The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 265 : Hancurnya Kota [Rapysta] (Part 1).



Duduk di atas kursi mereka masing-masing, tampak jelas … jika kedua orang itu adalah Cipi dan Alan.


Mereka berdua tersenyum tipis, tetapi, Arley tak tahu apa yang mereka berdua pikirkan.


“Kalian … apakah teman? Atau lawan …,” ujar Arley, yang kemudian memegangi gagang pedangnya.


Namun, tiba-tiba … kedua orang itu langsung berdiri dari kursinya, dan membukakan pintu kepada Arley dan paman Radits.


Raut wajah mereka langsung berubah, Cipi dan Alan, langsung menjadi serius setelah apa yang Arley katakan kepada mereka.


“Tenanglah … kami teman kalaian. Manager dari gedung ini, telah memberikan kepercayaannya kepada kami. Tetapi mereka tidak tahu, jika kami telah bekerja sama dengan kalian berdua.”


Arley pun lega, setelah ia mendengarkan penjelasan Alan. Ia tak jadi menarik bilah pedangnya, malaha, dirinya langsung berlari menuju ruangan selanjutnya demi membebaskan Melliana.


Paman Radits ikut dari arah belakang Arley, dan ketika Arley melintasi Cipi … saat itu Cipi berbisik kepadanya.


“Arley … lekaslah naik ke lantai selanjutnya … jika tidak, wanita itu akan tidak bisa menikmati hidupnya sebagai manusia normal lagi.”


Mendengar ucapan itu, Mata Arley langsung melebar. Saat itu juga, dirinya langsung berlari sekuat tenaga untuk cepat sampai menuju lantai selanjutnya.


“A-Arley!” sedangkan paman Radits, dirinya malah di tinggalkan oleh Arley, sebab urgensi yang amat penting.


Sekilas, paman Radits mendenagr apa yang wanita kecil itu ceritakan kepada Arley, dan untuk menghargai informasi tersebut, sang paman membungkukkan kepalanya sedikit untuk memberi tanda termakasih kepada mereaka berdua.


Demikian, Alan dan Cipi pun menganggukkan kepalanya, sebagai tanda terima kasih, karena sudah mau mengorbaknan nyawanya demi menghancurkan tempat ini.


Tanda-tanda keberadaan Arley dan paman Radits pun telah hilang. Pintu kembali mereka tutup, dan di saat pintu telah terkunci rapat, rombongan Manager lantai satu dan lantai dua akhirnya tiba pada ruangan lantai tiga.


“Alan …?! Kemana anak berambut merah dan orang tua aneh itu pergi?!” tanya Alakana kepada Alan.


“Mereka sudah naik ke lantai atas ….” Dengan tenangnya, Cipi menjawab pertanyaan Alakana walaupun pertanyaan itu di peruntukan kepada Alan.


“Kalian … kenapa kalian membiarkan kedua orang itu lolos … jangan-jagan …,” Litios pun menaruh curiga kepada mereka berdua. Saat itu, Litios pun mengeluarkan cambukannya, yang merupakan senjata tempur miliksa tersebut.


“Heeh! Akhirnya kalian menunjukkan taring kalian berdua, Huh! Dasar manusia tidak tahu diuntung, apa kalian tidak berterimakasih atas apa yang Tuan Verko berikan kepada kita?!” Alakana pun memarahi Alan beserta Cipi, dan kemudian mengeluarkan senjatanya yang berupa pedang lentur.


Demikian, Alan dan Cipi pun mengeluarkan senjata mereka. Cipi mengeluarkan tongkat sihrinya, sedangkan Alan, ia mengeluarkan dua bilah pisau tempurnya, untuk menahan pergerakan ratusan orang yang telah berada di ruangan tersebut.


.


.


.


***


.


.


.


Dengan begitu lincahnya Arley melompati tangga tanpa harus menaikinya satu persatu. Dan ketika ia tiba di depan pintu terakhir, yaitu pintu lantai Empat. Saat itu juga Arley mencabut pedang Mytrhilnya, dan ia tebaskan ke arah pintu tersebut.


Terbelahlah pintu itu secara tak beraturan. Tanpa menyia-nyiakan waktu, Arley langsung saja memasuki ruangan tersebut dengan sesuka hatinya.


Terdiam … dirinya menganalisa seluruh sisi ruangan tersebut. Tampak serupa, dengan apa yang tampil di layar kaca televisi, ketika Arley beserta paman Radits, melakukan negosiasi bersama sang pemilik gedung.


“Tidak ada … kemana dia pergi?!” Namun, Arley tak menemukan siapapun disana. Dirinya hanya berdiri di sebuah ruangan serba hitam, dan tampak ada kursi kantor yang mengarah menuju luar jendela.


Arley pun mengetahui, jika ada orang yang duduk di kursi tersebut, namun, orang itu bukanlah Verko, melainkan orang yang sempat dirinya temui beberapa jam yang lalu.


“Kau … Butler yang memberikan kami uang tunai.” Arley pun mengungkan identitas dari sang Butler.


Karena dirinya sudah ketahuan, Butler itu pun memutar kursinya untuk melihat ke arah Arely. Namun, kali ini Butler itu terlihat begitu berbeda.


Jika sebelumnya ia tampak tak memiliki Ekspresi, tetapi, kali ini ia tersenyum lebar sambil menunggu kedatangan Arley.


“Akhirnya datag juga kau … anak berambut merah~” ucap sang Butler, yang kemudian berdiri dari kursi tersebut, dan mendekat ke arah Arley.


“Di mana Melliana …,” tanya Arley, yang kemudian menggeramkan tangan kanannya.


“Kalau kau mencari wanita itu … saat ini, ia sedang bersama tuan, Verko, di ruangan itu.” Lantas, Pria yang terlihat muda tersebut, menunjuk ke arah sebuah pintu, yang berada di sudut Timur Laut, dari ruangan ini.


Memang benar, ada sebuah pintu berdaun satu di sana. Pintu itu terukir indah dan tampak begitu mewah.


“Apa yang ia lakukan di sana?!” Pikiran Arley mulai kacau, ia tak ingin sesuatau hal buruk terjadi dengan Melliana.


Pria muda itu pun tertawa kecil, ia tertawa sambil menutupinya dengan tangan kanannya.


“Aku tak tahu, tapi … mungkin yang mulia Verko sedang mencoba obat yang kau jual kepadanya tadi.” Dengan perkataannya yang berbisa, kalimat itu sangatlah efektif untuk memprofokasi Arley.


Lantas, Arley langsung meledakkan amarahnya menuju ke pria tersebut. Pedang yang Arley genggam, saat itu juga, ia genggam kencang, sembari ia memfokuskan seluruh kekuatannya pada satu serangan itu.


Arley tak berkata-kata lagi, namun … ada seusatu yang merasuki dirinya saat itu. Ia sadar, jika dirinya bukanlah dirinya sendiri, yang memiliki kekuatan sebesar itu.


Mata Arley bercahaya terang, sedangkan aura gelap keluar dari tubuhnya layaknya gelombang api yang begitu berkobar.


Pria yang mengenakan baju Butler itu pun melotot bingung, ia tak pernah melawan pria yang memiliki keanehan seperti ini. Akan tetapi, bukannya ia cemas, malahan, pria ini tersenyum lebar dan tampak seperti menanti kejadian ini terjadi padanya.


“Ohohoh! Kau … kau adalah pria yang aku cari-cari selama ini!! Aahahahah! Akhirnya … akhirnya aku menemukan lawanku yang setimpal!” teriak pria itu, sambil mengembangkan kedua tangannya.


Namun Arley tak banyak bereaksi dengan hal itu … dirinya hanya diam di tempat sambil menatap tajam orang yang ada di hadapannya.


Dan ketika itu … ke anehan yang kedua pun kembali terjadi kepada Arley. Jubah putihnya … secara tiba-tiba berubah warna menjadi gelap. Hitam pekat, layaknya langit malam tanpa bulan dan bitang.


Pria berambut klimis itu pun tiba-tiba tak bisa berkata-kata. Ia benar-benar tersontak, saat melihat perubahan wujud pada diri Arley.


Baju Arley berubajh warna, dan pandangan mata Arley … perlahan berganti warna menjadi ungu, dan terkadang merah.


“H-Hey … k-kau … apa yang kau lakukan?!” kata-kata yang pria berambut klimis itu ucapkan pun mulai berantakan.


Tetapi … ini bukanlah waktunya untuk berbicara lagi.


Paman Radit pada saat itu, baru saja sampai di depan pintu masuk ruangan tersebut. Dan betapa terkejutnya ia, saat melihat perubahan warna baju yang ARley kenakan, dan dia juga begitu heran, atas aura hitam yang Arley keluarkan.


“A-Arley?!” Sang paman pun memanggil Arley dengan suara lantangnya.


Tetapi … sekali lagi … waktu berbicara telah usai, yang ada di pikiran Arley saat itu, adalah meledakkan isi hatinya kepada target yang ada di hadapannya.


Pedang di angkat tinggi ke atas langit, seketika itu juga, Butler berambut klimis itu menyadari, jika serangan ini akan sangat berbayaha.


Lantas, Ia dengan seluruh kekuatannya, langsung berlari dan melompat keluar, memecahkan kaca pada lantai empat tersebut, demi menghindari serangan yang Arley segera lontarkan.


“AARRLLEEEYY!!”


Paman Radits pun berusaha menghentikan apa yang sang remaja berambut merah itu lakukan. Tetapi, yang sang paman dapatkan, hanyalah wajah dingin Arley, yang ketika itu tampak sangat berbeda dengan diri Arley yang biasanya.


Dingin … dingin bagaikan es … bahkan tatapannya membuat tubuh sang paman menjadi merinding, layaknya orang yang merasakan demam juga sakit pada bagian tubuhnya.


“He-hentikan!” ucap sang paman, yang ketika itu perlahan terjatuh pada kedua kakinya.


Namun, Arley tak mempedulikan hal itu …


Wajahnya pun kembali melihat ke arah Butler yang berusaha melarikan diri tadi. Dan saat Arley menebaskan pedangnya menuju ke bawah bangunan, sebab si pria Butler itu terjun menuju bagian bawah kota. Saat itu juga, setengah bagian dari gedung ini tertebas, layaknya jeli yang di potong menggunakan pisau tajam.


Kehenignan langsung terjadi. Pandangan seluruh warga kota tertuju pada satu titik, ya, pandangan mereka menatap menuju Gedung emas, yang kondisinya saat ini tampak hancur secara perlahan.


Melihat fenomena itu … harapan yang sudah lama terpendam di dalam hati warga kota [Rapysta], kembali berkembang layaknya kuncup bunga pada musim semi.


Di sisi rumah Walikota Wales Giorno, saat itu, sang walikota hanya menatap sendu, atas kehancuran yang sudah lama ia nanti.


Dirinya seang, namun secara bersamaan, dirinya juga merasa sedih. Perasaan yang bercampur ini, membuat dirinya menjadi tenang secara, walau pun dirinya tidak mengetahui akan hal itu ….


Ledakan itu, adalah awal dari kehancuran masal kota yang berdiri sejak lama ini ….