The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 201 : Toko Jahit & Koper Penantian.



Not Edited !


Satu minggu telah terlewati, semenjak Arley dan keluarga barunya, tinggal menetap di kota [Dorstom] sebagai seorang pedagang.


Sejauh ini … barang yang paman Radits jual, sangatlah laris dan telah menjadi salah satu tempat yang mampu mengundang keramaian. Semua ini berkat barang buruan yang Arley dapatkan selama perjalanan mereka menuju kota ini.


Monster-monster langka, dan binatang buas yang susah untuk di buru, mampu mereka dapatkan dan mengolahnya dengan sangat baik.


Akan tetapi … untuk saat ini, seluruh barang dagangan paman Radits telah habis terjual.


Demikianlah saat ini Arley mendapatkan waktu luangnya untuk berkeliling kota [Dorstom]. Sedangkan Paman Radits dan Emaly, mereka memilih untuk menikmati waktu bersama, berjalan-jalan dan berbelanja di pusat kota.


Kali ini Arley mendapatkan uang saku. Jumlahnya lumayan besar, sebab setengah dari keuntungan yang paman Radits dapatkan, sengaja ia berikan kepada Arley.


Paman Radits adalah orang yang sangat jujur. Dia adalah pria bertubuh kurus dan memiliki rambut acak-acakan. Tetapi hatinya begitu bersih dan selalu peduli dengan sekitarnya. Jika ia mendapatkan amanah, pasti dirinya akan menjaga amanah itu, walaupun ia harus mengorbankan nyawanya sebab hal tersebut.


Hal ini lah yang membuat Arley mendapatkan setengah keuntungan dari barang yang Paman Radits jual. Selain karena setengah dari barang yang Paman Radits jual adalah benda yang Arley dapatkan dari hasil berburu … sebab lainnya juga karena, Arley adalah orang yang terbilang cukup dewasa, untuk memiliki barangnya sendiri.


Dalam pertimbangan inilah, Paman Radits mempercayakan Arley dengan uangnya sendiri.


“Baiklah … aku memiliki uang, sekarang … benda apa yang mau aku beli terlebih dahulu …,” gumam Arley sambil melihat sekeliling.


Berjalanlah Arley mengitari sisi Selatan kota. Dalam satu minggu belakangan ini, dirinya belum sempat mengunjungi setiap toko yang ia ingin hampiri sebab kesibukannya menjual barang dagangan bersama keluarga Tomtom.


Saat ini adalah waktu yang tepat baginya untuk menghabisi uang belanjaannya tersebut.


***


Toko pertama ia kunjungi.


Sebuah toko yang menyediakan berbagai macam jenis baju yang memiliki kekuatan sihir padanya. Pakian dengan beberapa ‘Enchantment’ penambah kekuatan, juga penangkal kutukan di rancang di toko ini.


“Selamat datang,” sapa seorang pengiring toko, yang kala itu mulai mendekati Arley. Namun, saat sang pengiring wanita itu melihat waja Arley, dirinya langsung jatuh cinta kepadanya dan ia langsung berteriak histeris layaknya kakak-kakak pecinta drama oppa-oppa.


Suara kera di kebun binatang pun terdengar bising, Arley tampak tak nyaman dengan suara yang terdengar melengking di telinganya.


Lantas, Manajer toko pun datang, yang ketika itu langsung menarik semua pengiring wanita, untuk masuk ke dalam ruangan staff.


“M-maafkan toko kami atas pelayanannya yang kurang baik, wahai tuan muda,” ucap sang Manajer sembari ia membungkukkan tangnnya dan menaruh tangan kanannya di dada sebelah kiri.


Arley tidak menjawab ucapan maaf sang Manajer, dirinya malah melirik ke sana dan kesini. Tampak dirinya cukup tertarik dengan benda-benda yang tersusun rapi di toko tersebut.


“Adakah barang yang kau unggulakan di toko ini?” tanya Arley dengan polosnya.


Sekilas, mata sang manajer langsung berkilau, semangat dagangnya menggelora bak kayu bakar yang di siram garam dapur.


“Kami memiliki banyak produk unggulan di toko ini. Tapi untuk anda, aku akan memberikan penawaran khusus yang tak akan aku ajukan kepada pembeli yang lain,” ujar sang Manajer, yang kemudian ia langsung berlari ke gudang penyimpanannya untuk mengeluarkan sebuah kotak kayu besar, berisikan koper kerja yang terbuat dari kulit King Boar, tertumpuk di dalamnya.


Dibukanyalah seluruh koper tersebut untuk memperlihatkan kepada Arley, baju-baju pilihan yang ia sisihkan hanya untuk para pelanggan setia tokonya, atau pembeli yang memiliki selera tinggi seperti Arley.


Terpapar baju-baju mewah berbahan sutra dan jenis benang-benang kuat lainnya. Desin yang unik dan elegan, cukup membuat orang yang melihatnya akan tercekik untuk menanyakan harga dari baju tersebut.


Tetapi tidak untuk Arley, ia dengan santanya memilih baju-baju yang tergelar di hadapannya. Satu persatu ia perhatikan dengan saksama.


“Yang ini bahannya apa …,” tanya Arley kepada sang Manajer. Sebuah baju dengan corak merah garis-garis hitam, yang biasanya di pakai anak-anak bangsawan saat gelar pesata formal diadakan.


“Baju ini terbuat dari kain Critigus, serat benang yang di panen dari laba-laba Critigus hutan, dan bahan ini hanya akan di dapat tiga kali dalam setahun, sebuah baju dengan bahan yang langka!” jelas si Manajer dengan gaya yang ekspresionis.


“Kalau yang ini?” tanya Arley, yang mengambil baju abu-abu polos, dengan corak bunga melati pada kerahnya.


“Pilihan yang elegan, Tuan Muda. Baju ini terbuat dari, Sutra Kupu-pupu Jidrad, yang hanya bisa di dapatkan pada musim dingin dalam periode dua puluh tahun sekali. Baju ini adalah satu-satunya baju yang menggunakan bahan tersebut,” ucap sang Manajer, yang lagi-lagi memberikan komentarnya sembari bergerak begitu ekspresionis.


Sejenak Arley terdiam melihat tumpukan baju-baju tersebut. Sejujurnya ia tak menemukan baju yang sesuai dengan seleranya.


Namun, tiba-tiba Arley melihat ke dalam kotak kayu yang sang Manajer angkut tadi. Di dalamnya masih ada satu koper yang tampak tua dan berdebu.


“Bolehkah aku lihat yang satu ini?” ucap Arley yang langsung mengambil kotak tersebut dan membukanya.


“Ah! Tuan Muda, Tapi kotak itu tak bisa di buka—” Belum selesai sang Manajer berbicara. Tiba-tiba Arley membuka kotak itu secara spontan.


“Aa- terbuka …,” gumamnya sambil terdiam dalam posisi duduk. “Apakah ini hal yang buruk … anu … untuk membuka koper ini …?” tanya Arley sembari ia mendongakkan kepalanya, melihat wajah sang Manajer.


Wajah sang manajer langsung tercengang. Dirinya tak menyangka jika momen yang sangat-sangat ia nantikan, akhirnya telah tiba. Tersenyumlah sang Manajer, lantas ia menurunkan jiwa dagangnya, dan berubah menjadi jiwa seorang pelayan yang setia.


Saat itu juga, sang Manajer merundukkan tubuhnya, dan ia langsung memberikan hormat dengan duduk pada satu kakinya, sedangkan kaki kanannya ia topangkan untuk menahan tubuhnya agar tetap tegap. Tangan kanannya ia taruh di dada sebelah kiri, dan tangan kirinya ia sembunyikan di belakang pinggang.


Dengan kepala yang tertunduk, sang Manajer berkata. “Aku telah menunggu kedatanganmu, Wahai yang Mulia, Arley.” Ucap sang Manajer, dengan nada penuh Hormat.


Kala itu, Arley yang bahkan belum melihat isi dari koper tersebut, tampak terheran-heran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Mengapa Manajer toko ini menundukkan kepalanya? Dan mengapa ia mengetahui nama Arley?


Sebuah misteri yang kembali tercipta, di saat misteri toko yang menghilang belum terpecahkan.


“Yang Mulia Arley … segala yang ada di toko ini, adalah milik anda. Ambillah semua benda yang anda butuhkan,” ucap sang Manajer sembari ia tetap terjaga dalam posisi hormat duduknya.


Lantas, Satu pertanyaan keluar dari benak Arley. “Ehm … pak Manajer …,” gumam Arley.


“Siap! Yang Mulia! Apa pun pertanyaan anda, akan hamba coba jawab. Dan jika pertanyaan itu tidak mampu hamba jawab, maka hamba akan mencari jawaban itu sampai ke ujung dunia!” ucap sang Manajer yang menunjukkan loyalitasnya.


“Ehm … Anu … bagaimana Pak Manajer bisa tahu nama saya …?” tanya Arley dengan senyuman polos nan manis pada wajahnya.


“Eh?—”


Seketika itu juga, sang Manajer mengkerutkan dahinya yang sudah keriput, juga hampir terjatuh dari sikap sempurnanya.


Bersambung ! ~


.


.


.


.


.


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


.


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


.


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


.


.


.


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


.


.


.


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


.


.


.


Baiklah!


.


.


.


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


.


.


.


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


.


.


Have a nice day, and Always be Happy!


.


.


See you on the next chapter !


.


.


.


.


.


.