
not edited!
Layaknya mata seekor naga, tampak sebuah lambang yang terlihat jelas dari bola kristal pada pedang yang Arley genggam.
“Lambang apa ini?” sesekali Arley membolak-balikkan pedang tersebut untuk memperhatikannya lebih jelas. “Sepertinya aku pernah melihat lambang ini sebelumnya …,” sambil mencoba untuk mengingat lambang apa yang terukir didalam batu tersebut, tiba-tiba Misa menyerang Arley dari jarak jauh.
“Arrlleey!” pekik Misa dengan suara yang melengking kencang, ia melesat kencang menuju kearah Arley sembari menyodorkan tongkat sihirnya.
“Water Impulse!”
Rapal Misa dengan keras, lalu dengan begitu cepat, muncul buntalan air seukuran bola basket dari ujung tongkat sihir Misa.
Secara tiba-tiba Misa berhenti dari posisi berlarinya, dengan gaya dorongan dan tarikan yang kencang, bola tersebut berubah menjadi runcing, saat itu juga misa menembakkan mantra nya tersebut dengan kondisi air yang berbentuk jarum raksasa tersebut.
Tetapi belum selesai, saat di udara, air tersebut terpecah menjadi ribuan jarum kecil yang siap menusuk dan menembus kulit orang yang menghalangi laju terbangnya.
Tampak Arley tidak panik, ia hanya melirik kearah butiran air itu sambil memindahkan pedang yang ia genggak ke tangan sebelah kanannya.
Tampak air itu bergerak pelan menuju kearahnya, karena arley bisa melihat gerakan terbang butiran air tersebut, saat itu juga Arley menebas butiran air yang Misa lontarkan kepadanya.
Menguaplah Air yang mengenai bilah pedang Air. Seketika itu juga, seluruh butiran air yang menyerang air berganti zat menjadi uap.
“Keuh!?” Misa merasa tertekan, jantungnya berdebar, tapi bibirnya tak mampu menahan senyuman bahagianya.
Arley menatap tipis kearah Misa, dengan tatapannya yang tajam itu, Arley berniat mengakhiri ini dalam satu tebasan.
“Kau masih ingin bermain?” ucap Arley mengembalikan kalimat yang pernah msia lontarkan kepada Arley.
Mengangguklah misa layaknya anak kecil yang ingin diberikan mainan, wajahnya sedikit memerah tampak seperti orang yang tengah berbahagia.
“Majulah!” undang Arley kepada Misa sembari ia mengarahkan ujung pedangnya kearah misa.
Lalu misa dengan sangat senangnya membuka kedua tangannya lebar-lebar, dan ia menengadahkan kepalanya kelangit.
“Oh Tuhan! aku sangat berterima kasih kepadamu karena engkau telah memberikan aku hari yang begitu indah ini!” tampak seperti orang gila, Misa melakukan segalahal seperti yang ia inginkan.
Lalu, dengan perlahan misa membuka jubah hitam yang biasa ia kenakan tersebut. Diturunkannya kancing besi yang tertanam pada jubahnya bagian depan tersebut. Lalu dengan begitu semangatnya Misa membuang jubah hitam tersebur ke pinggir kanannya.
Tampaklah baju yang Misa kenakan, terlihat begitu cocok dengan postur badannya.
Baju hitam semi gotik yang tak memiliki lengan, kemudian pada bagian dadanya sedikit terbuka, namun tertutup dengan rumbaian baju yang terjahit begitu rapi nan mempesona. Serta rok mini yang terjuntai sampai betis, terpasang menyatu dengan pakaian yang Misa kenakan.
Demikianlah diri Misa yang sebenarnya.
Namun yang mesti diperhatikan bukanlah baju yang ia kenakan sekarang, tetapi jubah yang ia lemparkan.
ketika jubah itu terjatuh ke tanah, saat itu juga lantai yang ditindihnya langsung pecah bagaikan tersambar batu meteor.
Melompatlah bebatuan itu ke atas langit bak hujan batu sehabis meteor menyambar bumi.
Dengan kegaduhan yang ia ciptakan, Misa tertawa lantang dengan begitu lepasnya sembari berjalan satai menuju kearah Arley.
Namun tetap saja Arley tak gentar, ia hanya menatap tajam Misa layaknya Serigala yang menemukan lawan tandingnya.
Seketika itu juga, Misa yang sedang berjalan menuju ke arah Arley, secara tiba-tiba menghilang secara spontan.
Manusia awam yang melihat kejadian itu tak mampu mengetahui keberadaan Misa. Namun Arley dengan tenangnya melirik ke sebelah kanan untuk mengantisipasi serangan yang misa lontarkan.
Tiba-tiba saja bebatuan bumi menghujani Arley dari sebelah kanan.
“Waw, menakjubkan!” terdengar suara Misa yang menggema ke seluruh Arena, para penonton tak tahu dari mana keberadaannya, yang mereka lihat hanya Perry dan Arley pada lapangan berbentuk mangkuk tersebut.
Namun Arley dengan tenangnya melirik kesebelah kiri sembari memutarkan badan kearah tempat dimana ia melirik tadi.
Lalu, ia arahkan ujung pedangnya kearah tersebut, tiba-tiiba saja batu berukuran raksasa melompat kearah Arley.
Tetapi, dengan hanya sedikit ayunan, batu itu dapat terbelah layaknya agar-agar yang terpotong oleh pisau dapur.
Lewatlah batu itu kesamping kiri dan kanan Arley dengan begitu mulisnya.
Degan lewanya batu tersebut, kali ini dari arah atas, Arley di hujani oleh bebatuan tajam yang jumlahnya tak dapat di hitung.
Namun Arley hanya diam, sejenak ia menancapkan bilah pedangnya tersebut ketanah, lalu terciptalah tameng api yang membulat layaknya bola kasti yang terpotong secara horizontal.
Setiap bebatuan yang menyentuh api tersebut, langsung berubah bentuk menjadi debu. Sampai saat ini tidak ada serangan yang mampu menyakiti Arley.
Suara Misa mulai tak terdengar, kali ini Arley mulai melirik kesana kemari sembari mencoba mencari keberadaan Misa yang tampak hilang.
Kala itu, insting Arley sangatlah tajam, tiba-tiba saja ia melangkah mundur sebanyak 10 langkah. Dan tepat sasaran.
Secara mendadak, terangkatlah tanah yang Arley pijak tadi. Lalu dari bawah batu yang terangkat tersebut, muncul tubuh Misa yang tampak sedang mengendalikan batu raksasa tersebut.
“Aku terkesan denganmu wahai Arley,” senyum misa sembari ia menaruh tangan kirinyadi pinggul seperti orang yang telah kelelahan, “Namun kali ini akan aku pastikan kalian semua akan mati!” sontak, Misa melemparkan batu itu keatas langit, dan saat itu juga ia memecahkan bebatuan itu untuk menciptakan bebatuan kecil yang mampu membunuh setiap orang yang ada di arena stadion [El-Colloseum] ini.
Berteriaklah setiap orang yang melihat batu itu terbang kelangit. Sesampainya batu itu menyentuh parabola yang mengelilingi negeri ini, saat itu juga matu itu kembali jatuh kebumi.
Lalu Misa mengarahkan tongkat sihirnya ke arah batu raksasa tersebut sembari merapalkan mantra sihir yang tadinya membuat RUbius dan Eadwig keluar dari arena pertandingan.
“Twilight Eruption!”
Seketika itu juga, terciptalah ledakan magma yang melesat kencang nan tinggi menuju langit.
Dengan begitu ganasnya, ledakan magma tersebut mengenai batu raksasa yang tadinya Misa lempar keatas langit.
Seketika itu juga, hancurlah batu itu berkeping-keping, lantas, batu itu berubah menjadi bebatuan api yang siap menghujam siapa saja yang berada di bawahnya.
“Lari!” teriak orang yang pertamakali menyadari jika sihir yang Misa rapalkan dapat membunuh mereka semua.
Panik, seluruh orang yang berada di dalam stadion merasa cemas dengan kejadian itu!
“Hahaha! bagaimana dengan yang satu ini … Arley!” tertawa gembira Misa melihat datangnya kehancuran turun kebumi soros ini.
Tetapi, Arley hanya memandang tenang keatas langit. Sontak, ia melompat tiinggi keudara, dan saat itu juga Arley menebas secara berputar tepat di ambang batas dimana atap tertinggi dari stadion [elcolloseum] ini di bangun.
“APA!?” seketika itu juga muncul urat-urat kesal dari sekujur tubuh Misa, tampak jika ia sangat marah dengan segala hal yang Arley lakukan untuk menghentikan semua serangan yang Misa lontarkan.
Saat itu juga Misa memakai cara paling licik diantara cara-cara lainnya, tersenyumlah misa karena ia merasa sudah memenangkan pertandingan ini.
***
----------------------------------------------
Hai semua sahabat pembaca dimanapun kamu berada! Jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, comment, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan memberikan sedikit pointnya, Author akan sangat senang sekali dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter demi chapternya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah! Demikian salam penutup dari Atuhor untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia! dan selalu berpikiran positif!
Always be Happy
And Happy Reading Guys!