
Malam telah tiba …
Kala itu, Keluarga Tomtom dan keluarga Polka, tengah menjalankan rutinitas mereka, pada ruangan tengah di ke kediaman Polka.
Hidangan baru saja selesai disajikan. Akan tetapi, ada satu orang yang tak hadir pada kegiatan makan malam bersama tersebut.
Orang yang menghilang dari kegiatan makan malam hari ini adalah, Arley.
Dirinya sedang duduk di depan rumah, untuk meramu satu buah botol obat kuat, untuk dipresentasikan kepada Verko—tepatnya esok hari.
“Kemana Arley?” tanya Varra, yang tak mendapatkan keberadaan Arley di ruangan mereka pada saat itu.
“Arley? Jika kau mencarinya, saat ini ia berada di depan teras,” jawab paman Radits, yang ketika itu, langsung saja mengambil piring makannya, dan menyantap makan malamnya bersama dengan Emaly.
Varra pun termenung ke arah pintu keluar. Sejenak, ia berkutat dengan pikirannya sendiri. Namun, entah mengapa, ia tiba-tiba merasa sangat rindu dengan Arley.
Karena itulah, Varra lebih memilih membersamai ARley, dari pada menyantap makan malam bersama keluarga Tomtom, pada malam hari itu.
Demikian, Varra meninggalkan paman Radits bersama Emaly, dan ia mengunjungi ARley untuk membersamainya.
“Varra?” Karena Varra tiba-tiba pergi meninggalkannya, sang pama pun terlihat heran, dan ia sejenak memperhatikan Varra sampai akhirnya, sang remaja wanita tak terlihat lagi di ruang makan tersebut.
Jasmine pun melihat hal itu, dan dirinya hanya tersenyum-senyum kecil sambil menyusun piring makanan.
“Dasar anak muda~” ucap Jasmine, yang ketika itu tak sengaja di dengarkan oleh paman Radits.
“Hm? Aku masih muda?” imbuh sang paman, yang ketika itu salah mendengar perkataan Jasmin. “Ahaha~ kau bisa saja Jasmin!”
Lantas, Jasmin pun terlihat kesal, dan ia langsung melempar centong kayu ke kepala paman Radits. Dengan keras, centong kayu itu mengenai tepat di sisi antara kedua belah alis mata sang paman.
“Papa enggak keren …,” gumam Eamly, yang melihat kejadian itu.
Paman Radits pun tak bisa berkata apa-apa lagi. Dirinya Hanya menangis kecil, sebari menyuapi Emaly dengan makan malam mereka.
***
Arley tampak duduk bersila, sambil menatap fokus, ke arah tabung labunya yang tengah dipanaskan.
Dari arah belakang, Varra terdiam sejenak, sambil menatap punggung Arley dengan penuh perhatian. Ia memandangi Arley sepuasnya, tak pernah ia merasa sepuas ini ketika memandang seorang pria sebelumnya.
Sesaat, Varra menyadari, jika tubuh Arley semakin bertambah besar, dibandingkan saat pertama kali ia bertemu dengan si remaja berambut merah tersebut.
Mendekatlah Varra, dan ia mempersilahkan dirinya sendiri, untuk duduk di samping kanan sang remaja berbaju hitam tersebut.
“Arley~” saut Varra, yang kemudian menyadarkan Arley atas keberadaannya.
“Hm? Ah, Varra~” sambutnya dengan nada datar.
“Kau masih merabu obat aneh ini? Lama sekali ….” Lalu, dengan mesranya, Varra menaruh kepalanya pada punggung sebelah kanan Arley.
Arley tak menolak hal tersebut, malahan, ia juga malah menyandarkan kepalanya ke atas kepala Varra.
“Yah, memang cukup lama. Kalau tidak sabar, yang ada, ramuan ini menjadi racun,” jelas Arley, sambil memejamkan matanya untuk sejenak.
Varra merasa sangat puas, wajahnya sedikit memerah dan ia juga menganggap bahwa ini adalah suatu kemenangan kecil untuknya.
Maka dari itu, Varra menginginkan suatu hal yang lebih lagi. Dirinya pun saat itu, menggelangkan lenga ntangannya pada lengan tangan kiri Arley.
“Malam ini cukup dingin,” dalihnya, untuk memanjakan dirinya sendiri, sebab rasa rindu yang ia rasakan terhadap sang pujaan hati.
Lagi-lagi Arley tak menolak, ia tak merasa ke beratan dengan perlakuan Varra yang demikian, namun, Arley juga menyadari, jika jantungnya berdebat kencang saat Varra melakukan hal itu kepadanya.
Namun Arley masih tak menyadari, bahwa, yang ia rasakan itu adalah perasaan cinta.
Karena sebab itu, Arley pun cukup tegang, dan ia menegapkan dirinya kembali sembari menahan rasa malunya itu.
Varra sadar, jika ARley malu dengan apa yang dirinya perlakukan terhadap tubuh sang pria berambut merah ini.
Namun Varra tak menyerah begitu saja, malahan, ia semakin agresive, dan menjadikan lengan Arley sebagai gulingnya.
Dan lagi-lagi, Arley tidak berkomentar mengenai hal itu. Matanya hanya memandang ke arah yang berlawanan dari tempat di mana Varra memeluk lengan ARley.
Varra sedikit mengintip ke arah wajah Arley, kemudian ia tersenyum lebar. Varra mendapatkan sesuatu pada malam hari itu, untuk pertama kalinya, ia melihat wajah Arley yang tersipu malu, sebab perlakuan Agresivenya kepada dia.
Ekspresi ini sangat berbeda dari ekspresi-eksrpesi sebelumya. Sambil memancungkan bibirnya, Arley berusaha untuk mengalihkan perhatiannya sembari mencari tahu, sebenarnya apa yang tejadi dengan dirinya.
“Ada Apa, Arley?” singgung Varra, sembari menjahili ARley.
“T-tidak ada apa-apa!” jawabnya, dengan suara gemetaran.
Kala itu, Varra langsung memeluk Arley dengan lebih erat. Ia sangat bahagia, sebab dirinya mengetahui jika ARley juga menyukai dirinya, walaupun sang remaja belum menyadari perasaannya sendiri.
Dan … tiba-tiba, dari arah belakang, terdengarlah suara seorang wanita yang Varra juga Arley sangat kenal.
“Kalian …,” sebut Melliana, yang memecah kesunyian di antara Arley dan Varra.
Varra pun langsung melepaskan pekukannya terhadap Arley, dirinya sangat terkejut dan ia malah menjadi sangat malu akan kejadian itu.
Arley dan Varra pun langsung menoleh ke arah belakang mereka. Di sana, mereka berdua mendapati, jika Melliana tengah membawa dua buah piring makanan, untuk di berikan kepada Varra dan Arley.
Sejenak, Varra melihat ke arah raut wajah Melliana, dan benar saja, Melliana terlihat cukup sedih, ketika dirinya mendapati Arley tengah bermesraan dengan Varra.
Namun ia tak pundung begitu saja. Seketika itu juga, Melliana memberikan Varra piring berisi makan malamnya, dan saat itu, Meliana juga memegangi piring ARley, sembari ia duduk di samping kiri sang remaja berambut merah tersebut.
“Arley~ makan dulu, ya. Tangan kamu masih kotor, kan? Aku suapin aja, ya,” ujar Melliana, yang tak mau kalah dengan apa yang Varra lakukan, barusan tadi.
Pada Awalnya, memang Melliana sedikit malu-malu terhadap Arley, namun, setelah dirinya melihat apa yang Varra lakukan, seketika itu juga, Melliana ingin bersikap menyerang terhadap Arley.
“Ohh~ terima kasih banyak, Kak Mell!” Arley pun tak keberatan dengan usulan Melliana.
Setelah itu, tanpa segan-segan, Melliana menyuapi Arley tepat di samping Varra. Tentu saja Varra sangat cemburu, namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Dan saat itu juga, dirinya dengan cepat menghabiskan makan malamnya, agar ia bisa segera berduaan dengan ARley lagi.
Beberapa menit telah beralalu … jam makan malam pun telah usai.
Piring-piring telah dikembalikan ke tempatnya, dan yang tersisa adalah, ramuan Arley yang masih menunggu perubahan warna padanya.
Ketika itu, ARley terduduk diam. Ia tak bisa berkata banyak-banyak, sebab, Melliana bersama Varra, masih saja membersamai Arley di depan teras rumah.
“Err … kalian tidak tidur? Aku masih lama, loh,” cetus Arley, yang merasa sangat tak nyaman dengan perlakuan kedua wanita itu kepada dirinya.
“Kau benar, kami tidak bisa mengganggumu di sini,” baas Varra, yang kemudian berdiri dan mendekati Melliana.
Dan ketika itu, tiba-tiba, Varra menarik tangan Varra dan membuatnya berdiri dari posisi duduk di sebelah kiri ARley.
“HE?!” Melliana pun cukup terkejut, ketika dirinya di paksa berdiri. “V-Vara?!”
“Kita tidak bisa mengganggu Arley, bukan? Ayo, sebaiknya kita kembali ke kamar saja Kak!” ucap Varra, sambil ia menarik Melliana masuk kedalam kamarnya.
Seketika, suasana menjadi sepi. Arley ditinggal sendiri oleh kedua wanita itu. Saat ini, mereka berdua sudah berada di dalam kamar Melliana, sedangkan ARley masih berad di luar rumah untuk menyelesaikan resep obatnya.
Tidurlah Varra beserta Melliana. Mereka berdua telah berbaring di atas kasur berbahan kain, dan untuk membuang waktu sampadi diri mereka mengantung, di bukalah sebuah obrolan untuk menguras hal itu.
“Kak Mell … maafkan aku, jika sampai sejauh ini, aku sempat menyakiti hati kakak.”
Varra cukup sedih, sebab, sebenarnya ia tak mau, jika hubungan mereka berdua bisa seberantakan ini.
Namun di luar dugaan. Pada saat itu, Melliana menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tulus ketika menghadap ke arah wajah Varra.
“Tidak apa-apa Varra. Kau yang lebih dahulu bertemu dengannya, dan aku tak bisa begitu saja masuk kedalam kehidupan Arley. Setidaknya, aku juga masih berjuang untuk mendapatkan perhatiannya.” Jelas Melliana, yang pada malam hari itu, tengah melakukan perbincangan antar wanita, di kamar tidurnya.
Varra pun membalas senyuan Melliana. Ia merasa lega, bahwasanya, Melliana tidak menyimpan dendam kepada dirinya.
“Hey~ Varra, aku memiliki sedikit usulan.”
Tiba-tiba, Melliana membuka obrolan terlebih dahulu.
“Hm? Apa itu, Kak?” Varra pun tak tahu, apa yang Melliana ingin perbincangkan.
“Varra … bagaimana … jika kita berdua menjadi istri Arley?” cetus Melliana, sambil menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
Sotak, Varra pun langsung bangun dari tidurnya, saking terkejutnya ia.
“HEE?!” teriak Varra, yang kemudian, dirinya langsung menutupi mulutnya sendiri, sebab suaranya yang keras. “A-apa yang kau katakan, Kak Mell?!” bisik Varra, yang saat itu sengaja mengurangi volume suaranya.
“Entahlah … tetapi, jika aku memikirkan kita bertiga hidup bersama, aku rasa, aku tidak mungkin menolaknya~” Saat itu, ketika Melliana menjelaskan alasannya, wajahnya sangat memerah layaknya udang rebus.
“H-He?! Serius?!” tanya Varra.
Lantas, Melliana hanya menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Demikian, Varra hanya bisa melepaslan napas panjanganya lagi, sembari ia memikirkan perasaannya kala itu.
Tersenyumlah Varra sebelum ia menjawab usulan Melliana.
“Aku akan pikirkan hal itu.” Namun, ada satu hal lagi yang mengganjal di hati Varra. “t-tetapi … apakah Arley mau menikahi kita berdua? Err … jangankan kita berdua … apakah ia mau menikahi salah satu di antara kita?”
Sontak, percakapan pun langsung usai dengan wajah Varra menatap kosong wajah Melliana. Mereka tak menyangka jika pertanyaan itu bisa terpikirkan oleh mereka.
Demikian, untuk menghilangkan pikiran negative mereka berdua, saat itu juga, mereka berdua memilih untuk tidur secepat mungkin.
Kadang, kenyaaan bisa memiliki rasa pahit … sama halnya dengan kopi. Sepahit-pahitnya kopi … pasti ada cara untuk menikmatinya~