
Not Edited!
Ledakan dahsyat terjadi di depan mata Rubius dan Eawdig. Gumpalan cahaya membumbung tinggi, bahkan sampai menyentuh atap Ibu Kota [Lebia] yang tertutupi oleh sangkar besi.
Mata mereka melotot, tetapi bukan karena terkejut melihat ledakan itu. Mereka terpanah oleh penampilan musuh mereka yang terlihat begitu Macho. Penampilan Dandy sag iblis membuat siapa saja yang melihatnya akan teralihkan pandangannya—demi menatap ketampanan si jelmaan Naga.
Kumis tebal nan rapi membuat baju yang ia kenakan terlihat begitu sepadan. Pakaian ala mafia dengan dasi hitam tersemat pada kerah bajunya, serta syal putih garis-garis yang mengguling di sekitar leher dan menjuntai sampai ke dada, menjadikan sang iblis pria tampak elegan dengan kapasitas yang unik.
Dirinya berjalan mendekati Rubiusd dan Eawdig, sembari menatap mereka berdua dengan tatapan tajam serta menusuk.
Walaupun ledakan dahsyat itu terus mengepul sampai beberapa detik, akan tetapi pandangan Rubius dan Eawdig benar-benar terpaku dengan aura yang sang naga keluarkan.
Seperti ada aura aneh yang bercampur dari padanya. Asap hitam yang terus mengepul dan berkesinambungan dengan gumpalan kabut berwarna ungu, membuat apapun yang tengah terjadi di sekeliling Rubius dan Eawdig, menjadi terabaikan.
“Apa yang kalian perhatikan …?” Dengan tangan terbuka lebar, seperti seseorang yang sedang melakukan intimidasi, si iblis bertubuh tiga meter itu mulai melontarkan kalimat pertamanya kepada Rubius dan Eadwig.
Wajah Eadwig dan Rubius tampak memerah karena ketampanan sang pria berparas elit tersebut. Hal ini cukup aneh, tak pernah Rubius dan Eadwig melihat karisma luar biasa seperti ini.
Akan tetapi, setelah menyadari jika lelaki yang ada di hadapan mereka adalah musuh yang harus di kalahkan, Eawdig langsung memukul wajahnya sendiri sekuat tenaganya.
Terdengar suara pukulan yang cukup keras. Bahananya membuat Rubius ikut tersadar jika orang yang di hadapannya adalah musuh.
“Sial! Aku sempat terpicu karena ketampanannya …!” ucap Rubius yang sudah sadarkan diri.
“Heeh … aku tak rela jika dia bertemu dengan Amy. Bisa-bisa Amy dan Aurum terpincut oleh ketampanannya …,” jelas Eawdig yang mulai mengucurkan keringat dingin.
Sang iblis bertanduk tiga akhirnya berhenti dari jejak langkahnya. Ia berdiri sekitar sepuluh meter di hadapan Rubius dan Eawdig.
Dengan tangan terbuka, dan wajah yang menatap langit, serta background yang menampilkan ledakan super dahsyat. Sang iblis berjanggut tebal layaknya bangsawan itu memperkenalkan diri dengan cara yang begitu absurd.
“Aku … Korfe ex Litorex.” gumamnya sembari tersenyum tipis. “tuan dari para Naga di muka bumi [Soros]. Datang memperkenalkan diri kepada tumbal yang layak diburu …!” Ketika dirinya menyampaikan perkenalannya itu, iblis bernama Korfe itu dengan perlahan menurunkan pandangannya, dari arah langit menuju ke wajah Rubius dan Eawdig.
Saat itu … ketika Rubius dan Eawdig melihat cara perkenalan yang begitu absurd dari sang iblis naga. Tiba-tiba ‘Sklera’ mata sang naga berubah menjadi hitam keungu-unguan. Retina yang berwarna merah, tampak bercahaya di dalam gemerlap cahaya yang maha dahsyat, sebab dentuman yang masih memancarkan resonasinya.
Seperti di tusukkan pisau dari jarak frontal. Tubuh Rubius dan Eawdig kembali tak bisa bergerak selepas mereka menyaksikan aura intimidasi yang sebelumnya tak pernah kedua orang ini lihat sepanjang garis kehidupan mereka.
Tubuh Rubius dan Eawdig gemetar, nafas mereka tak beraturan akibat perasaan yang campur aduk. Emosi takut bercampur putus asa mulai merebak dalam lubuk kalbu yang tak kasat mata.
Kekaguman atas ketampanan sang iblis, yang sebelumnya Rubius dan Eawdig sempat rasakan langsung berubah menjadi kepanikan dan depresi.
Serempak kedua lutut mereka kehilangan tenaga, sampai pada akhirnya merubuhkan tubuh mereka berdua menjadi terduduk simpu.
“L … La … Laa … ri …!” Dengan susah payah Eawdig meggerakkan lidahnya yang mulai lumpuh sebab intimidasi yang tampil begitu berdarah. Ia berusaha menyadarkan Rubius dari keterpurukannya.
Eawdig memutarkan wajahnya sekuat tenaga, demi melihat kondisi sang sahabat. Gemetaran dirinya memutar leher, bahkan demi hanya untuk memutarkan kepalanya saja, Eadwig harus mengkonsentrasikan seluruh ototnya pada satu noktah.
Walaupun susah payah ia lakukan hal itu, pada akhirnya Eadwig berhasil memutarkan kepalanya untuk melihat sang sahabat.
Lantas … ketika dirinya sukses melihat ekspresi sang sahabat, lagi-lagi Eawdig terkejut sebab hal yang tak ia duga.
Wajah Rubius menampilkan kekelaman yang tiada taranya. Ia seperti melihat mimpi buruk yang dahulu pernah menerkam kehidupan sang penyihir berambut hitam.
“Ru … bi … us …?!” cakap Eawdig susah payah untuk menyadarkan sang sahabat. Tapi usaha Eawdig tak membuahkan hasil. Rubius tetap saja menatap Korfe seperti dirinya memandang malaikat pencabut nyawa.
Dalam kondisi yang begitu kaku, Eawdig memaksakan diri untuk kembali melihat ke arah depan tubuhnya untuk mengetahui apa yang tengah Korfe lakukan.
Namun, ketika dirinya belum sempat kembali mengembalikan posisi kepalanya secara sempurna, tiba-tiba saja sang iblis bertanduk tiga itu telah berdiri tepat di hadapan mereka berdua.
Jantung Eawdig langsung berdegub cepat. Matanya tak bisa mencapai pandangan dimana Korfe sedang berdiri. Walaupun matanya sudah ia arahkan maksimal ke sudut kiri, akan tetapi tetap saja tubuh Korfe masih belum terlihat.
Suara ledakan akhirnya reda. Setelah dua menit berlalu, suara amat menggelegar itu mulai senyap—perlahan merambat melalui udara.
Kondisi menjadi sepi … Eawdig masih berusaha menggerakkan lehernya untuk melihat langsung sang iblis naga itu. Sekujur tubuh sang pangeran bergetar hebat—hanya karena ia ingin menggerakkan batang lehernya itu.
Ketika dirinya sedang berusaha sekuat tenaga untuk bergerak, tiba-tiba saja Korfe menjambak rambut Eadwig dan memutarnya tepat memandang langsung ke hadapan wajahnya.
Wajah mereka berdua saling bertemu. Sejenak mata Eadwig terpejam akibat menahan sakit setelah di jambak kuat oleh Korfe.
Perlahan rasa sakit itu hilang. Terbukalah kedua kelopak mata Eadwig yang kala itu langsung melihat langsung wajah sang iblis pria.
“Apa yang ingin kau lihat,” ucap Korfe dengan tegas. “lihatlah apa yang kau inginkan sepuasmu.”
Nada Korfe berbicara dengan Eadwig, persis seperti sebuah tantangan kepadanya. Sejauh ini, tak ada makhluk yang bisa bergerak ketika menerima intimidasi dari sang naga hitam. Siapapun yang menatap langsung mata merah bak api tersebut, pasti akan terbujur kaku layaknya batu.
Akan tetapi, kasus kali ini cukup unik bagi Korfe. Ia melihat sebuah potensi aneh dari dalam diri Eadwig. Sudah beberapa kali Eadwig bergerak walaupun dalam kondisi kaku yang mengartikan jika dirinya mampu menahan intimidasi langsung dari sang naga hitam.
“Ayo … coba gerakkan lagi bola matamu itu ….” Sekali lagi Korfe menantang sang pangeran dari negeri [Simbad].
Mata mereka saling memandang tajam, alis korfe menukik tajam demi melihat setiap gerak-gerik Eadwig, tapi apa yang Eadwig lakukan hanya bergetar menahan intimidasi dari Aura yang Korfe keluarkan.
Ketika itu, seluruh bagian yang telah di lewati Korfe telah berubah menjadi gelap akibat asap hitam bercampur ungunya itu. Uniknya, kabut itu tak menular ke bagian yang tak di lewatinya, seperti mereka menunggu sang empu untuk melalui jalur yang ingin di serbu oleh para asap gulita tersebut.
“Sepertinya yang tadi hanya kebetulan saja ….” Hilang sudah rasa ketertarikan Korfe kepada Eawdig. Seketika itu juga ia melepaskan jambakannya terhadap Eadwig dan mulai menegapkan dirinya demi menghabisi kedua sahabat itu.
Dilepaskannya napas kecewa dari bibir tebal sang iblis pria. Menyembur sedikit api merah dari tempat dimana ia menyemburkan napasnya itu. Korfe perlahan bergeser ke samping kiri Eadwig untuk melintasi mereka berdua.
Pandangan Eadwig masih belum bisa berpindah, ia hanya menatap kabut gelap yang saat itu telah menyentuh batang hidungnya.
Rasa panas dan gatal langsung menyambar kulit—tepat dimana asap hitam itu bersentuhan dengan kulitnya.
Sontak, ketika rasa gatal dan panas itu merambat ke seluruh tubuhnya, saat itu juga Eadwig teringat bahwa dirinya tidaklah sendirian. Ia teringat bahwa ada Arley, Amylia, Aurum, Rubius, serta seluruh regu tim penyelamat yang membutuhkan bantuannya.
Bagaikan sengatan listrik yang menyambar tubuh Eawdig, seketika itu juga Eadwig bisa bergerak dengan leluasa.
Saat itu, secara spontan tangan kiri Eadwig langsung menyambar sepatu boots yang Korfe kenakan. Ia menggenggam erat sepatu boots tersebut dan menggeramnya sekuat tenaga.
“Tunggu …!” ucap Eawdig sambil tersenyum tipis bercampur kesal. Tampak urat-urat pada lehernya mulai merambat naik ke atas kepala.
Berputar kepala sang pangeran negeri [Simbad] Menghadap ke samping kirinya. Dengan ekspresi mengejek Eadwig menerima tantangan Korfe secara langsung.
“Hei pak tua …! Apakah ini juga sebuah kebetulan …!” Kali ini Eawdig menjawab pertanyaan sang naga hitam dengan kalimat yang sekilas seperti menantang. Padahal, sesungguhnya kalimat itu adalah kalimat ejekan kepada sang iblis berpenampilan mafia tersebut.
Sontak, wajah Korfe langsung menunjukkan ekspresi yang begitu terkejut. Akan tetapi, setelah rasa terkejut Korfe musnah, saat itu juga senyuman lebar terpampang jelas pada pipinya.
Saat itu, untuk pertama kalinya Korfe merasa jika ia menemukan makhluk yang bisa dijadikan Rival sejatinya.
Apakah Eadwig bisa menghadapi ini semua? Bagaimana dengan kondisi Rubius?!
Bersambung!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------