The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 157 : Serangan Balik Amylia!



not edited!


 


 


Terdengar langkah seorang wanita degan begitu jelasnya. Udara dingin menyilih permukaan kulit menjadi semakin sejuk.


 


 


Aurum tak tahu apa yang ada di belakangnya, akan tetapi ia terus menatap ekspresi wajah si succubus untuk megethaui sebab dari perubahan wajah si iblis wanita.


 


 


“Apa yang terjadi di belakangku?!” ucapnya dalam hati sambil berniat untuk memutarkan kepalanya, tetapi tetap saja dirinya tak bisa melakukan hal itu sebab mantra sihir pengkaku tubuh yang di rapalkan oleh si succubus.


 


 


Kali ini wajah si succubus kembali netral. Ia tampa ksudah terbiasa dengan penampakan makhluk yang ada di balik tubuh Aurum.


 


 


“Kau bukanlah manusia … bagaiamana bisa kau tetap hidup setelah wajahmu berubah menjadi bubur seperti itu …?” jelas si Succubus sambil kembali membenarkan postur arogannya.


 


 


Aurum semakin bingung dengan apa yang di ucapkan si iblis wanita ini. ia hampir tak bisa membayangkan apa yang sebenarnya terjadi.


 


 


Akan tetapi, Aurum bisa mendengar langkah kaki Amylia, jadi dirinya yakin jika saat ini Amylia masih dalam kondisi yang baik-baik saja.


 


 


“A-amy! Kau baik-baik saja kan?!” teriak Aurum demi mencari informasi lebih lanjut.


 


 


Tak ada jawaban, hanya suara yang mirip dengan air mendidih dan entakkan kaki saja yang terdengar jelas.


 


 


“S-suara apa itu …?” gumam Aurum dalam hatinya yang masih tak mengetahui suara apa yang ia dengar saat ini.


 


 


Beberapa saat kemudian, suara itu berhenti secara sempurna. Bahkan sempat terjadi keheningan sejenak.


 


 


Sang Succubus pun tak bergerak, ia hanya melipat tangan sambil menatap ke arah belakang Aurum.


 


 


Tiba-tiba muncul kepala Amylia dari sebelah kanan Aurum. Sontak, Aurum cukup terkejut ketika hal itu terjadi.


 


 


“Aku baik-baik saja kok Aurum,” ucap Amylia dari samping kanannya.


 


 


Tak ada  bekas luka sama sekali, bahkan tak ada debu menempel di kulit wajah Amylia. Kulitnya benar-benar seperti kulit bayi yang masih halus dan mulus.


 


 


Aurum terkejut karena hal tersebut, ia tak menyangka jika Amylia akan baik-baik saja setelah wajahnya di serang dalam kondisi, point-blank.


 


 


Mulut Aurum terbuka sedikit, ia ingin berucap sesuatu tapi tak ada kata-kata yang terpikirkan untuk di tutur.


 


 


Berdiri lah Amylia dan kali ini ia kembali berjalan mendekati sag Succubus. Kala itu, si wantia iblis kembali tersenyum sembari ia membuka pelukan pada tubuhnya.


 


 


“Aku semakin tertarik padamu. Makhluk apa kau ini? apakah kau abadi?” Tanya si iblis sambil membalas dekat ke arah Amylia.


 


 


Pada akhirnya, mereka berdua saling berhadap-hadapan di atas kawah raksasa ini.


 


 


Di masing-masing tangan kanan mereka sudah tergenggam tongkat sihir yang berbeda model. Amylia menggenggam tongkat sihir yang terbuat dari kayu pinus tua, sedangkan si Succubus menggenggam tongkat sihir yang terbuat dari kayu Dark ember ranum.


 


 


Kayu yang di genggam Amylia tampak cantik dengan sedikit ukiran bunga mawar padanya, sedangkan tongkat sihir si Succubus hanya bengkok-bengkok tak beraturan.


 


 


“Aku sendiripun tak tahu, tapi jika aku bisa mengalahkanmu, mungkin aku bisa menemukan jawabannya,” jawab Amylia dengan alis menukik tajam ke bawah.


 


 


“Hey, bisakah kau tidak memasang kerutan wajah sampai seperti itu? wajah cantikmu jadi sia-sia jika kau membiasakan hal ini.”


 


 


“Jangan mengajari aku persoalan ekspresi wajah, Iblis wanita. Aku tak mengerti mengapa kau masih bisa tertawa di dalam momen seperti ini. Apa yang sedang kau tertawakan sebenarnya?” balas Amylia dengan kekalutan pada hatinya.


 


 


Amylia merasa kesal sebab apa yang si Succubus telah perlakukan pada wajahnya tadi.


 


 


Tepat sekali, sesungguhnya wajah Amylia sudah hancur bagaikan bubur. Namun entah bagaimana, dan entah mantra apa. Wajah Amylia langsung sebuh kembali seperti sedia kala, bahkan dirinya tak tahu bagaimana bisa hal itu terjadi.


 


 


Menghela napaslah sang succubus, sungguh dirinya menyadari apa yang Amylia lakukan bukanlah suatu kebetulan belaka. Ada sebuah rahasia di balik regenerasi super cepat tersebut.


 


 


“Dengarkan wahai wanita cantik, jika kau ikut denganku, aku berjanji akan memanfaatkan skill khusus mu itu untuk—” lagi-lagi ucapan si Succubus terpotong dengan sebuah insiden.


 


 


Meledak sebuah pusaran angin layaknya bom udara tepat di atas kepala Amylia dan sang succubus.


 


 


Terkejut bukan main, sang succubus langsung melompat jauh ke belakang, dirinya berhasil menghindar dalam kondisi yang mepet.


 


 


Sedangkan Amylia … dirinya menerima telak ledakan tersebut.


 


 


Tampak dari atas langit, seorang wanita yang mengenakan pakaian ketat berwarna hijau, dengan gianya menebar sihir menuju ke arah Amylia.


 


 


“Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! MAATTIiiiii!” pekik si wanita berkuping panjang. Ya, yang berteriak itu adalah sang Elf yang Amylia sempat kalahkan sebelumnya. Tampaknya ia kembali sadar dari pingsannya.


 


 


Melihat kejadian tersebut, sang succubus langsung melotot kesal menuju ke arah si Elf.


 


 


“Karif!” seketika itu juga si succubus meneriakkan nama si elf yang sempat menyerang dirinya tanpa di sengaja.


 


 


Tersentak melihat keberadaan sang succubus, Elf bernama karif itu langsun menghentikan serangannya.


 


 


 


 


Selepas mengetahui siapa yang sedang mengajaknya berbicara, wajah karif langsung berubah pucat. Bergegaslah dirinya turun dari atas langint menuju ke depan succubus bernama Lubrica tersebut.


 


 


“M-m-mmaafkan hamba tuan Lubrika! Hamba tak mengetahui jika anda tengah berada di sana!” dengan begitu hormatnya Karif merundukkan kepalanya sambil duduk dengan salah satu kaki menjadi tumpuannya.


 


 


Tak ada jawaban dari Lubrica, hanya aura intimidasi yag begitu dahsyat saja muncul dari dalam punggungya.


 


 


Betapa takutnya Karif selepas mengetahui jika Lubrica sedang dalam kondisi mood yang tidak stabil. Tak mampu kepalanya menengadah ke atas demi memandang langsung sang iblis berambut hitam legam tersebut. Padahal Rangking mereka hanya bertaut 1 angka.


 


 


Dari kejauhan, Aurum dan Helena menyaksikan hal tersebut. Diriya sudah dapat kembali bergerak selepas ledakan dahsyat yang terjadi beberapa waktu yang lampau.


 


 


Menyadari jika sang succubus sedang sibuk dengan si elf, Aurum langsung berlari mendekati tubuh AMylia yang terbaring kaku pada kawah kecil yang tercipta.


 


 


“Amy!” ucap Aurum selepas dirinya sampai mendekati tubuh Amylia. Kali ini lagi-lagi Aurum di buat terkejut oleh Amylia.  Wajah Amylia yang sempat luka oleh serangan ledakan si elf barusan, secara cepat menyembuhkan setiap lembaran kulit pada wajahnya.


 


 


“A-apa yang sebenarnya terjadi …?!” Tanya Aurum kepada Helena yang berdiri di pundak kirinya.


 


 


“Helena juga tak paham nanon … ini pertama kalinya Helena melihat kejadian ini naon ….”


 


 


Sontak, dari tempat di mana sang succubus memandang mereka bertiga. Tiba-tiba dirinya menyadari akan suatu hal yang sudah lama sekali si succubus lupakan.


 


 


“Mustahil! mungkinkan!?” ucap si succubus selepas dirinya mengenang kejadian itu.


 


 


Dengan kekuatan penuh sang Succubus melompat maju menuju tubuh Amylia. Terhempaslah sang Elf selepas dirinya terkena embusan angin kencang sebab lompatan si succubus. Sang elf terpental cukup tinggi ke udara sampai akhirya ia terbaing ke tanah kembali.


 


 


Lalu, dalam hitungan detik, tubuh Lubrica sampai tepat di samping kiri Amylia. Akan tetapi, akibat kencangnya lari sang succubus, energi hempasan angin yang telat sampai, membuat Aurum dan Helena ikut terpental menjauh dari diri Amylia.


 


 


Seketika itu juga tubuh Aurum berguling-guling di tanah kawah.


 


 


Wajah Lubrica tampak shock. Dengan cepat ia memeriksa tangan kanan Amylia, dan benar saja. Tanda yang ia cari ternyata tepat berada di tangan Amylia.


 


 


Panik, Wajah Lubrika berubah pucat pasih layaknya orang sakit.


 


 


“M-mustahil! ini tidak mungkin terjadi kembali!”  terdiam lemas, Lubrika menampilkan wajah kesalnya terhadap Amylia.


 


 


Sontak, tiba-tiba terdengar rapalan mantra dari bibir Amylia.


 


 


“Dramatic Ocean~”


 


 


Gumamnya dengan suara begitu pelan. Akan tetapi suara itu cukup membuat Lubrica panik dan sontak melompat tinggi keudara.


 


 


Namun segalanya sudah terlambat, Tepat di atas tubuh Lubrica, sudah ada Gelombang Tsunami yang akan melahap dirinya.


 


 


“Aku tidak terima ini! Tidak mungkin kejadian itu akan terulang kembali!” sambil menatap gelombang tsunami tersebut, Lubrica mengingat seorang kakek tua yang dulunya pernah menjadi Rival sejatinya. “YAAARRIIIIIIiiii!” Pekiknya kencang sembari tubuhnya di lahap oleh gelombang air tersebut.


 


 


Kala itu, dari arah tengah ibu kota, terdengar suara Besi yang teriris dengan pedang. Suara itu terdengar nyaring bahkan membuat semua orang melihat ke sumber suara. Tidak itu Aurum, Amylia, ataupun iblis elf bernama Karif.


 


 


Ya, saat itu Dwarf bernama Yari baru saja di kalahkan oleh Eadwig. Namun saat ini, Pertarungan antara Amylia, Aurum dan Helena belum selesai.


 


 


Apakah yang terjadi dengan Lubrica? Bagaimana cara Amylia mengalahkan dirinya?


 


 


Bersambung!~


 


----------------------------------------------


 


 


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


 


 


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


 


 


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


 


 


Baiklah!


 


 


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


 


 


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


 


 


Have a nice day, and Always be Happy!


 


 


See you on the next chapter!