The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 153 : Kisah Cinta Yang Aneh?



Not Edited!


 


Terdiam, tubuhnya kaku sembari menahan sakit. Bebatuan beton menahan dirinya untuk bangkit demi melawan kedua iblis yang ingin menghancurkan ibu kota[Lebia].


 


 


Namun, Tiba-tiba terdengar bebatuan saling bergeser dari reruntuhan rumah tersebut. Tampaknya Trevor berhasil menyelamatkan diri dari serangan si lamia.


 


 


“Eukh! Sial … untung saja aku memakai baju zirah ini,” gumamnya sembari mencoba mengembalikan pola pikir positifnya.


 


 


Berlarilah ketiga kawan Trevor mendekati tubuh sakitnya. “Kau tidak apa-apa Trevor!?” ucap Jack dengan perasaan cemas.


 


 


“ya, aku baik-baik saja. Tapi, bisakah kalian menolongku keluar dari dalam tumpukan beton ini?” pinta Trevor dengan perasaan malu.


 


 


Terhelalah nafas ketiga sekawan itu, mereka merasa lega dengan kondisi Trevor yang masih prima. Dengan cepat, mereka membongkar bangunan tersebut agar mereka bisa kembali bertarung bersama.


 


 


Sedangkan di atas langit. Wajah jashin tampak kusam. Dirinya tak puas dengan hasil yang di terima.


 


 


“Bagaimana bisa mereka bertahan setelah menerima serangan dariku?” tanya jashin kepada Pilogram.


 


 


Akan tetapi, si Orc hanya memandang Jashin dengan wajah cemas. Dirinya tak menjawab pertanyaan sang wanita bertubuh setengah ular tersebut.


 


 


Muncul serangan dari arah Utara, dimana kedua iblis tersebut tengah terbang. Ya, serangan itu adalah bidasan dari tim Yellow Eagle terhadap apa yang Jashin lakukan terhadap Trevor.


 


 


Hujan batu melecut cepat, ingin menyakiti tubuh kedua iblis tersebut. Tampak jika Elnara merapalkan mantra sihirnya dengan bertubi-tubi.


 


 


Sempat terkejut dengan serangan dadakan tersebut, Jashin memilih menghindar selepas dirinya beberapa kali terkena serangan dari Elnara.


 


 


Tubuh Jashin terlihat sedikit terluka sebab serangan dari satu-satunya wanita dari kedelapan anggota regu penyelamat yang di kirimkan Eawdig untuk mengejar kedua iblis tersebut.


 


 


“Sialan!” pekik Jashin kepada sang wanita ber topi penyihir itu.


 


 


Menyaksikan temannya tersakiti. Pilogram, sang Orc bertubuh kekar tersebut langsung lompat landai menyerang tim Yellow Eawgle dengan brutalnya.


 


 


Dirinya menghempas lantai yang ada di depan tim Yellow eagle, dan sempat membuat gempa bumi akibat terjangan kakinya. Seketika itu juga, ia mengayunkan pentungan kayunya menuju keempat orang tersebut.


 


 


Kena telak! Dalam sekali ayunan baton kayunya itu, keempat orang tersebut terhempas kencang menuju ke arah bangunan di mana Trevor sempat terkubur sebelumnya.


 


 


Hancur tak beraturan! Bahkan sebagian materialnya terpental ke segala arah. Bangunan yang terkena hantaman tubuh keempat orang tersebut, langsung rata dengan tanah.


 


 


Sedangkan kondisi keempat orang tersebut, tampak begitu sesak akibat napas mereka tertahan dengan rasa sakit yang amat sangat menyakitkan.


 


 


Beberapa tulang rusuk mereka patah sebab serangan terakhir, inilah sebabnya mengapa mereka sesak napas.


 


 


Terkejut bukan main, Trevor dan ketiga temannya, melihat hal tersebut dengan wajah panik.


 


 


“Bedebah sialan! Apa yang kalian lakukan terhadap tubuh cantik Jashin!” pekik si Orc dengan amukan perangnya.


 


 


Seluruh orang yang menyaksikan hal tersebut langsung. Mental mereka langsung turun dan tak memiliki keberanian untuk melawan sang Iblis kekar.


 


 


“P-Pilogram …!?” kala itu, saat Jashin melihat tindakan Pilogram, dirinya merasa tersipu malu dan sangat merasa senang. Tampak seperti benih-benih cinta tengah tumbuh di dalam hatinya. Wajahnya memerah ketika menyaksikan kejadian tersebut. Lantas, dirinya langsung menutup wajahnya akibat rasa malu.


 


 


Akan tetapi, kebengisan si Orc belum berakhir. Dirinya melompat tinggi, kemudian mengayunkan tongkat kayunya ke atas udara. Seketika itu juga dirinya ingin menghempaskan batonnya itu mengarah ke bangunan yang terisi tim yellow Eagle.


 


 


Seketika itu juga, Jack, Darwin, dan Polonala. Langsung melompat dan bersama-sama mengangkat tameng raksasa milik Jack, demi menaham serangan dari Pilogram.


 


 


“Bersiaplah kalian berdua!” ucap Jack sambil menarik napas dalam-dalam untuk mengembangkan otot tubuhnya.


 


 


Pukulan sang Orc pun, Akhirnya menghantam kencang tameng raksasa Jack. Tanah yang ketiga orang itu pijaki, langsung retak dan membentuk kawah kecil sebab aliran kekuatan yang terhempas menuju tanah.


 


 


Demikian tameng Trevor tampak bengkok sebab serangan si Orc bertubuh kekar tadi. Tangannya berdenyut dan kepalanya terginag sebab suara dahsyat yang di timbulkan akibat aduan senjata mereka.


 


 


Lantas, Tiba-tiba Trevor muncul dari sebelah kiri Pilogram si Orc. Pedangnya yang cukup panjang sudah keluar dari sarung pengamannya. Dengan begitu kencangnya, Trevor mengayun kencang demi menebas kepala si orc.


 


 


Akan tetapi, dengan tubuh besarnya itu, si orc mampu menghindari serangan Trevo rengan melemparkan tubuhnya ke arah belakang.


 


 


Seketika itu juga, yang terkena serangan adalah tangan kiri sang Iblis bertubuh kekar tersebut. Terlepaslah tangannya dari tempat aslinya.


 


 


Tak ada rintihan dari sang iblis. Seperti hal itu adalah suatu hal yang wajar baginya.


 


 


Di lain pihak, sang Lamialah yang merasa terkejut sebab hal tadi.


 


 


“Pilogram!” teriak Jashin dengan perasaan terkejutnya. Lantas, dengan begitu geramnya, Jashin mengarahkan kembali ujung jarinya ke arah Trevor. Kali ini dengan kekuatan penuh—tercipta bola berwarna ungu, seukuran tiga puluh centi meter.


 


 


Trevor terkejut ketika melihat hal tersebut. Teringat betapa sakitnya serangan yang ia derita sebelumnya, Pria berambut panjang ini yakin jika kali ini pasti dirinya akan mati jika menerima serangan sang iblis ular tersebut.


 


 


 


 


Tampaknya, kali ini Trevor kembali terlambat. Serangan Jashin sudah terlepas dari ujung jarinya. Trevor hanya mencoba menahan serangan tersebut dengan menjulurkan pedang panjangnya menghadap ke bola ungu tersebut.


 


 


Akan tetapi, tiba-tiba muncul seorang pria bertubuh besar, melompat ke depan tubuh Trevor yang terjatuh secara perlahan menuju tanah.


 


 


“Glorius Blash!”


 


 


Pekik pria berbadan besar tersebut, sembari ia menghempaskan serangan sang Lamia menuju langit tinggi.


 


 


Terkejut bukan main, Trevor tak menyangka jika Bamsi berhasil selamat dari serangan sang Orc, dan bisa kembali bertempur bersamanya.


 


 


“Bamsi!?” ucap Trevor dengan wajah tercengang.


 


 


Tak ada kata-kata dari sang pria bertubuh besar, dia hanya tersenyum sambil melirik ke arah Trevor.


 


 


Ledakan dahsyat terjadi di atas kota lebia. Serangan Jashin berhasil menyentuh jaring parabola yang menutup langit ibu kota. Detonasinya amat dahsyat, tapi belum cukup kuat untuk menggores jaring raksasa tersebut.


 


 


“Mustahil!?” dengan paniknya Jashin menatap langit sembari menggeram giginya akibat seranagan terkuat yang ia berikan tak mampu membunuh sekor nyamuk sekalipun.


 


 


Memandang geramlah si Lamia terhadap Bamsi dan Trevor, sembari merasa bersalah atas hilangnya tangan Pilogram. Demi menghindari kesalahan yang sama, Jashin terbang melandai menuju tempat Pilogram.


 


 


Saat itu juga Jashin menyentuh tangan Pilogram dengan begitu sedihnya. Melihat wajah Jashin yang melinangkan air mata, Pilogram menjadi geram dengan apa yang para manusia itu lakukan terhadap sahabatnya.


 


 


“Manusia! Lihat apa yang kalian sudah perbuat dengan wajah cantik sahabatku!” teriaknya dengan kesal.


 


 


Namun, si Lamia yang mendengarkan perkataan Pilogram, dirinya malah tersipu malu setelah mendengarkan kalimat ambigu tersebut.


 


 


“E-eh!? K-kamu sebut aku apa tadi?!” tanya Jashin yang mengira dirinya salah dengar.


 


 


Menolehlah si orc dengan pandangan heran. “E-eh? W-Wajah canik sahabatku …?” jawabnya dengan polos.


 


 


Lantas, mood jashin malah berubah menjadi riang. “Kyaaa! Kamu bilang aku cantik! Pilogram bisa aja!” Pukul Jashin ke tangan kiri sang Orc yang terluka. Berkali-kali ia lakukan hal tersebut, walaupun sakit, sang orc tak bisa membalas perilaku lucu sang Lamia. Ia malah menikmati hal tersebut dengan wajah memerahnya.


 


 


Dari belakang mereka berdua, tiba-tiba terdengar suara seorang remaja yang tampak kesal dengan perangai dua iblis aneh itu. “Hey! Kalian jadian saja sudah sana!” Pekiknya dengan spontanitas.


 


 


Seketika itu juga, seperti petir yang menyambar jantung kedua iblis tersebut. Mereka baru menyadari jika pilihan tersebut adalah sebuah masukan yang amat baik.


 


 


“K-kau benar!” Seru kedua iblis yang tengah kasmaran itu. Akan tetapi, selepas mereka berdua mengucapkan kalimat tersebut, wajah mereka berdua saling memandang, dan mereka berdua malah malu-malu untuk silih meperhatikan.


 


 


Saat itu juga, dengan berdiri berjejer melihat kejadian tersebut, Kedelapan orang yang niat awalnya ingin membasmi kedua iblis, langsung pupus dan malah menjadi iri dengan perangai kedua makhluk berbeda ras itu.


 


 


“Aku tak berniat untuk membunuh mereka berdua lagi …,” ucap Trevor dan ketujuh orang lainnya, secara serempak.


 


 


Apakah yang akan terjadi dengan kedua iblis bodoh itu?! dan apakah mereka berdua bisa di kalahkan!?


 


 


Bersambung!~


 


----------------------------------------------


 


 


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


 


 


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


 


 


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


 


 


Baiklah!


 


 


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


 


 


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


 


 


Have a nice day, and Always be Happy!


 


 


See you on the next chapter!