The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 264 : Reach The Top!



Kuda berlari dengan sangat cepat, bahkan, kecepatannya mampu menembus Angin dengan begitu tajam.


Jarak di antara merka dengan kota [Rapysta], tinggallah satu menit saja. Ketika itu, waktu sudah menunjukkan sore hari. Matahari mulai terbenam dengan cepatnya, dan di saat matahari telah menyentuh garis horizon, para penjaga perbatasan sempat melihat, ada kuda yang di kendarai oleh dua orang, tengah berlari kencang menuju ke arah dalam kota.


Tiga orang penjaga pun bersiap untuk melihat identitas pengendara kuda tersebut, akan tetapi, kecepatan kuda ini tak kunjung berkurang, walaupun jarak mereka sudah sangat dekat.


“Turunkan kecepatan kalian!” teriak salah seorang prajurit untuk mengingatkan si pengendara kuda … namun, peringatan itu tak di hiraukan.


Dalam kecepatan yang amat tinggi, kuda yang Arley dan paman Radits naiki saat itu, langsung menerjang masuk, menuju ke dalam kota [Rapysta] tanpa ada yang bisa menghentikan mereka.


Salah seorang prajurit pun tertabrak oleh tendangan sang kuda, ketika ia mencoba menghalangi mereka masuk. Hasilnya, terompet penyusup pun ditiupkan, yang membuat seluruh warga kota, juga prajurid pada sektor lain sadar, jika kota mereka sedang dalam masa penyerangan secara mendadak.


Tetapi, walaupun suar terompet sudah berkumandang, kecepatan kuda yang paman Radits kendarai tak kunjung melamban. Mereka terus menerobos masuk, bahkan sampai tepat berada di depan Kasino molik Verko.


“Itu dia Paman …,” ujar Arley, yang tangannya sudah menggeram kencang sambil menahan pukulannya.


“Ya … ini waktunya kita mengamuk, Arley ….” Demikian, sang paman pun memiliki perasaan yang sama dengan Arley.


Seluruh warga yang berada di hadapan mereka, berlari tak karuan, untuk menghindari laju kuda tersebut. Dan ketika mereka sudah begitu dekat dengan posisi Kasino … para pria botak yang menjaga bagian depan pintu masuk pun ikut berlari, sebab ukuran kuda ini sangatlah besar dan begitu perkasa.


Tingginya tiga meter, dan panjang kuda ini lima meter. Manusia mana yang tak takut, jika kuda ini menabrak diri mereka.


Lantas, seketika itu juga, pintu masuk Kasino itu pun langsung jebol, sebab ditabrak menggelegar oleh kuda milik paman Radits itu.


Terseretlah kuda itu di atas semen merah yang licin. Untungnya, saat itu Kasino masih belum buka, hampir tak ada orang yang menghadiri kasino itu pada waktu sore hari.


Sebelum kuda itu terpeleset jatuh … paman Radits dan Arley telah melompat tinggi menuju atas ruangan Kasino pada lantai satu tersebut.


Di ujung ruangan tersebut, mereka melihat ada Alkana, si Manager penjaga lantai satu, yang wajahnya hampir mirip seperti ular.


Saat itu, ia hanya duduk seorang diri, sambil menaikkan kedua kakinya di atas meja kerjanya.


“Akhirnya kalian datang juga~” ucap Alkana, sambil tertawa sadis.


Namun, saat itu, Arley dan paman Radits tidak terlalu memedulikan Alkana. Mereka berdua langsung saja berlari dan menerjang Alkana menuju pintu yang ada di belakangnya.


Tak ada basa basi, segalanya di lakukan secara efektif dan tanpa rasa kasihan.


Pada saat itu, terbukalah pintu menuju lantai dua. Sedangkan Alakana Snakes, Hanya terdiam di atas lantai dengan hidungnya yang telah beradarah.


Padahal, ketika itu dirinya sudah menyiapkan ratusan algojo untuk menahan Arley dan paman Radits. Menyadari kesalahannya, saat itu juga Alkana bangkit dari tidurnya, dan ia meniupkan pluit untuk memanggil seluruh algojonya.


Keluarlah ratusan orang berbadan tegap yang menggunakan jas hitam, mereka berkumpul di ruangan kasino tersebut dan memenuhinya dengan kondisi sangat padat.


“Kalian semua! Ikut aku menuju lantai dua!” teriak Alkana, yang kemudian mengejar ARley dan paman Radits, menuju lantai atas.


***


Di sisi Arley dan Paman Radits ….


Mereka berdua masih berlari cukup kencang, namun sambil menjaga staminanya. Arley berusaha menyamai kecepatan lari sang paman, agar diri mereka tak terpisah jika seandainya pengeroyokan terjadi.


Dengan cukup cepat, mereka talah menaiki tangga menuju lantai dua. Bahkan, Mereka telah melewati ruangan yang sempat mereka masuki untuk bernegosiasi dengan Verko.


Saat itu, Ketika mereka sudah berada di penghujung ruangan, tampak ada sebuah pintu besar, yang di depannya ada seorang algojo dengan model rambut yang aneh.


Tak ada baik budi bagi mereka, lagi-lagi, paman Radits dan Arley, langsung saja menerjang kedua penjaga itu dan menjebol pintu untuk masuk ke ruangan utama pada alantai dua.


Kasino ini, memiliki dua buah bangunan yang sangat unik. Bentuk dari kasino ini sendiri adalah tabung yang megkerucut ke atas, namun, ada sebuah bangunan lainnya yang berhubungan menuju bangunan yang tersusun pada bagian belakangnya.


Bangunan itu di buat pada sebuah bukit, dan ada sebuah jembatan yang menyambungkan di antara dua bangunan utama ini.


Bagian utama Kasino ini adalah tempat perjudian, dan tempat judi ini memiliki empat level. Sedangkan bangunan pada bagian atas bukit tersebut, adalah tempat prostitusi. Yang dimana, hanya mereka yang memiliki ID Card sajalah, yang bisa memasuki tempat tersebut.


Namun, tujuan Arley dan paman Radits saat itu, bukanlah ke tempat brothel tersebut. Melainkan, mereka ingin naik ke puncak tertinggi dari bangunan ini, dan menyerang Verko, sebab telah menculik Melliana dengan cara yang amat licik.


Ketika pintu lantai dua telah terbuka lebar, saat itu juga, kedua tubuh penjaga pintu tersebut langsung tergeletak di hadapan seseorang.


Degan angkuhnya, pria itu menatap Arley dan paman Radits sembari memperkenalkan dirinya.


“Beraninya kalian datang ke lantai dua tanpa kartu member! Perkenalkan, aku adalah manager dari lantai ini, namaku adalah,  Litios Lea—” akan tetapi, sebelum ia selesai menerangkan namanya, ketika itu juga Arley dan paman Radits menerjang wajahnya … serupa dengan apa yang meraka lakukan terhadap Alakana.


Terbaringlah tubuh Litios di atas lantai semen berwarna hijau tersebut. Sedangkan Arley dan paman Radits, langsung saja mendobrak satu-satunya pintu yang menyambungkan mereka menuju lantai selanjutnya.


Tak ada suara yang keluar dari ketiga orang yang telah tergeletak di atas lantai itu. Mereka masih menerka-nerka, apa yang sebenarnya telah terjadi?!


“Eugh! Sialan! Berani-beraninya mereka menginjak wajahku yang tampan ini!” Lantas, Litios pun bangkit dari posisi telentangnya, dan ia mengeluarkan pelutinya untuk segera memanggil puluhan anak buahnya.


Dan pada saat seluruh anak buahnya telah berkumpul, tiba-tiba, rombongan yang Alkana bawa dari lantai satu telah sampai pada ruangan lantai dua.


Pada Akhirnya, kedau Manager itu pun berangkat bersamaan menuju lantai tiga.


.


.


.


***


.


.


.


Sejauh ini … tak ada hambatan yang bena-benar mengancam nyawa Arley beserta pamannya. Mereka dengan leluasa menaiki tangga menuju lantai tiga, tak ada senyuman yang tersirat pada wajah mereka, dan tentunya, amarah yang terkumpul di dalam dada mereka juga masih terkumpul tebal.


Akan tetapi … Ketika mereka telah sampai ke lantai tiga. Ada yang berbeda dengan lantai ini di bandingkan lantai-lantai sebelumnya.


Tak ada penjaga yang mengawasi lantai ini, dan bentuk pintunya juga cukup kecil dibandingkan pintu-pintu sebelumnya.


Lagi-lagi, tak ada rasa belas kasih yang mereka berdua tunjukkan. Seketika itu juga, mereka berdua menerjang pintu masuk tersebut, dan bergegas masuk menuju lantai tersebut.


Sesampainya di dalam ruangan tersebut, yang mereka berdua lihat, hanyalah ruangan kecil tanpa ada isinya.


Hanya semen biru, dengan dua kursi yang di duduki oleh dua orang manusia. Mereka mengenakan jubah hitam untuk menutupi wajahnya.


Dan ketika paman Radits ingin menerjang mereka berdua, tiba-tiba, Arley berteriak dan menghentikan sang paman.


“Paman! Tunggu!” ujar Arley, yang ketika itu seperti mengenal, siapa kedua orang ini.


Berhentilah sang paman dari posisi larinya.


“Arley?! Ada apa? Kita harus lekas menuju lantai empat!” jelas sang paman, yang saat itu merasakan sebuah firasat yang sangat tak nyaman dengan kondisi Melliana.


Arley pun merasakan hal yang serupa, tetapi, kali ini ia tak bisa begitu saja menyakiti kedua orang ini.


“Kalian … Cipi, dan Alan bukan?” tanya Arley, yang kemudian melangkan menuju ke depan mereka berdua.


“EH?! Mereka ini, Cipi dan Alan?” Dengan wajah terkejutnya, sang paman langsung memalingkan wajanya untuk melihat jelas, wajah di balik tudung hitam mereka tersebut.


Tersenyumlah kediua orang itu, dan ketika mereka membuka jugabnya … ternyata dugaan ARley benar. Mereka adalah Cipi dan Alan.


Apa yang akan mereka berdua lakukan?! Apakah mereka teman? Atau lawan?!