The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 50 : Setiap Pertemuan Pasti Akan Ada Perpisahan



Derasnya deruan Air terjun terdengar hebat sampai bisa masuk kedalam rumah yang kami singgahi. Mataku masih terpejam, tetapi panca indra ku sudah tersadar secara normal.


"...Kak ...Sofie ....?"


Ucap ku yang masih tersadar setengah nyawa ini, perlahan-lahan aku membuka kedua kelopak mata ini bagaikan mayat yang baru terbangun dari tidurnya.


Perih, bola mataku terasa kering, mungkin ini adalah efek samping dari kurangnya tidur selama satu minggu penuh.


Setelah kedua mata ku terbuka lebar, aku melihat ke atap rumah ini, ternyata semua ini bukan lah mimpi, mengenai aku hidup kembali ke dunia ini, juga tentang ibunda Terra dan paman Ordley, semua itu bukan lah mimpi belaka...


Tubuh ku bangkit dari kasur yang empuk, kemudian aku menyapu kedua mataku dengan menggunakan kedua tangan yang mungil ini.


Tampak hening dan sepi, yang terdengar hanya deruan air terjun dari depan bibir gua.


"...Kak Sofie ...?"


Aku masih mencari Sofie, ia tak terlihat semenjak aku terbangun dari tidur ku, begitu juga dengan Lily, mereka berdua tidak terlihat sama sekali.


Aku mulai panik, tetapi aku mencoba untuk tetap tenang dan mulai mencari keberadaan mereka, perlahan aku menuju keluar rumah dan melihat sekitar taman bunga permen, namun masih nihil, tidak ada tanda-tanda bahwa mereka berada di taman bunga ini.


Perlahan aku berjalan sempoyongan, tubuh ini tampaknya mulai bereaksi dengan komposisi tidurku yang masih kurang lama.


Ter tatih-tatih aku berjalan menuju bibir gua, tampak cahaya matahari yang menguning dari deburan air terjun di hadapan ku ini.


Setelah merasa sedikit normal, aku berjalan lebih cepat, dan ketika sampai di bibir gua, benar saja, waktu sudah menunjukkan sore hari, aku lantas beranjak perlahan keluar dari tepi air terjun.


Ketika aku keluar, matahari sore hari hampir saja terbenam. Aku mulai berjalan sampai ke pesisir sungai yang banyak tertimbun pasir sungai di sana.


Tampak ada jejak kaki yang aku rasa aku mengenalnya, yap, ini adalah jejak kaki Sofie dan Lily, tampaknya mereka berburu sesuatu atau mengumpul kan sesuatu di hutan.


Sambil menunggu mereka pulang, aku mencoba untuk membersihkan Badanku yang sudah mulai beraroma tak sedap.


Ku buka baju yang tampak compang-camping ini beserta celananya. Kemudian aku perlahan masuk ke telaga air yang lumayan menyegarkan badan tersebut.


Perlahan aku merasakan ketenangan di dalam hati, begitu juga dengan stamina serta tenaga yang selama ini terbuang secara tak terkontrol, aku merasakan semua hal itu terkumpul kembali masuk kedalam tubuh yang sebelumnya merasakan kelelahan, namun sekarang menjadi segar bugar.


Sekitar 20 sampai 25 menit aku berendam di dalam telaga air tersebut, aku mulai berfikir, jika aku terus melanjutkan nya, bisa-bisa aku akan masuk angin. bergegas lah aku keluar dari telaga air tersebut.


Tetapi masalah baru timbul kembali, celana dan baju yang aku kenakan, tampak sudah rombeng dan berbau tidak sedap, aku yang sudah bersih ini, menjadi enggan untuk mengenakan pakaian tersebut.


Kenapa aku bisa mengenakan pakaian sektor ini ya? Mungkin karena tubuhku yang kotor membuat hal-hal seperti ini menjadi teralihkan dengan hal yang lain.


Aku kemudian teringat suatu mantra yang sangat berguna untuk di manfaatkan, mantra ini tentang memperbaiki sesuatu dan membersihkan sesuatu.


Akhirnya aku mengambil tongkat sihir yang tersimpan di kantung celana, lalu aku merendam baju serta celana ku yang sudah rombeng tersebut.


Sejenak aku mengingat mantra yang akan aku gunakan, lalu ujung tongkat sihir ini aku arahkan ke pakaian yang sudah lembab terendam air di telaga tersebut.


Mantra akhirnya aku ucapkan secara lantang.


"Verum Festina~ "


Muncul cahaya dari ujung tongkat sihir ku yang langsung lompat ke dalam air telaga, perlahan segala benda asing yang ada di telaga tersebut kembali ke wujud prima nya.


Awalnya hanya Pakaian ku saja yang kembali seperti semula, aku kemudian mengambil satu set pakaian ku tersebut, bergegas aku mengenakan pakaian yang masih basah ini, namun ketika aku mau mengeringkan nya dengan "Gale Ventum" tiba-tiba muncul kepermukaan beberapa kayu yang sepertinya telah hanyut dari dalam telaga air ini.


Tanpa di sengaja sepertinya aku ikut membenahi segala benda yang terdampar di dasar telaga air ini, tetapi aku tidak menganggap serius hal tersebut, akhirnya aku ucapkan mantra angin yang sangat aku gemari ini.


"Gale Ventum~"


Berputar angin hangat ke sekujur tubuh ku, angin-angin ini merambat melalui serat kain yang sangat amat kecil, dan mengeluarkan serpihan air yang tertanam di setiap inci permukaan kain tersebut.


Seketika baju ku menjadi kering dan rapih kembali seperti sedia kala, selain itu aroma wangi juga kembali akibat angin yang aku ciptakan membawa sari bunga melati yang harum nan menenangkan hati.


"Srak-srak" terdengar suara semak rumput yang saling beradu satu dan yang lainnya, kemudian dari arah sumber suara tersebut Lily dan Sofie keluar secara berbarengan, mereka tampaknya berhasil mengumpulkan makanan untuk di santap pada malam hari ini.


"Ah Arley!?! Akhirnya kau bangun juga!! Aku kira kau mati suri atau nyawa mu takkan kembali lagi!"


Ucap Sofie yang tampak gembira, namun Lily tampak memikirkan suatu hal.


"Arley ...Kau baru selesai mandi?"


"Iya kak Lily, aku baru saja selesai mandi, kakak kok bisa tahu? Padahal aku baru sudah mengerikan pakaian ku ...."


Seperti hewan yang sedang kepanasan, Lily kemudian menggigit kuku nya dan wajahnya tampak merah.


"...Nnn ...Aku mau ikut mandi sama Arley, ayuk kita mandi lagi!! "


Sontak aku dan Sofie di buat terkejut oleh nya, ia tiba-tiba ingin membuka bajunya, untung Sofie menahan tindakan Lily yang Absurd tersebut.


"Aahhh!!! Nenek sialan!! kau sudah gila ya!!? Hey Arley!! Kau jangan diam saja di sana!! Tutup mata mu- Heeyy!! Nenek brengsek!!!"


Aku langsung menutup wajah ku dengan kedua tangan ku, kemudian aku membalikkan badan dan tentu saja perseteruan itu terdengar jelas. Wajah ku memerah dan aku memilih kembali ke rumah di dalam gua.


" Ahn!! Arley!?! Mau kemana?! Tunggu Arley, tunggu kakak!! Ayo kita mandi-"


"Aaaaaaa!!! Apa yang kau fikiran nenek peot!! ARLEY MASIH LIMA TAHUN LOH!!!"


"Hmmm tapi wajahmu ikut memerah loh Sofie, daripada berseteru ayo kita ajak dia mandi bersama fufufu~"


"Apa yang kau katakan!!! Aaaaaaa!! Tutup bajumu!! LILYY!!!"


Teriak Sofie dengan tegas, rusak sudah image ku kepada Lily, aku tidak dapat membayangkan dia sebagai kakak yang bertanggung jawab lagi.


Sambil menutup wajah, akhirnya aku berhasil masuk ke dalam gua dan kembali ke rumah dengan selamat.


***


Waktu berputar dengan cepat, tiba-tiba saja tanpa aku sadari, waktu malam telah tiba.


"tak-tak-tak!" suara pisau menghantam kayu terdengar dengan jelas sampai ke kamar ku.


Saat ini Sofie dan Lily sedang memasak makan malam untuk kami bertiga.


Aku yang sudah mulai bosan berada di dalam kamar, perlahan mengintip keluar melihat Sofie dan Lily bekerja keras.


Tampak dengan jelas, Sofie memotong sayur-sayuran dan Lily mengaduk daging yang sedang di rebus.


Aroma sedap perlahan menghantam hidungku. Ingin rasanya aku langsung menyantap makan malam itu, tapi aku harus lebih bersabar karena sebentar lagi masakan itu akan segera siap.


"Ah Arley? Kau sudah bangun?"


Ucap Lily yang tampak lebih normal dibandingkan tadi sore. Namun Sofie memandang tajam ke arahnya, seperti Sofie masih belum mempercayai aku kepadanya seratus persen.


"Kak Lily! Ingat! Jaga jarak!!"


"Yaa~ Aku paham Sofie"


Kemudian Lily memeluk Sofie dengan gembira.


"A-aaa aku lagi memotong sayuran kak Lily!! Ini berbahaya loh!!"


Tak menghiraukan perkataan Sofie, Lily masih saja menempel dengan Sofie dan mengganggu nya bekerja.


Aku yang sudah merasa aman, akhirnya keluar dari dalam kamar dan duduk di kursi makan yang terbuat dari Wafer tersebut.


Seklias aku melihat ada kertas lembaran yang saling menumpuk layaknya kertas koran, err sepertinya ini memang koran...


Aku buka surat kabar tersebut dan kulihat isinya, perlahan aku baca dari halaman depan.


Sofie kemudian tak sengaja melihat kearah ku dan ia seperti kebingungan.


Lalu Aku menutup surat kabar tersebut dan memandang sinis ke arah Sofie, sebenarnya ini hanya pandangan jahil saja.


"Kak Sofie ...Kau meremehkan ku ya ...."


Cetus ku sambil menggoda Sofie yang sedang memasak.


Lalu tiba-tiba Lily mem-backup ku secara tak terduga.


"Sofie~ Seorang penyihir harus bisa membaca untuk merapal kan Mantra nya, jika mereka tidak bisa membaca maka Mantra mereka tidak akan bisa aktif"


Sofie kemudian melirik ke arah ku, tampak ekspresi kekalah dari wajahnya. "Hehehe!" aku kemudian tertawa jahat sambil menjahili Sofie.


Tertegun melihat wajah ku, kemudian Sofie salah tingkah dan tangannya berhenti bekerja.


"kenapa kak Sofie? Kok kerjaan nya terhenti? Nanti makan malamnya terlambat loh"


Sofie merasa di intimidasi, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun kepada ku, kemudian ia berbisik tipis di kuping Lily yang lebih dekat padanya.


"hmm..?"


Aku bingung dengan geligat Sofie yang sedikit mencurigakan, lalu dari wajah Lily tampak senyuman tipis yang membuat ku penasaran.


Keluar lah statesmen pernyataan yang membuat pertandingan ini menjadi terbalik kedudukan nya.


"Sofie bilang jika ia ingin belajar membaca"


Ucap Lily, lalu Sofie memeletkan lidahnya ke arahku, dan entah kenapa aku merasa prank yang aku lakukan gagal, Sofie kenudian kembali memasak dan dalam beberapa menit makan malam telah siap.


***


Makan malam telah selesai, sebelum tidur di kamar kami masing-masing, Sofie memberi tahu ku akan suatu hal.


Tapi saat ini statement itu belum di ucapkan oleh Sofie.


"Glotak-klotak" Suara piring sedang di cuci menimbulkan suara kaca yang saling beradu.


Piring kami yang kotor di cuci oleh Lily tanpa pandang pamrih, ia mencuci nya di westafle tepat di sebelah kompor api. seluruh prabotan rumah ini menggunakan energi [Mana] dan banyak [Elemental Orb] tertanam di setiap sudut rumah ini.


Sedangkan Sofie berada di samping ku sambil membaringkan setengah badannya di atas meja.


"Hmm ...Per-ekonomian di [eXandia] sedang berjalan dengan lancar, sepertinya gubernur yang baru bekerja dengan baik ...."


Ucap ku sambil membaca Koran harian. Lembar demi lembar aku buka dan sampai akhirnya di bagian kriminal.


Disebutkan di surat kabar ini bahwa, penculikan sedang marak terjadi di [Lebia] banyak penyihir wanita yang hilang begitu saja tanpa belas yang tersisa.


Topik ini sepertinya sedang menjadi berita yang hangat di [Lebia] karena berita ini di muncul lan dengan gambar yang amat besar.


Fokus ku lalu terpecah, dari samping Sofie seperti ingin menyampaikan suatu hal kepada ku.


"Erm ...Arley ...Aku ...Aku akan tinggal di sini dan tidak melanjutkan perjalanan kita ke Ibukota ...."


Sontak tentu saja aku terkejut, mengapa tiba-tiba Sofie malah ingin tinggal di gua ini dan tidak mengejar cita-citanya.


“Maksudnya? "


Tanya ku kepada Sofie, aku sedikit di buat bingung olehnya.


"Arley, karena cita-cita ku itu lah aku ingin tinggal di sini, aku akan tinggal di sini sampai aku mahir dalam membuat kue ...Tadi siang ...Ketika aku dan kak Lily mencari bahan-bahan untuk makan malam ...Aku dan kak Lily sepakat untuk membuka toko roti bersama di Ibukota, tetapi hal itu tidak akan terwujud sampai aku benar-benar mahir untuk bisa membuat roti, aku berjanji dengannya untuk berlatih di rumah ini demi membuat roti yang sesuai dengan cita-cita ku ...."


Aku terdiam sejenak, namun aku paham sepenuh nya, bahwa di setiap pertemuan pasti akan tiba perpisahan.


Aku hanya tersenyum lebar, kemudian aku membulatkan tekad.


"Jika demikian, maka aku tidak akan bisa lebih bahagia lagi lebih dari ini, baiklah, aku akan menunggumu di [Lebia] sampai saat itu tiba, aku tidak akan pindah ke kota lain sampai kak Sofie dan kak Lily tiba di [Lebia] "


Ucap ku dengan jalan hidup yang sudah bulat.


Mata Sofie berkaca-kaca, malah ia yang tampak berat untuk melepaskan diri ku. Kemudian ia memeluk ku dengan hangat dan aku cukup terkejut dengan pelukan tersebut.


" Janji ya Arley!! Kau haru menunggu kami di [Lebia] sampai kami menyusul mu di sana!"


"Tentu saja kak Sofie!"


Ucap ku sambil membalas peluk hangat dari Sofie. Kala itu Lily hanya melirik ke arah kami dengan senyum hangat di wajahnya, ia tampak bahagia dengan kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini.


***


Malam telah larut, fajar mulai bangkit, pagi yang indah di balut kesunyian hutan yang dingin dan ber embun menjadi awal hidup yang baru.


Aku keluar dari sisi samping air terjun menuju pesisir sungai. dengan segala perlengkapan yang aku bawah, aku siap untuk pergi berangkat menuju ibu kota [Lebia].


Dari bibir gua tampak wajah Sofie yang bersedih, namun Lily berada di sampingnya jadi aku tidak akan terlalu cemas dengan kondisi Sofie di kemudian hari.


Perlengkapan yang aku bawa hampir tidak berubah semenjak aku pergi dari desa [Durga]. Kitab [PROTOCOL] yang di dalamnya tersemat surat undangan, serta ada tambahan item baru, yap, Kantung dimensi yang kami temukan di reruntuhan kota langit, Sofie menyuruh ku untuk membawa kantung tersebut.


Dengan demikian aku tidak perlu menenteng buku [PROTOCOL] yang biasa aku bawa, dan dengan demikian aku berangkat pergi.


"Samapi bertemu lagi kak Sofie!! Kak Lily!! Bye-bye!!"


Teriak ku sambil melambaikan tangan. Begitu juga dengan Sofie dan Lily, mereka melambaikan tangan ke arah ku.


Mantra ku ucapkan, angin berputar dan berubah menjadi solid, aku naik ke atas angin tersebut dan terbang ke langit yang luas.


"Jaga dirimu baik-baik Arleeyyy!!!!"


Teriak Sofie yang kemudian menangis sejadi-jadinya, aku hanya melambaikan tangan di atas langit, sampai akhirnya mereka tidak terlihat lagi.


Hari ini, hari perpisahan ku dengan Sofie, tetapi hari ini bukanlah hari terakhir aku bertemu dengan nya.


Setidaknya itu yang aku percaya sampai kapan pun.


Arc 2 : Pembebasan


Done~


***


______________________________


Curhatan Author : 💐💐☕📖


Haii sahabat Reader semua!! 😂👌🥳


Kali ini Arc ke 2 sudah berakhir, dengan di tutupnya Arc ke 2 ini menandakan bahwa Arc selanjutnya akan muncul di Chapter selanjutnya.


Setelah sekian lama akhirnya Arley sampai juga ke Ibukota [Lebia]. Ups kok Lebia bukan Levia?🙄


Sebenarnya selama ini pengucapan Levia di sebutkan sebagai Lebia. Dan bagi kamu yang baru membaca Novel ini dan tulisan Levia sudah bergantienjadi Lebia maka kalian adalah kaum yang beruntung 😂😂🤣🤣🙏


Okay, Arc selanjutnya adalah mengenai pertemuan Arley dengan Misa yang sudah sekian lama tertunda dengan berbagai macam hal. 😔


Entah apa yang akan terjadi dengan mereka berdua, tetapi sampai di sini author berharap para pembaca bisa berbahagia dengan apa yang Author Kisah kan 🥳🥳😘🤭👍


Okay sahabat reader sampai jumpa di episode selanjutnya, jangan lupa untuk like, follow dan vote.💕


See yaa 💪😎👍💐☕📖