
Pagi hari yang cerah, burung-burung beterbangan di langit biru. Awan-awan putih bergelantungan, menghiasi panorama indah pada ujug pandangan.
Kereta kuda berjalan dengan santai, terlihat jika Arley duduk di depan membersamai paman Radits, sedangkan Varra dan Melliana, tengah menemani Emaly bermain di kereta belakang.
“Yaay! Aku menang lagi!” teriak Emaly, yang baru saja memenangkan permainan kartunya bersama kedua kakak barunya.
“Agh! Kenapa aku tak bisa menang!” ucap Varra, sambil ia memegangi kepalanya.
“Fufu~ mungkin keberuntungan belum berpihak bersamamu, Varra~” Melliana menjawap perkataan Varra.
Mereka bertiga terdengar sangat menikmati moment pada saat itu. Sedangkan Arley dan paman Radits, hanya tersenyum lepas mendengarkan suara bahagia mereka bertiga.
“Aku tak menyangka jika beberapa minggu yang lalu, hal buruk baru saja menimpa kita semua.” Tiba-tiba, sang paman membuka omongan kepada Arley.
“Yah, aku juga tidak menyangkanya paman. Aku berharap, selanjutnya kita tidak menemui perkara yang seperti itu lagi.”
“Aku setuju, aku tak ingin menemui kejadian ekstreme seperti itu lagi. Haah, bangsawan gila … dan orang-orang yang hampir menjadi psychopath … tidak-tidak, aku tak ingin bertemu orang-orang seperti itu lagi.”
Arley pun tampak sedikit tersenyum saat mendengar ucapan sang paman.
“Oh, ya! Kalau tidak salah … sesaat setelah Melliana sadar, aku melihatmu berbicara dengan dua orang wanita cantik. Mereka siapa Arley?” tanya sang paman, sambil mengendarai keretanya.
Dan tiba-tiba, ketika pembicaraan ini berlangsung, terdengar suara injakan kaki yang cukup kuat, dan beruntun dari arah belakang Arley dan sang paman.
Tentunya, suara itu adalah suara Varra dan Melliana, yang sedang berusaha untuk menguping pembicaraan Arley dengan paman Radits.
“Hm? Suara apa itu?” tanya Arley.
“Mungkin hanya suara barang, hiraukan saja,” jelas sang paman, yang benar-benar mengira jika suara itu hanyalah suara kotak yang bergerak, atau semacamnya.
Arley pun kembali ke topik pembicaraan mereka sebelumnya, ia tampak berpikir dan mengingat kembali kejadian yang sang paman sebutkan.
“Hmmm, apakah yang paman maksud, wanita berambut hitam indah, dan wanita berambut coklat pendek?”
“Ya! Mereka!”
“Ahh~ kalau wanita yang berambut pendek, paman sudah mengetahuinya, kan? Dia adalah adik dari Alan, yang waktu itu membantu kita membukakan pintu menuju lantai empat dari kasino milik Verko.”
“Ohh~ jika di ingat-ingat, wajah mereka sangat mirip, walaupun aku tak begitu jelas melihat anak gadis itu, saat di gedung kasino Verko.”
Lantas, Arley tersenyum kecil, sembari ia mulai menceritakan kisah yang sebenarnya terjadi.
“Mereka berdua, adalah korban dari Verko. Wanita yang lebih tua, bernama Loise, dan yang muda adalah Cipi— Err, maksudku, Moona. Moona Cladea,” ucap Arley, sambil mencoba meluruskan perkataannya.
“He? bukankah dia bernama cipi?”
“Ya, tapi itu nama samarannya. Nama sungguhannya adalah, Moona Cladea. Mereka berdua datang kepadaku, untuk membayarkan hutang mereka berdua. Tapi aku menolaknya.”
Sang paman pun menatap Arley dengan terkejut, ia ingin tahu, transaksi apa yang kedua belah pihak ini lakukan.
“Mereka berhutang padamu?!”
“Mmm, bukankah aku sudah pernah menceritakannya kepada paman?”
“Aku tak pernah mendengar kabar ini! Jelaskan kepadaku Arley!”
Arley pun terdiam sejenak, sambil ia mengingat perjanjian yang Cipi alias Moona perjanjikan kepadanya.
“Paman ingat, hari di mana kak Mell di culik?” imbuh Arley.
Sang paman pun menganggukkan kepalanya.
“Nah, pada saat itu, mengapa aku pulang cukup larut, sebenarnya Moona tidak hanya bercerita tentang masalalaunya kepadaku. Dia juga membuat perjanjian sepihak denganku.”
“Perjanjian sepihak? Perjajian seperti apa itu?”
Sang remaja berambut merah itu pun, terlihat ragu ketika ingin menjelaskan isi perjanjian ini.
“Erm … dia berkata, jika aku bisa membunuh Verko, maka dirinya akan menjadi budakku selamanya.”
Mendengar penjelasan itu, saat itu juga paman Radits berteriak cukup kencang, bahkan Varra dan Melliana juga berteriak di belakang kereta.
“HHEeeeeEEe!” pekik mereka serempak.
Arley yang tekejut, saat itu juga langsung mengibaskan kain penghalang antara kursi kemudi dengan kereta kuda.
Dengan tatapan datarnya, Arley memandang Varra dan Melliana dengan tatapan, sudah kuduga, nya.
Ketika itu, Melliana dan Varra sengaja mencondongkan badan mereka, sampai naik ke atas kotak-kotak kayu berisikan bahan-bahan makanan pada perjalanan pulang ini, hanya untuk menguping pembicaraan ini.
“Ahh~ aku rasa tak ada salahnya mereka mendengarkan hal ini.” ARley pun bergumam pada dirinya sendiri dengan suara yang cukup lantang.
Mendapatkan persetujuan dari ARley, Mellaian dan Varra memilih untuk megikat kain penghalang, demi suara yang lebih jelas. Dan mereka pun duduk kembali di bagian belakang kereta bersama Emaly, dengan tenang.
Pembicaraan pun kembali dilanjutkan.
Arley menjawab sang paman dengan menganggukkan kepalanya.
“Unn~ aku menolaknya. Lagian, yang membunuh Verko kan bukan aku, melainkan Alan. Memang pada awalnya mereka berdua memaksa. namun, aku berkata kepada mereka, sebaiknya mereka kembali ke negara mereka masing-masing.”
“Ahh~ aku kecewa kepadamu Arley, bagaimana bisa kau malah merelakan calon budak yang secantik itu.”
Dan ketika sang paman baru saja usai melontarkan perkataanya itu, tiba-tiba, dari arah belakang, Varra dan Melliana langsung melempar sang paman dengan centong kayu juga batu kerikil.
“Aww! Hey! Apa yang kalian lakukan!” Sang paman yang tak terima atas perlakuan kedua wanita itu terhadap dirinya, langsung memasang wajah marahnya dan menatap kedua wanita itu dengan sangar.
Namun, wajah kedua wanita itu lebih seram dibandingkan sang paman. Seketika itu juga, nyali sang paman langsung menciut dan dirinya memilih hanya untuk fokus mengendarai kudanya.
“M-maafkan aku …,” gumam sang paman, sambil mengeluarkan air mata sedihnya.
Sejenak keheningan terjadi, lantas, Arley membuka pembicaraan lagi sebagai penutup dari pembicaraan ini.
“Tapi, syukurnya mereka menyetujui hal itu. Sejujurnya, aku merasa jika sistem perbudakan adalah hal yang tidak baik. Aku tak bisa melihat orang lain ditindas dan diperlakukan semena-mena. Menurutku … manusia hidup di dunia ini, tidak untuk dikurung dan direnggut kebebasannya, tapi untuk hidup bebas dan harmoni bersama alam.”
Seluruh orang pun melihat ke arah Arley saat ia mengeluarkan kata-kata bijaknya. Senyuman lebar pun tampak pada wajah-wajah mereka.
“Aku suka pendapatmu, tapi aku tidak setuju dengan pernyataan yang demikian,” tambah sang paman, yang ketika itu membuat Arley melihat dan memperhatikan sang paman.
“Ingat Arley, dunia tempat kita tinggal ini … bukanlah dunia yang tenang dan tentram. Aku rasa dirimu sudah cukup dewasa untuk menyadari akan hal itu. Korupsi di mana-mana, penindasan terhadap masyarakat biasa, penculikan, pembunuhan … bahkan, kejadian yang seperti kemarin adalah salah satu contohnya.”
Kondisi menjadi hening sejenak, mood pembicaraan pun berganti menjadi kelam.
“Kau paham, kan, maksudku?” tanya sang paman.
Mengangguklah Arley ketika ia menjawab pertanyaan sang paman.
“Aku paham … tapi, bagaimana cara kita merubah sistem yang kacau seperti ini?”
“Dahulu, orang-orang menggunakan kitab suci sebagai pedoman hidup. Dengan kitab tuntunan hidup, keharmonisan bisa terjaga, dan kehidupan tentram akan berlangsung. Tetapi, itu sudah ribuan tahun yang lampau … sekarang? Kita butuh gebrakan baru untuk memulai hal yang baik.”
“Maksud paman? Buku kitab yang beredar saat ini sudah tidak bisa dipakai lagi?”
Sang paman pun menatap Arley dengan tajam.
“Menurutmu bagaimana?” Kali ini, tak tampak jika sang paman sedang bercanda. Ia benar-benar menanyakan pertanyaan itu dengan serius.
Arley pun terdiam sejenak sambil memikirkan tanggapannya.
“Aku … tidak tahu. Kitab [Protocol] yang paman berikan kepadaku, aku merasa banyak kejanggalan di dalam isinya, entah itu kontradiksi antara satu ayat dengan ayat lainnya, atau sebuah pertentangan yang terkadang di perbolehkan di bab lainnya.”
Lalu, sang paman tersenyum ketika ia mendengarkan pernyataan Arley.
“Aku bersyukur kau adalah anak yang rajin membaca buku. Pembicaraan kita ini, bukanlah pembicaraan yang bisa diperbincangkan oleh anak remaja. Kau memiliki sesuatu yang unik, dan itu harus dikembangkan secara baik, Arley.” Sang paman pun memuji Arley, dan ia mengelus kepalanya dengan tangan kanan.
“Kau benar, lagi pula, buku itu sudah terbit selama ribuan tahun. Tentu saja banyak orang yang merubah isi untuk melegalkan suatu tindakan yang dilarang dalam kitab tersebut.” Kemudian, sang paman menambahkan perkataannya, sembari ia fokus mengendarai kudanya.
“Kalau begitu … apakah dunia ini akan tetap seperti ini selamanya? Akankah dunia ini hancur berkat kaki tangan manusia?” Arley kembali melontarkan pertanyaannya kepada sang paman.
Terdiamlah sang paman, saat ini, paman Ordley bukanlah bertindak sebagai ayah dari Emaly, ataupun orang tua angkat dari Arley. Melainkan, ia bertindak sebagai teman bicara dan orang yang mampu bertukar pendapat secara serius.
“Arley … kau ingat? Perbincangan antara aku dengan Fossey kala itu?”
Si remaja pun memutar kembali memorinya, ke moment, saat ia beserta Varra menghampiri, Toko Besi Otot Kembar, milik pasangan Prinatalia.
“Ya, kalau tidak salah, kalian tergabung di dalam sebuah party bernama, Circle Of Desire, kan?”
Dan lagi-lagi, sang paman menganggukkan kepalanya.
“Benar … dan tujuan dari dibentuknya party itu, adalah untuk menemukan enam harta terpendam yang Maha Penguasa, turunkan di muka dunia [Soros] ini.”
“Aku mengingat hal itu.”
Hawa di sekitar sang paman pun berubah menjadi lebih kelam. Ia tampak mengingat hal yang tak seharusnya ia kenang lagi.
“Tujuan kami semua memang berbeda-beda. Tapi, untuk menemukan keenam harta terpendam tersebut, kami rela melakukan berbagai hal untuk tujuan yang abu-abu.” Sejenak, sang paman memasang wajah geramnya, ia menggeratkan gigi untuk menahan suatu hal, tangannya pun kejang seperti menahan amarah. “Dan kau tahu apa tujuanku saat itu?” tanya paman Radits kepada Arley.
Sedangkan kedua wanita di belakang, masih memperhatikan pembicaraan itu, namun mereka merasa cukup takut sampai-sampai mengelurkan keringat dingin. Mereka berdua tidak ingin mendengarkan pembicaraan ini, namun mereka cukup penasarang kemana ujung dari perbincangan ini akan berlabuh.
Arley pun menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan sang paman.
“A-Aku tidak tahu, paman.”
Lalu, sang paman tersenyum paksa sambil mengatakan keinginannya.
“Aku ingin melenyapkan seluruh bangsawan kotor dari muka bumi ini, dan memperbarui hukum yang telah beredar, demi mensejahterakan masyarakat dunia.”
Jantung ARley berdebar kencang, ketika kalimat itu sampai dan masuk kedalam kedua gendang telinganya. Ia bahkan sempat menelan ludah yang cukup dalam, sambil mengeluarkan keringat dinginnya.