The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 111 : Another Skill Test.



not edited!


Terik matahari mulai terpapar begitu menyengat. Terlihat dari seluruh penjuru, penuhya manusia didalam stadion [El-COlloseum] berhasil menggetarkan tanah yang para peserta pertandingan injak.


 


 


Saat ini, tampak di layar monitor yang sedari awal para peserta masuk keadalam Arena, sudah bertengger di atas langit tetapi tanpa tuannya.


 


 


Pada layar tersebut, terlihatlah sebuah jam yang menandakan waktu pada saat ini, detiknya terus berdetak, sampai pada akhirnya jarum panjang pada jam tersebut menyentuh angka 12 tepat.


 


 


Muncullah ledakan berwarna pink dari atas lobi kaca stadion.


 


 


“Selamat siang wahai hadirin sekalian! Selamat datang kembali di turnamen hari ketiga! Yaitu hari terakhir dari turnamen yang hanya diselenggarakan selama setahun sekali ini!” tampak Michale langsung melompat tinggi keudara sembari ia mengenakan sepatu per yang terlihat cukup aneh.


 


 


Berali-kali ia melompat tak beraturan akibat sepatu yang Michale gunakan.


 


 


“Baiklah! Sebelum kita masuk ke seleksi akhir! Marilah kita masuk ke babak ke lima dari sekelsi tes tahap kedua.” Ujar Michale yang kali ini berhasil memberhentikan lompatan per-nya.


 


 


“saat ini, 36 peserta telah terseleksi dan berhasil masuk ke babak ke lima. namun sebelum kita melanjutkan ke babak selanjutnya, ada sebuah pesan yang ingin aku sampaikan.”


 


 


Suasana arena menjadi hening, beberapa orag saling berbicara dengan tetangganya untuk mengetahui sebenarnya apa yang Michale ingin sampaikan.


 


 


“Sudah hampir tiga hari turnamen ini di selenggarakan, dan sesuai tradisi yang sudah kami pegang teguh sampai saat ini! maka aku akan mengumumkan,” terdiam sejenak Michale dalam ucapannya, “Selamat! Untuk kalian yang tersisa di babak ini! kalian telah lolos seleksi masuk kedalam universita penyihir dan akademi kesatria!.”


 


 


Setelah mendengar pengumuman tersebut, meledaklah suara yang terdengar begitu memecah kuping. Seluruh peserta dari Negeri [Exandia] melompat-lompat kegiranagn karena mereka telah berhasil masuk kedalam akademi yang paling bergengsi di benua ini.


 


 


Begitupun dengan Arley, namun ia tak bisa memeriahkan hal tersebut, karena nasib negara ini akan berakhir tepat pada malam hari ini.


 


 


Namun ia berusaha untuk tidak memikirkan kejadian yang belum terjadi tersebut, maka dari itu, Arley mencoba untuk kembali fokus ke pertandingan yang akan dia hadapai beberapa saat lagi.


 


 


“karena kalian telah lulus, maka dari itu ,kami, para panitia sepakat. Akan menjadikan pengecekan Skill test kalian sebagai bagian dari babak kelima dari seleksi test babak kedua, adakah dari kalian yang keberatan?” tanya Michale kepada para peserta pertandingan.


 


 


Para peserta pertandingan pun saling menoleh satu dengan yang lainnya, mereka bergantian menggelengkan kepalanya seperti memberikan tanda bahwa merka setuju dengan perkataan Michale.


 


 


“Okay baiklah, diamnya kalian akan aku anggap sebagai kata iya,” tegas Michale, “kalau begitu mari kita tidak berlama-lama lagi.


 


 


Michale lalu mengeluarkan tongkat sihirnya dari dalam baju, saat itu juga ia melompat tinggi keudara. Dan saat itu juga, ia mengayunkan tonkat sihirnya sembari mengarahkannya kearah layar kaya yang tadinya ia injak.


 


 


“Transformation!”


 


 


Rapalnya dari atas langit, meluncurlah sebongkah api yang menjalar menuju lobi layar kaca tersebut.


 


 


Setelah api itu menyentuh kaca yang sering diguakan sebagai lobi tersebut, tiba-tiba saja kaca tersebut membulat dan berubah bentuk bagaikan benda cair.


 


 


Terjatuhlah kaca tersebut keatas arena.


 


 


Mereka para peserta yang berada di bawah kaca tersebut, langsung berhamburan keluar dari atas arena demi menyelamatkan diri.


 


 


Namun, setelah kaca yang tadinya tampak begitu keras dan transparant, kali ini berubah menjadi lentur dan memantul.


 


 


Ya, memantul.


 


 


Berubah bentuklah kaca yang tadinya gepeng, menjadi bulat layaknya bola kristal. Saat bola tersebut menghantam tanah, ketika itu juga bola tersebut memantul kelangit.


 


 


Hal ini terus terjadi sampai akhirnya daya pegasnya habis sendiri. Setelah bola itu terdiam di tempatnya, michale kemudiam mendorong bola raksasa tersebut ke arah tengah arena.


 


 


“Okay para peserta sekalian! Kalian bisa kembali naik keatas arena.”


 


 


Michale memerintahkan para peserta utuk segera kembali naik ketas arena. Dengan perasaan yang masih trauma, para peserta pun terpaksa naik keatas arena untuk di cek skill apa yang mereka miliki.


 


 


Lalu kembalilah Micale mengambil alih acara, ”Okay, mungkin ada beberapa dari kalian yang sudah mengetahui benda apa ini, namun aku akan menjelaskannya agar yang tidak mengetahuinya bisa paham maksud dan tujuan dari skill tes ini.”


 


 


Perlahan Michale berjalan menuju kedepan antrian peserta.


 


 


“Benda yang ada didepan kalian ini adlah [Apparasial Orb]” Jelas Michale sambil menunjuk bola tersebut sebagai penggambarannya.


 


 


Lantas, Arley sangat terkejut. Ini adalah kali pertamanya ia melihat [Apparasial Ord] yang ukurannya mencapai 10 meter seperti ini.


 


 


“fungsi dari batu kristal ini adalah untuk megecek status dan skill yang kalian miliki, juga potensi apa yang kalian punya.”


 


 


Seketika itu juga para peserta menjadi bersemangat. Kejadian ini sangat berbeda dengan kejadian yang terjadi di desa Arley 8 tahun yang lalu.


 


 


Dimana para anak yang akan di cek skillnya, merasa takut dan bahkan tak mau untuk di cek skill apa yang mereka miliki.


 


 


Namun, jika dibandingnkan dengan seluruh orang yan gada di tempat ini, mereka sangat semangat dan ingin mengetahui skill apa yang mereka miliki.


 


 


Sekilas Arley melirik kearah Paroki, ia merasa cemas jika identitas Paroki yang sebenarnya akan ketahuan jika tes ini menunjukkan status asli dari seseorang.


 


 


 


 


Tak ada yang menyangkal kalimat Michale, tampaknya para pesertia merestui apa yang ia katakan, mereka tidak memitna lebih daripada menjadi seorang kesatria atau penyihir negara.


 


 


Tuntas sudah penjelasan Michale terhadap para peserta. Makadari itu mulailah pengecekan skill yang sangat dinanti-nanti.


 


 


“Ayo! Siapa pun yang namanya aku panggil, harap maju dan langsung selesaikan tugasnya!” segera lah Michale memanggil nama para peserta satu persatu.


 


 


“Arkhan Piero!” panggil Michale.


 


 


“Baik!” jawab sang pemilik nama.


 


 


Mendekatlah orang tesebut kearah batu yang ada di hadapan mereka semua, saat sang pria menyentuh batu mana tersebut, muncullah cahaya yang amat terang.


 


 


Bahkan lebih terang dibandingkan apa yang Misa lakukan pada saat pengecekan skill di greja St resetta 8 tahun yang lalu.


 


 


Setelah cahaya itu memudar, maka tampillah tulisan-tulisan yang menunjukkan skill orang yang menyentuhnya.


 


 


---


Status


Nama :  Arkan Piero


HP : 112/120


MP : 300/350


Str : 30


Vit : 20


Int : 45


Luk : 20


Skill : Water Magic, Fire Magic, Flame Impulse. Fire resistance.


S.Skill : Wave Blasting


Job : -


---


 


 


Muncullah keterangan yang dimiliki pria bernama Arkan.


 


 


Lalu Michale langsung mengumumkan dimana pria bernama Arkan itu akan di tempatkan.


 


 


“Baiklah, sepertinya aku tak perlu berlama-lama lagi, karen hasilnya sudah jelas!” ujarnya sembari tertawa ringan, “Arkan Piero! Anda diterima sebagai siswa pada universita penyihir [Barbaron]!”


 


 


Seketika itu juga pria bernama Arkan tersebut lompat kegiranagan, kemudian ia langsung berdiri di belakang Michale sebagai tanda bahwa ia telah lulus.


 


 


Bagi mereka yang telah lulus, maka secari kertas akan langsung muncul di hadapan mereka, kala itulah sang peserta akan secara resmi terpilih sebagai siswa di antara kedua sekolah.


 


 


Lalu, setelah terpilihnya orang pertama yang telah lulus dalam seleksi masuk sekolah, jantung Arley pun terasa berdebar begitu kencang, ia sesekali meniupkan nafasnya untuk mengurangi rasa tenganya tersebut.


 


 


Dalam kondisi tersebut, Eadwig melihat kondisi Arley yang tampak kaku, langsung lah ia menghampiri Arley untuk menenangkannya.


 


 


“Hey, kau baik-baik saja?” ucap Eadwig yang kala itu mencoba untuk menenangkan diir arley.


 


 


“Ha? ah ya … aku baik-baik saja, hanya sedikit nervous,” jawab Arley dengan sangat kaku.


 


 


Demikian Eadwig langsung merangkul leher Arley untuk menenangkan kondisinya yag saat itu tengah dirundung stress akibat ketidak tahuan yang Arley miliki


 


 


“Apa yang kau takutkan? Skillmu tidak sebagus yang kau kira?”


 


 


“Ya~ aku teringat kejadian 8 tahun yang lalu,”perlahan kecemasan Arley mulai meleleh bagaikan es yang terkena panas.


 


 


“Hey sobat,” Eadwig mencubit pelan pipi Arley, “Kau akan baik-baik saja, aku yang menjaminnya.”


 


 


Hati Arley pun terbawa oleh ketenangan diri Eadwig, ia benar-benar orang yang sangat berwibawa dan pemberani.


 


 


“Ya~ terima kasih, kau seperti abangku saja.”


 


 


“Hmm, aku tak masalah jika kau menganggapku demikian,” Eadwig tertawa lebar sembari ia menggoda Arley.


 


 


Tertawalah Arley secara lepas akibat kalimat ketenangan yang Eadwig berikan kepadanya.


 


 


Demikian mereka bertiga menunggu giliran mereka untu segera di tes.


 


 


***


 


----------------------------------------------


 


 


Hai semua sahabat pembaca dimanapun kamu berada! Jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, comment, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan memberikan sedikit pointnya, Author akan sangat senang sekali dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter demi chapternya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah! Demikian salam penutup dari Atuhor untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia! dan selalu berpikiran positif!


Always be Happy


And Happy Reading Guys!