang pria menyadari jika Arley tak suka jika tempat itu ia duduki tanpa seizin nya.


“Ah- apakah aku tanpa sengaja mengganggu mu?!”


Ucap pria berambut biru gelap itu, sambil ia mencoba manatap wajah Arley yang sangat susah untuk di lihat akibat tudungnya yang menjuntai-juntai.


Namun Arley tidak menjawab, ia hanya memalingkan wajahnya dari tatapan mata sang pria.


“Hahaha, maafkan aku, namun perkenalkan, namaku Maximus~”


Sang pria menjulurkan tangannya sambil tersenyum lebar.


Tampaknya Maximus adalah pria yang baik, demikian perasaan Arley berbicara pada dirinya sendiri.


Dengan sangat berhati-hati, Arley menyalami tangan pria itu dan mengayunkan tangannya sambil membalas salamnya.


“Nama ku Arley, salam kenal.” Ucap Arley dengan nada datar.


Kemudian sang pria malah terenyum semakin lebar dan semakin hangat.


Dengan sangat bahagia ia menggoyang tangan Arley untuk membalas jabat tangannya.


“Arley ya! Salam kenal Arley!!”


Karena tangannya tergoncang hebat, mau tak mau Arley harus melihat wajah orang yang menyalaminya itu.


Yang tampak di mata Arley ketika itu adalah, senyuman hangat seorang pria yang memiliki rambut biru gelap.


Aneh, entah mengapa hati Arley menjadi tenang ketika melihat senyuman sang pria.


Apakah pria ini adalah teman untuk Arley? Ataukah ia lawan?


Hal itu masih menjadi pertanyaan di benak sang remaja berumur 13 tahun ini.


****