
not edited !
Hari telah berubah menjadi malam. Saat ini, Arley, Varra, dan keluarga Tomtom, tengah berkumbul di lantai bawah penginapan untuk mengisi perut mereka yang sudah dalam kondisi keroncongan.
Berbagai macam roti dihidangkan pada meja-meja kayu yang terjajar di dalam bar tersebut, dengan lahapnya orang-orang yang mampir untuk minum pada malam hari itu, menikmati bir mereka bersamaan dengan roti empuk dan nikmat.
“Jika kalian ingin tambahan roti, tolong teriak saja ya! kita masih punya banyak stok hari ini!” teriak sang penjaga bar dari balik meja baristanya.
“Yahoo!” teriak seluruh pengunjung yang mendengarkan berita baik itu.
Dan tanpa berlama-lama, seluruh orang yang berada di bar tersebut langsung menghabiskan roti yang terjajar di atas meja mereka.
Di lain sisi, pada bagian barat laut dari pintu masuk bar, tampak keluarga tomtom tengah menikmati roti-roti hangat mereka.
“Jadi … Varra, aku ingin mendengarkan malam pertama kalian,” ucap Paman Radits tanpa segan-segan.
Terkejutkah Varra ketika ia mendengarkan pertanyaan sang paman. “E-eh?! M-malam pertama?!” Dengan wajah yang memerah, dan tingkah yang gelagapan, Varra tak bisa menjawab pertanyaan tersebut.
“Kami tidak melakukan apa pun kok paman … lagi pula, aku tidur di kasur bawah, dan Varra yang mengisi kasur atas.” Jelas Arley dengan datar.
“Ehh … membosankan,” ucap sang paman sambil ia melirik ke arah pintu dapur.
“Ayah … aku tak menyangka jika ayah sangat tidak keren seperti ini …,” cakap Emaly, yang ketika itu duduk di pangkuan Varra.
“E-eh?! Bukankah Emaly selalu berpikir jika ayah memang tidak keren?” Kali ini paman Radits yang gelagapan mendengar ucapan anaknya.
“Aku kira Ayah memiliki sedikit sifat keren dalam dirinya. Tapi … setelah aku mendengar ucapan Ayah tadi …,” gumam Emaly yang terlihat lebih pandai berbicara saat ini.
“Mmm, Emaly sekarang sudah sangat pandai berbicara …,” ujar Arley sembari ia menyantap roti yang tersemat di depannya. “Ah … aku rasa bukan roti yang seperti ini ….” Arley tampak sedikit geregetan dengan roti yang ia makan.
“Hmm? Apa yang kau lakukan Arley?” tanya Varra saat ia mengetahui tingkah laku Arley yang aneh.
“Tidak … aku tidak apa-apa. Cuma, sepertinya dahulu aku pernah memakan roti yang rasanya sangat enak, tapi aku tidak tahu bagaimana bentuk dan apa nama dari roti itu.”
Varra hanya termenung melihat wajah bingung Arley, ini juga merupakan kali pertamanya ia melihat ekspresi Arley yang bingung juga geregetan.
“Aku menemukan sifat barumu~” gumam Varra sambil ia tersenyum halus dengan wajah yang memerah.
Hidangan utama pun datang, berbagai macam jenis lauk pauk tergeletak di hadapan Arley dan keluarga tomtom.
Akan tetapi, ada sedikit perbedaan dengan menu yang biasa mereka pesan, porsi makanan yang biasa di berikan oleh pihak penginapan saat ini lebih banyak tiga kali lipat di bandingkan biasanya.
“B-Bukankah ini terlihat lebih banyak …? A-apa yang sedang terjadi, J-Janieta?” tanya Paman Radits kepada pelayan bar tersebut.
“ini Service dari pihak kami, Radits! Karena Arley memberikan porsi roti yang sangat banyak, Chef kami merasa sangat tersanjung dengan inisiatif Arley. Dia juga berkata, makanan hari ini tak perlu di bayar!”
“EH?! Makanan sebanyak ini tak perlu di bayar?!” teriak paman Radits, yang saat itu dirinya langsung bangkit dari kursi.
“Yaah, di lihat dari posri yang Arley berikan kepada penginapan ini, aku rasa wajar saja jika kami memberikan kalian makanan gratis. Tapi besok harus tetap bayar seperti biasanya loh,” Jelas Janieta, sang pelayan wanita, dengan tubuh yang cukup tinggi itu.
Pergilah Janieta meninggalkan Paman Radits bersama keluarganya. Sang paman hanya memandang bingung cara bagaimana ia akan menghabiskan makanan sebanyak ini.
“A-Arley … seberapa banyak uang yang kau habiskan untuk membeli roti ini?” tanya sang paman dengan nada bergetar.
Arley tampak mengelus dagunya sambil ia mengingat-ingat berapa butir emas yang ia berikan kepada sang paman pemilik toko roti.
“Sekitar … empat butir emas?” jelas Arley dengan polosnya.
“Eh …? Mustahil, aku tidak percaya dengan hanya empat butir emas, kau bisa memberimakan seluruh pelanggan di bar ini. A-apa yang kau lakukan terhadap sang pemilik kedai?! Kau tidak memerasnya kan?!” ucap sang paman sembar ia merasa cemas dengan prilaku Arley.
Namun Arley hanya memakan hidangan yang ada di hadapannya, lantas, ketika itu Varra-lah yang menjawab pertanyaan sang paman.
“Tidak kok paman, aku bersama Arley seharian ini. Dan saat kami berbelanja di toko itu, sang pemilik toko berkata, jika ia akan menyumbangkan seluruh roti yang tersisa pada tokonya hari ini, sebagai rasa bersyukur karena Arley telah menyadarkannya dirinya,” jelas Varra sambil ia menyuapi Emaly dengan makanan yang terhidang di hadapannya.
“Menyadarkan …? Ahh … aku semakin tidak mengerti. Tapi, itu perbuatan yang baik, bukan?” ucap sang paman sambil tersenyum paksa.
Varra pun menjawab pertanyaan sang paman dengan menganggukkan kepalanya, serta sebuah senyuman bahagia yang tersemat pada bibirnya.
Melihat hal itu, sang paman langsung menyantap makanan yang ada di hadapannya bersama keempat anggota keluarganya.
Ditengah nikmatnya mereka menyantap setiap hidangan makanan, Tiba-tiba Arley melirik Varra yang kala itu tengah membaca sebuah buku, bersamaan dengan dirinya sedang mengunyah makanan.
“Varra … kenapa kau sangat hobi membaca buku? Adakah cita-cita yang ingin kau capai?” tanya Arley yang sudah menyelesaikan makan malamnya.
“Kamu ingin menjadi seorang penyihir? Itu mimpi yang sangat bagus! Paman mendukungmu!” ujar Paman Radits, yang saat ini tengah mennggendong Emaly, sebab sang anak tengah tertidur selepas makan malamnya selesai. “Kenapa kamu tidak bersekolah saja Varra?”
Terdiamlah varra memandang buku yang tergeletak di atas meja makan.
“Aku rasa, belajar mandiri adalah hal yang baik. Lagi pula, biaya untuk bersekolah di sekolah penyihir, sangatlah besar dan aku tidak akan mampu membayarnya.” Dengan alis yang mengekerut ke atas, Varra kembali mengunyah makanannya.
Tersenyumlah Paman Radits saat ia mendengarkan ucapan Varra.
“Varra … tidak ada yang mesti engkau titik beratkan jika itu adalah sebuah cita-cita yang ingin engkau raih. Lihat, jika engkau memikirkan masalah uang, kau bisa bekerja bersamaku!” ujar sang paman dengan senyuman lepasnya.
Wajah Varra menampakkan cahaya harapan, namun seketika itu juga ia sengaja memadamkannya.
“T-tidak paman … tetap saja hal itu akan sangat berat.” Seketika itu juga, Varra menaruh garpunya di atas piring.
“Aku rasa tidak,” potong Arley. “Kau lihat seberapa banyak uang yang aku bawa sehari-hari bukan?” tanya Arley dengan nada datar.
Mengangguklah Varra mendengar ucapan Arley.
“Itu adalah uang yang kami dapatkan dalam sekali perjalanan, saat mencari bahan dagangan.” Sembari Arley mengambil apel yang tergeletak di atas meja, saat itu juga Arley menjelaskan kondisinya.
Terperanjat Varra saat ia mendengarkan ucapan Arley. “B-Bohong! Aku tak percaya! Barang apa yang kalian jual sampai bisa mendapatkan uang sebanyak itu?! J-jangan jangan … obat terlarang?!” Lantas, Varra yang tak dapat menerima penjelasan Arley dengan baik, langsung meledakkan apa yang ia pikirkan melalui kata-katanya yang berantakan.
“H-hey! Kami bukan pedangan kotor seperti itu!” jelas Paman Radits kepada Varra. “Ahh, aku lupa jika Arley adalah orang yang datar seperti ini. Dengar, Varra! Barang yang kami jual adalah barnag yang terjamin kualitasnya! Dan semua yang kami jual adalah barang yang legal di mata hukum! Ingat! Tujuankau berdagang di negeri ini, adalah untuk memajukan ekonominya dan menjadikan kota kelahiranku ini sebagai negara yang maju!” Dengan begitu semangatnya, sang paman membeberkan cita-cita dalam hidupnya.
Mendengar penjelasan dari Paman Radits, Varra tampak lebih tenang dan ia kembali duduk di kursi makannya.
“Bekerjalah bersama kami, Varra. Dan jika uang yang kau akan tabung tak cukup, aku bersedia bekerja lebih keras untuk membiayai uang sekolahmu,” cakap Arley tanpa berpikir lebih panjang, mengenai apa yang ia ucapkan.
Terpelongo wajah Varra saat ia mendengarkan kalimat Arley, wajahnya kembali memerah dan sikapnya langsung berbuah menjadi gelisah.
“B-benarkah apa yang kau ucapkan itu, Arley?” tanya Varra yang merundukkan kepalanya.
“Umm, tentu saja. Aku tak pernah berbohong.”
Seketika itu juga, kondisi tempat di mana Arley dan keluarga tomtom tengah melangsungkan makan malam menjadi hening. Paman Radits dan Varra hanya menatap wajah Arley dengan ekspresi bertanya-tanya.
“Hm? Apa yang kalian lihat? Apakah ada sesuatu di wajahku?”
Ya, Arley tak menyadari tentang apa yang ia ucapkan barusan … tapi, akankah Arley menyadarinya suatu saat nanti?
Bersambung ! ~
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------