The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 77 : Inferno Devastation!




Pada saat itu, semua orang yang berada di atas arena merasakan Horor yang begitu mencekam.


“Grrrrr~” terdengar suara dari tenggorokan Arley, suara itu bukanlah suara yang biasa kita dengar.


Nafasnya mengeluarkan asap yang dapat di lihat dengan gamblang.


Dengan cepat, mata Arley bergerak dan memandang ke lantai. tepat di bawah kakinya terdapat sebilah pedang yang pedang itu adalah milik Eadwig.


Arley langusung mengambil pedang itu, sesekali ia membolak-balikkan pedang yang ia genggam seperti seorang anak yang baru saja mendapatkan mainan baru.


Setelah ia puas memandangnya, Arley menggenggam pedang tersebut dengan kencang dan saat itu juga ia mengibas kencang pedang tersebut ke-arah timur Arena yang di sana ada Maximus dan ketiga kawannya.


Kibasan pedang yang Arley genggam menimbulkan deruan angin yang sangat amat kencang! Sanking kencangnya terpaan angin itu, setiap orang yang berada di sudut timur Arena terhempas keluar dari atas Arena pertandingan.


Orang yang pertama kali menginjak kan kaki keluar dari atas Arena adalah Karel yang ia merupakan teman dari Maximus. Selepas itu, semua orang yang berada di sudut Timur ikut terhempas dan terjungkal keluar dari Arena.


Demikian semua penonton yang berada di tribun timur. Mereka merasakan deruan angin yang sangat amat kencang sampai-sampai beberapa dari mereka hapir tersapu terbang akibat deruan angin yang di ciptakan oleh Arley.


Pada saat ini pertandingan telah usai, panitia pertandingan pun sudah keluar untuk menghentikan pertempuran. Namun saat ia ingin menghentikan keriuhan yang di ciptakan oleh Arley, sang panitia tidak sengaja melihat mata Arley, dan saat itu juga sang panitia terdiam kaku tak dapat bergerak.


Tentunya kondisi ini tidak dapat teratasi dengan SOP yang telah di rancang oleh tim panitia. Semua peserta seleksi menjadi panik dan mereka semua berhamburan keluar dari atas Arena.


Yang tersisa diatas Arena adalah Eadwig yang terbujur lemas, Jack, dan Trevor. Namun tak lama kemudian Maximus ikut naik ke atas Arena sehabis ia terhempas keluar dari Arena pertandingan.


“AARRLEEEYYY!!! MEngapa?! Mengapa kau masih hidup!!! Cecunguk sialaN!! Seharusnya kau sudah mati!! Kenapa bisa begini!!?!”


Dengan nada mengintimidasi Maximus berusaha melawan keberadaan Arley saat ini juga.


Namun sontak Arley dengan cepat melihat ke-arah Maximus, seperti binatang buas yang terkejut ketika melihat lawan bertarungnya berada di sampingnya.


Ketika Arley melihat ke-arah Maximus, lagi-lagi Maximus tertegun diam bagaikan patung, tubuhnya kaku tak bisa bergerak, bahkan satu engsel jari pun tak bisa ia gerakkan.


Tubuhnya berkeringat hebat, pori-porinya merasakan hawa yang sangat amat dingin, kelopak matanya terbuka lebar, dan giginya menggerutu ketakutan.


Tatapan mata Arley langsung menusuk ke lubuk hati Maximus yang paling dalam. Pandangannya mencekam, seperti secara tidak langsung, Arley mencabik-cabik rasa percaya diri Maximus yang sebelumnya sangatlah arogan.


Sanking takutnya Maximus ketika melihat mata Arley yang melotot lebar, ia bahkan tidak dapat menelan ludahnya. Tiba-tiba otaknya tak mampu memerintah kan tubuhnya untuk bergerak dengan benar. menetesahlah air liur yang terkumpul di mulut Maximus ….


Begitu juga dengan Eadwig, ia hanya mampu melihat gerak gerik Arley yang tampak berbeda dari pergerakan seorang manusia.


Tubuh Arley bergerak sangat kaku, seperti ada makhluk asing yang merasuki tubuh tersebut.


“H-Hey … anak berambut merah …!? apakah benar kau yang berada dalam tubuh itu?!” Tanya Eadwig kepada Arley.


Sontak dengan cepatnya, kepala Arley berputar mengarah ke Eadwig bagaikan kepala burung hantu yang terkejut ketika mendengar frekuensi suara. Ketika Eadwig melihat hal itu, tubuhnya langsung merinding dan kejang karena ketakutan.


Saat itu juga, untuk pertama kalinya Eadwig menangis sanking Ketakutannya ia. Namun ia tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun akibat hal itu.


Lalu beberapa saat kemudian tubuh Arley bergerak ke-arah Eadwig, dia berjalan dengan kondisi yang cukup aneh. Pergerakannya seperti robot, tetapi terlihat cukup mengerikan karena geliatnya sangat menjijikkan.


Langkah demi langkah di tapakkan ke lantai, sang Makhluk bergerak seperti ia tidak terbiasa dengan tubuh yang ia kendalikan.


Ia bergerak dengan sangat lamban. seluruh orang yang hadir di festival ini melihat kejadian tersebut, namun tidak ada satu orang pun yang berbicara, karena ketika seseorang berbiacara maka sang makhluk akan langsung melihat ke-arahnya.


Demikian sang makhluk akhirnya sampai ke depan tubuh Eadwig, perlahan sang makhluk merunduk dan mengelus wajah Eadwig dengan punggung tangannya.


Ketika hal itu terjadi, air mata Eadwig mengucur deras, namun ia tidak bisa bergerak bahkan ia juga tidak bisa bersuara, ia hanya bisa menangis dan gemeteran saat melihat gerak-gerik Makhluk yang merasuki tubuh Arley itu.


Beberapa saat kemudian, Tepat dari belakang sang makhluk, terdengar suara telapak kaki yang bergerak. Ya, Maximus berhasil menggerakkan tubuhnya.


Maximus berhasil melepaskan dirinya dari rasa takut yang menimpa dirinya beberapa saat yang lalu. kemudian tanpa pikir panjang Maximus langsung menyodorkan tongkatnya ke-arah monster yang merasuki tubuh Arley tersebut.


Dengan lantang ia mengucapkan mantra paling kuat yang Maximus pernah pelajari.


Tak ada rasa ragu ketika ia ucapkan Mantra tersebut.


“Inferno Devastation!!”


Seketika itu juga, dari bawah lantai yang Arley duduki, muncul gelombang magma yang menyembur kencang menuju udara.


Sebelum hal itu terjadi, Makhluk itu menjolak Eadwig keluar dari Arena, dan seketika itu juga tim Paramedis menangkap Eadwig yang sedang dalam kondisi trauma itu.


Makhluk yang merasuki tubuh Arley, dengan lincahnya menghindari setiap semburan yang keluar dari lantai yang ia jejaki! Demikian ia juga berlari menuju tempat yang sekiranya dapat membahayakan orang lain.


Pertama-tama ia berlari menuju Trevor, dan saat itu juga Trevor di hempas oleh Makhluk itu dengan sabetan pedang tumpulnya. Dengan deruan angin yang sangat kencang, tubuh trevor terhempas kelangit dan terjatuh ke tanah tepat di luar Arena.


Selanjutnya makhluk itu berlari menuju Jack yang sedang dalam kondisi bertahan. Ketika makhluk itu sampai di depan tamengnya Jack, ia lompat ke depan Jack dan menendang tameng itu dengan kedua kakinya.


Saat itu juga Jack terhempas keluar dari Arena dan menabrak dinding di belakangnya sampai-sampai membuat dinding tersebut retak, demikian Jack terpingsan di tempat pada saat itu juga!


Namun belum selesai disini saja, magma yang muncrat dari dalam bumi dengan ganasnya menyembur menuju luar Arena. Makhluk yang merasuki tubuh Arley mengetahui akan hal tersebut.


Dia langsung membalikkan badannya menuju Maximus sambil merentangankan tangan kanannya yang memegang sebilah pedang tumpul.


Lalu sang mahkluk mendekatkan bilah pedang itu ke depan mulutnya, dalam waktu yang cepat, sang makhluk merapalkan sebuah mantra yang sangat di kenal oleh Arley.


“Gale Ventum~”


Dengan suara yang ganda, Mantra tersebut di ucapkan dan di hembuskan ke bilah pedang yang ia genggam.


Secara praktis, bilah pedang tersebut terlapisi oleh pusaran angin yang berputar begitu cepat. Lalu dengan pedang tersebut sang makhluk menyabet udara yang ada di hadapannya dan menjurus tepat ke-arah Maximus.


Dengan cepatnya angin yang menempel di pedang tersebut, terlepas dari bilah pedang yang di gunakan oleh sang makhluk.


Bagaikan putaran siklon, angin yang kencang langsung menderu hebat bagaikan udara jet yang  secara instan membekukan seluruh magma yang muncrat dari dalam bumi.


Sontak magma yang tadinya cair sekarang telah berubah menjadi kering bagaikan bebatuan fosfor yang baru saja memadat akibat terkena air yang sangat amat dingin!


Terciptalah bebatuan lancip tepat di atas Arena pertarungan tersebut. Dan sang makhluk yang merasuki tubuh arley hanya terdiam setelah kondisi di atas Arena mulai hening dampak tak ada lagi serangan yang mencoba menyakiti dirinya.


Dengan matanya yang hitam pekat dan retiana nya yang hijau cerah layaknya mata srigala yang kelaparan. Makhluk itu melihat ke kiri dan kekanan untuk melihat kondisi yang tengah terjadi.


Ia melirik ke seluruh penjuru, mulai dari para peserta yang ketakutan, lalu paramedis yang sedang menolong setiap perserta yang tengah terluka, penonton yang berada di tribun mereka, sampai akhirnya ia melihat ke-arah Maximus yang tengah mengatur nafasnya akibat kehabisan tenaga.


Maximus tersengah-sengah mengatur nafasnya akibat pengaruh『Mana』yang ada dalam tubuhnya telah habis total dan hampir tidak tersisa sedikit pun sebab serangan terakhirnya tadi.


Namun ia masih nekat menaikkan tangan kanannya yang gemetaran hebat tersebut, lalu membidik tongkat sihirnya ke-arah tubuh Arley yang tengah di rasuki oleh makhluk asing.


“S-Sialan …!! mengapa semuanya bisa menjadi seperti ini …!?! a-aku kira ia hanya anak culun biasa!?! Hei Cecunguk! Apa yang sebenarnya telah kau perbuat wahai anak bedebah sialan!!!”


Teriak Maximus sekuat tenaganya. Badannya bergetar hebat, bahkan ia merasakan seluruh tubuhnya tengah dalam kondisi menggigil seperti orang yang sedang terkena demam.


Akan tetapi setelah ia melontarkan kalimat kejamnya tersebut, sang mahkluk dalam hitungan detik, melompat maju ke-arah Maximus dan secara kontan ia tiba berhenti tepat di hadapan Maximus.


Sontak Maximus terbujur kaku kembali setelah melihat wajah Arley yang terlihat aneh tersebut, kakinya terlemas dan ia terjatuh kelantai seperti anak kecil yang baru saja belajar berdiri.


Dengan wajah yang ketakutan, Maximus mencoba untuk menjauh dari Arley dengan menggeret badannya ke belakang menggunakan kedua tangannya.


Sang makhluk hanya melihat pergerakan Maximus. Perlahan air mata Maximus tumpah keluar sembari ia berusaha mundur dari posisinya saat ini.


“Jangan mendekat!! Jangan mendekat kau bedebah sialan!! Aku membencimu!! Kenapa kau selalu saja merusak kehidupanku!!”


Teriak Maximus dengan cerobohnya. Tentu saja sang makhluk dengan cepat berjalan ke hadapan Maximus dan menendangnya dengan pelan.


Namun efek yang diderita sangat lah mengerikan, Maximus terhempas keluar dari arena pertandingan dan menghantam dinding tembok tribun penonton sampai-sampai batu tembok itu retak.


Saat itu Maximus langsung terpingsan di tempatnya, namun Makhluk yang merasuki tubuh Arley tampaknya bingung dengan keadaan yang tengah terjadi, demikian ia melompat maju lagi ke depan dan berhenti tepat di hadapan Maximus.


Spontan ia menerjang lagi Maximus dan lagi-lagi tubuhnya menghantam tembok yang tadinya retak, sekarang bebatuan di tembok itu mulai rontok dan berjatuhan ketanah. Tubuh Maximus pun tertanam di dalam tembok tersebut dan tidak lagi terjatuh ke tanah.


Tetapi lagi dan lagi, tampaknya sang Makhluk masih tidak puas dengan kondisi ini. ia kembali mengambil ancang ancang, dan saat itu juga ia menendang perut Maximus dan spontan tembok yang ada di belakang Maximus jembol!


Lantas tubuh Maximus terhempas keluar dari dalam Stadion『El-Colloseum』, tubuhnya keluar dari dalam stadion menuju pintu bagian timur dari pintu masuk kedalam stadion.


Demikian tubuh Maximus sudah terkapar lemas di luar sana, semua penonton yang tengah berbelanja di alun-alun stadion terdiam dan tercengang dengan kejadian itu. Mereka merubungi tubuh Maximus yang terbujur kaku sehabis di hajar habis oleh sang Makhluk yang merasuki tubuh Arley.


Namun lagi-lagi sang makhluk tampak tak puas dengan kondisi ini. ia mengambil ancang-ancang lagi untuk melompat menuju tubuh Maximus yang sudah terbujur kaku.


Badannya ia condongkan ke depan dan otot kakinya mulai di kejangkan, dan saat ia mau lepas landas, tangan sang makhluk langsung di genggam kuat oleh seseorang yang sangat pemberani.


Ya, ia adalah Eadwig.


Dengan nada suaranya yang serak, Eadwig mencoba berdialog dengan makhluk yang merasuki tubuh Arley tersebut, tidak, lebih tepatnya ia berusaha berdialog dengan Arley.


“Chough!! Chough …! Ugh … A-anak berambut merah … apakah kau mendengarkan ku …?! Jika kau mendengarkanku, maka sudahilah semua perbuatan makhluk ini …! Dengan nama Tuhan aku memohon kepadamu untuk menghentikan semua kegilaan ini!!” Ucap Eadwig dengan suara gemetaran.


Ya, suaranya sangat serak dan gemetaran, Eadwig memaksakan dirinya melakukan hal itu. Walahpun demikian, semua orang yang melihat hal itu mengakui keberanian Eadwig, karena saat ini hanya dia dan Maximus lah yang mampu berbicara dengan makhluk yang merasuki tubuh Arley.


“… Hey … kau dengar aku kan …? Kau pasti juga sudah lelah kan? , maka dari itu … Ayo kita sudahi semua ini ...~” Ucap Eadwig memelas kepada sang makhluk.


Setelah usai mendengar kalimat Eadwig, makhluk itu mengendurkan otot-otot pada tubuhnya, dan ia kembali berdiri tegak sambil melihat ke-arah Eadwig.


Ketika itu terjadi, Eadwig kembali Tertegun saat melihat sang makhluk, tapi kali ini ia mampu melawan rasa takutnya.


Ketika mereka saling bertatap wajah, sang makhluk membicarakan sesuatu hal kepada Eadwig dengan suara yang ganda .…


“E … adwig … of Sim … bad” ucap sang makhluk dengan bibir yang pecah-pecah tersebut. “Eadwig … The Breave …” Ucap nya sekali lagi, namun kali ini distorsi suara yang terdengar, perlahan berubah menjadi suara milik Arley yang sesungguhnya.


Demikian sang makhluk terlihat lemas dan ia secara spontan terjatuh terlentang ke belakang sambil menutup matanya.


“K-kau tidak apa-apa!? Hey anak berambut merah!!?” Teriak Eadwig dengan nada yang cukup kencang.


Namun saat itu juga, semua orang merasa legah dan mulai bertepuk tangan kepada Eadwig karena ia sudah berhasil meredamkan amarah sang makhluk yang merasuki tubuh Arley.


“Priiittt!!!!” Peluit tertiup tanda pertandingan telah usai.


Pada moment inilah panitia seleksi berani mengumumkan pemenang dari seleksi tahap satu. Heboh, dengan meriahnya, seluruh orang berbahagia karena kejadian horor yang beberapa waktu yang lalu tengah terjadi, saat ini telah usai.


Tepuk tangan meriah dan sorakan yang sangat gempar terdengar dari seluruh antero Arena, bahkan beberapa peserta mulai menangis setelah rasa takut mereka terlepas dari lubuk hati paling dalam mereka.


Tidak itu pria atau wanita, mereka semua menangis sanking legahnya mereka atas apa yang baru saja menimpa mereka.


Ketika hal itu terjadi, Eadwig melihat suatu hal yang janggal pada tubuh Arley, ia melihat tattoo yang menyelimuti wajah Arley bergerak menuju dadanya, dan sekilas seluruh luka di tubuh Arley menguap bagaikan air yang di panaskan.


Ya, Eadwig kembali dikejutkan ketika ia melihat tubuh Arley mengalami regenerasi penyembuhan yang sangat tidak normal.


Saat itu juga tubuh Arley sembuh secara total, namun ia masih tidak sadarkan diri.


Karena Arley masih tak Sadar kan diri, akhirnya tim paramedis berdatangan untuk melihat kondisi Arley.


Tim medis dengan sigap mengecek kondisi Arley, mereka juga terkejut dengan apa yang telah terjadi, sesaat kemudian seseorang tim medis melihat ke arah Eadwig dengan wajah yang terheran-heran. Namun Eadwig hanya menggelengkan kepala sembari memberi tanda bahwa ia tidak tahu apa-apa mengenai hal yang terjadi pada tubuh Arley.


Demikian tim paramedis langsung menggotong dan membawa tubuh Arley keluar dari dalam Arena menuju rumah sakit terdekat.


Mereka juga menggotong tubuh Maximus yang terkapar di luar Arena menuju kerumah sakit yang lokasinya berbeda dari Arley untuk menghindari perseteruan yang lebih lanjut.


Demikian nyawa mereka berdua akhirnya bisa terselamatkan.


***


Meriah juga heboh, dua kalimat itulah yang menggambarkan kondisi di dalam Arena saat ini.


Setelah tubuh Arley di bawa keluar dari Arena, Eadwig baru menyadari jika tepuk tangan yang meriah dan sorakan kemenangan di berikan kepada dirinya.


“Yang mulia Eadwig! Apakah anda baik-baik saja?!” tanya Trevor dengan nada cemas. tubuhnya sudah mulai membaik setelah ia dirawat oleh tim medis.


“Ya, aku tidak apa-apa ….” Jelas Eadwig sambil memandang keluar Arena.


Tepuk tangan yang meriah langsung mengisi kuping Eadwig, sanking meriahnya, kuping semua orang yang berada di bawah Arena menjadi berdengung.


Demikian pertandingan Grup ke-1 usai dengan hancurnya beberapa bagian di Arena pertandingan dan tribun penonton.


Dengan adanya kejadian yang seperti ini, para panitia seleksi bersepakat bahwa pada Grup ke-2 dengan sangat terpaksa peraturan akan dirubah dan perketat.


.


.


.


***


.


.


.


Kali ini Grup ke-2  sudah memasuki Arena.


Beberapa menit telah lewat semenjak pertandingan Grup-1 usai.


Hal ini terpaksa dilakukan, karena panitia seleksi membutuhkan waktu beberapa saat untuk merapihkan lapangan Arena agar dapat rapih seperti semula.


Dengan sihir tanah, mereka para panitia dapat merapikan segala kegaduhan yang di ciptakan oleh Grup pada gelombang pertama.


***


Seluruh peserta pada Grup ke-2 telah hadir di atas Arena pertandingan, beberapa dari mereka terlihat canggung dan demam panggung.


Namun ada juga beberapa peserta pada Grup ke-2 ini yang mereka sangat tertarik bahkan terpacu dengan akan berlangsungnya pertandingan mereka!


Beberapa saat kemudian Michale muncul di atas langit-langit Arena sambil menjelaskan beberapa peraturan tambahan.


“Selamat datang para peserta seleksi!! Mungkin kalian sudah mengetahui beberapa peraturan yang telah saya terangkan kepada Grup Pertama, namun dengan terjadinya insiden pada Grup ke-1, maka kami para panitia sepakat akan memberikan beberapa peraturan yang baru … bla-bla-blaa ….~”


Michale dengan semangatnya menjelaskan beberapa peraturan baru yang harus di patuhi oleh para peserta.


Namun dengan di tambahnya peraturan tersebut tentu saja akan menghambat lika-liku pertandingan yang akan segera di selenggarakan.


“… -Okay demikian lah peraturan yang tidak boleh kalian langgar!! Ingat sekali lagi! Jika peluit sudah dibunyikan! Berarti pertandingan telah usai dan kalian boleh keluar dari Arena saat itu juga!! Okayy demikian peraturan tambahan pada pertarungan di Grup ke-2!! Selamat berjuang!! Let's the Battle Royal!! Begin!!! ” lalu Michale menghilang dari atap Arena.


Demikian pertarungan di mulai.


Semenjak pertandingan di mulai, seluruh orang saling bersekutu dan saling menjatuhkan tim-tim musuh mereka.


Namun didalam riuhnya pertandingan, terdapat seseorang yang mengenakan jubah hitam dengan santainya ia berdiri tegak di tengah arena sambil bergumam sendirian.


“-Tch! ini semua gara-gara Arley …” Utas orang tersebut dengan nada yang sangat halus.


Ya! nada ini adalah nada yang di miliki oleh seorang wanita.


Demikian sang wanita mengangkat tongkat sihirnya ke udara, dan saat itu juga ia meneriakkan mantra yang sangat amat luar biasa dahsyatnya!.


“Wind of Catastrophe!!”


Saat itu juga, angin siklon berputar di tengah Arena dengan dahsyatnya! Semua orang yang berada di atas Arena terhempas keluar dan hanya mesnyihakan satu orang saja yang tengah berdiri sendiri tepat di atas Arena.


Ya, hanya sang wanita bertudung dan berjubah hitam itu sajalah yang berdiri dengan kokohnya di Tengah Arena sehabis menghempas seluruh lawan tandingnya.


Mereka para peserta dari Grup ke-2, saat ini hanya mampu tercengang setelah melihat realita yang baru saja terjadi pada diri mereka.


Tak ada yang mampu berkata atau melawan sang wanita berjubah hitam tersebut pada babak ke dua ini.


Kenapa demikian? Karena mereka cukup takut jika kejadian seperti Grup sebelumnya akan terjadi juga di grup ini.


Saat itu juga, pertarungan selesai dalam waktu 5 menit. Sontak seluruh penonton bersorak dan kagum dengan kegilaan yang terjadi di depan mata mereka!


Peluit ditiupkan. tanda pertandingan telah usia, sang wanita akhirnya turun dan keluar dari arena pertandingan. Ia pergi menuju lokasi yang entah kemana ....


Pada saat ia keluar dari Stadion, ia menggumamkan suatu hal yang sangat mengganggu isi hatinya.


“Tunggu aku nanti di babak selanjutnya … Wahai anak pembawa sial ... Arley Gormik …!”


Demikian mata sang wanita menunjukkan rasa dendam rahasianya pada karakter utama kita, ya, Arley Gormik ….


****