
Saat itu, terdapat tiga sekawan yang saling membantu. Di sisi lainnya, sang Monster terdiam membisu dengan tubuh yang tertanam pada sebuah tembok—di tempat para penonton biasa duduk. Namun—saat ini lokasi itu kosong akibat pertempuran yang tengah terjadi.
Melontar bagaikan peluru meriam. Tubuh Eadwig melaju kencang kehadapan sang Monster dengan gagah beraninya. Menyadari akan hal itu, sang Monster langsung saja ikut melompat untuk meng-counter serangan yang akan di terimanya.
Aduan antara benda tajam kembali terjadi, Eadwig memukul kencang kuku-kuku jari sang monster—sampai monster tersebut terpental jatuh ke lantai arena.
Begitu juga tubuh Eadwig yang saat itu ikut tertarik ke bumi—setelah energi lompatannya habis termakan udara. Rantaian serangan tak kunjung putus. Dari kabut yang tercipta akibat sang monster jatuh terhempas ke bawah tanah, keluarlah wujud sang monster sembari ia menebaskan lagi—kedua tangannya untuk menyakiti tubuh Eadwig.
Potongan angin, tampak mendera hebat menuju Eadwig
Tentu saja Eadwig sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan ia terima. Menebaslah Eadwig dengan Two-Handed Sword, miliknya tersebut—untuk membuat sebuah gelombang potongan angin, demi menyaingi serangan sang monster.
Meledak, gumpalan asap tercipta diantara sang Monster dan Eadwig. Kala itu, mereka berdua kembali terjatuh ke atas arena pertarungan—dan kembali melanjutkan pertempuran mereka dengan begitu brutalnya.
***
Dari sisi Arley, tampak jika Rubius memberikan Arley—tongkat sihir yang ia miliki dahulu. Tongkat sihir yang tertanamkan tulang-tulang hewan pada batangnya itu—tentu saja Arley tidak tahu dari tulang apa tongkat sihir tersebut di ciptakan.
“Aku tidak mau tongkat itu,” tolak Arley secara mentah-mentah.
“Ehh~ tapi kan aku masih ingin mengetes kemegahan tongkat sihir ini!” kemudian Rubius menarik tongkat sihir hasil hadiah tersebut ke dadanya, namun ia menjulurkan tongkat sihir miliknya kepada Arley—seperti ia tidak mau memberikan tongkat sihir hasil hadiah itu kepada Arley.
Menataplah Arley kesal kepada sang sahabat, lalu ia menghelakan nafasnya untuk menurunkan perasaan kesalnya tersebut.
“Baiklah—tapi aku pinjam sebentar. Kau tahukan aku tidak bisa menggunakan sihir cahaya dengan tongkat mengerikanmu itu?” jawab Arley, lalu ia menjulurkan tangannya untuk meminjam tongkat sihir yang Rubius tengah genggam tersebut.
Terhela jugalah nafas dari mulut Rubius, “Okay, tapi nanti aku pakai lagi ya!” kala itu Rubius memberikan Arley tongkat berwarna cokelat hasil hadiah tersebut dengan hati sungkan.
Diambillah tongkat cokelat tersebut, sejenak Arley menatap serius demi melihat desain dan keelokan tongkat yang mungkin umurnya sudah sangat tua. Sesekali ia memutar gagang tongkat sihir itu untuk mengetahui detailnya lebih lanjut.
“Hm!? Ini kan …?” gumam Arley. Saat itu, terdapat sebuah ukiran nama yang memudar pada gagang tongkat sihir tersebut, “Z ~ ue …? Zue!?” teriak Arley saking terkejutnya ia.
Tentunya rasa terkejut Arley langsung direspon oleh Rubius, “Apa itu?” ucap Rubius bingung.
“Zue! Kau lupa kisah yang kuceritakan semalam!?” dengan begitu heboh, Arley langsung terbangun dari duduk—seperti ia melupakan rasa sakit pada dirinya kala itu.
“Zue!? Maksudmu orang yang diturunkan buku『Rue』kepadanya!?” Rubius akhirnya ingat dengan kisah yang Arley dongengkan kepada mereka berempat—pada saat subuh malam tadi.
Sejenak mereka berdua terdiam. Terdengar ledakan demi ledakan dari arah arena pertarungan, namun Arley dan Rubius masih tetap terpaku pada tongkat sihir—berwarna cokelat itu.
“Ini gila … sudah berapa lama tongkat ini berada di muka bumi …,” Arley menatap serius ketongkat sihir berwarna hijau tersebut.
Sesekali ia ayunkan tongkat sihirnya itu untuk mengetahui masa berat dari tongkat yang tampaknya milik Zue. Tapi Arley menaruh kecurigaan terhadap tongkat sihir ini, sejenak ia memegang dagunya sembari berspekulasi dalam benak sang remaja.
“Aku rasa benda ini imitasi …,” ucap Arkey dengan begitu absurdnya.
“HA!? bagaimana bisa kau mengatakan hal itu! Atas dasar apa kau mengambil kesimpulan tersebut?”
Namun Arley tidak menjawabnya, ia hanya menggoyang-goyangkan tongkat sihir itu seperti mainan anak-anak.
Terhembuslah nafas kekecewaan setelah ia yakin dengan jawabannya itu, “Benar … ini benda palsu,” jelas Arley sekali lagi—setelah ia melihat bagian bawah pada gagang tongkat sihir itu.
Sejenak Rubius hanya terdiam, ia menatap heran wajah Arley, “Kau yakin!?” ucapnya dengan lesu.
Ditunjukkannyalah bagian bawah gagang tongkat sihir tersebut—ke depan wajah Rubius. Pada bagian bawah tongkat tersebut, terukir sebuah logo yang Rubius tidak kenal. Tentu saja beribu pertanyaan kembali berakar pada benaknya.
“Apa ini Arley?” acung Rubius menggunakan jari telunjuknya. Terhadap logo bertuliskan MSJ pada paruh bawah tongkat sihir tua itu.
“M.S.J,” Arley mengeja kalimat bertuliskan bahasa latin tersebut, “Merlin Stuart Jelinton.”
“Merlin J.S,!?” teriak Rubius sampai suaranya menggema, “Apakah ia menciptakan tongkat sihir ini!? mengapa?!”
“Kita semua tahu jika Merlin adalah orang yang sangat suka dengan hal-hal berbau sejarah, mungkin ia ingin mereplika tongkat sihir milik Zue. Tapi …,” sejenak Arley menatap serius ke arah tongkat tersebut.
Lagi—keheningan terjadi ... Rubius menelan ludahnya sembari menunggu kalimat lanjutan dari Arley.
“Tapi apa Arley?” tanya Rubius yang sudah tidak sabar.
Mendongaklah kepala Arley menuju ke wajah Rubius, “Apakah kau tidak heran …? Mengapa tongkat sihir ini bisa didapatkan di benua baru?” jelasnya dengan serius.
Terkejut, Rubius akhirnya menyadari kejanggalan yang tengah terjadi.
Sontak terdengar teriakan dari arah arena pertandingan, “Hey! Apa yang membuat kalian lama sekali!?” Eadwig tampak kesusahan di pertarungannya kali ini.
Menyadari akan hal itu, Rubisu dan Arley langsung menatap ke arah sumber suara.
“Arley!” Rubius memalingkan wajahnya ke arah Arley.
Namun Arley sudah mengetahui apa yang Rubius akan katakan. Sebelum Rubius memutar kepalanya, Arley sudah terlebih dahulu merapalkan sihir ”Lux Sanator” untuk menyembuhkan sekujur tubuh pendeknya kala itu.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat kualitas tongkat sihir yang satu ini. Berbeda dengan tongkat sihir milik Tim Medis—tongkat sihir yang Merlin S.J, ciptakan ini, benar-benar bisa melipatgandakan energi『Mana』dan mengefisienkan kualitas mantra yang seseorang ucapkan.
Seketika itu juga—setelah Arley merapalkan sihirnya. Tubuh Arley langsung terselimuti oleh cahaya putih—yang membuat sekujur tubuhnya kembali menjadi seperti sedia kala. Luka memar? Luka dalam? Atau luka bakar? Semuanya telah sembuh bagaikan Arley baru saja di lahirkan kembali.
Kulit Arley yang sebelumnya lunyai, tiba-tiba saja berubah menjadi pucat kembali seperti sediakala. Erm—apakah ini hal yang baik? Tampaknya iya, soalnya memang dari lahir kulit Arley sudah pucat seperti itu.
Kembali—ledakan akibat tekanan udara tercipta. Tubuh Eadwig kembali terlapisi oleh luka-luka memar yang tak dapat ia elakkan. Tetapi kondisi yang sama juaga terjadi kepada sang monster.
“Hehe! Rasakan itu monster pucat!” maki Eadwig yang kepalang kesal dengan lawannya kala itu.
“Hei …,” panggil Arley dari arah belakang Eadwig.
“AMPUN! YA TUHAN!” melompatlah Eadwig setelah mendengar suara Arley yang terbetik dingin, “A~ah … aku tidak membicarakanmu kok Arley …,” memutarlah kepala Eadwig dengan seramnya.
Tanpa ragu, Arley menjulurkan tongkat sihirinya kepada Eadwig, lalu ia merapalkan sihir menuju sang Pangeran Negeri『Simbad』.
“Lux Sanator~”
Rapal Arley dengan keras. Tetapi tiba-tiba saja Eadwig malah berteriak, “Aaaaaa! Ampun!” merunduklah Eadwig untuk menghindari mantra sihir Arley.
Namun ia sangat terkejut ketika melihat tubuhnya malah sembuh dengan kecepatan yang terbilang aneh, “EH!?” bangkitlah sang Pangeran sembari ia melirik ke sekujur tubuhnya, “Arley!” Eadwig lalu melompat kegirangan—dan memeluk Arley dengan dekapnya.
“Aaaa! Lepaskan aku! Kita masih harus melawan Monster satu ini—bodoh!” omel Arley sambil mendorong Eadwig dari dekapannya.
Terlepaslah Arley dari dekapan Eadwig. Lantas Arley mengembalikan tongkat sihirnya kepada Rubius—dan menukarnya dengan tongkat sihir yang biasa Rubius gunakan.
Berdirilah ketiga sekawan ini untuk melawan sang Monster. Dengan beraninya, Arley berdiri pada bagian paling depan—sedangkan Rubius berada di sebelah kiri dan Eadwig berada di sebelah kanan.
Berkobar! Tiba-tiba saja tubuh sang Mosnter menyulutkan api berwarna biru. Tubuhnya terbakar namun sang Monster hanya terdiam membeku.
Arley dan kedua temannya tampak sedikit terkejut ketika melihat hal tersebut. Tubuh sang Monster—yang tadinya penuh dengan luka dan darah berwarna merah, kali ini telah kembali sembuh seperti sediakala.
“Oh ... jadi kita kembali ke titik nol ya?” tanya Arley kepada sang Monster.
Seketika itu juga—dari dalam hati Arley yang paling dasar, berkobar sebuah genderang yang telah lama tak di tabuh.
Bibirnya menyeringai sadis, wajahnya menajam seperti haus akan pertempuran. Disodorkannyalah tongkat sihir berlapis tulang itu menuju ke arah sang Monster.
Dengan begitu arogan—Arley menyeringaikan bibir untuk menantang sang Monster, “Hei Monster kucam! Kesinilah engkau!" sejenak Arley menantang sambil menjulurkan tangannya, "itu pun jika kau berani ...,” undang Arley demi beradu kekuatan dengan sang Monster—di lokasi mereka bertiga berada saat ini.
***
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca dimanapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!
Author akan merasa sangat berterima kasih!
dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!