
Alis kiri ku naik sendiri tanpa perintah dari tuannya, beribu pertanyaan masih menumpuk dalam sel-sel otakku yang terus berkedip memberikan response kebingungan pada diri ini.
Maximus, seorang pria misterius yang tiba-tiba datang kepadaku dan menjelaskan berbagai hal yang tidak ku tanyakan.
Yang menjadi pertanyaan terbesarku saat ini adalah, apa yang ia inginkan dari seorang anak kecil seperti ku di tengah keramaian orang yang terlihat lebih Ahli dari remaja bau kencur ini.
Karena melimpah nya pertanyaan dalam benak ini, maka aku harus bertanya langsung kepada empunya jawaban.
“Kelompok? Maksudmu apa Maximus …? Tunggu dulu … mengapa kau menginginkan aku bergabung dengan tim mu? Aku ini hanya seorang anak kecil yang ingin belajar ilmu sihir ….”
Terangku kepada Maximus untuk mencoba membuat ia menjelaskan sebab mengapa ia memilihku untuk menjadi anggota dalam kelompoknya.
Maximus kemudian melipat kedua tangannya dan wajahnya menjadi serius.
“Arley, aku melihat nomor pendaftaran di punggung mu … dan di nomor pendaftaran itu tertulis nama yang sangat langka untuk di lihat ….”
Jelas Maximus sambil menutup kedua matanya, demikian dia menjelaskan hal tersebut dengan alisnya yang mengkerut tajam.
“Hanya karena namaku ? cuman karena itu?!”
“Bodoh! Tentu saja bukan cuman karena namamu. Ehm sebenarnya kau juga tidak salah sih, aku memilih mu Karena nama belakang mu …”
Jelas Maximus sambil kembali membuka matanya dan menunjukku dengan jari telunjuk tangan kanannya.
“Aku memilih mu karena di nama mu tertulis nama orang yang sangat penting di negeri ini Arley, sebab itu lah aku memilih mu untuk bergabung bersama kami!”
“Maksudnya nama Benedict pada nama belakang ku ….?”
Jawab ku sambil mengkerutkan kedua alis di wajah ini dari posisi normalnya.
“Arley … kau anak angkat Uskup Agung Steven benedict kan ….?”
Tanya Maximus dengan senyuman tajam pada wajahnya. Giginya terlihat putih dan mengkilat.
“….”
Namun aku tak bisa menjawab pertanyaan itu, karena sebenarnya mulai tertanggal tiga bulan yang lalu, aku sudah secara resmi bukan anak angkat dari sang Uskup Agung.
Namun Uskup Agung melarangku untuk menggunakan nama Gormik pada nama belakangku sampai aku menginjak umur 17. Entah apa sebabnya tetapi itu adalah bagaian dari kontrak yang kami lakukan bersama dengan Kakek Marlin ….
Demikian sang Uskup memperbolehkan aku menggunakan nama belakangnya sampai aku selesai mengikuti seleksi ini.
“Kau benar, aku adalah anak angkat dari Uskup Steven …” jelasku kepada Maximus untuk menghilangkan rasa curiganya.
“Nah!! Tepat sasaran!!” lalu Maximus berdiri dari kursinya dan ia memandang ke arah barat sambil mengayunkan kedua tangannya ke langit seperti memanggil seseorang.
“Apa yang kau lakukan Maximus?!”
Tanpa sadar aku melirik ke arah dimana Maximus memandang, tampak ada tiga orang yang sedang berlari ke arah kami sambil tertawa riang.
Lalu tak lama kemudian mereka sampai di tempat kami dan Maximus berbicara kepada mereka dengan wajah yang sangat gembira.
Kemudian Maximus kembali ke padaku, lalu ia memperkenalkan teman-temannya kepadaku saat itu juga.
“Arley perkenalkan! Mereka ini adalah rekan-rekan kita yang akan bertarung bersama sampai titik darah penghabisan!”
Jelas Maximus sambil menyodorkan tangan seperti seorang pelayan kepada orang yang akan masuk kedalam restaurant, bedanya kali ini Maximus menyodorkan tangan untuk memperkenalkan ketiga orang yang mereka adalah rekan-rekan Maximus untuk menyelesaikan Seleksi tahap awal ini.
“Kita mulai dari paling pojok sebelah kanan, di sana ada Morli-“
Pada saat Maximus menjelaskan siapa-saja yang akan menjadi rekan-rekan ku, kemudian aku memotong pembicaraannya untuk memperjelas situasi.
“Tunggu dulu Maximus, aku belum bilang bahwa aku setuju untuk mejadi rekan satu tim mu ….”
Sambil merunduk dan menarik tudung ku demi menutupi wajah ku ini, aku berusaha untuk tidak memandang mereka berempat.
“H-He? Heee!!!??? Kau serius berkata demikian Arley!!?! Setelah aku lelah menjelaskan segalanya kepada mu!?! Arleeyy!!?? Ayolah jangan seperti itu!!”
Maximus terduduk di tanah dan ia memegangi kedua kakiku sambil menangis seperti anak kecil.
“-Ah!! Hey Maximus! Apa yang kau lakukan!? Kau membuat aku malu tahu! Lihat!! orang-orang jadi melihat ke arah kita!!”
Akibat suara tangisan yang lantang, orang-orang yang ada di dekat kami sampai melihat ke arah kami sambil menunjukkan ekspresi yang bertanya-tanya.
“Ayo lah Arley!! aku tidak ingin orang lain selain kau untuk bergabung dalam tim kami!! Kumohon!! Huaaa!! Aku tidak akan menerima siapapun jika kau tidak masuk ke dalam bagian tim kami!!”
Maximus merengek bagaikan anak kecil yang sedang tantrum hebat.
Lalu beberapa orang dari kejauhan mulai melihat ke arah kami seperti mereka sedang melihat sebuah pertunjukan.
“Oh?! Apa ini? pertengkaran antar rekan tim? Hahaha sepertinya menarik!!” Ucap seseorang yang entah dari mana sumber suaranya.
“Ohoho!! Ayoo!! Buat keramaian yang lebih ramai lagi!!” Lagi, terdengar suara yang entah dari mana asalnya ingin membuat situasi menjadi semakin panas.
Wajahku berubah sedikit jadi memerah akibat perbuatan Maximus yang seperti anak kecil ini, tampak nya bukan hanya diriku, namun saat ini temannya juga menjadi sedikit malu akibat tindakan yang Maximus lakukan kepadaku.
“A-AAA!!!! Baiklah-baiklah!! Aku akan bergabung dengan tim mu!! Maka dari itu! Diam lah Maximus, jangan membuat aku lebih malu lagi lebih dari ini!!”
Teriakku sambil menjolaknya jatuh kebelakang.
Lalu Maximus terdiam sejenak, wajahnya tampak terkejut, lalu beberapa saat kemudian wajahnya berubah menjadi sedih lagi.
“UuuuuAaaaaa!! Arleeyy!! Terimakasih karena sudah mau bergabung dengan kami!!!”
Demikian Maximus kembali menangis tak henti-hentinya. Tertawaan orang-orang pun mulai terdengar sembari mereka melihat ke arah kami layaknya sebuah pertunjukan badut sirkus.
“Hahaha! Terima kasih Bocah tudung putih! Kau membuat situasi saat ini tidak menjadi tegang lagi!” terdengar suara pria yang entah dari mana asalnya memberikan rasa terima kasih nya kepada ku.
Lalu tak sengaja aku memandang ke sudut sebelah kiri. Tepat di ujung mataku, tak sengaja aku melihat seseorang yang mengenakan jubah merah yang tampaknya mereka adalah bagian dari kelompok utusan dari kerajaan [Simbad].
Tampak seseorang dengan rambut berwarna pirang ikut tertawa hangat, akibat melihat tingkah kami yang layaknya badut sirkus ini.
Saat aku menyadari bahwa tindakan kami ini benar-benar memalukan, entah mengapa malah emosi yang melup dari hati ini.
“Maaaximusss!!!!, saat ini juga, hentikan perbuatan memalukan ini wahai manusia bodoh!!”
Seketika itu juga, dengan wajah yang merah padam, aku mengeram tangan kiriku dan dengan sekuat tenaga aku pukul kepala Maximus sampai ia terjatuh ketanah.
"Glotaaakk!!! Bruakk!!" suaranya terdengar sangat nyaring sampai-sampai beberapa detik orang-orang berhenti tertawa akibat perbuatan ku barusan.
“Gyaaa!!! Ucap maksimus sambil ia terguling-guling di lantai.
Demikian semua orang tertawa kembali dan tanpa terkecuali ketiga rekan satu tim ku yang mereka tertawa sampai-sampai perut mereka tampak keram.
Aku menjadi semakin malu, bibirku bergetar entah mengapa. Aku merasakan bahwa wajahku memerah, lalu entah mengapa juga, wajah ini memandang ke sebelah kiri untuk melihat mereka para kontingen dari kerajaan [Simbad].
Ughh benar-benar suatu hal yang sangat membuat ku malu, entah mengapa aku merasa bahwa aku telah kalah sebelum perang berkecamuk.
Yahh walaupun demikian, aku berhasil mendapatkan tim sebelum aku tahu mengapa sebabnya aku masuk kedaam tim ini.
***
Keadaan riuh telah kembali netral. Rekan satu tim ku telah duduk di kursi bersama-sama sambil kami membicarakan sebab mengapa aku harus bergabung dalam tim mereka.
“Baiklah Arley, dengarkan sebab mengapa kau membutuhkan tim …” Jelas Maximus kepadaku dengan wajah yang kembali tampak serius.
“Dari informasi yang Morlia dapatkan dari ayahnya, Pertarungan hari ini akan di rancang dengan system Sudden Death. Maksudnya adalah siapa yang terpingsan di tempat, atau memijakkan kaki ke luar Arena, maka mereka akan langsung di disdualifikasi.”
Terang Maximus sambil memperkenalkan Morlia kepada ku.
“Tunggu dulu … Morlia? kau anak seorang bangsawan kan …? Aku pernah melihat mu di koran, bukan kah kau anak dari Glador Johansen? Ah … jadi ini sebabnya kita membuat tim, oke lanjutkan”
Yap, tampaknya tim ini adalah tim anak-anak Bangsawan dan orang-orang berpengaruh di negara ini.
“Hahaha syukurlah kau cepat menangkap apa maksud perkataan ku Arley! Baik, selanjutnya adalah informasi yang Krippa dapatkan dari menguping pembicaraan para panitia perlombaan. Mereka mengatakan akan memasukkan 200 orang langsung dalam satu kali pertandingan, dengan kata lain hari ini akan ada 10 pertandingan sampai waktu malam hari.”
Maximus menunjuk Krippa yang duduk di samping kiriku dan memperkenalkannya kepadaku sembari memberitahu aku informasi apa yang ia dapatkan.
“Huwa … apakah ada kemungkinan kita akan menjadi orang terakhir yang mengikuti seleksi ini …?”
“Tentu saja, kemungkinan itu terbuka lebar!” Ucap Maximus sambil menunjukkan jari telunjuknya, lalu ia melanjutkan pembicaraan. “Lalu Informasi yang terakhir adalah, informarmasi yang sangat penting …!”
Sesaat aku menenggak liur ku sendiri sambil menyucurkan sedikit keringat karena udara di ruangan ini tiba-tiba menjadi panas.
“Informasi yang terakhir adalah … seluruh informasi yang kita dapat ternyata telah bocor ke mereka semua (Menunjuk ke arah para peserta yang sedang berdesak-desakan) dan saat ini mereka sedang menyusun tim yang sekiranya akan memberikan kemenangan untuk mereka!”
Saat itu juga aku terjatuh dan terguling ke lantai setelah Maximus menjelaskan bahwa informasi yang ia bagikan adalah informasi sampah.
“Hoi!! Kalau demikian informasi ini bukanlah informasi yang pentin!! Bagaimana pula informasi ini bisa bocor segampang itu!”
Jelasku sambil kembali berdiri. entah mengapa aku berfikir bahwa sebenarnya aku telah salah masuk ke kelompok yang seharusnya aku tidak bersitegang dengan mereka.
“Yah … ehm … sebenarnya tanpa sengaja saat mereka berdua membagikan informasi ini kepadaku … seseorang yang seharusnya menjadi bagian dari tim kami menyebarkan informasi itu ke-luar dan ia sekrang kabur entah kemana ….”
Lagi-lagi aku terguling salto ke lantai seperti di kaki ku ini ada energy magnetik selepas mendengarkan ucapan bodoh Maximus yang tak henti-hentinya membuat jantungku berhenti sejenak untuk berdetak.
“Jadi aku ini hanyalah orang cadangan yang kalian cari untuk mengisi kekosongan tim kalian akibat salah seorang anggota tim kalian sudah berkhianat kepada kalian ya!?! Aaaa!! Aku akan keluar dari tim ini!! aku lebih baik bertarung sendiri daripada bersama kalian!!”
Lalu aku berjalan menuju pintu masuk kedalam Arena. Namun sebelum aku berjalan ke sana, Maximus menjatuhkan badannya dan ia mulai merengek kembali kepadaku dan mulai lah drama sinetron chapter ke 2.
***
Well, ehkhem … aku tak punya pilihan, sebenarnya aku malas menjelaskan mengapa titik tiga di atas itu tercentang. Yang pastinya Maximus telah berhenti menangis dan kami kembali ke meeting bagaimana caranya tim ini bisa menang dan lolos ke tahap selanjutnya.
“… -begitu lah caranya untuk kita bisa memenangkan pertandingan ini. Arley akan menjadi support kita, dan Karel akan berusaha untuk menahan serangan para musuh yang akan datang … Bla~bla~blaa ….”
Wajah nya menjadi serius dan ia terbakar oleh semangat untuk memenangkan pertandingan ini. aku sedikit terkejut dengan perubahan emosi Maximus secara instan seperti ini. yang tadinya Maximus menangis-nagis tak jelas, sekarang ia beralih ke ekspresi se-serius ini ….
Ahh entah lah, aku tak mengerti cara berfikir orang-orang ini …
“… -demikian lah cara agar kita bisa memenang kan pertandingan ini!” Jelas Maximus dalam kalimat penutupnya.
“Hmm Aku mengerti, jadi intinya adalah, kita harus mengalahkan empat orang untuk bisa lanjut ke tahap selanjutnya. demikian kan Maximus?”
Jelasku sambil menyilangkan kedua tangan ini di dada.
“Ya benar, baiklah apakah kalian semua siap untuk menjalankan renaca ini?”
Maximus menjulurkan tangannya dan meminta kami untuk melakukan hal yang sama. Kemudian ketiga temannya Maximus yaitu Morlia, Krippa, dan Karel ikut menjulurkan tangannya dan menaruhnya di atas tangan Maximus untuk membakar semangat.
Demikian mereka menunggu aku untuk ikut melakukan yel-yel yang tampaknya akan memalukan ini …
“Arley? Ayo kau harus ikut juga !” Maximus memandang ku dengan wajah yang berapi-api, demikian ketiga temannya ikut memandangku dengan mata yang juga berapi-api.
“Err … aku ... boleh kan aku melewati sesi ini …?” Ucapku sambil melangkah mundur, namun dengan cepat Maximus menggait punggung ku dan ia berhasil mengunci leherku agar aku tidak kabur dari tindakan yang sepertinya akan memalukan ini.
“Ayo Arley tangan mu!!” lagi ucap Maximus memaksa dengan alasan yang sangat rancu.
Lalu, mau tak mau aku menjulurkan tangan kananku di atas tangan dari ke-empat orang ini, dan saat itu juga mereka berteriak meriah.
“Team Green Lotus!!!” Teriak Maximus sekuat tenaga “HOOOO!!!!!” Lalu teriakan sambungan menggema berbarengan sambil mereka berempat secara serempak melempar tangan mereka ke udara.
Saat itu juga semua orang melihat ke arah kami, dan mereka kembali tertawa cekikikan melihat tindakan memalukan ini.
Demikian aku menarik kembali tudung kepalaku agar orang-orang tak melihat wajah yang telah berubah warna menjadi merah padam ini. badanku bergetar dan aku memilih untuk menghadap ke-sudut tembok sampai waktu pertandingnan di mulai.
.
.
.
***
.
.
.
Saat yang di tunggu-tunggu telah tiba. Entah bagaimana, kami berlima berhasil masuk ke list orang yang akan bertarung di sesi pertama dalam seleksi tahap satu ini.
Demikian kami sudah berdiri di tengah-tengah arena sambil menunggu pemberitahuan lanjutan.
“Hey, apa yang harus kita lakukan sekaran?” Ucapku kepada Maximus yang saat ini sedang berkeringat dingin.
“E-e-entahlah Arley!! A-a-Aku juga tak bisa berfikir jerni saat i-ini!!”
Demikian suara Maximus bergetar seperti orang bodoh.
“H-Hoy!! Kau tak apa-apa Maximus?!”
Namun tampaknya dugaanku benar, wajahnya terlihat sangat pucat dan keringat dingin mengguyur tubuhnya dengan sangat deras, aaaa!! Orang ini benar-benar sedang demam pangung!!!
Lalu tiba-tiba muncul seorang penyihir dari atas udara dan terdenga suara menggema yang sangat amat keras!~
****