The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 40 : Reruntuhan di Kota Langit.



Kondisi ruangan sangatlah lembab, udara yang tercium, merupakan udara yang beraroma keruh dan sesak.


 


 


Aroma nya sedikit bercampur bau lumut yang sudah menumpuk tebal, bahkan akar dari lumut-lumut di sekitar sini, sudah sebesar jari kelingking orang dewasa.


 


 


Pencahayaan kami sedikit redup, walaupun demikian, kami masih bisa melihat dengan sangat jelas seluruh isi ruangan yang sangat amat besar itu.


 


 


Tepat di dalam ruangan besar ini, hanya ada dua orang yang sedang terpaku pada pandangan mereka yang kecil.


 


 


Nafas mereka berhembus bagaikan orang yang sedang kelelahan, sebenarnya mereka sedang tidak kelelahan, hanya saja oksigen di dalam ruangan ini sangat lah tipis.


 


 


Seorang anak perempuan, terpelongo melihat ukiran gambar yang terpampang di tembok bangunan ini.


 


 


Ekspresi wajahnya menunjukkan, bahwasanya ia sangat terkagum juga sekaligus takut dengan ukiran yang di hadapinya. "A.. Arley..." ucapnya sambil memegang lengan kiri ku.


 


 


Saat itu aku sangat terpaku dengan ukiran ini, aku mencoba memperhatikan dan menganalisis, apa pesan yang tersembunyi dari ukiran di tembok tersebut. Aku tidak terlalu mempedulikan nya.


 


 


" (Tulisannya... Tulisan nya sama dengan tulisan yang ada di buku [PROTOCOL]. I-ini!! Apa maksudnya semua ini..!?!"


 


 


Di gambar tersebut, tersirat tiga buah gambaran yang sangat amat besar.


 


 


Pada bagian sudut kiri bawah, terdapat gambaran matahari yang bersinar terang.


 


 


Lalu di bagian tengah nya, terdapat sebuah lingkaran yang terukir tidak sempurna, bagaikan roti donat yang di gigit pada setiap bagiannya.


 


 


Kemudian yang terakhir, tampak lingkaran bulat penuh, yang sepertinya melambang kan simbol bulan, terukir di bagian sisi kanan atas tembok. Ukiran tersebut sudah sangat samar, lingkaran nya hampir tak terlihat lagi.


 


 


Lalu di atas gambaran tersebut, ada sebuah tulisan dengan bahasa yang aku pernah melihatnya, tetapi aku tidak bisa membacanya.


 


 


Begitu juga di bagian sisi sudut bawah sebelah kanan, terdapat tulisan yang lebih panjang dibandingkan tulisan di bagian atas.


 


 


 



 


 


"Hey Arley... A...Aku rasa sebaiknya kita keluar dari tempat ini... Aku sudah tidak betah...berada di dalam ruangan yang ber aroma karat ini.... dada ku terasa sangat sesak... A... Arley...~"


 


 


Aku kemudian baru tersadar jika Sofie sedang dalam kondisi yang membahayakan, tampaknya selain oksigen yang tipis, ruangan ini juga di penuhi gas yang beracun.


 


 


"Kak Sofie!!?! Kakak tidak apa-apa!?! Kakak! Kak!?!"


 


 


Aku langsung panik, wajahnya memucat dan pandangannya kosong. Ku pegang erat-erat lengan tangan nya dan aku langsung bergegas berlari keluar dari ruangan ini.


 


 


"Tahan lah sedikit lagi kak!! Kita sebentar lagi akan keluar dari tempat ini!!"


 


 


Lantur ku, untuk menyemangati jiwa Sofie yang mulai kabur.


 


 


***


 


 


Tak berapa lama kemudian, kami keluar dari ruangan tersebut.


 


 


Syukurnya seusai kami keluar dari ruangan itu, Sofie perlahan mulai kembali sehat, tampaknya kadar gas beracun di ruangan itu tidaklah tinggi, hanya saja bisa membuat orang yang menghirupnya menjadi pusing.


 


 


Tetapi jika kita berada di ruangan itu lebih lama sedikit lagi, maka akibatnya bisa sangat fatal.


 


 


Bisa saja aku juga ikut menghirup racun itu dan ikut pusing, kemudian kami berdua tak Sadar kan diri di ruangan tersebut. dan akhirnya nyawa kami terlepas akibat keracunan udara.


 


 


Jadi untuk saat ini, mari kita jauhi ruangan penuh misteri itu terlebih dahulu.


 


 


"Bagaimana kondisi kakak? Apa sudah mendingan..?"


 


 


Dengan cemas, aku memperhatikan Sofie lebih ekstra.


 


 


"Ah, aku tidak apa-apa Arley, hanya sedikit pusing saja, beberapa saat lagi aku akan kembali normal kok"


 


 


Jawabnya lemas dalam posisi terjongkok sambil memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing.


 


 


"Jangan di paksaan kak, kita sebaiknya segera turun dari tempat ini... Kadar oksigen di sini sangatlah tipis, jika kita berlama-lama di tempat ini, kita akan semakin sesak nafas..."


 


 


Sofie mengambil nafas nya dengan tersenggal-senggal.


 


 


 


 


Ucap Sofie sambil menaruh tangan kanannya di dada ku.


 


 


Kemudian aku memegang erat tangannya yang berkulit bersih putih tersebut dengan penuh rasa kasihan dan juga bercampur rasa bersalah.


 


 


Kami terus berada dalam posisi ini sampai kak Sofie kembali normal.


 


 


***


 


 


Keadaan semakin membaik, sebelum turun kebawah kami sempat memasuki empat bangunan lainnya yang masih kokoh berdiri, walaupun demikian ke empat bangunan itu hanyalah rumah biasa, berbeda dengan bangunan pertama yang kami masuki sebelumnya.


 


 


Mungkin, bangunan yang pertama kali kami kunjungi tadi adalah ruangan yang di gunakan sebagai tempat ibadah atau tempat ritual orang ter dahulu untuk berkomunikasi dengan tuhan atau dewa mereka.


 


 


Hanya ruangan itu saja yang arsitektur nya tampak lebih mewah dibandingkan dengan bangunan yang lain.


 


 


"Baiklah, sudah seluruh bangunan kita kunjungi. Ke-empat bangunan ini tidak meninggalkan apa-apa, dan hanya tinggal satu bangunan lagi yang belum kita masuki. "


 


 


Ucap ku sambil Menggiring Sofie yang telah pulih kembali, ku tenteng tangannya agar jika terjadi sesuatu maka aku akan segera tahu.


 


 


"Aku heran.. Apa yang menyebabkan lokasi ini bisa tidak di ketahui oleh orang-orang kita di bawah... Dan mengapa lokasi tempat ini bisa porak poranda sedemikian hancurnya..."


 


 


Sofie berdelik dengan wajah yang serius. Sesungguhnya aku dari tadi juga memikirkan hal yang sama dengan dia.


 


 


Kota yang begitu megah, mengapa bisa hancur dan mempunahkan peradaban manusia di tempat ini, seperti telah terjadi bencana besar yang melahap bersih kota ini, hanya dalam satu malam.


 


 


Beberapa saat kemudian kami telah sampai di rumah kecil tepat di ujung Kota Langit [Sky City]. Begitu lah kami berdua menyebutnya.


 


 


"-Ah itu dia...akhirnya sampai juga ke ujung pulau ini...huft...."


 


 


Sambil menghela nafas, Sofie menunjuk ke satu-satunya rumah yang berdiri tepat di ujung pulau ini.


 


 


Jika kita maju selangkah lagi setelah rumah itu, maka kita pasti akan terjun bebas jatuh ke bumi.


 


 


Kami melangkah masuk ke rumah yang tak memiliki pintu itu. ketika masuk ke dalamnya, agak sedikit berbeda dengan penampilan bangunan lainnya yang telah kami masuki sejauh ini.


 


 


Terdapat prabotan rumah yang sudah lapuk tersusun dengan rapih di dalam rumah ini.


 


 


"Ajaib... Hanya rumah ini yang memiliki prabotan. konstruksi nya juga masih lengkap.."


 


 


Lalu aku melirik keluar ruangan, benar saja, seperti ada garis pembatas antara rumah ini dengan bagian kota yang tadi, dan di luar garis tersebut, seluruh konstruksi terlihat seperti tidak tersentuh hancur.


 


 


"Ini... sepertinya, kehancuran kota ini, ada campur tangan makhluk yang entah apa itu, sampai bisa membuat kerusakan se parah ini..."


 


 


Arley lalu keluar dari rumah yang tak memiliki pintu tadi, ia berjalan sampai ke perbatasan yang di lihat nya barusan, terdapat segaris lurus yang terlihat ganjil bagaikan pembeda antara bagian kota yang rusak dan sisi kota lainnya yang tidak tersentuh kerusakan tersebut.


 


 


"(ini benar-benar aneh... Apakah ada makhluk yang sangat kuat sampai bisa melulu lantah kan segalanya menjadi kota mati sedemikian bersihnya)."


 


 


Ucap ku sambil mendongak, melihat lagi ke sisi reruntuhan kota kuno yang telah luluh lantah.


 


 


"Arley!! Kemari, lihat ini!!"


 


 


Sofie berteriak memanggil ku dari dalam rumah, sepertinya ia menemukan sesuatu.


 


 


Bergegas aku masuk dan melihat ke tempat Sofie memanggil ku.


 


 


"Ada apa kak? Apa kah kau menemukan sesuatu yang berharga?"


 


 


"I.. Ini sepertinya ini sangat berharga..."


 


 


Sofie dalam keadaan terduduk di antara dua kakinya, tampak terbuka lemari meja yang terpampang di sudut ruangan.


 


 


Dari dalamnya terlihat gemilau cahaya kuning yang sangat amat menghijau kan mata.


 


 


"I-INI!?!"


 


 


Aku amat terkejut setelah melihat apa yang ada di hadapan ku.


 


 


***