The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 263 : Membaranya, Api Dendam!



Kuda telah dikendarai kencang oleh Paman Radits dan Arley. Saat itu, Arley sedikit terngiang atas apa yang sang walikota, Kota [Rapysta] ucapkan kepada mereka berdua.


Ketika itu, Arley dan paman Radits merasa sangat di kejutkan, atas informasi yang sudah mereka tunggu sejak menerima surat yang telah ditandatangani oleh Verko sebelumnya.


Sang Walikota berkata, jika sebelumnya, paman Radits dan Arley pernah membuat perjanjian dengan Verko, maka, Verko tidak pernah memiliki niat untuk melunasi janji, atau perjanjian mereka.


Kalimat itulah yang membuat paman Radits beserta Arley merasa begitu lepas, juga merasa sangat cemas, atas apa yang saat ini sedang terjadi di ke kediaman rumah Polka.


“Arley … apa yang kau rasakan saat ini?” tanya paman Radits, yang ketika itu tengah mengendarai kereta kudanya dalam kecepatan penuh.


Arley terdiam sejenak, lantas, dirinya pun memberikan pandangannya atas apa yang ia rasakan saat ini.


“Aku … cemas dengan kondisi Melliana …,” jelas Arley, yang saat itu sangat sesuai dengan apa yang paman Radits rasakan.


Tersenyumlah sang paman, sebab ia sudah mengkonfirmasi, atas skill yang Arley miliki saat ini.


“Kalau begitu, peganglah perutku lebih kencang, juga, kuatkan kepakan kakimu!” Setelah sang paman memberikan perintahnya kepada Arley, saat itu juga, mereka menambah kecepatan lari kuda mereka dengan sangat kencang.


.


.


.


***


.


.


.


Setengah jam telah berlalu …


Saat itu, apa yang paman Radits dan Arley perkirakan, ternyata kembali terjadi.


Rumah keluarga Polka terbakar hebat … dari kejauhan, asapnya membumbung tinggi ke udara dan membuat daerah sekitarnya menjadi berkabut.


“GaaahhH!” Teriakan paman Raditspun menggema kencang di sekeliling ladang milik Jasmine.


Arley juga merasa cemas, atas kondisi Varra juga Emaly. Kecepatan kuda pun mereka tambah agar cepat sampai di rumah yang sudah mereka tempati beberapa hari ini.


Sesampainya di sana, betapa terkejutnya Arley dan paman Radits … saat, mereka menemukan jasad seorang wanita, dengan bekas tusukan pada perutnya.


Kala itu, sang paman hanya terdiam, sambil menggeram kuat kedua tangannya.


“GAAaaaaaAAa! VERKO! KAU BIADAB!”


Dengan seluruh emosinya, sang paman menggelegarkan emosinya sampai ambang paling tertinggi.


Untuk sejenak … Dengan serius Arley memperhatikan tubuh yang teregeletak di hadapannya. Akan tetapi, dari arah kandang sapi yang berada cukup jauh dari rumah tersebut, tiba-tiba terdengar suara minta tolong yang cukup keras.


“TOLOONG! TOLONG KAMI!” Suara itu pun menggema, dan nadanya sangat dikenal oleh Arley juga paman Radits.


Paman Radits dengan cekatan langsung menghampiri kandang tersebut, dan seketika setelah ia membukanya, tampak, Varra beserta Emaly juga Joshua, berada di dalam kandang tersebut.


Varra langsung berlari keluar dari kandang tersebut dan menuju ke tempat Jasmin tergeletak, sedangkan paman Radits, dirinya menghampiri Emaly beserta Joshua, dan kemudian, ia menggendong keduanya dengan dekap, yang kemudian, ia membawa kedua anak itu menuju ketempat Jasmin berada.


“Jasmin! Jasmin!” Kala itu, dengan depresinya Varra mendekati tubuh Jasmine sambil menggoyang-goyang tubuhnya dengan intens, akan tetapi, ketika dirinya melihat ada sebuah lubang di bagian perutnya, saat itu juga Varra langsung meneteskan air matanya.


“Tidak … tidak! Tidak-tidak-tidak-tidaaak!” pekik Varra berkali-kali, sambil mengguncang kuat tubuh Jasmine. “Kau tidak boleh mati di sini Jasmine! Apakah kau akan meninggalkan Joshua dengan Melliana begitu saja?!”


Ketika itu, Arley pun langsung memegangi kedua tangan Varra, dan menghentikannya dari mengguncang tubuh Jasimine.


Dan saat Arley menghentikan tindakan Varra, saat itu, Varra baru tersadar jika Arley sudah berada bersamanya.


“A-Arley … Arley …? Arley!? Ohh, Arleyy!  Tolong aku Arley!” Namun, kali ini Varra malah kembali mengguncang tubuh Arley untuk meminta pertolongan.


Sejenak Arley memeluk tubuh Varra dengan dekap, lalu, setelah paman Radits berhasil menggeserkan kereta dagang mereka ke tempat yang aman, dan menidurkan Joshua beserta Emaly di dalamnya. Saat itu, sang paman mendekat ke arah Jasmin dan mengecek detak jantung dari sang wanita paruh baya tersebut.


Varra pun terdiam sejenak, sembali menunggu hasil dari checkup yang paman Radits lakukan.


Setelah beberapa kali ia melakukan Check up, sang paman pun menggelengkan kepalanya, sembari menutup mata Jasmine yang kala itu masih terbuka.


Mendekaplah Arleuy dengan kencang, untuk mengalihkan perhatian Varra dari jasad Jasmine, akan tetapi, Varra yang ketika itu juga sudah mencoba menahan tangisannya, ternyata tak mampu menahan rasa perih di dada, sampai-sampai ia menumpahkan seluruh tangisannya pada Pundak Arley.


Akan tetapi, tiba-tiba Arley teringat akan sesuatu … seketika itu juga, ia mendorong tubuh Varra dan menghampiri tubuh Jasmine yang tergeletak kaku di depan rumah yang tengah terbakar itu.


Namun, sang paman melihat ada sedikit Harapan pada apa yang Arley lakukan. Saat itu, Varra dan paman Radits lebih memilih melihat apa yang Arley kerjakan, dengan sebuah harapan kecil dalam hati mereka.


Sejenak, Arley memang mengecek detak jantung Jasmine, lalu, ia berpindah ke bagian belakang telinga Jasmin. Untungnya, di sana Arley masih merasaka kehangatan pada bagian belakang kupingnya.


Seketika itu juga, Arley langsung mengeluarkan sebuah tabung kecil berwarna hijau terang, dari dalam tas yang ia sematkan di bagian punggung kirinya.


Dengan cepat, Arley membuka mulut Jasmine, dan saat itu juga, Arley menuangkan cairan itu ke dalam mulutnya. Lalu, Arley menarik napas yang cukup panjang, dan seketika itu juga, Arley ingin meniupkan udara itu menuju mulut Jasmin.


Saat dirinya mulai mendekatkan bagian bibir menuju mulut Jasmine, tiba-tiba, Varra malah menahan mulut Arley, dan dirinya dengan tatapan tajam mengutuk tindakan Arley tersebut.


“Biarkan aku yang melakukannya!” ucap Varra, yang secara tiba-tiba ingin menggantikan posisi Arley, untuk melakukan napas buatan.


Lantas, Varra pun meniupkan udara pada mulut Jasmine, agar cairan yang di tenggakkan kedalam kerongkongan Jasmine, bisa masuk ke dalam tubuhnya dan bereaksi dengan cepat.


Usaha Varra berhasil, namun, belum tampak reaksi nyata di hadapannya. Arley masih berpikir keras, kala itu, dirinya kembali merogoh sesuatu dari tas kulit yang ia sematkan pada punggungnya itu.


Kali ini, ia mengeluarkan obat yang serupa dengan yang sebelumnya, tetapi obat itu ia tumpahkan ke bagian luka yang menyebabkan cedera fatal bagi Jasmine.


Di saat Arley menumpahkan cairan itu pada bagian lukanya. Seketika itu juga, luka yang tertancap sampai menuju lambung Jasmine, saat itu juga menutup dan tampak seperti tak pernah terjadi luka sedikitpun pada bagian tubuhnya.


Namun, hal ini juga masih belum selesai. Dengan intens, Arley memompa jantung Jasmine, sampai dirinya pun berkeringat jagung ketika melakukan hal ini.


Perlahan, rumah kayu yang berada di belakang Arley ,mulai meruntuhkan setiap sisi pondasinya. Paman Radits yang tak ingin hal buruk terjadi kepada Arley, saat itu berdiri di bagian belakangnya, agar Arley tidak terkena percikan api yang menyambar-nyamber tersebut.


“P-Paman?!” Arley cukup terkejut, saat sang paman melakukan hal tersebut, namun, dirinya paham, jika sang paman memang sengaja melakukan hal itu untuk melindungi dirinya.


“Lanjutkan! Aku tak apa-apa! Lakukan yang terbaik untuknya!” ucap sang paman, sambil menutupi punggung Arley.


Demikian, Arley melanjutkan tindakan utamanya. Ia terus memompa jantung Jasmine … dan sampai pada akhirnya … usaha yang Arley lakukan, membuahkan hasil.


Jasmin terbatuk, dan sedikit darah keluar dari kerongkongannya. Saat itu, untuk pertama kalinya, Jasmin sempat merasakan apa yang dinamakan, menuju ke ambang kematian, dan hal ini akan selalu ia ingat sampai akhir khayatya.


Tersenyumlah Varra dengan amat gembira, ketika Jasmine kembali membuka matanya.


“Jasmine! Syukurlah kau masih hidup!” ucap Varra, sambil menangis di hadapan Jasmine.


Jasmine pun tersenyum sejenak, namun, seketika itu juga, senyumannya luntur dan berubah menjadi kecemasan ….


“Melliana …? Bagaimana dengan Melliana?!”


Dan saat pertanyaan itu terlontar dari mulut Jamine … Arley pun langsung berdiri dari duduknya. Ia melihat ke arah paman Radits dengan tatapan tajamnya.


Sang paman membalas tatapan itu dengan wajah yang sama kejamnya dengan Arley. Mereka berdua tahu … ya, mereka tahu … siapa dalang di balik ini semua.


Ketika itu juga, paman Radits langsung menyiapkan kuda yang satunya, untuk di bawa kembali, menuju kota [Rapysta]. Sedangkan Arley, di saat dirinya mengecek perobatan yang tersisa pada kantung kulit hewannya, saat itu juga, Jasmine menarik celana Arley dengan cara mencubitnya.


Arley sadar, jika Jasminlah yang melakukan hal itu, tetapi, ia tak berani melihat wajah sang wanita paruh baya tersebut.


“A-Arley … t-tolong Melliana …,” gumam Jasmine, yang tampak sangat susah untuk berbicara, sebab kondisinya masih sangat lemah.


Arley pun mengintip sedikit menuju arah Jasmine, lalu … ia tersenyum tipis sambil mengaggukkan kepalanya, sebagai tanda, bahwa ia akan mengabulkan permintaan Jasmine tersebut.


“Tenang saja, aku pasti akan membawanya kembali pulang!” tegas Arley, yang kemudian berjalan menuju ke tempat dimana sang paman menyiapkan kuda mereka.


Di waktu sore hari itu … Varra dan Jasmin mentap lesu, menuju ketempat dimana Arley dan paman Radits mengendarai kuda mereka dengan kecepatan tinggi. Dalam waktu yang singkat, kuda itu sudah tidak terlihat lagi.


“A-apakah mereka akan baik-baik saja …,” gumam Jasmine, yang masih merasa tidak enak hati, sebab permintaannya kepada Arley.


Menanggapi hal itu, Varra pun menggapai tangan Jamine dan menggenggamnya dengan lembut.


“Tenang saja, mereka berdau adalah orang yang sangat kuat! Aku bisa menjaminnya.” Dengan wajahnya yang masih menumpahkan air mata, Varra tampak berusaha meyakinkan Jasmine atas kekuatan Arley dan paman Radits.


“Kau benar … yang bisa kita lakukan sekarang … adalah berdoa untuk mereka.”


Kala itu … Arley dan paman Radits tak berbicara apa pun. Mereka benar-benar diam dan menahan emosi mereka agar tidak tertumpah di tengah jalan.


Wajah kedua orang ini sangat mengkertut, sama kerutannya dengan kain yang di kusutkan secara paksa. Dan mulai saat ini … mereka berdua tidak peduli lagi dengan perjanjian, atau apa pun itu urusannya dengan Vekro.


Kembalinya mereka berdua menuju kota [Rapysta], pada kesempata kali ini, adalah untuk benar-benar meruntuhkan kekuasaan Verko, dan memisahkan nyawa Verko dari badannya.


“TUNGGU KAMI! VERRKOO!”


Pekik kedua orang itu dalam hati terdalam mereka.