The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 270 : Dark Side Of Arley ....



Keriuhan sedang terjadi di barisan paling depan … namun, ini adalah bagian dari rencana tiga fase, yang Arley rancang.


Dan saat ini, Fase terakhir pun sedang berlangsung.


Ketika keributan sedang terjadi, Informasi secara perlahan merambat ke belakang dalam waktu yang lama. Dan ketika keterlambatan durasi ini belum tiba sampai ke kuping para petinggi pertempuran, maka ada sedikit keresahan di hati mereka semua.


“Apa yang terjadi?!” panggil salah seorang petinggi yang berada di dalam kereta kencana raksasa tersebut.


“Kami belum mendapatkan informasi, yang mulia!” ucap salah seorang prajurid yang membersamai pria itu.


“Cih! Cepat dapatkan informasinya! Aku tidak bisa membuat strategi jika seperti ini!” pria itu pun hanya bisa menggerutukan rasa jengkelnya sambil menyalahkan orang lain.


Namun, di saat inilah Arley mengambil kesempatan terbaiknya.


Saat itu, Arley langsung melompat menuju ke atas kereta kuda tersebut, tanpa di ketahui oleh satu orang sekali pun.


Dan ketia ia sudah berada tepat di atas kereta kencana tersebut, saat itu juga, Arley menebaskan pedangnya dengan penuh keberanian.


“Gale Wind!”


Teriak Arley, yang saat itu sempat mengingat, nama dari jurus pedang yang ia kuasa saat itu.


Terbelahlah kereta kencana itu menjadi empat bagian. Dan dari dalam kereta tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria perkasa, dan melompat tinggi untuk kembali menyerang Arley.


Tetapi Arley tidak terkejut dengan hal itu. ia sudah tahu, jika akan ada pria yang segera menyerang balik ia untuk melumpuhkan serangan musuh.


Arley pun tersenyum, dan pria itu menyadari, jika ada sesuatu yang aneh pada diri Arley.


“Kau anak yang aneh, aku tidak bisa menganggap remeh kemampuanmu.” Saat itu, tampaknya pria berbadan kekar itu menyadari, jika kemampuan Arley tidaklah seperti kesatria pada umumnya.


“Hee~ jarang sekali ada orang yang bisa menilai orang dari dalamnya, kau juga sangat berbahaya, paman ikal,” cekal Arley, yang menyapa balik pria kekar berambut ikal tersebut.


Kedua orang ini pun tersenyum lebar, dan mereka langsung mengadu ketangkasan bela diri mereka tepat saat berada di udara.


Para prajurit yang ada di bawah saat itu, hanya bisa berteriak dan menunjuk ke arah langit, sambil menyaksikan kehebatan di antara kedua orang itu.


Di sinilah Alan harus bertindak.


Sesaat, ketika keriuhan terjadi, tak ada yang sempat memikirkan orang lain. Mereka akan lebih utama memikirkan diri mereka sendiri.


Maka dari itu, ketika kereta kencana milik Verko itu hancur, seluruh prajurit yang mengintarinya, secara aotomatis lagsung berlari menjauh dan menghindari benturan agar tidak terluka atau cederta.


Dan di momen ini, Alan langsung bertindak cepat. Ia dengan kemampuan pencurinya, langsung menguikat kuat ketiga orang lainnya yang duduk di dalam kereta kencana itu sebelumnya.


Dan dalam waktu singkat, ketiga orang itu telah ditangkap serta siap dieksekusi.


Verko beserta ketiga bawahannya itu pun tampak begitu terkejut. Mereka tak menyangka, jika diri mereka akan diikat dan ditangkap secepat ini.


Ketika mereka bertiga sedang mencoba untuk berontak dan berkeinginan untuk melepaskan ikatananya, di saat itu lah para perajurit lainnya baru menyadari, jika bos mereka sudah dalam kondisi di tangkap.


“Yang mulia semua?!”


Lantas, teriaklah mereka semua secara bersamaan. Tapi semua itu sudah terlambat, jika mereka ingin menyelamatkan tuan-tuan mereka ini. maka nyawa tuan mereka akan lenyap dari tubuhnya.


“Opss! Jangan bergerak!” Alan mengancam para prajurit yang ingin menyelamatkan tuan mereka. “Jika kalian ingin menyelamatkan ketiga orang ini, maka saat ini juga kepala tiga orang ini akan aku penggal.”


Ancaman Alan pun sangat efektis. Seketika itu juga, mereka semua mati langkah dan tak ada yang bisa bergerak menyelamatkan tuannya.


Merasa nyaman dengan kondisinya, Alan pun langsung menumpuk ketiga orang itu dalam posisi saling bertindihan, menjulang ke atas.


Kepala mereka tampa di depan Alan, sehingga, jika ada prajurit yang macam-macam, bisa saja ketiga anak bangsawan ini mati di tempatnya.


Dirinya merasa sangat puas, ia tidak menyangka, jika ada hari dimana ia bisa merendahkan seorang bangsawan di bawah bokongnya.


Yap, selain mereka bertiga di tumpuk untuk saling bertindih, Alan pun menduduki mereka agar mereka bertga tidak dapat berlari.


“ARRRLEEEYY! TUGASKU SUDAH SELESAI!” Lantas, teriakan Alan yang kencang tersebut, adalah penutup dari tiga Fase rencana yang Arley rancang saat itu.


“Huh!? Mereka sudah tertangkap?!” Pria berbadan kekar dan berambut ikal itu pun baru sadar, jika ketiga rekannya yang lain telah tertangkap mentah-mentah.


Lalu, Arley pun tersenyum, sambil ia melihat ke arah sang pria dengan tatapan lega.


“Terima kasih karena sudah memisahkan diri dengan tiga orang itu. Jika tidak, rekanku pasti akan kesusahan menangkap mereka bertiga.” Lalu, Arley pun menebaskan pedangnya ke arah sang pria dengan sekali tebasan yang begitu kuat.


Pria itu pun mencoba menangkisnya, dan ia mengira, jika serangana ini adalah serangan seperti biasanya. Namun ternyata tidak, Ketika itu, kapak yang pria ini gunakan untuk menahan serangan Arley, seketika itu juga terpotong layaknya jeli yang lembut.


Sebelum bilah pedang Arley menyambar lehernya, pria ini bisa melihat, jika tebasan pedang Arley berjalan sangat lamban di matanya, namun, mau selamban apapun itu, dirinya tak bisa menghindari serang ayan gsatu ini.


“S-sial—”


Dan seketika itu juga, tubuh pria itu terjatuh dengan sangat kuat menghujam tanah. Para prajurit yang melihat ini, tentu saja langsung berlari ketakutan, sebab, Jendral terkuat mereka telah di kalahkan oleh pasukan musuh.


Walaupun mereka berpencar, tatapi, mereka tentu saja tidak bisa meninggalkan bos mereka begitu saja. Ada tiga bangsawan lainnya yang masih hidup.


Dan saat itu, terciptalah lingkaran upacara kematian, yang di bentuk sendiri oleh para prajurit tanpa komando tersebut.


“Hahaha … lihat mereka Alan. Jumlah mereka memang jutaan, tetapi, tanpa otak dan tenaga gerak, mereka tidak jauh berbeda dari semut yang di siram air.” Lantas, ketika itu Arley sengaja menjelekkan para prajurit tersebut, agar mental mereka jatuh dan tak ada yang mau menyelamatkan tuan mereka kembali.


Alan pun hanya tersenyum, sejauh ini, ia sudah merasa sangat puas atas apa yang telah ia raih, melecehkan para bangsawan adalah suatu pecapaian tertinggi bagi Alan saat itu.


“Arley … aku serahkan seluruhnya kepadamu.” Dengan demikian, Alan pun hanya memilih untuk berdiri di samping Arley, sembari ia menikmati, bagaiana para bangsawan ini akan di rendahkan tepat di depan para bawahannya.


Karena pentas telah tercipta, Arley pun langsung menguasai podium untuk menjalankan misi terakhir mereka, yaitu, memberi pelajaran terhadap orang-orang yang sudah berbuat sesuatu keburukan dan terlampau kelewatan batas.


“Para hadirin sekalian!” Ketika itu, Arley berdiri di atas tumpukan tiga bangsawan tersebut. Dan yang paling atas, adalah Verko, orang yang akan paling menderita dalam eksekusi ini.


“Seperti yang kalian lihat~ tiga orang ini adalah bos yang ingin kalian lindungi …,” cakap Arley, untuk menarik perhatian para prajurit musuh. “Tapi, aku yakin, ketiga orang ini pasti pernah berbuat semaunya kepada kalian?! Benar kan!?” lagi, Arley berteriak kencang, dan menunjukkan kejelekan kedua orang itu pada khalayak umum.


Namun, walaupun diri mereka di lecehkan, mereka bertiga tak dapat bisa melakukan apa-apa, hanya berusaha berteriaklah yang ketiga bangsawan ini bisa lakukan.


“Orang ini!” Injak Arley secara kuat, tepat di punggung Verko. “manusia yang kalian dewakan ini … sebenarnya adalah jelmaan iblis yang keji. Dan lihatlah pria malang ini!” lalu, Arley menunjuk Alan dengan jari telunjuknya untuk memperkenalan siapa Alan sebenarnya. “Pria ini … ibu beserta adiknya telah di jadikan pekerja malam oleh bangsawan bernama Verko ini! Bayangkan! Jika istri kalian, atau anak kalian yang di jadikan pekerja kasur secara paksa! Apa yang akan kalaian rasakan?! Ini sangat keji bukan!?” Arley terus memprofokasi mereka, dengan semangat yang berkobar-kobar.


Namun, sejauh ini Arley tidak menyiksan secara sadis Verko. Ia sengaja melakukan hal itu, untuk mendapatkan rasa prihatin dari para penontononnya.


“Oh Tuhan, aku tak tahu apa yang aku harus lakukan dengan ketiga orang ini … akan tetapi, jika kejahatan selalu di beri kelonggaran dan rasa maaf … apakah yang akan para korban rasakan saat ini!” Lalu, Arley mulai berakting, tetapi, actingnya sangatlah buruk.


Bahkan, Alan sampai tak kuat melihat acting Arley.


“Wahai para saudaraku sekalian … aku yakin, pasti ada di antara kalian yang pernah di sakiti oleh pria ini.” Arley kemudian mengangkat tangannya, untuk memulai pertunjukan utamanya. “Diantara kalian semua … kalau aku boleh tahu, siapakah yang pernah di sakiti oleh orang-orag ini …?”


Mereka semua terdiam … saling melirik adalah hal yang mereka bisa mereka lakukan.


“Tenanglah … setelah malam ini, kalian semua akan terbebas dari jeratan perih itu! karena, iblis-iblis ini sudah aku tangkap!” lalu, Arley kembali menginjak Verko, untuk memberikan rasa aman kepada para pasukan musuh. “Nah! Sekarang! Siapa yang pernah disiksa oleh mereka bertiga?! Jangan takut! Karena kalian bisa menyalahkan segalahal kepadaku! Aku-lah yang akan bertanggung jawab atas emua ini!”


Demikain, kalimat itu langsung bereaksi dengan baik, dan seketika itu juga, para prajurit yang awalnya takut untuk mengatakan kejujuran, saat ini, hampir 90% dari mereka, mengangkat tangan mereka.


Arley pun tersenyum licik saat ia melihat ini, darahnya mengalir mendidih, dan saat itu dirinya tak mampu menahan bibirnya untuk terbuka secara lebar.


“Kuh!” Saat itu … Arley langsung menutupi mulutnya dengan tangan kanannya.