The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 179 : Tangisan Yang Tak Perlu



Not Edited!


Tubuhnya bergetar hebat ketika mendengar suara yang amat menggelegar tersebut. Secara otomatis, badannya bereaksi merunduk layaknya sistem pertahanan tubuh Arley menyadari bahwa suara itu adalah sebuah tanda bahaya.


“S-s-s-sssiapa …?!” teriak Arley sambil ia takut-takut melihat ke atas langit kosong. Tapi, yang tertangkap pada mata Arley kala itu, tidak lain hanyalah langit putih kosong.


Termenung Arley menatap langit sembari ia menunggu balasan dari sang pemilik suara. Dan benar saja, suara itu kembali, namun dengan frekuensi yang sangat-sangat lebih kecil dari sebelumya.


“Aa-aa-aa …! Ekhem, apakah sekarang sudah normal?” ucap suara tembal tersebut, layaknya suara seorang pria.


Suara itu terdengar begitu jelas di dalam benak Arley. Sadarlah ia jika sumber suara itu bukan berasal dari langit, melainkan dari dalam kepalanya.


“Y-ya! aku bisa mendengarkannya dengan jelas … ini sudah lebih baik di bandingkan sebelumnya …,” cakap Arley membalas pertanyaan dari orang misterius itu.


“Bagus,” jawab sang pemilik suara misterius. “Arley, dengarkan informasi ini dengan sungguh-sungguh, Aku hanya bisa mengucapkannya sekali …!”


“E-eh? Apa maksudnya …?!”


“Aku … adalah J*****! Datang untuk memberikanmu ****\, demi ****** masa du**a\, dan *********** ********* ***PIiiiiiiiiiiippppppp!—”


“-H-ha …?!” ucap Arley yang terkejut—tak mengerti sama sekali kalimat apa yang orang misterius itu ucapkan, hanya kalimat awal saja yang dirinya pahami, namun setelah beberapa kalimat ia dengar, seperti ada filter penghalang dan suara itu berubah menjadi suara berdesir layaknya lalat terbang.


“—Demikian hanya itu yang bisa aku sampaikan. Sekarang … segalanya ada di pundakmu … Wahai Arley Gormik,” ucap sang suara misterius.


“T-Tunggu! Aku tidak mengerti satu patah kata pun yang kau ucapkan!—” Ketika itu, saat Arley belum menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba pandangannya menggelap dan tubuhnya tejaruh di lantai yang tampak begitu putih.


Walaupun ada begitu banyak hal yang dirinya tak bisa pahami, rasa kantuk dan nyaman menyelimuti tubuh Arley dan menariknya kembali ke dunia yang saat ini Arley tinggali ….


.


.


.


***


.


.


.


Perlahan Arley membuka matanya.


Segalanya hampir terlihat gelap, hanya gemilap cahaya matahari yang muncul di ufuk horizon sajalah yang menjadi sumber pencahayaan.


Tubuh Arley terasa terhentak-entak, seperti ia tengah di gendong dalam kondisi yang darurat.


Setelah kesadarannya kembali utuh, sang pria berambut merah itu baru menyadari hika Marlinlah yang saat itu tengah menggendongnya—berlari menjauh dari sisi Selatan ibu kota lebia.


“M-marlin …?” ucap Arley dengan suaranya yang serak.


“Ohh! kau sudah bangun anak muda?! Syukurlah!” ucap Marlin yang tampak pucat. Ia terlihat begitu letih dan hampir kehabisan energi.


“K-kakek Steven …?” ucap Arley yang ingin melirik ke belakangnya.


Lantas, tubuh Marlin sedikit tersentak ketika mendengar kalimat Arley. tampak seperti Marlin tengah menyembunyikan sesuatu.


“T-tunggu marlin … Uskup Steven di … mana … ?” tanya Arley sekali lagi yang merasakan ada hal yang ganjil.


Wajah Marlin bercucuran air keringat dengan begitu guyurnya. Langkah kakinya ia percepat demi menghindari pertepuran yang terjadi di belakangnya.


“Maafkan aku Arley … ini adalah permohonan terakhirnya …!”


Menyempitlah retina sang remaja bermata hijau tersebut, dirinya menyadari jika kalimat berat si penyihir tua ini adalah salam terakhir dari Uskup Steven.


Sadar jika dirinya tidak akan pernah bertemu dengan Uskup Steven lagi, Arley langsung menjolak tubuhnya dari belakng punggung Marlin. Tubuhnya langsung terjatuh di atas lantai yang kotor, sebab otot badannya masih belum bisa bergerak.


“ARley!?” Marlin yang terkejut ketika Arley melompat dari atas punggungnya, langsung berlari mendekati tubuh sang remaja berumur empat belas tahun tersebut, untuk kembali membawanya lari dari lokasi pertempuran yang panas.


“Kakek Steven!” teriak Arley sekuat tenaga. Air matanya mengucur tanpa henti, yang hal itu langsung mengerenyuhkan hati Marlin untuk membawanya pergi, menjauh dari orang yang membesarkannya selama tujuh tahun.


Dengan tubuhnya yang tak karuan, Arley memaksakan dirinya untuk menoleh kebelakang. Saat ia memaksakan diri untuk menoleh ke belakang, tampaklah tubuh Uskup Steaven terbang di udara sembari di serang secara brutal oleh monster-monster yang ingin menjatuhkannya.


“Ti …Tidak …! Tidak!” Menjulur tangan kiri Arley ingin menggapai sang pengasuh. Namun, dengan perasaan yang sedih, kali ini Marlin memaksakan tubuhnya bekerja walaupun hal itu menentang hati.


“Maafkan aku Arley …! Aku juga tak ingin berakhir seperti ini …!” jelasnya sambil mengangkut Arley dengan paksa. Marlin menggotong Arley dengan menaruhnya di punggung sebelah kiri seperti orang yang tengah mengangkat batang pohon kayu.


“Lepaskan! Biarkan aku tinggal di sini! Tidak akan aku biarkan kakek Steven tewas sendirian di sana!” Sambil merogoh kantung bajunya, Arley berniat mencari tongkat sihirnya. “Lihat, aku memiliki tongkat pusaka sekarang!”


Susah payah Arley mencari di mana ia letakkan tongkat sihirnya tadi. Tapi, ia tak tahu jika tongkat sihirnya sudah berubah menjadi abu kayu.


“A-aduh … dimana tongkat sihir yang aku pinjam dari Rubius tadi ya …?!”


Marlin yang mengetahui jika tongkat sihir itu telah lenyap, hanya terdiam sambil memikirkan kalimat yang tepat untuk menenangkan Arley.


“Marlin! Tolong berhenti dulu! Aku sedang mencari tongkat sihirku!” bentak Arley yang berlagak acuh.


“Tongkat sihirmu sudah lenyap …,” cakap Marlin dengan berat hati.


“H … he …?” Kala itu, pikiran Arley langsung kosong. Ia baru menyadari jika paahnya tongkat sihir yang ia agungkan tersebut, bukanlah mimpi. Kembali Arley melihat tangannya yang gosong. “itu bukan mimpi …?”


Marlin langsung merasa sangat bersalah, namun kakinya terus berlari … berlari, berlari, dan terus berlari tanpa ada satu patah katapun keluar di antara mereka berdua.


Ya, mereka terus berlari, sampai akhirnya muncul sososk seorang pria berjubah putih, dengan rambut merah darah dan mata hijau terang.


Sontak, langkah berlari Marlin langsung berhenti mendadak.


“K … kau …?!” gumam Marlin dengan wajahnya sangat terkejut setelah melihat sang sosok manusia yang seharusnya sudah mati.


“Yo! Kakek pemabuk!” ucap sang pria misterius dengan senyum lebarnya.


Ketika itu, senyuman Marlin kembali melebar layaknya balon yang tertiup udara segar.


Bersambung!


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!


----------------------------------------------