
Suhu berubah menjadi cukup hangat, wajahku perlahan menjadi sangat pucat. Bahkan lebih pucat dari biasanya. Beberapa kali aku mencoba untuk menelan ludahku sendiri demi membasahi tenggorokanku yang saat ini terasa begitu serak, namun tetap saja kerongkonganku masih terasa kering.
Tepat di hadapanku saat ini, terdapat sebuah entitas yang tidak biasa aku anggap remeh. Ya, makhluk yang biasa kita sebut monster. Namun kali ini, monster yang ada di hadapanku, bukanlah monster biasa.
Ia adalah monster yang terbentuk dari sihir embun milik Amy, yang aku sendiri tak tahu, entah bagaimana proses pembuatannya. Namun aku rasa, makhluk ini adalah entitas dari manifestasi『Mana』yang Amylia miliki.
Shrik!
Dengan penuh percaya diri aku berjalan menghampiri monster tersebut sembari memungut pedang yang tadinya sempat terlepas dari genggamanku.
"Hey kak Amy! apakah engkau masih mengontrol makhluk ini!?" teriakku sembari bertanya kepada sang pemilik sihir.
"Kiiii!" teriak monster tersebut tanpa aku ketahui maknanya. Tampaknya kali ini Amy benar-benar kehilangan kesadarannya, dan juga, aku yakin sekali. Tubuh Amy saat ini berada di dalam badan monster berukuran 3 meter itu.
"Hey kak Amy! aku tidak tanggung jawab ya jika satu atau dua bagian tubuhmu akan terpisah akibat seranganku yang satu ini!" ucapku kepada sang makhluk, demi memberi peringatan kepada Amy sebelum aku meluncurkan seranganku yang berikutnya.
Namun tampaknya perkataanku tadi, membuat sang monster menjadi kesal dan marah.
"Kraaaaa!"
Terpekik suara yang begitu keras dari dalam kerongkongan sang monster. Kali ini rasanya seperti gendang telingaku akan pecah jika seketika ini juga aku melepas kedua tanganku yang pada saat ini, kedua tanganku tengah menutup kedua lubang telingaku.
"Wah, kesalahan, tidak seharusnya aku memprovokasi monster gila satu ini!" gumamku sambil mulai berlari menuju sudut Utara dari bagian lapangan arena ini.
Demikian sang monster berhenti berteriak. Kali ini tubuhnya berputar mengikuti pergerakanku.
"Wow-wow! jika begini caranya, aku tidak akan bisa mengalahkanmu! hey berpalinglah sedikit!" aku berteriak, dan berharap agar monster itu mengikuti perintahku.
Namun tampaknya langkah yang aku ambil adalah sebuah kesalahan besar. Tiba-tiba sang monster malah membuka mulutnya dan ia dengan lihai menembakka butiran air sebesar biji salak tepat menuju ke arahku.
Butiran air tersebut dengan sangat bertubi-tubi menghujani sekelilingku, namun aku berhasil menghindari segala serangan yang di lontarkan sang monster terhadap diriku ini.
Tetapi, jika dibiarkan seperti ini terus, bisa-bisa aku kelelahan. Juga bila aku lengah sedikit saja, maka serangan beruntun monster itu aku mengenai tubuhku.
Mulailah aku berlari berputar mengelilingi tubuh monster duyung ini. Sesekali aku melompat salto ke arah depan. Juga dengan lincahnya aku menghindari serangan beruntun sang monster dengan berbagai lompatan akrobatik.
"-Cih! aku tidak bisa mendekatinya!" gumamku dalam hati.
Tampaknya aku kembali menemui jalan buntu. Kali ini aku berusaha untuk bertindak secara terperinci, aku lebih mengutamakan pergerakan yang terencana untuk menghancurkan musuh yang ada di hadapanku.
"-Hm ...? ahh! sepertinya aku tahu kelemahan makhluk ini!" tiba-tiba bagaikan sambaran petir, aku baru menyadari suatu hal yang sebenarnya sangat mudah untuk dipahami!
Jika kita perhatikan lebih detail. Sedari awal, monster yang memiliki tubuh besar ini tidaklah bergerak satu jengkal pun dari posisi duduknya.
Mau itu pada saat ia masih berada di udara tadi, ataupun pada kondisi saat ini, dimana ia terduduk pada sirip ekornya yang terbaring di lantai arena.
"Ini dia caranya!" ucapku dengan lantang. Sontak aku langsung berlari zig-zag melingkari monster putri duyung ini, guna untuk mencoba taktik yang baru saja aku pikirkan.
Demikian tubuhnya yang besar, membuat pergerakan dari monster duyung ini tidak dapat berputar dengan cepat. Sesekali aku berhasil mengelilingi tubuhnya tanpa sang monster ini berhasil mengikuti putaran lariku.
Kemudian pada saat monster ini lengah, aku langsung berhenti tepat di sudut hampa dari monster ini. Ya, lokasinya tepat di titik mati, atau di belakang kepala monster berbadan raksasa tersebut.
Dengan cepatnya lalu aku melompat dan berdiri tepat di belakang monster berisik pisau ini. Juga tampaknya monster ini masih belum mengetahui jika aku tengah berdiri tepat di belakang punggungnya.
Dengan kata lain aku berdiri tepat di atas sirip buntutnya. Serta pada saat ini juga, aku siap melumpuhkan monster berwarna kulit abu-abu tersebut!
Jleb!
Dengan sangat kuat, aku menusuk leher monster berwarna abu-abu ini dengan menggunakan pedang tumpul yang aku dapatkan dari Paman Albion.
Saat itu juga monster raksasa ini menggeletar layaknya cacing yang sedang direbus dengan air mendidih. Mulutnya terbuka lebar, serta lidahnya menjulur tak karuan.
Namun tak ada seutas suara pun yang keluar dari kerongkongan monster ini. Penyebabnya adalah, karena aku menusuk tepat mengenai pita suara dari monster berbentuk duyung ini!
"Rasakan!" teriakku sembari melompat mundur sebanyak lima langkah dari tengah lapangan arena.
Lalu tubuh monster itu tergeletak di lantai arena, juga pada saat itu, ia menggeliat seperti tengah melawan rasa sakit.
Tepat dari bekas tusukan pedangku, tiba-tiba asap putih keluar dari kedua belah sisinya. Hal ini sangat mirip dengan botol air yang tertusuk pisau dan tertembus pada kedua belah bagiannya. Air akan mengucur dari bagian yang tertusuk itu.
"Euh!? apa lagi yang akan terjadi?!" ujarku yang mulai merasa kesal.
Lalu, dengan paksa monster itu mencabut kuat, pedang yang tertancap di lehernya. Mendadak, pada saat itu juga tubuh sang monster menciut akibat asap tebal yang tadinya mengumpul menjadi satu dan membentuk tubuh monster raksasa tersebut.
Kali ini asap itu kembali menyebar dan menghasilkan kabut yang lumayan tebal.
"Aku tidak menyangka kau bisa mengalahkan monster itu~" tiba-tiba terdengar suara Amy yang menggema dari seluruh sisi.
Namun aku tidak tahu keberadaannya, karena saat ini aku tengah berada di dalam kabut tebal yang menutupi seluruh pandanganku.
Mungkin jarak pandangku saat ini hanya berkisar setengah meter, selebihnya? aku tak dapat melihat apapun dari segala sisi. Luar biasa ... kabut ini benar-benar tebal!
"Aku kira kau berada di dalam tubuh monster itu kak Amy? -heh, ternyata aku salah," ucapku sembari ingin mencari tahu, dari mana sumber suara Amy yang saat ini aku tak dapat terlihat wujudnya.
Namun tampaknya semua usaha yang aku lakukan sama sekali tidak membuahkan hasil.
"H-heeh ... bagaimana hal ini bisa terjadi ...," ujarku dengan keringat dingin yang mulai bercucuran deras. "Waw, sihirmu ini benar-benar membuatku jengkel kak Amy. Tampaknya Ronde kedua baru saja dimulai!"
Benar! monster yang tadinya telah menciut dan mengecil. Kali ini entah bagaimana caranya, tepat di tengah-tengah arena, monster duyung itu berdiri tegap dengan bertumpu pada sirip ekornya, demikian perawakannya tak terlihat ada goresan sedikit pun.
"Kraaaaa!"
Untuk yang kedua kalinya, monster itu memekikkan tangisan perangnya ke arahku. Ahh ini benar-benar pertarungan yang menguras keringat dan otak.
"Haah, sekarang bagaimana caranya agar aku bisa mengalahkan makhluk ini dalam waktu yang singkat. Aku sudah tidak memiliki stamina yang cukup banyak!" gumamku untuk menghibur diriku sendiri, yang saat ini tengah jengkel akibat monster bermata hitam ini tak juga kunjung bisa dikalahan.
Aku genggam tangkai pedangku yang berwarna perak ini, lalu aku mengerenyitkan tajam alis mataku, sembari berlari kembali untuk mengalahkan monster duyung yang satu ini.
"Hiyaa!" teriakku sembari melompat tinggi ke udara.
Namun tiba-tiba saja, seluruh bumi tampak seperti runtuh. "Huh?! a-apa!?" secara mendadak, badanku seperti tertarik ke bumi dan tak dapat bergerak.
Apakah kalian pernah merasakan suatu keadaan, dimana ketika kita sedang ingin tidur, tapi malah ada perasaan hampir jatuh? Nah saat ini perasaan itulah yang aku tengah alami.
"Waaa!" aku berteriak dengan sangat kencang.
Lalu, spontan segalanya menjadi gelap, juga secara paksa tubuh ini menghantam lantai yang aku sendiri tidak bisa melihatnya.
Segalanya menjadi gelap gulita, tak ada yang bisa aku lihat. "Aku ada dimana?!" ujarku sembari berusaha untuk kembali berdiri.
"-Fufufu!" dengan sangat tidak masuk akal, aku mendengar tertawaan Amy tepat berada di sekelilinggku. Rasanya suara Amy tengah berada di samping kiri, depan, belakang, juga kanan posisi badanku. Benar-benar perasaan yang aneh.
"Ara~ kemana arahmu memandang Arley?" cetus Amy dengan riangnya.
Dengan sangat kuat aku mencubit pipi sebelah kiriku untuk memastikan bahwa aku sedang tidak didalam ilusi.
"-Aw, sakit ... berarti ini bukan ilusi," gumamku pelan sembari melirik ke segala penjuru.
"Tentu saja ini bukan ilusi, coba kau cari tahu lagi sebenarnya apa yang telah terjadi?" tantang Amy dengan angkuhnya.
"Cih! cara bertarungmu sangat mengerikan kak Amy. Pantas saja kau tak terkalahkan sampai saat ini juga!" aku mencoba mencari sela dari sihir yang Amy tengah aktifkan ini.
Lalu secara tiba-tiba saja, terdengar suara air mengumpul dari arah belakangku. Sontak aku langsung mengalihkan pandanganku tepat ke arah sumber suara.
Tetapi semuanya telah terlambat." Eugh! sial!" ketika itu, aku baru menyadari bahwa Amy sedari tadi telah berdiri tepat dibelakangku.
Tiba-tiba segalanya kembali menjadi seperti semula, setelah aku bisa melihat wujud asli Amy yang tengah berdiri kokoh di sudut Barat arena lapangan.
Secara instan pandanganku kembali normal, seisi arena stadion bisa aku lihat kembali!
Saat itu juga, terlihat senyuman kemenangan Amy, yang mengernyit pada samping bibir sang putri.
"Bye-bye ~" ucap Amy sembari melambaikan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya tengah memegang tongkat sihir, yang pada tongkat itu, telah aktif mantra sihir air yang terlihat begitu dahsyat!
"Mist of Death!~"
Ucap Amy sembari merapalkan mantra sihirnya, secara mendadak tubuhku tak dapat bergerak! demikian pula serangan Amy telah terlepas dari induknya.
Bola air yang berukuran 1 meter tadi, dengan sangat anehnya terpecah dan melebur menjadi gas. Saat itu juga aku tak dapat bernafas dan tubuhku kaku seperti kekurangan oksigen.
Lalu tubuhku terbujur lemas di atas lantai arena. Perlahan kesadaranku mulai menghilang.
Ah~ apakah aku akan kalah? beginikah caranya aku tereliminasi dari pertandingan ini?
Tak sengaja aku menatap ke atas langit, tenggorokanku begitu sakit, dan rasa-rasanya saat itu juga aku akan kehilangan kesadaran.
Namun tepat di atas langit, aku melihat seseorang yang mengenakan mantel hitam tengah memandangku dengan pilu. Aku tak tahu, itu pandangan pilu atau dendam. Namun alis mata orang itu mengkerut sembari matanya menunjukkan dendam.
"Hehe, tampaknya aku akan kalah~ maafkan aku Paroki, aku belum minta maaf padamu," saat itu juga mataku tertutup, walaupun kesadaranku masih terhubung didalam badan ini.
"Kau mau menyerah begitu saja!?" tiba-tiba, terdengar suara wanita yang begitu aku kenal.
Bats!
Sontak, kedua kelopak mataku langsung terbuka lebar. Jantungku langsung berdetak hebat.
Tepat di depan mataku, aku melihat Misa yang pada saat itu tengah mengenakan jubah hitam pekat, tengah berdiri di atas kaca monitor, serta telah terbuka tudung hitamnya pada saat itu juga!.
"K-kak Misa!?" dengan suara yang sangat serak, aku bergumam setelah melihat paras wajah yang begitu aku kenal.
Ya, peserta yang kita kenal sebagai Paroki. Ternyata ia adalah Misa Albertus dari desa『Durga!』.
***